BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 129


__ADS_3

Selamat membaca ..


 


“Udah jangan lama – lama main saljunya , nanti kamu sakit Sweety.” Andrew sudah mendekati Fania, masih dengan senyumnya.


Fania juga tersenyum pada Andrew dengan cantiknya. Selalu ada bahagia di hati si Donald setiap kali melihat senyum Fania nya.


“Nald, minta tolong ambilin hp aku dong.” Ucap Fania.


“Pasti mau foto – foto. Sini aku fotoin pake hp aku.” Sahut Andrew.


“Ih paham banget abang Donald.” Fania mulai sok centil yang selalu membuat Andrew geleng – geleng kalau gadis itu sudah mulai kecentilan. Salah satu hal yang membuat Andrew jatuh cinta. Centil nya Fania. Bukan centil yang murahan, namun centil yang menggemaskan. Bagi Andrew.


“Ya udah pose sana.” Ucap Andrew. Dan Fania sudah pasti jago ambil posisi kalo soal narsis mah dia.


Cekrek... Cekrek... Cekrek...


Tiga jepretan dari kamera ponsel Andrew menangkap gambar Fania yang sedang menikmati hujan salju pagi itu. “The best one. (Yang terbaik).” Ucap Andrew pada dirinya sendiri pada foto terakhir yang ditangkap kameranya.


Foto yang menangkap sebagian wajah Fania dengan mata yang terpejam dengan senyuman yang mampu meruntuhkan dunia Andrew, dengan butiran salju yang gambarnya sperti blur disekeliling wajah Fania. Auto fokus di kamera Andrew memang the best dalam menangkap gambar.


“Bagus ga?.” Tanya Fania sumringah.


“Bagus. Sangat.” Jawab Andrew. “Udah yuk masuk. Nanti kedinginan kamunya.”


“Eh bentar – bentar. Sekarang jam berapa?.” Tanya Fania


“7.00 AM.” Jam tujuh pagi ucap Andrew dan Fania seperti menghitung dengan jarinya. Membuat Andrew sedikit heran. “Kenapa?.”


“Berarti di Indonesia sekarang jam dua siang?.” Ucap Fania seraya bertanya.


“Kurang lebih.” Ucap Andrew. “Kenapa?. Mau telpon keluarga cemara?.” Tanya Andrew dan Fania mengangguk. “Ya udah telpon didalam aja udah basah ini rambut kamu, Sweety.”


“Sekarang aja aku mau VC (Video Call). Biar pada liat aku maen salju ini.” Fania terkekeh dan Andrew pun sama.


“Ya udah, Mama, Papa atau Prita yang mau kamu hubungi?.” Tanya Andrew sambil membuka kontak di ponselnya.


“Siapa aja yang penting nyambung.” Sahut si Kajol asal. Dan Andrew mencoba menghubungkan, sambil memberikan ponselnya pada Fania.


“KAJOOOOL !!....” Dan terhubung lah Hema Malini KW di ponsel Andrew. Mana nyaring beut suaranya.


“SYAHELAAAAHHHH !!! ....” Suara Fania ga kalah nyaring membuat Andrew menggaruk sedikit sisi dalam telinganya namun tersenyum lebar.


“KAKAK.!!!....” Suara Prita dan Papahnya pun terdengar dan wajah keluarga cemara pun keliatan di ponsel Andrew meski kayaknya berebutan. “Kaka udah sampe London?.” Suara Prita mendominasi.


“Udah.” Sahut Fania. “Keluarga cemara sehat?.”

__ADS_1


“Sehat Kaka Alhamdulillah. Kamu sehat Nak?.” Kini Papahnya Fania yang bertanya.


“Fania sehat Pah. Alhamdulillah. Sampai dengan selamat.” Jawab Fania.


“Jol, lagi dimana Jol?. Itu apaan putih putih di pala kamu?.” Nah emaknya Kajol bacotnya sekarang yang kedengeran. Fania terkekeh.


“Mah, Fania Mandi Saljuuu.” Ucap Fania girang sambil mengangkat tinggi ponsel Andrew yang sedang ia pegang sambil bergoyang ke kiri dan ke kanan biar pada ngeliat salju beneran itu keluarga cemara.


“Ih Kaaakaakk, enak banget sih bisa ngerasain mandi salju.” Ucap Prita iri tapi bahagia juga melihat impian sang kaka sejak dulu kala akhirnya tercapai.


“Enak dong. Nanti ye Prita kalo tabungan gue cukup gue ajak kesindang. Oke?.” Ucap Fania bahagia.


“Bener loh ya Ka.” Ucap Prita manja.


“Kapan gue boong.” Timpal Fania.


Andrew masih memperhatikan saja si belahan jiwa yang asyik video call sama keluarganya. ‘Nanti kita jemput mereka ya sayang.’ Batin Andrew.


“Kamu sendirian itu di lapangan?.” Ucap si Papa yang memang hanya melihat Fania seorang dan terbentang halaman luas yang sedikit demi sedikit mulai tertutup butiran salju yang masih seukuran kelereng.


Fania terkekeh geli, halaman rumah orang tuanya Andrew dibilang lapangan sama Papanya. Ga salah juga sih Papanya Fania. Emang luas banget itu halaman. ‘Ni baru halaman belakang. Belom liat aje itu halaman depan bisa buat nyewa dangdut pull.’ Batin Fania.


“Jol udeh jangan lama – lama mandi salju. Ntar lu ampeg.” Ucap si Mamah asal lagi bikin Fania terkekeh. Ah betapa kangennya Fania pada Keluarga Cemara.


“Iya ini mau masuk.” Sahut Fania.


“Masuk Mane?.” Tanya si Mamah.


“Rumahnya si Endru apa Nak Reno?.” Tanya si Papah.


“Rumah orang tuanya Andrew, Pah.” Jawab Fania lagi.


“Oh rumah orang tuanya Nak Endru deket lapangan?.” Tanya si Papah lagi dan Fania terkekeh geli begitu juga Andrew.


“Ini halaman belakang rumah lah.” Jawab Fania. Dan jiwa kepo keluarga cemara beserta keterkejutan mereka pun tak bisa ditutupi.


“HAH?!.” Ucap keluarga cemara.


“Halaman rumah?!.” Celetuk si Mamah. “Beneran Jol?. Coba liat lagi mane.” Dan Fania mengarahkan ponselnya lagi setengah berkeliling.


“Gila Ka, halamannya segede gitu. Rumahnya semana ituhhh?.” Prita pun takjub.


“Masya Allah. Besar banget rumah Orang Tuanya Nak Andrew ya?.” Sahut si Papah.


“Ho oh. Ke dalem juga kudu naek angkot saking jauh dari pager ke rumah.” Celetuk si Kajol.


“Udeh masuk sono Jol. Tar kamu sakit nyusahin orang disana.” Ucap si Mamah.

__ADS_1


“Iya ini Fania masuk.” Sahut Fania. “Ya udah ntar telpon lagi ya.”


“Eh Ka, Nak Endru ga sama kamu?. Ini nomornya dia kan?.” Tanya si Mamah.


“Ada nih.” Ucap Fania lalu mengarahkan kamera pada dirinya dan Andrew.


“Assalamu’alaikum Mama Bela, Om Herman, Prita.” Ucap Andrew sopan dengan senyumnya yang menawan.


“Masya Allah, ganteng amat calon mantu.” Sahut Mama Fania membuat Andrew makin melebarkan senyumnya.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Keluarga Cemara.


Andrew memegang ponsel dan video call dengan keluarga cemara sambil merangkul Fania untuk membawa gadis itu masuk rumah. Sambil menjawab juga berbagai macam pertanyaan yang diajukan keluarga cemara padanya dan Andrew menjawab dengan sopan, sabar tetap dengan senyuman.


“Papah sama Mamah, titip Fania ya Andrew. Marahin aja kalo dia ngerepotin orang disana.” Ucap si Papah.


“Iya Pa, Andrew pasti jaga Fania.” Ucap Andrew. “Bentar Pa, Reno mau bicara.” Ucap Andrew lagi karena Reno sudah mengkode dirinya kalau dia dan Ara mau bicara sama keluarga Cemara. Dan sama seperti Andrew, Reno juga Ara bervideo call ria dengan senyuman pada keluarga cemara.


“Oke Pa, sehat sehat ya semua. Papa Herman, Mama Bela, Prita.” Ucap Reno. “Ini bicara lagi sama Fania ya.”


Tuan Anthony, Nyonya Erna beserta Michelle dan Jeff hanya memperhatikan dan mendengarkan keluarga yang ramenya luar biasa itu.


“Ya udah ya, Nanti Fania telpon lagi. Sehat sehat ya Pah, Mah, Prita.” Ucap Fania yang sedikit haru.


“Ya udah Kajol, bae bae disana. Sholat jangan lupa. Apa yang bisa dilakuin sendiri jangan ngerepotin orang.” Wejangan si Mamah.


“Iye.” Sahut Fania singkat.


“Jangan suka minta ini itu sama Nak Reno dan Nak Endru.” Wejangan si Papah.


“Iye Pah.” Sahut Fania singkat.


Yang mendengar hanya tersenyum dengan pikirannya masing – masing mendengar wejangan orang tua Fania pada putrinya itu.


‘Keluarga Fania memang orang baik.’ Batin mereka kira – kira.


“Fania ga pernah minta ini itu Pah. Kalaupun minta, ga masalah buat Andrew.” Jawab Andrew.


“Tuh, dengerin. Suka Suud'zon ama anak sendiri. Emang Fania cewe matre.” Sahut si Kajol asal. Lupa ada camer lagi  duduk disitu. Wkwk.


Yang lain terkekeh geli aja deh dengerin itu orang Bekasi pada ngobrol.


“Ya udah ya. Nanti Fania Telpon lagi.” Pamit Fania. “Assalamu’alaikum.”


“Iya udah. Bae bae ye Kajol anak Mama sama Papah, Kakaknya Prita yang blaem – blaem.” Ucap si Mamah membuat Fania dan yang lain terkekeh geli lagi. Kalo yang ngerti ya.


‘What is blaemblaem? (Apa itu blaemblaem?).’ Begitu kali kira kira batinnya Tuan Anthony, Nyonya Erna dan Michelle.

__ADS_1


**


To be continue..


__ADS_2