
Selamat membaca...
“Ndrew.” Reno menyambangi Andrew di ruangan pribadi adik angkat merangkap adik iparnya itu.
“Kenapa?.” Andrew mengalihkan pandangan dari komputernya.
“Kapan berangkat ke Italy?.” Tanya Reno.
“This week (Minggu ini).”
“Jadi ajak Fania?.”
Andrew mengangguk. “Gue belum pernah ajak dia kesana. Nanti kalau gue ga ajak dia curiga, cemburu, malah melakukan hal – hal yang bisa membuat gue panik.”
Reno terkekeh.
“Lagipula gue mau langsung ke Indo dari Italy.” Andrew melonggarkan dasinya. “Fania kangen sama Keluarga Cemara. Sekalian cek kantor cabang Smith Company yang di Jakarta. Cek Showroom yang disana juga.”
“Hemmm.... Ya jangan lama – lama. Ingat, Si Fania kuliah.” Sahut Reno. Andrew mengangguk.
Kening Reno sedikit berkerut menatap Andrew dalam duduknya. Dengan tangannya bersedekap menelisik satu bagian di area atas tubuh si Donald Bebek itu.
“Kenapa melihat gue begitu??.”
Reno berdiri, berjalan menghampiri Andrew.
Andrew pun langsung dalam mode waspada dan siaga satu melihat Reno mendekatinya.
“Apa – apaan sih lo, R?!.” Andrew bertanya keheranan karena Reno mencondongkan sebagian wajahnya.
“Sadis juga adik gue ya, ternyata?.” Reno menyibakkan kerah kemeja Andrew yang tercetak banyak sekali kissmark disana, hampir tanpa celah.
Siapa lagi kalau bukan si Kajol tersangkanya.
“Baru tau lo?.” Andrew mendorong pelan bahu Reno.
Reno geleng – geleng.
“Tutupin itu kissmark, ga malu apa?.”
Reno kembali ke tempat duduknya. Andrew pun sama setelah sempat kaget tadi dengan kelakuan kakak angkat sekaligus iparnya itu.
“Ga!. Tanda cinta!. Kenapa harus malu?.”
“Bucin dasar!.”
“Terserah!.”
“Mesum juga adik gue ya?.”
“Fania lebih dari sekedar mesum.” Andrew menaik turunkan alisnya. Membuat wajah kocak nan mesum yang amat sebal dilihat Reno.
“Pasti lo yang bikin adik gue itu berubah mesum!.” Ucap Reno ketus.
Andrew tergelak. “Adik lo itu paham memanjakan suami, R. Apalagi semalam, ugh!.” Menggoda Reno dengan memperagakan bak sedang merengkuh pinggang Fania diatasnya. Sambil menggigit bibir bawahnya.
Reno kembali menggeleng melihat mimik wajah Andrew yang rasanya ingin ia tampol saat ini juga. Pasalnya Reno masih puasa karena kehamilan Ara masih di trimester pertama.
Meskipun diperbolehkan untuk berhubungan suami istri dengan hati – hati, namun Reno memilih menyabarkan dia dan adik kecilnya sementara ini untuk bersemayam dalam surga dunia miliknya pribadi atas Ara.
“Haish!. Lebih baik gue kembali ke ruangan. Males lama – lama ngobrol sama lo. Otak mesum!.”
Andrew kembali tergelak. Reno pun beranjak dari duduknya, untuk melangkah pergi dari ruangan Andrew.
“Masih puasa memang lo, R?.” Tanya Andrew sambil terkekeh.
“Mind you Own Business (Urus – urusan lo sendiri).” Reno menjawab sambil berjalan.
“Hahaha. Semoga diberi kesabaran.”
Jari tengah Reno diacungkan tinggi – tinggi ke arah Andrew yang belum selesai tergelak.
__ADS_1
“By the way, R! (Ngomong – ngomong, R!).” Andrew tiba – tiba mengejar Reno.
“What now? (Apalagi?).”
Tanya Reno dengan malas.
Andrew nampak tersenyum jahil.
“Nanti minta Ara temui Fania.”
“For? (Untuk).”
Reno mengernyitkan lagi dahinya. Sementara Andrew udah senyam senyum ngeselin.
“Belajar goyangan Fania yang semalam. Amazing R....” Ucap Andrew menggoda Reno.
“Sialan!.” Reno melanjutkan langkahnya jauh – jauh dari si Botak mesum.
Andrew tergelak puas menggoda Reno. “Serius R. Goyang Kolab namanya!.” Setengah teriak pada Reno yang sudah berada di dekat lift.
“Shut your f*ckin’ mouth! (Tutup mulut sialan lo!).” Reno masuk ke lift dengan kesal. ‘Goyang Kolab?.’ Batinnya mengingat ucapan Andrew barusan. ‘Botak sialan emang!.’ Seketika kepala Reno pening.
***
Kandungan Ara sudah berjalan tiga bulan. Perut ratanya pun sudah tak ada lagi. Sudah mulai menonjol meski masih kecil. “Kak, nanti lahiran rencananya mau di sini apa di Indonesia?.” Fania bertanya di sela makan malam dengan Keluarga Smith yang sudah berkumpul minus si Bule Gila yang sedang cari hiburan diluar.
“Kak Ara sih maunya lahiran di Indo, Sweety.”
“Emang ga apa – apa tuh Kak lagi hamidun gitu naek pesawat?.” Tanya Fania lagi.
“Hamil, Kak Fania. Kenapa sih suka banget pakai bahasa yang aneh – aneh?. Udah lama tinggal disini juga.”
Michelle yang selalu sering protes kalau Fania suka pake bahasa yang diplesetin. Fania dan yang lainnya terkekeh.
“Iya Hamil, biar adenya si Donald ini bahagia!.” Ledek Fania. “Emang boleh itu Kak Ara lagi hamil begitu naek pesawat?.”
“Boleh aja sih udah tanya Judith waktu itu. Tapi nanti gue sama Ara akan konsultasi lagi lusa.” Sahut Reno.
“Habiskan dulu makanan kamu, Heart.” Ucap Andrew.
Fania melirik sebal pada Andrew. “Orang aku nanya juga.”
“Iya, nanti kan bisa tanya – tanya lebih puas selepas makan malam ini.” Ucap si Donald dengan sabar kalau Fania mulai menjengkelkan. Susah dibilangin.
“Orang bule pada ribet!.” Gerutu Fania lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Membuat Dad, Mom juga Ara dan Reno terkekeh. Sementara Andrew dan Michelle geleng – geleng.
****
“D,” Panggil Fania pada Andrew saat mereka sedang berkumpul di ruang santai keluarga menikmati dessert. ‘Ih gue sih masih suka geli sendiri kalo nyebut si Donald pake sebutan ‘D’.’ Batin Fania terkekeh sendiri.
“Apa, Heart?.” Sahut Andrew.
“Kak Jeff kemana emang?.” Tanya Fania.
“Red.” Jawab Andrew yang kemudian menyuapi Fania sesendok cappucino dessert.
“Red?. Night Club itu?.”
Andrew mengangguk sambil memasukkan sesendok cappucino dessert juga ke mulutnya.
“Tempat nongkrong kalian ya?.”
Andrew mengangguk lagi. Terlalu menikmati cappucino dessert yang dibuat Fania itu.
“Kesana yuk?.”
“Uhuk, uhuk.” Andrew seketika tersedak. Sementara Reno, Ara dan Michelle sedikit terkekeh. Dad dan Mom hanya jadi pendengar yang baik.
‘Abis Lo Donald Bebek.’ Batin Reno tergelak.
‘Nah loh. Bakalan ketahuan belangnya ini bakalan si Andrew bisa - bisa.’ Batin Ara.
__ADS_1
“Ayo D, kesana .. aku mau tau si.” Fania merengek pada Andrew. “Ya ... ya?.”
“It’s not a good club (Jelek Clubnya).” Sahut Andrew.
“Ah boong banget. Katanya tempat nongkrong kamu kan itu?. Ga mungkin kalo jelek.”
“Jelek beneran.” Andrew menatap Fania dengan senyum manis yang nampak dibuat – buat. ‘Bisa kacau kalau Fania ke Red.’ Batin Andrew was – was.
“Bohong!.” Sahut Fania. “Ayo sih ah, sebentaran doang, D ku sayang.”
“Next time, okay?. I’m a little bit tired today (Lain kali aja ya?. Aku sedikit lelah hari ini).” Andrew beralasan.
Fania mengerucutkan bibirnya.
“Ah Donald Bebek gak asik!.”
Disambut dengan kekehan anggota keluarga yang lain.
“Excuse me, Mister Anthony, everyone (Permisi Tuan Anthony, semuanya).” Theresa datang menghampiri para majikan yang sedang bersantai.
“What is it, Theresa? (Ada apa Theresa?).” Tanya Dad.
“There’s a young lady who is looking for Mister Jeff. (Ada seorang wanita muda yang mencari Tuan Jeff).”
“Who? (Siapa?).” Tanya Mom.
“I never seen her before, Ma’am. She said her name is Clarissa (Aku belum pernah melihatnya, Nyonya. Dia bilang namanya Clarissa).”
“You don’t tell her that Kak Jeff is not here? (Kamu ga bilang kalau Kak Jeff ga ada?).” Michelle ikutan bertanya.
“Already, Miss. But that woman insist that she will be waiting (Sudah Nona. Tapi wanita itu memaksa untuk menunggu).”
“I’ll meet her (Aku akan menemuinya).” Ucap Andrew seraya beranjak dari duduknya.
“Kalo cewe aja, cepet banget!.” Celetuk Fania dengan ketus sambil melirik Andrew dengan sinis.
Andrew terkekeh. “Ya udah ayo, ikut juga kamu, sayang. Fania, yang cantik jelita.” Goda Andrew sambil meraih dan menggandeng tangan si Kajol. “Pasti si Jeff buat masalah, sampai ada perempuan yang berani – beraninya datang
malam – malam begini ke rumah kita.”
Pada akhirnya anggota keluarga yang lain mengikuti Andrew dan Fania untuk menemui wanita bernama Clarissa itu.
“How can I help you? (Ada yang bisa gue bantu?).” Tanya Andrew saat dia dan yang lainnya menemui Clarissa.
“Oh, Hi, I’m Clarissa (Oh Halo saya Clarissa). Hello Everyone (Halo semuanya).” Sapa Clarissa dengan senyumannya, sambil mengulurkan tangan pada Andrew karena pria itu yang menyapanya.
“What is it? You’re looking for Jeff? (Ada apa? Lo cari Jeff?). Andrew tak menyambut uluran tangan Clarissa. Langsung bertanya pada intinya.
“Yes, I’m looking for him (Ya, aku mencarinya).”
“My maid told you that he’s not here, right? (Pelayan gue udah bilang kalau dia ga ada, kan?).” Ucap Andrew lagi tanpa mempersilahkan Clarissa untuk duduk.
“Yes. She told me (Ya, dia memberitahuku begitu).” Clarissa menunjuk pada Theresa. “But I’ll be waiting (Tapi aku akan menunggu).”
“Why? (Kenapa?). Who you insist to wait for him? You can call him and meet him anywhere ‘but this house (Kenapa bersikeras menunggunya?. Lo bisa telpon dan temui dia dimanapun kecuali rumah ini).” Andrew mendominasi
percakapan dengan Clarissa. Ia tak suka ada orang asing yang sembarangan masuk ke Kediaman Smith.
“Sorry, but I have no choice (Maaf, tapi aku tak punya pilihan).” Sahut Clarissa dengan santai. I try to call, but seems that he’s avoiding me (Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi sepertinya dia menghindariku). He’s a
coward ( Dia seorang pengecut).”
“Mind your words, Miss (Perhatikan kata – kata lo, Nona).” Reno angkat suara.
Clarissa tersenyum, sinis. “Well, that’s the right word I guess ... for a man who doesn’t want to admit his baby (Yah, rasanya itu kata yang tepat... untuk laki – laki yang tidak mau mengakui anaknya).” Clarissa memegang perutnya yang tidak terlihat seperti hamil itu.
Sontak saja ucapannya membuat seluruh Keluarga Smith terkejut.
‘Kan baru gue bilangin si bule gila. Kena batunya ntar.’ Batin Fania.
**
__ADS_1
To be continue ..