BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 41


__ADS_3

♣YUK DADAH - BABAY♣


♦♦♦♦


Selamat membaca ..


♦♦♦♦♦♦♦


London ..


“Assalamu’alaikum.” John masuk ke dalam Kediaman Smith, menghampiri para anggota keluarganya yang sedang bersiap untuk makan malam.


“Wa’alaikumsalam.” Sahutan dari para anggota keluarganya.


“Widih, kerja keras bagai kuda.” Fania menyambut John dengan ledekannya.


“Kakak lo tuh, ada si Nino kenapa jadi gue yang disuruh ke Irlandia.” Sahut John pada Fanie.


“Kan si Nino lagi handle proyek yang di Bali.”


“Whateverlah, yang jelas gue lapar.”


John langsung duduk ditempatnya di meja makan.


“Cuci tangan lo dulu sana, main duduk aja lo.” Celetuk Jeff. “Dari luar juga.”


“Oh iya.” John bangkit dari duduknya untuk pergi ke wastafel yang tak jauh dari ruang makan.


“Oh iya Chel, lo jadi mau bantuin gue mengurus kantor yang di Italy?.” Tanya Andrew pada Michelle yang langsung mengangguk.


“I need some new atmosfer. (Gue butuh atmosfir baru).” Ucap Michelle.


“Ya sudah minggu depan lo ikut gue kesana.” Sahut Andrew bersamaan dengan Joh yang sudah kembali ke tempat duduknya.


‘Perasaan gue kayak ada yang kurang.’ John nampak celingak – celinguk. “Eh iya, Keluarga Cemara sama si Dewa mana?.” Tanya John yang akhirnya sadar kalau ruang makan tak seramai beberapa waktu belakangan.


“Udah balik ke Indo.” Sahut Fania.


“Hah?.” John nampak terkejut. “Kapan mereka balik?.”


“Kemaren lusa.”


John terdiam sejenak.


“Dewa juga ke Indo?.”


Fania mengangguk. “Sekalian ada urusan di Jakarta sebelum ke Jerman.”


“Kok tiba – tiba?. Kan rencananya bareng gue besok atau lusa.”


“Si Prita malas liat muka lo.” Celetuk Andrew.


**


Selepas makan malam seperti biasa para muda – mudi berkumpul di halaman belakang, sementara para oma dan opa sedang bersama cucu – cucu mereka.


“Eh Jol.” John berbicara pada Fania.


“Apa Kak?.”


“Keluarga Cemara balik ke Jakarta lebih cepat, karena masalah gue sama Prita ya?.”


“Hmm, bisa dibilang begitu.”


“Segitunya ya si Prita marah sama gue?. Gue telfon direject terus kadang ga diangkat dari tiga hari yang lalu. Gue chat dia dari sejak itu malam, juga ga ada yang dia balas. Sampe sekarang bahkan. Di baca aja engga.”


John mencerocos pada Fania, sisanya mendengarkan sambil cengengesan.


“Nah elo segala pake bentak dia. Kaga terimalah si Priwitan.”


“Yah namanya gue emosi abisnya. Kelepasan.”


“Sukurin.” Celetuk Jeff.


John berdecak dan melirik sebal pada Jeff.


“Lagian sih Kak John, membela si Aila sampai segitunya.” Timpal Michelle.


“Eh Nona Muda, tuh dua Kakak lo itu kalau belain istrinya kayak apa?.” Tunjuk John pada Andrew dan Reno. Sementara yang ditunjuk hanya pasang mode woles. “Coba kalau ada yang ngomong jelek soal si Fania sama Ara, ga ngamuk itu dua kakak lo sama orang yang menjelekkan istrinya?.”


“Ya udah sih, kalo lo juga ga terima sama ucapannya si Prita soal Aila, ga usah lagi lo bahas. Si Priwitan mau marah kek, ngambek kek ga usah lo perdulikan. Lo urus aje urusan lo sama si Aila, kaga usah ngurusin si Prita mau


gimane kek sikapnya dia ke elo.”


“Ya ga gitu juga Jol, masa kita keluarga musuhan?.”


“Ya elo ngebentak die begitu, si Priwitan kaga terima. Emak bapak nye termasuk gue aja ga pernah ngebentak die kayak begitu.”


“Ga salah denger gue Jol?. Nah elo sama mama Bela kalau ngomong sama si Prita bukannya ngebentak lagi, tapi teriak.”

__ADS_1


“Eh bule koplak, si mamah sama gue dari si Prita orok udeh begitu ngomongnya ama dia. Udah terbiasa!. Dari tali pusernya belom digunting die udah terbiasa denger bacod gue sama si mamah.  Nah elo itungan nya orang laen. Tersinggung lah ade gue!.” Cerocos Fania.


John menghela nafasnya setengah frustasi.


“Hah, ribet banget kayaknya ini urusan.”


“Ya sudah ngapain lo pusingkan?.” Andrew buka suara. “Benar yang Fania bilang. Kalau lo ga suka ada yang bicara ga enak soal wanita tercinta lo itu, ya ga usah lo pusingkan soal sikap si Prita sama lo.”


“Ya kan gue bilang tadi, ga enak kalau musuhan sementara gue sama Prita kan sama seperti dengan lo semua, akrab. Satu keluarga juga.”


“Urusan lo itu sih.” Celetuk Reno dan Ara terkekeh. “Harusnya lo mikir begitu sebelum bentak si Prita. Tuh anak kan lebih judes dari kakaknya.”


“Ck!.” John mengacak rambutnya setengah frustasi.


***


Bekasi – Jawa Barat, Indonesia ..


“Tarik nafas. Be cool as usual John (Tetap santai seperti biasa John).” Si bule koplak sudah berada di halaman rumah Keluarga Cemara. “Ini kenapa gue jadi kayak mau membujuk pacar yang lagi ngambek sih?. Si Aila aja ga


pernah ngambek perasaan gue. Ini si Priwitan malah yang ngambek segala, bikin gue merasa bersalah.”


John bergumam sambil menggerutu dalam mobilnya.


“Kalo bukan karena gue terlanjur sayang kayak ke adik gue sendiri sama si Priwitan. Males banget ini gue membujuk ini anak!.”


John menghela nafasnya. Lalu keluar dari mobilnya setelah sukses ia parkirkan.


“Assalamu’alaikum.”


John mengucapkan salam saat seorang asisten rumah tangga sudah membukakan pintu untuknya.


Si asisten menjawab salamnya dan terdengar juga sahutan jawaban salamnya John dari dalam rumah, bersamaan dengan kehadiran Papa Herman dan Mama Bela.


John langsung menghampiri mereka dan meraih tangan keduanya.


“Eh Nak, John. Kapan sampe?.”


Papa Herman bersuara seraya bertanya.


“Semalam Pa.” Jawab John.


“Ayo masuk. Udah sarapan kamu?.”


Mama Bela mempersilahkan seraya bertanya juga.


“Sudah Ma. Makasih.”


“Oh iya Prita mana?.”


John langsung bertanya tanpa basa – basi soal si Prita yang belum kelihatan batang hidungnya, padahal mobilnya ada di halaman.


“Lagi pergi dia.”


Mama Bela yang menjawab.


“Mobilnya masih ada. Dia masih marah ya sama John?.” Ucap si bule koplak seraya bertanya.


“Si Prita emang pergi dari kemaren. Kalo mobilnya itu abis dibawa dari tempat cucian mobil.” Sahut papa Herman. “Kalo soal masih marah sama kamu Papah kaga tau dah.”


“Hmmmm.... Soalnya pesan sama telfon John ga ada yang dia jawab atau balas sampai sekarang.”


“Si Prita lagi pergi sama temen – temennya ke Bali, John. Kemaren baru berangkat. Gitu sih bilangnya. Mau holidey”


Mama Bela menambahkan dan John manggut – manggut.


“Ya kalo soal itu Mamah sama Papah sih ga tau ya John. Yang Mama tau sih, waktu ngobrol ama si Prita ya die kaga terima aje dibentak begitu sama kamu.”


“Ya John menyesal soal itu Pa, Ma. Makanya datang kesini buru – buru mau minta maaf sama Prita. Ga enak juga kalau begini hubungan John sama dia. Biasanya suka ngobrol, jalan bareng, sekarang seperti dimusuhin ya rasanya ga nyaman.” John menjelaskan.


“Ntar deh kalo die balik Papah sama Mamah coba bilangin ke si Prita. Baru ini si Prita begini jadi keder juga Papah sama Mamah.”


“Keder?.”


Papa Herman dan mama Bela setengah terkekeh. “Bingung maksudnye.”


John hanya ber oh ria.


**


‘Prita, kamu masih marah sama Kak John?.’ John mengirimkan pesan teks pada Prita saat sudah berada dikursi kemudi mobilnya, setelah berpamitan pada papa Herman dan Mama Bela. Centang satu, kemudian meletakkan ponselnya di kursi sebelahnya dan langsung menstarter mobilnya untuk kembali ke Apartemen pribadinya.


“Ish nih anak, bener – bener! Jelek banget kelakuan!.”


John menggerutu sendiri karena pesannya pada Prita baru tercentang dua sejak siang tadi yang sudah mengganggu moodnya untuk pergi kemana – mana hari ini.


“Mending gue telfon Aila.” John mencari kontak nomor kekasihnya itu, berkirim pesan tak lama melakukan panggilan video dengan sang pujaan hati.


Lagi – lagi si bule koplak mendengus kesal setelah selesai ber video call dengan kekasihnya dan kembali mengecek pesannya pada Prita, masih sama belum dibaca.

__ADS_1


“Harusnya kan gue senang habis lihat mukanya si Aila. Tapi kenapa gue makin kesel si Priwitan ga mau baca pesan gue. Nanti kalo ketemu gue piting itu anak sekalian!.”


***


“No, are you still in Bali? ( No, lo masih di Bali? ).” John menghubungi Nino di ponselnya.


“ ...... “


“I fly over there by tomorrow ( Gue terbang kesana besok ). You pick me up ( Lo jemput gue ).”


“ ...... “


"Okay. I'll let you know the time ( Oke, nanti gue kasih tau waktunya )."


****


Bali, Indonesia....


‘Gila ini gue kayaknya. Ngejar maafnya si Priwitan kayak lagi mengejar maaf cewek gue sendiri. Ck.’


John menggerutu dan berdecak dalam hatinya, saat ia sudah menapakkan kaki di Bali.


“What makes you come to Bali?. R send you? ( Apa yang membuat lo datang ke Bali?. R yang suruh lo? ).”


Nino sudah menjemput John di Bandara.


John menggeleng. “I want to meet Fania’s sister ( Gue mau nemuin adiknya si Fania ).” Ucap John.


“Miss Prita is here? ( Nona Prita disini? ).”


John mengangguk sambil langsung masuk ke mobil yang membawa Nino untuk menjemputnya.


“I haven’t any information if Miss Prita is here? ( Gue ga dikasih tau kalau Nona Prita disini? ). But I don’t think that she’s here ( Tapi gue rasa dia ga ada disini ).”


“What do you mean? ( Maksud lo? ).”


“Ya because if Miss Prita is here, while I’m still here, Andrew or R will tell me to take care of her ( Ya kalau Nona Prita memang disini, saat gue juga masih berada disini, Andrew atau R pasti minta gue untuk menjaganya ).” Ucap Nino.


‘Iya juga ya?. Haish! Kenapa gue ga mastiin dulu sama si Kajol?.’


***


‘Prita, kamu lagi di Bali?. Kak John juga lagi di Bali. Bisa ketemu?. Jangan lama – lama ngambeknya. Jelek tau.’


John lagi – lagi mengirimkan pesan pada Prita setelah sampai di Hotel dan belum berhasil menghubungi Fania.


Mata John langsung berbinar saat pesannya langsung tercentang dua sekaligus berubah warna. Buru – buru John menekan tombol panggilan di kontak si Priwitan dalam aplikasi chatnya.


‘Prita angkat dong telpon Kak John. Gue bela – belain ke Bali buat menyusul adik gue yang ngambeknya parah ini.’


John mendengus kesal sambil mengetik pesan dan mengirimkan dengan tergesa karena si Priwitan ga mau menerima panggilannya.


“Wah bener – bener ini si Priwitan.” Sudah tiga jam berlalu pesan terakhir yang John kirim ke Prita masih juga tak terbalas. Panggilannya kalo ga direject, diabaikan sama si Prita sampai kuping si bule koplak panas dengerin  nada sambung.


****


Di suatu tempat yang jelas bukan di Bali


“Eh buset.”


Prita sedikit terhenyak membaca pesan dari John yang ia buka di ponselnya.


“Ngapain juga nyusulin gue ke Bali?. Ketemu sono ama Leak. Bule koplak sialan udah bentak – bentak gue ngajakin ketemu. Najis!. Emak Bapak gue aje ga pernah ngebentak gue, ini berani - beraninya ngebentak gue didepan orang - orang gegara belain cewenya!. Sialan banget emang!.”


Prita bergumam sendirian. Gumam yang condong ke gerutuan campur sumpah serapah.


"Gue cinta emang! Tapi gue ga terima sama perlakuan lo!."


Tak lama ponsel Prita berdering saat ia tengah mencerocos sendiri. John yang menghubunginya. Namun si Priwitan mengabaikannya. Tak lama pesan dari John masuk lagi ke ponselnya. Tadinya ga mau dibaca tapi ga sengaja ke pencet itu layar apung.


‘Prita angkat dong telpon Kak John. Gue bela – belain ke Bali buat menyusul adik gue yang ngambeknya parah ini.’


“Ngambek lo bilang?!. Gue sakit atiiii...!!!! Asal lo Tau!!.”


Masih ngedumel sendiri.


“Berbahagialah dengan si Aila yang lo bangga - banggakan itu Kak John!.”


Menekan titik tiga diatas pada  nomor kontak John pada aplikasinya. Menekan opsi lainnya dan Yak, nomor si bule koplak di blokir sama si Priwitan. Dan hal yang sama si Prita lakukan pada sosmednya.


“Yuk Dadah – Babay!.”


***


To be continue...


Supportnya buat BSS dan Author selalu ditunggu ya My Bebi bala – bala semua.


Loph Loph

__ADS_1


Emaknya Queen


__ADS_2