
Selamat membaca ...
- - -
- - -
“Heart....” Suara Andrew dari luar pintu kamar mandi menyadarkan Fania dari lamunannya.
“Masuk aja, D. Ga dikunci.” Teriak Fania dari dalam kamar mandi dan Andrew pun langsung masuk.
Fania tersenyum pada Donald Bebek nan tamvan itu. “Belum selesai?.” Tanya Andrew.
“Udah kok. Kamu mau mandi juga?.” Tanya Fania dan Andrew mengangguk. “Aku ambilkan baju ganti ya?.”
“Ga perlu, Heart. Nanti aku ganti di walk in closet aja.”
“Ya udah kalo gitu. Aku keluar dulu ya.” Fania bergegas keluar dari kamar mandi untuk memberikan ruang pada Andrew yang ingin membersihkan diri.
Andrew hanya tersenyum pada Fania dan langsung membersihkan dirinya saat Fania sudah keluar.
***
“Heart....” Andrew menghampiri Fania yang sedang berdiri di balkon kamar mereka dengan sebatang rokok yang terselip di antara sela jarinya.
“Hei, dah selesai?.”
Andrew mengangguk.
“Kamu sedang memikirkan apa?.”
“Ga ada.”
Andrew tersenyum.
“Aku sudah lima menit berdiri dibelakang kamu, Heart.”
Fania sedikit terkejut dengan ucapan Andrew barusan. Takut Andrew memperhatikan sikapnya yang sedikit .. yah galau mungkin?.
“Kebiasaan. Suka muncul ga ada suara.” Fania berbalik dan menyandar pada sandaran balkon. Mencoba terlihat biasa oleh Andrew.
“One of my hobby. (Salah satu hobi aku).” Ucap Andrew lalu mendekatkan diri pada Fania dan berdiri menyamping disamping wanita yang dicintainya itu. “Ada apa, hem?.” Andrew membelai lembut wajah Fania. ‘Apa karena Dewa?.’ Batinnya menduga – duga.
Fania tersenyum pada Andrew. “Ada yang mau kamu tanyakan, Pak Andrew?.” Ucap Fania setengah berguyon dan Andrew setengah terkekeh. ‘Ganteng!.’ Batin Fania sambil memperhatikan wajah tegas namun seksi milik Andrew.
Andrew mengganti posisinya. Ia lebih mendekatkan diri pada Fania dan mengukung longgar tubuh Fania pada sandaran balkon. Menatap baik – baik wajah Fania yang raut wajahnya nampak biasa saja, namun juga menatap dalam – dalam manik mata Fania seperti sedang mencari tahu.
“Mau tanya soal aku dan Ka Dewa?.” Ucap Fania seraya bertanya. Andrew tersenyum.
“Sepertinya kamu bisa membaca pikiran aku.” Ucap Andrew yang nampak tenang.
‘Udah gue duga.’ Batin Fania yang sudah yakin kalau Andrew pasti akan bertanya soal dirinya dan Dewa.
Mengingat saat waktu ‘perkenalan’ tadi, Andrew menatapnya lalu Dewa secara bergantian. Tidak dengan wajah marah. Hanya saja sedikit sukar untuk Fania artikan.
“Mau tanya apa?.” Ucap Fania dengan sikap yang biasa.
“Maybe there’s something you want to tell me?. (Mungkin ada sesuatu yang kamu mau ceritakan?). Tanpa aku harus bertanya dengan spesifik?.”
Andrew menatap Fania dengan rona wajah yang masih sulit Fania artikan. Seperti halnya tadi saat dibawah. Nada dan wajahnya Andrew saat bicara seraya bertanya nampak biasa dan santai. Namun ada sesuatu dibalik ucapannya yang menuntut sebuah jawaban.
“Tentang?.” Tanya Fania pada Andrew sambil balik menatapnya.
“Kamu dan Dewa.” Langsung pada intinya. Ucapan Andrew yang menjawab pertanyaan Fania.
‘Kan, si Donald Bebek ini mata sama instingnya kenapa tajam banget sih?!.’ Batin Fania. “Apa yang mau kamu tau?.”
“Apapun. Ceritakan dengan jujur.”
Fania tersenyum. “Mau tanya, sedekat apa aku dengan Ka Dewa?.”
“Ya bisa dibilang begitu.” Wajah Andrew masih terlihat biasa.
__ADS_1
Fania tersenyum lagi, kemudian mematikan rokoknya. Mengusap pelan garis rahang Andrew.
“Jangan marah tapi ya?.”
Hati Andrew sedikit terusik. Ada sedikit takut dengan apa yang akan diucapkan oleh Fania, yang memintanya untuk menjaga emosi.
Mungkinkah Fania pernah mencintai Dewa?
“Aku pernah dekat, sangat dekat dengan Ka Dewa.”
Sekali lagi hati Andrew sedikit terusik.
“Seberapa sangat dekatnya?. Kalian sempat pacaran?.” Tanya Andrew dengan tatapan yang dalam. ‘Jangan bilang iya, Heart. Kamu bilang sama aku ga pernah pacaran sebelumnya. Dan aku tak pernah mencari tau hal itu dengan detail.’ Batin Andrew mulai tak tenang. ‘Kalau sampai kamu bilang pernah pacaran dengan Dewa, berarti selama ini kamu membohongi aku.’
“Lebih dari sekedar teman.”
Deg!. Ada rasa yang membentur dinding hati Andrew.
“Bukannya ....”
“Tapi aku ga pernah pacaran dengan Ka Dewa.”
Fania sudah memotong ucapan Andrew. Seperti sudah tahu kelanjutan kalimat Andrew sebelumnya.
“Kedekatan yang lebih dari sekedar teman, ga selalu dibilang pacaran, kan?. Banyak arti. Contohnya, aku dan Kak Reno. Tapi yang jelas, aku dan Ka Dewa ga pernah pacaran, kalau itu yang ingin kamu tau.”
Lega.. hati Andrew rasanya lega. Ia ingin tersenyum dengan sangat lebar rasanya saat ini. Mendengar ucapan Fania barusan.
“Really?. (Benarkah?).” Tanya Andrew dengan berlagak santai. Sok cool!. Padahal girang bukan main.
Fania mengangguk pelan namun yakin. ‘Tapi pernah suka juga. Lebih dari sekedar teman. Hehehe.’ Batin Fania bermonolog. “Kamu ga percaya sama aku, hem?.”
“Aku percaya....” Andrew tersenyum.
“Memang sudah seharusnya kamu percaya. Kelewatan kalo engga sih.”
“Memang kenapa?.” Tanya Andrew sambil mengusap pipi kanan Fania, tanpa berhenti memandangi dengan intens.
“Yah, pake nanya. Kan kamu tau kakunya aku waktu pertama kali ciuman sama kamu.”
Andrew tersenyum.
Batin Fania yang ga tahan liat wajah Donald Bebek yang teduh, se teduh sore ini.
‘’Ganjen ih, Kajol.’’ (Kata Author nih ya).
‘’Yarin, sirik aje lu Thor. Ngetik aje yang bener.” (Sahut si Kajol yang ganjen).
Andrew masih menelusuri wajah Fania dengan tangannya. Tak bicara hanya tersenyum. Senyum yang terpatri dengan indahnya di wajah tegas Andrew Smith.
“Makasih ya udah percaya sama aku.” Ucap Fania tulus yang juga menelusuri wajah tegas nan tampan seorang Andrew Smith dengan tangannya.
“No need to thank me. (Ga perlu berterima kasih ke aku). Kamu bilang kan kita harus saling percaya, hem?.” Ucap Andrew tulus.
Fania tersenyum dan mengangguk.
“Kamu bisa menilai sendiri, D. Apa aku jujur atau engga. Toh kamu udah ngerasain kan ciuman aku waktu pertama kali kamu cium aku?.”
Andrew tersenyum lagi. “Still sealed. (Masih segel).”
“Tuh tau, kan?.” Sahut Fania. “Bahkan tangan kamu juga tangan pertama yang menyentuh bibir aku, Nald.”
“D.” Sahut Andrew cepat.
Fania hanya nyengir. “Iya, D.”
“And it is sealed again since few days ago, right?. (Dan sudah kembali tersegel lagi sejak beberapa hari yang lalu, kan?).”
Wajah Andrew sedikit berubah. Sejak kejadian di RED, memang Andrew belum berani mencoba mencium bibir istrinya itu. Tahu diri. Diberi kesempatan oleh Fania aja Andrew sudah lega dan bahagia rasanya.
Cup!.
__ADS_1
Fania sedikit berjinjit dan mencium Andrew tepat dibibirnya. Mengecup sih.
“Udah aku buka tuh segelnya,”
Ucap Fania memandang Andrew yang nampak tersenyum lagi.
“Boleh sedikit lama ciumnya?.” Ucap Andrew dengan lembut.
‘Haish, Donald Bebek, kenapa saat ini kamu begitu menggemaskan siiiih.'
“Sini.” Fania menyandarkan punggungnya pada sandaran balkon, sambil telunjuknya bergoyang memberi kode agar Andrew lebih mendekat. Dengan wajah kocak yang seolah sedang menggoda.
Andrew setengah terkekeh, lalu mencondongkan tubuh dan wajahnya pada Fania dan si Kajol pun langsung melingkarkan kedua tangannya dileher Andrew.
Tanpa ragu untuk mengambil inisiatif mencium bibir Donald Bebeknya terlebih dahulu, yang memang Fania rindukan juga. Mengambil nafas sebentar, lalu kembali saling menautkan bibir mereka dan menari seirama, saling bertukar saliva.
‘Sorry Wa.’ Batin Andrew.
Mata Andrew melirik sebentar ke arah halaman belakang dimana ada sepasang mata yang memandangi Andrew dan Fania yang sedang berciuman di balkon kamar mereka. Lalu kembali memfokuskan dirinya pada Fania yang kian erat merengkuh lehernya.
Andrew juga makin mengeratkan dekapannya. Dengan sekali hentakan kedua tangannya dipinggang ramping Fania, si Kajol kini sudah berada dalam gendongan depan tubuh atletis Andrew.
Fania langsung melingkarkan kedua kakinya dipinggang belakang Andrew, saat sang Donald Bebek mengangkatnya barusan. Tak protes, bahkan tak melepaskan p*gutannya pada bibir Andrew. Hanya sebentar melepaskan sejenak untuk mengambil udara.
Andrew membawa Fania menjauh dari balkon, masuk kedalam kamar mereka.
Meninggalkan sosok yang tak berpaling memperhatikan keduanya dari bawah dengan wajah yang menggambarkan seperti ada luka dalam hatinya saat melihat Fania mencium Andrew dan wanita itu tampak agresif.
***
Kembali ke dua sejoli yang sedang melepas rindu dan kini sudah berada diranjang mereka.
Masih asik berciuman, saling berp*gutan dan bertukar saliva.
“Maaf.” Ucap Andrew tiba – tiba yang langsung sadar tangannya sempat tidak bisa dikondisikan karena sudah nyasar ke dada Fania. “Maaf ya, efek puasa.”
Fania hanya tersenyum. Ia mengelus sebagian wajah Andrew hingga ke garis rahang dan bibirnya. Bibir yang sering menggoda hasrat Fania, dan mengusap pelan dada bidang Andrew yang masih tertutup kaos.
“Heart ....” Andrew nampak ingin bicara.. atau.. bertanya?.
“Aku tau, Nald.. apa yang ada dipikiran dan hati kamu saat ini, tentang kedekatan aku dan Ka Dewa dimasa lalu.”
“Apa kamu mencintainya juga? Atau.. mungkin pernah mencintainya? ....”
Fania memandangi Andrew yang barusan bertanya tentang perasaannya pada Dewa.
**
To be continue...
😘
Dear untuk semua pembaca Bukan Sekedar Sahabat, Author Cuma mau bilang, ga pernah bosen untuk ngucapin makasih untuk para reader alias pembaca semua yang masih setia.
Mohon maaf kalo ga bisa untuk crazy up. Meskipun Authornya ingin sekali – kali bisa crazy up sih.
Tapi yah, berhubung emaknya Queen ini, which is emak – emak pada umumnya yang punya serentet kerjaan, jadi yah tau lah ya para emak, gimana rempongnya harus membagi waktu ini ono.
Tapi Author tidak akan melewatkan seharipun tanpa update episode baru. Biar satu, tapi setidaknya bisa membuat para reader lumayan zeneng dah yak.
Selalu mengusahakan lebih dari episode setiap up, tapi yah Author juga mau asal nulis juga iya khan?.
Karena asal reader tau nih ya, setiap episode yang akan Author tulis itu, Author bayangin dulu, kadang authornya kayak orang gila ngomong sendiri sambil ngaca. Reka adegan ceritanya. Wkwk.
Tuh kan Author jadi curcol deh ah.
Pokoknya Author usahakan bisa memenuhi keinginan para reader semua.
Segitu dulu aja curhat Author ni hari kayaknya. Makasih udah dengerin curhatnya Author😄
Loph Loph
__ADS_1
Emaknya Queen
💗💗