BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 255


__ADS_3

Selamat membaca ....


 


“Kak Ara.”


“Ya, Sweety?.”


"Mau kemana?."


"Buat susu di dapur."


“Liat si Donald Bebek ga?.”


“Kayaknya dia lagi nge – gym.”


“Oke deh, Ibu Peri yang cantiknya Masya Allah. Ma acih infonya. Gue susulin Andrew dulu ya, Kak?.”


Fania berjalan menuju ke ruang gym, menyusul Andrew setelah berpapasan dengan Ara di dekat tangga.


“Iyaaaaa .. jangan lupa kunci  pintu sama matikan lampu ya.” Goda Ara sambil terkekeh.


Fania yang sedang berjalan ikut terkekeh dan berbalik sebentar.


“Dih Ibu Peri, sekarang lemes banget. Bawaan bayi?. Awas bayinya jadi admin lambe turah.”


“Ih amit – amit!. Coy - coy.” Sahut Ara sambil terkekeh.


Fania juga masih terkekeh lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju ruang gym.


***


“Kamu bicara dengan siapa barusan, Babe?.” Reno tak lama keluar dari kamarnya dan Ara.


“Itu si Fania .”


“Hm ... mana dia sekarang?.”


“ke ruang gym, menyusul Andrew.”


Reno hanya mengangguk menanggapi jawaban Ara.


“Babe.” Ucap Reno sambil mengikuti Ara ke arah dapur.


“What is, Hon?. ( Ada apa, Sayang? ).” Tanya Ara dengan suara lembutnya.


Reno nampak celingukan. “Is Little F, ask you something?. ( Apa Little F bertanya sesuatu ke kamu? ).”


Ara menghentikan kegiatannya yang sedang membuat susu hamil untuk dirinya. Reno mengambil alih untuk membuatkan susu.


“Selepas dua manusia kurang ajar itu pergi dari kantor, aku dan Andrew sempat bicara berdua soal mereka. Dan ga lama Little F muncul. Aku takut dia mendengar pembicaraan kami.”


Ara tampak berpikir sejenak.


“Tadi sih, dia hanya tanya soal Andrew ada dimana. Dan ga nanya apa – apa soal itu. Raut mukanya biasa aja sih, seinget aku tadi. Seperti ga ingin menanyakan sesuatu juga.”


Reno manggut – manggut sambil memberikan susu buatannya pada Ara. “Baguslah, kalau seperti itu.”


“Kapan kamu mau beritahu Fania?.”


“Nanti setelah semua berkas selesai. Setelah aku membereskan kedua orang itu juga.”


Gantian kini Ara yang manggut – manggut. “Mereka ga pernah berubah. Kasihan Ayah.”


Reno tampak berpikir. “Salahnya yang terlalu memanjakan mereka dan tidak pernah tegas kepada keduanya.”


“Membuat mereka menjadi serakah.” Ara menggeleng lalu menenggak susu buatan Reno.


Suaminya itu mengangguk, mengiyakan ucapan Ara.


***


‘Gimana cara nanyanya ya soal yang tadi siang?.’ Batin Fania bermonolog dalam jalannya menuju ruang gym tempat dimana si Donald Bebek berada sesuai info dari Ibu Peri tadi. ‘Tanya D, atau Kak Reno?.’ Otaknya masih sedikit berkecamuk. ‘Ish, oon. Tadi kenapa ga tanya Kak Ara aja, coba?.’


Fania setengah menggerutu mengingat tadi sempat berpapasan sebentar dengan Ara dan ia tidak ingat untuk bertanya soal apa yang ia dengar pembicaraan sepotong – sepotong antara suami dan kakak gantengnya tadi siang. Sedikit tak fokus, karena jalan sambil berpikir.


Duk!. Hasilnya tubuh si Kajol sukses menabrak kaca bagian luar ruang gym.


“Aw!.” Fania meringis pelan merasakan dahinya yang juga ikut nyosor kaca bagian luar ruang gym. “Ish, ni kaca ngapain ada disini sih?!.” Malah nyalahin kaca yang jelas – jelas udah ada disono dari kapan tau juga.


“Heart?.” Suara Andrew terdengar mendekat. Setelah tadi ia mendengar ada sesuatu yang menabrak dinding kaca saat ia tengah melakukan pull up dan tak lama ia mendengar suara Fania yang sepertinya sedang menggumam kesal.

__ADS_1


“Aw.” Ucap Fania pelan. “Aw, aw.” Bukan karena ia kejedot lagi. Tapi karena tubuh ‘sixpack shirtless  ( Badan kotak - kotak tanpa atasan ) nya si Donald Bebek yang terpampang indah dihadapannya. Dengan peluh yang membuat perut Andrew semakin s*ksi dimata Fania. Bikin jantung si Kajol jadi berdebar – debar meski udah sering lihat dan pegang juga.


“Heart, kamu kenapa?.” Andrew setengah mengernyitkan dahinya melihat Fania yang nampak sedang mengusap dahinya lalu nampak bengong ditempatnya.


‘Ya ampun jadi pengen buru – buru lepas beha.’ Ah, otak mesum si Kajol bersuara. Sapu mana sapu?. Ngeres banget otaknya si Kajol. 😄


“Heart?.”


Andrew sudah berdiri tepat didepan Fania yang sedang menikmati pemandangan tubuh bagian atas Andrew yang polos itu. Sentuhan tangannya menyadarkan Fania dari fantasi mesum istrinya yang hampir ngiler itu kayaknya.


“Ha?. Eh.”


Fania setengah terbata. Sedikit terkejut karena Andrew sudah amat dekat saat ini dan nampak menggeleng pelan sambil tersenyum.


“Your drool. ( Air liur kamu tuh ).” Andrew menunjuk dengan kepalanya sambil tersenyum simpul.


Fania spontan mengusap area bibirnya. “Ih, apaan sih.”


Andrew terkekeh. Sementara Fania mengerucutkan bibirnya.


“Habis melihat aku sampai segitunya.”


“Dih pede!.”


Protes Fania yang membuat Andrew malah tersenyum lebar.


“Kenapa dahi kamu?.” Tanya Andrew karena tadi sempat melihat Fania setengah meringis sambil mengusap dahinya.


“Kejedot.”


“Ke – jedot?.” Andrew kurang paham.


“This room glass wall hit me. ( Itu dinding kaca ruangan membentur aku ).” Ucap Fania yang menyalahkan dinding kaca ruang gym tersebut.


Namun Andrew malah terkekeh geli.


“Dih malah ketawa. Bukannya dielus – elus kek istrinya lagi kesakitan gini.” Ca elah si Kajol mulai modus. ‘Namanya juga usaha.’


“Dinding itu ga mungkin berjalan mendekati kamu, Heart.” Andrew masih terkekeh. “Pasti kamu jalan sambil melamun. Ada apa, hem?. Kangen?.”


“Iseng sendirian dikamar.”


“Jujur aja kalau kangen kenapa sih?.”


“Ini buktinya?. Baru setengah jam kamu sudah mencari suami kamu yang mempesona ini, kan?.”


“Iya, iya aku kangen sama Donald Bebek kesayangan. Suami aku yang sua ngat mempesona!.” Ucap Fania dengan senyum yang dibuat – buat. "Anda senang sekarang Tuan Andrew?."


Meski begitu Andrew tetap tersenyum lebar. “Nah gitu!. Kamu jarang – jarang bicara mesra ke aku, kan?. Aku selesaikan latihan sebentar lagi. Mau tunggu?.”


Fania mengangguk lalu Andrew menggandeng tangannya berjalan menuju tempat Andrew melakukan pull up tadi. Andrew sudah mengambil posisi kembali untuk melanjutkan latihannya. Dan Fania duduk pada salah satu alat.


Sambil Fania memperhatikan Andrew yang sedang latihan sambil juga otaknya sedang menimbang – nimbang tentang rasa penasarannya soal tadi siang yang ingin ia tanyakan.


“Ada yang mau kamu bicarakan, hem?.”


Entah Fania yang memang rasanya sulit untuk menyembunyikan sesuatu dari Andrew, atau memang karena feeling Andrew yang tajam hingga bisa membaca gelagat Fania.


‘Ketara banget apa ya, kalo gue mau nanya sesuatu?. Tapi itu roti sobek kek manggil manggil gue coba’. Batin Fania bermonolog sambil memandangi Andrew yang sedang melakukan pull up. 'Kenapa mesti ga pake atasan sih. Bikin gue .. Aish!.'


“Hei,”


Andrew yang menghentikan sesi pull up nya menangkup wajah Fania yang nampaknya sedang melamun lagi.


“Kamu sedang memikirkan apa sih?.”


Fania setengah terkejut dengan tangkupan tangan Andrew diwajahnya.


“Itu, roti sobek!.”


Andrew mengernyitkan dahinya.


“Roti sobek?.”


“Eh, itu .. pisang!.”


“Kamu lapar?.” Andrew gagal paham sementara Fania menggigit bibir bawahnya.


Galfok!.


***

__ADS_1


“Heart, do you have schedule to College today?. ( Sayang, kamu ada jadwal kuliah hari ini? ).” Andrew bertanya disela waktu sarapan mereka bersama keluarganya.


“Nope. ( Ga ada ).” Sahut Fania. “Kenapa?. Tapi aku tetep pergi ke kampus juga nanti buat penempatan jurusan.”


“Ga ada apa – apa. Aku mungkin pulang agak malam. Tapi aku usahakan engga.” Ucap Andrew dan Fania langsung menoleh dengan memasang mata sedikit menyelidik.


Andrew tersenyum.


“Mau ke RED?.”


Andrew menoleh pada Fania, masih tersenyum sambil mengunyah makanannya. “Masih curiga aja.” Ucap Andrew setelah berhasil menelan sarapan yang terlanjur masuk mulutnya sebelum Fania bertanya dengan sindiran yang sudah biasa terdengar sejak insiden di tempat tersebut.


“Ya kali, namanya juga orang nanya.”


“Dia pergi sama gue, Little F.”


Reno ikut nimbrung pembicaraan Fania dan Andrew. Sementara Dad, Mom, beserta Ara, Jeff juga Michelle masih jadi pendengar.


Fania menoleh pada kakak gantengnya.


“Mau barengan ke RED?.”


Keluarga Smith terkekeh mendengar ucapan Fania.


“Kasihan kakak ganteng kena sindir juga.” Ledek Ara pada Reno.


Reno dan Andrew hanya geleng – geleng.


 “Ada urusan kerjaan Little F, Sayang.” Ucap Andrew sambil menggoyangkan pelan kepala Fania. “Ga ada sindiran lain selain RED?.”


Sementara Fania memasang wajah tak perduli. Lalu melanjutkan sarapannya.


**


“Hey, Mrs. Andrew Smith, what do you want?. ( Hei, Nyonya Andrew Smith, lo mau pesen apa? ).” Fania sudah berada di sebuah coffee shop dengan dua teman akrabnya di kelas. Shita dan Jeannie.


“Creamy Cappucino and Choco cheese croissant.” Fania menyebutkan menu yang ia inginkan setelah menutup buku menu.


“Sounds okay. Make it two like yours. ( Kayaknya oke. Pesen dua kayak orderan lo ).” Ucap Jeannie yang malas membuka buku menu. Shita mengangguk dan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan kafe.


Ketiganya mengobrol sambil menunggu orderan mereka datang. “I didn’t see your Lara Croft. ( Gue ga liat Lara Croft lo ).” Ucap Shita yang tak melihat Alex selepas mereka keluar dari kampus.


“I asked her to buy string for my guitar. ( Gue minta tolong dia beliin senar buat gitar gue ). She’ll pick me up here ( Dia akan jemput gue disini ).”


Shita dan Jeannie hanya manggut – manggut saja.


Fania mengedarkan pandangan setelah mengecek pesan dari Andrew.


“What is it?. ( Ada apa? ). “ Tanya Shita yang melihat Fania nampak seperti sedang bengong sambil menopang dagu ditangannya.


“Nothing. ( Ga ada apa – apa ). I need to go the the rest room. ( Gue ke toilet dulu ).” Fania berdiri dari duduknya.


“Okay.” Sahut Shita dan Jeannie berbarengan.


‘Perasaan gue aja, atau tadi dua orang itu lagi merhatiin gue ga sih?.’ Batin Fania bermonolog, bertanya – tanya sendiri saat memperhatikan dua orang yang berada sedikit jauh dari meja tempatnya bersama dua temannya itu duduk seperti sedang juga memperhatikannya dengan intens.


Fania meraih ponselnya. Hendak menelpon Andrew tapi ia urungkan sebentar, karena ia merasa adanya panggilan alam yang tiba – tiba datang dan  mengharuskan ia untuk masuk ke dalam salah satu bilik toilet.


Fania bergegas keluar dari bilik toilet setelah selesai melakukan urusan pribadinya barusan.


‘Eh, itu bukannya? ....”


“Kamu Fania, kan?.”


Fania yang belum selesai bermonolog dalam hatinya sedikit terkejut saat melihat seorang perempuan yang sedang berdiri menghadap cermin wastafel sebelum akhirnya menegur Fania seraya bertanya. Ia tertegun sebentar.


“Iya.”


Fania menjawab pertanyaan wanita yang sudah dipastikan orang Indonesia tersebut. Sambil memperhatikan wajah wanita itu sambil mengingat – ingat apa dia mengenalnya.


'Siapa ya?.' Hati Fania sedang berusaha mengenali wajah wanita yang baru menegurnya itu.


“Fania Alexander?.”


Wanita itu kembali bertanya. Namun Fania tak segera menjawab.


“Iya betul. Maaf, anda ini siapa ya?. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?.” Tanya Fania dan dia sudah dalam mode waspada. Siapa tau wanita itu punya maksud tertentu.


“Benar kan, kamu Fania Alexander?. Gadis miskin sok polos yang diangkat oleh Reno Alexander sebagai adiknya.”


***

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2