
Selamat membaca..
“Aw, s-sakit Nald, pelan – pelan. Perih....” Suara Fania terdengar dari dalam walk in closet
“Tahan ya Sweetheart, Cuma sebentar aja ini sakitnya.” Suara Andrew pun sama.
Nyonya Erna terpaku ditempatnya berdiri. ‘Too late. Andreww.. ga sabaran amat sihhhh.’ Batinnya.
“Udah ya, udah perih ini ga tahan. S-sh-sh.” Suara Fania terdengar lagi. Nyonya Erna melangkah mendekati walk in closet dengan pelan.
“Sebentar lagi selesai. Kamu sih ga bisa diem, jadi berdarah kan?.” Suara Andrew pun terdengar.
‘ Haish.. Huuhhh.’ Nyonya Erna menarik nafasnya. ‘Gimana ga berdarah kalau Fania masih virgin, kan?.’ Batin Nyonya Erna dengan otak yang yang berspekulasi sedemikian rupa.
“Sudah ni.” Suara Andrew terdengar lagi ditelinga Nyonya Erna yang sedang berdiri di depan pintu walk in closet. “Masih perih?.” Andrew terdengar bertanya pada Fania.
‘Bisa – bisanya ini anak setenang itu ngomongnya abis merusak anak orang. Haish God, my head spinning around.(Oh Tuhan, kepalaku pusing).’ Batin Nyonya Erna yang sudah siap membuka pintu walk in closet. ‘Udah berpakaian belum ini mereka?.’
“Udah ga apa - apa.” Fania pun terdengar menjawab Andrew. “Ngapain ngeliatin aku begitu?. Jangan mesum.”
Andrew terdengar terkekeh. “Minta di mesumin memangnya kamu?. Nanti aku... .”
“ANDREW ADJIERAN SMITH!.” Nyonya Erna akhirnya masuk ke dalam walk in closet.
***
Flashback on
“Eh ini kan... .” Mata Fania tertuju pada sebuah lemari kaca kecil yang ada di samping meja kerja Andrew. Fania membuka lemari yang hampir keseluruhannya adalah kaca. Menatap beberapa benda yang ada didalam lemari tersebut.
Fania mengambil salah satu barang yang berupa gelang, lalu ia pun tersenyum. ‘Masih ada dan disimpen ternyata.’ Batinnya.
“Kenapa, Hemm?.” Tanya Andrew yang ternyata sudah ada didekatnya.
“Ini, masih kamu simpen ternyata.” Ucap Fania sambil menunjukkan gelang tali pemberiannya untuk kenang – kenangan pada Andrew.
“Tidak hanya itu.” Andrew meraih kotak hitam dari dalam lemari kaca tersebut lalu membukanya. Ada cincin silver yang juga Fania kenal. Dan juga dompet yang dulu dia beli untuk kedua abang – abangan nya itu dengan hasil menyisihkan uang jajannya dulu. Satu untuk Kak Reno dan satu untuk si Donald. Dan laki – laki itu masih menyimpannya juga.
Mata Fania berkaca – kaca namun bibirnya tersenyum. Ga menyangka sebagian barang kenangan mereka dulu ternyata masih disimpan oleh si Donald nya.
__ADS_1
“Ga ada yang aku buang Fania, kecuali yang memang hilang antara terselip atau entah kemana waktu aku pindah kesini.” Ucap Andrew sambil tersenyum.
“Ma kasih ya.” Fania memeluk Andrew sambil tersenyum juga. “Makasih ga pernah berniat lupain aku.”
“Like I said, never, Fania. Terlepas dari bagaimana perasaan aku sekarang ke kamu, you always be here, and here for R and for me.” Ucap Andrew sambil menunjuk kepala dan dadanya. “Yang paling the best yang aku punya, itu.” Ucapnya lagi sambil menunjuk sudut di samping komputer diatas meja kerjanya.
Fania sedikit mendongak karna dia terduduk saat membuka lemari kaca yang pendek itu. Melihat kemana telunjuk Andrew mengarah dan wajahnya membuat ekspresi antara terkejut dan tak percaya. “Apa –apaan. Kok gue ga merhatiin tadi. ” Ucap Fania saat matanya menangkap figura foto saat dirinya beserta Reno dan Andrew berfoto di lapangan basket.
Andrew terkekeh, masih dengan posisinya jongkok didepan Fania. “ Kenal itu sama anak cewe yang ditengah?.”
“Ih, amit deh. Ngapain di pajang sih.” Protes Fania yang hendak meraih figura itu dalam duduknya.
“Apa sih.” Andrew menghalau tangan Fania yang mencoba mengambil figura itu. Dan Fania menepis tangan Andrew yang menghalaunya hingga akhirnya dia dapat meraih itu figura.
“Simpen nih ah. Malu maluin amat aku disitu. Geli liatnya.” Protes Fania. Namun Andrew malah tergelak. “Aku aja yang simpen deh ah. Amit deh. Ih.” Sambil melihat foto dalam figura itu lagi.
“Enak aja.” Andrew merebutnya.
“Sini ga.” Pinta Fania.
“Mau diapain emang.” Tanya Andrew.
“Simpen biar ga usah dipajang.” Jawab Fania. “Siniin.”
“Ntar aku ambil. Liat aja.” Sahut Fania ga mau kalah.
“Percuma di dompet aku juga ada fotonya. Sekalian aku mau cetak ukuran jumbo.” Ucap Andrew sambil terkekeh lalu bergegas berdiri untuk mengamankan foto tersebut.
“Donaaald. Siniin itu aib gueee....!!!.” Teriak Fania yang bergegas bangun dari duduknya tadi.
Sreeettt ... tangan Fania mengenai pintu lemari kaca yang ujungnya memang lancip dan sedikit tajam karena ia bangun dengan tergesa – gesa dan lupa kalau pintu lemari kaca itu belum tertutup.
“Aduh.” Fania merintih dan melihat segores luka sedikit panjang ditangannya dan sedikit darah yang keluar dari luka
tersebut.
Flashback off
***
“ANDREW ADJIERAN SMITH!.” Nyonya Erna yang tiba tiba muncul di dalam walk in closet. Membuat Andrew dan Fania sedikit terkejut. Terlebih lagi wanita itu menutup matanya.
__ADS_1
“Mom?.” Tanya Andrew yang heran melihat ibunya masuk dengan menutup mata.
“Put your clothes on!. (Pakai baju kamu!).” Perintah Nyonya Erna yang belum membuka matanya.
Andrew dan Fania saling bertatap heran.
“Kenapa tutup mata sih Mom?. Absurd.” Sahut Andrew.
“Kamu sudah pakai baju belum?!.” Tanyanya lagi memastikan dengan suara yang agak kencang.
“Coba buka mata Mom.” Jawab Andrew dan Nyonya Erna membuka matanya. Putra plontos nya itu sedang berdiri menatapnya heran dan sudah berpakaian lengkap.
Matanya mencari Fania dan menemukan gadis itu berdiri dan juga sudah berpakaian lengkap di dekat sofa yang ada di dalam Walk in Closet juga memandanginya heran.
“Tante?.” Ucap Fania ragu.
“Kamu apain Fania?!.” Nyonya Erna memukul bahu kiri Andrew dengan kencang dan terasa perih karena Andrew memakai kaos lengan pendek.
“Ouch. That’s Hurt, Mom.” Rintih Andrew yang memegang tangan yang barusan dikepret emaknya. Yah memang udah takdirnya kepretan emak – emak kan nyess banget terasa dikulit. Wkwk ....
Fania terkekeh lalu mendekati Nyonya Erna dan Andrew.
“ Ini Tan, Andrew barusan kasih obat soalnya tangan Fania luka kena lemari kaca.” Ucap Fania sambil memperlihatkan lengannya yang tertutup plester.
“Oh, Astaga... .” Ucap Nyonya Erna yang mengelus sebelah dadanya.
“Kenapa sih?.” Tanya Andrew.
“Habis kalian lama banget ga turun mau makan malam. Jadi Mom susul. Terus ada suara – suara aneh. Ya mom pikir ... .” Jawab Nyonya Erna tanpa melanjutkan kalimat terakhirnya.
“For God Sake, Mom.. mikirnya kejauhan. Kalau Andrew mau apa - apain Fania ga mungkin pintu ga dikunci.” Sahut Andrew malas. ”Ini juga dari tadi sudah mau turun, Cuma Fania tadi tergores kaca agak dalam. Haish.” Andrew geleng – geleng.
“I’m just worried , okay?!.” Seperti biasa Nyonya Erna ngeles aja dah.
“Ya sudah, ayo turun.” Ajak Andrew pada ibunya. “ Come Sweety.” Andrew meraih tangan Fania.
“Duluan sana. Biar Fania sama Mom.” Nyonya Erna mendorong Andrew untuk berjalan di depan, lalu ia sendiri yang menggandeng Fania. “Ga diapa – apain kan sama Andrew?.” Tanyanya pada Fania.
“Engga kok Tan.” Ucap Fania setengah terkekeh. Dan mereka bertiga akhirnya turun untuk makan malam.
***
__ADS_1
To be continue ...
Like Jangan Lupa. Loph Loph