
♣GRADUATION♣ Kelulusan ♣
Selamat membaca..
***
Dua bulan berlalu....
“Akhirnya bisa wisuda juga.”
“Congratulation, Heart. ( Selamat ya, Sayang ).”
Andrew dan Fania sudah bersiap untuk berangkat ke tempat acara wisuda Fania diadakan. Seluruh keluarga pun sudah bersiap untuk menghadiri acara wisuda Fania yang seharusnya sudah berlangsung bulan kemarin, namun
berhubung Fania mengalami kecelakaan dan harus melewati masa pemulihan nya, jadilah Andrew meminta pihak kampus untuk memundurkan jadwal agar Fania tidak melewati acara wisudanya. Memaksa, sih lebih tepatnya.
“Makasih ya, Poppa.”
“Sama – sama, Momma.” Andrew memberikan kecupan di pipi Fania, pengennya dibibir sih, tapi takut Fania ngomel kalo lipstiknya berantakan. Biarpun udah pake lipstick matte yang bukan kaleng – kaleng.
Yah, namanya perempuan. Penampilan adalah segalanya. Apalagi kalo udah dandan buat suatu acara.
“Shall we go now?. ( Kita pergi sekarang? ).”
Reno yang sudah menggandeng Ara mengajak mereka untuk berangkat.
‘Mau wisuda aje kek mo kondangan, semua ngikut.’ Batin Fania bermonolog, takjub sendiri melihat rombongannya.
Meski memang karena kampus tempat Fania belajar ini terbilang kampus eksklusif yang notabene isinya adalah anak – anak dari para keluarga kaya baik di Inggris sendiri atau pun dari tempat lain, jadi acara wisuda disana selalunya akan digelar seperti perhelatan.
Pihak kampus akan mengundang seluruh keluarga dari para siswa yang belajar di kampus mereka. Jadi seberapa banyaknya anggota keluarga yang datang pun tak masalah. Karena mereka sudah menyiapkan acara di tempat yang terbaik. Terlebih lagi untuk Keluarga Adjieran Smith yang pastinya sudah disiapkan dengan sangat khusus.
Jangankan anggota keluarga mereka yang banyak dan kompak itu, seandainya pelayan mereka mau dibawa semua juga, pihak kampus pasti menyanggupi untuk menyediakan tempat. Keluarga cemara juga masih ditahan untuk tinggal di London sampai setelah acara wisuda Fania selesai.
Yang pastinya juga Papa dan Mama nya Fania dengan senang hati untuk datang ke acara wisuda putri sulung mereka.
Suatu kebanggaan untuk Papa Herman dan Mama Bela, kalau salah satu putrinya bisa kuliah di Luar Negeri dan bisa sampai lulus.
“Let’s go!. ( Ayo! ).” Sahut Fania antusias. Lalu masuk ke sebuah Limosin bersama Andrew dan Keluarga Cemara yang sudah mulai terbiasa dengan segala kemewahan semenjak sudah berbesan dengan orang tuanya Andrew.
Ruar biasalah pokoknya. Mimpi aja ga pernah kayaknya.
****
“When we was a child, they asked, what are we going to be when we grow up. Standar answer will be, a Doctor, Astronaut, Presiden Maybe.” ( Saat kita masih kecil, mereka tanya, kita mau jadi apa saat besar nanti. Dan jawaban standar adalah, Dokter, Astronot, bahkan Presiden ).”
__ADS_1
Fania memulai pidatonya. Ia di daulat untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai perwakilan para mahasiswa dan mahasiswi yang lulus di tahun pendidikannya.
“But when we grows up, they want a serious answer. How about, who the hell knows?. Well, that’s how I’m going to answer.” ( Dan saat kita sudah dewasa, mereka meminta jawaban yang lebih serius. Gimana kalo, siapa yang tahu?. Yah itu jawaban aku sih ).
Ucap Fania dan semua orang yang mendengarnya pun terkekeh dan memberikan tepuk tangan mereka pada wanita yang seringnya selalu dalam mode woles itu.
“Cause I think, growing up means that we will make a lot of mistakes. We can’t make a fast and right decisions. Mostly. More things to thinking about. But haven’t try, haven’t know right?.” ( Karena menurutku, menjadi dewasa berarti kita pun akan lebih banyak membuat kesalahan. Kita tidak bisa mengambil keputusan yang cepat dan benar, biasanya. Lebih banyak pertimbangan. Tapi yah kalo ga coba kan ga tahu ).
“Yeah!!!!!.” Sahutan terdengar dari bawah podium.
“In my case, getting married in a young age it’s my fast decision in life. But, I can’t say it’s a mistakes, because my husband is here and I’m pretty sure he will locked me for my entire life, if I said married him it’s a mistake.” ( Dalam kasusku membuat keputusan yang cepat, adalah menikah diusia muda. Tapi, aku tidak bisa mengatakan kalau hal itu sebuah kesalahan karena suamiku ada disini dan aku sangat yakin dia akan mengurungku seumur hidup kalau
aku katakan bahwa menikahinya adalah suatu kesalahan ).
Suara kekehan terdengar lagi sambil para tamu menoleh pada Andrew yang tersenyum mendengar pidato istrinya itu.
“Well, I’m trying to say is, it doesn’t matter to make mistakes, at least when people ask you what are you going to be, what do you want, you already found the answer because you learn from the mistakes you made. Life is about a plan, but we’ll never know what waiting ahead. And thanks God I’m graduate now. We’re all !. Thank you for this incredible years!.”
( Apa yang aku maksudkan adalah, ga masalah untuk membuat kesalahan itu sendiri, setidaknya saat orang bertanya kamu ingin jadi apa, apa yang kamu inginkan, kamu sudah mendapatkan jawabannya karena kamu belajar dari kesalahan yang kamu buat. Hidup itu suatu rencana, tapi kita tidak pernah tahu apa yang menanti didepan. Dan terima kasih pada Tuhan akhirnya aku bisa lulus. Kita semua lulus!. Terima kasih untuk tahun – tahun yang menakjubkan! ).
Tepukan dan sorai serta standing applause menyambut kalimat terakhir pidato Fania.
Acara wisuda yang khidmat berlanjut dengan jamuan pun berlangsung.
“Graduation Party! Tomorrow night, don’t you guys forget about it!. ( Pesta Kelulusan! Besok malam, kalian jangan sampai lupa soal itu! ). ” Seorang mahasiswa yang juga lulus berbicara di microphone saat acara sudah hampir selesai. Dan teman – temannya termasuk Fania menyambut antusias.
*****
Fania dan Andrew sudah berada di kamar mereka. Andrea juga sudah dipindahkan ke kamar Fania dan Andrew.
“It’s all up to you, Heart. ( Itu sih terserah kamu, Sayang ).”
Ucap Andrew sambil merengkuh Fania dari belakang yang sedang berdiri di dekat box bayi Andrea.
Fania spontan merapatkan punggungnya ke dada bidang Andrew.
“Andrea sudah pulas, Momma.” Ucap Andrew di telinga Fania. “Ayo kita buka baju, eh ganti baju maksudnya.” Andrew membalikkan tubuh Fania. Dan wanita itu terkekeh. Udah paham dah maksud ucapan si Donald Bebek kemana.
Cup!
Andrew menyambar bibir Fania yang selalu menjadi candunya. Bermain disana, hingga bertukar saliva.
Tubuh Fania seketika melayang ke udara. Ia memekik kaget karena Andrew mengangkatnya tiba – tiba, tapi Fania langsung menutup mulutnya, takut membangunkan Andrea.
“D.” Fania memukul pelan dada Andrew yang sedang menggendongnya ke dalam walk in closet. “Turunin ih.
Kasian itu Andrea sendirian. Ganti baju gantian si.”
Andrew hanya tersenyum saja sambil menggendong Fania ke dalam walk in closet mereka dan mendudukkan istrinya itu diatas meja rias.
__ADS_1
“Wait here. ( Tunggu disini ).” Andrew berjalan keluar sebentar dari walk in closet nya, tak lama kembali membawa sebuah monitor suara. “We’ll know if Andrea wake up. ( Kita akan tahu kalau Andrea bangun ).”
“Kenapa mesti disini sih?.”
“Kamu soalnya kalau udah keenakan sama lollipop aku kan suka teriak, Heart.”
“Dih, suka fitnah Donald Bebek. Kamu aja suka teriak sendirinya. Oh, Heart, you’re so tight... ughhh...... gitu kan?.” Fania terkekeh geli sendiri kalo ingat muka si Donald Bebek saat sedang memacunya.
Andrew merapatkan tubuhnya. Rasanya udah ada yang terasa ngilu dibawah sana akibat ucapan dan mimik muka Fania yang memperagakan dirinya saat sedang mengurai gejolak hasrat diatas tubuh sang istri.
“Kalau begitu kita buktikan siapa yang akan teriak sekarang, hem?.”
Andrew meloloskan gaun Fania dari tubuhnya. Kemudian mengukung nya. Memandang dengan mupeng nya.
“Minggir ah, aku cape.”
Fania mendorong pelan tubuh Andrew yang masih berbalut pakaiannya yang sudah sedikit berantakan.
“Aku hanya mau memberikan hadiah kelulusan.” Bisik Andrew yang kembali mengukung tubuh Fania lebih rapat dan membuat Fania tak berkutik.
“Mana?.”
“Ini Lollipop spesial.” Andrew mengarahkan tangan Fania pada sesuatu yang sudah nampak sesak dibalik celananya.
Fania menelan salivanya. Meski udah sering melihat dan merasakan lollipop punya Andrew. Keseringan malah. Tetap saja Fania selalu merasakan tenggorokannya tercekat kalau membayangkan milik sang suami yang sering
mengobrak – abrik guanya.
“Poppa is yours Momma. (Poppa adalah milikmu Momma).” Andrew berbisik sensual lalu memundurkan sedikit tubuhnya sambil mempreteli setiap helai benang dari tubuhnya. "Mungkin Momma mau mengetes kadar kemanisan nya?." Andrew mengerling nakal saat pakaiannya sudah terlepas seluruhnya.
Ah, pening rasanya kepala Fania saat melihat lollipop itu tak berbentuk bundar kek topi.
‘Si Donald Bebek, makin mesum aja tiap hari.’ Batin Fania mengumpat sambil memandangi Andrew yang sudah polos tak berbusana dihadapannya. ‘Tapi ah itu, lollipop nya....’ Fania menggigit bibirnya.
“Momma ...” Ucap Andrew.
“Heeeemmmm????.”
Panggilan mesra Andrew membuyarkan lamunan ngeres Fania. Tak sadar kalau suaminya itu sudah duduk disofa dengan seringai nakal diwajahnya, dengan pose yang ... ah sudahlah.
“Momma ....”
Andrew memanggil Fania kembali dengan mesra sambil menepuk pahanya yang rasanya si Momma itu sudah mulai gelisah melihat lollipop si Poppa.
“Come to Poppa ....”
“Nggghogey....”
***
__ADS_1
To be continue .....