
♦ FANIA & ANDREW ♦SEE YA!
*
Selamat membaca...*
“We’re arrive, Ma’am. ( Kita sudah sampai, Nyonya ).” Suara supir taksi yang dinaiki Fania menyadarkan dirinya yang sedang menatap ke luar jalanan. Taksi yang mengantarkan Fania berhenti didepan hotel yang lumayan bagus.
“Do you know, who I am?. ( Apa kamu tau siapa aku? ).”
Supir taksi itu menoleh dengan wajah sedikit bingung pada Fania setelah mendengar pertanyaan darinya.
“Of course I know you, Ma’am. You’re one of the Adjieran Smith’s family. ( Tentu saja aku tahu anda, Nyonya. Anda adalah salah satu dari Keluarga Adjieran Smith ). You’re a wife from one of the Prince in that family, if I’m not mistaken. ( Anda adalah salah satu istri dari pangeran di Keluarga itu kalau saya tidak salah ).”
“Prince?. ( Pangeran ? ).” Fania mengernyitkan dahinya.
“Your family is one of the wealthy’s family in this country, so the son of the family is almost same just like a Prince. ( Keluarga anda adalah salah satu dari keluarga terkaya di negri ini, jadi putra dalam keluarga kalian kurang lebih sama dengan pangeran ).”
Fania hanya manggut – manggut.
“Do you trust me?. ( Apa kau mempercayaiku? ).”
Si supir taksi nampak sedikit bingung dengan pertanyaan Fania. “Why you are asking like that? . ( Kenapa anda bertanya seperti itu? ).” Disaat yang bersamaan ada seorang petugas hotel menghampiri taksi yang ditumpangi Fania.
“Excuse me, is there any problem, here?. ( Permisi, apa ada masalah disini? ).” Tanya petugas parkir hotel tersebut yang melihat taksi berhenti, namun penumpangnya tidak juga turun.
“No. I’m about to leave. ( Tidak. Kami akan pergi ).” Sahut Fania cepat. “I think I left my cell phone Some where. I will get back here later. ( Saya rasa, saya melupakan ponsel saya entah dimana. Saya akan kembali lagi nanti.”
“Alright then. ( Baiklah kalau begitu ).” Ucap si petugas Hotel. Dan Fania menyuruh supir taksi tersebut untuk menjalankan mobilnya.
“Excuse me Ma’am your order is on the Hotel. ( Permisi Nyonya, orderan anda ke Hotel tadi ).” Supir taksi itu berbicara pada Fania.
“Pull over. Find a cozy place to park. ( Menepi. Cari tempat yang nyaman untuk parkir ).” Ucap Fania dan si supir taksi pun menurutinya. “Here. ( Ini ).” Fania memberikan sejumlah uang pada supir taksi saat pria itu menepikan mobilnya.
“This is.. too much Ma’am. ( Ini .. terlalu banyak Nyonya ).” Supir taksi itu terkesima dengan banyaknya uang yang diberikan Fania padanya. Berkali lipat dari jumlah yang seharusnya.
“Take and keep it. ( Ambil dan simpanlah ). Ucap Fania. “Now you listen to me ( Sekarang kamu dengarkan saya ).” Ucapnya lagi dan supir taksi itu mengangguk patuh. “Now finish my order on your application. ( Sekarang selesaikan orderan saya dalam aplikasimu ). Show me if you’re done doing it. ( Tunjukkan padaku kalau kamu sudah melakukannya ).”
“Already Ma’am. ( Sudah, Nyonya ).”
Supir taksi tersebut menunjukkan layar ponselnya pada Fania. “Good. Now, can I trust you?. ( Bagus. Sekarang, apa aku bisa mempercayaimu? ).” Fania kembali berbicara, supir taksi itu nampak sedikit bingung dan gugup. “Can – I – Trust – You?. ( Apa – Aku – Bisa – Mempercayaimu? ).” Tanya Fania lagi dengan sedikit penekanan karena si supir belum menjawabnya.
“Y-yes Ma’am. ( Y-ya Nyonya ).” Jawab si supir sedikit gugup.
“Good, now drive. Not too fast and not too slow. ( Bagus. Sekarang jalankan mobil. Kecepatan sedang ).” Ucap Fania lagi dan si supir mengangguk patuh lalu menjalankan mobilnya.
“Where are we going to, Ma’am?. ( Kita mau kemana, Nyonya? ).”
“Just drive. Follow the road, I’ll tell you later. ( Mengemudi saja. Ikuti jalan. Akan ku beritahu nanti ).”
“Yes, Ma’am. ( Baik, Nyonya ).”
“Look. Someone probably call you to ask about me. Just answer, and tell that you already drive to my destination, the former Hotel we stopped. ( Dengar. Seseorang mungkin akan menelponmu dan bertanya tentangku. Jawablah,
dan katakan kamu sudah mengantarku ke tempat tujuan, Hotel yang tadi ).” Fania bicara dengan detail pada si supir taksi. “Talk naturally, like I’m not here. ( Bicara secara natural, seolah aku tidak disini ).”
“Yes Ma’am. ( Baik Nyonya ).”
Selang berapa waktu, ponsel si supir taksi itu pun berbunyi.
“You know this number, Ma’am?. ( Apa anda tahu nomor ini, Nyonya? ).”
Supir taksi itu mengangkat ponselnya menunjukkan Fania yang sedikit mencondongkan tubuhnya.
__ADS_1
‘D ...’ Batin Fania mengenali bahwa nomornya lah yang menghubungi ponsel si supir. “Yap. Pick up and talk just like what I said. ( Iya. Angkat dan bicara sesuai dengan apa yang tadi aku bilang ).”
Supir taksi yang tak terlalu memperhatikan nomor telpon yang menghubunginya itupun berbicara dengan normal diponselnya sesuai dengan apa yang Fania bilang.
“What did he say?. ( Dia bilang apa? ).”
“Just like what you said, he asked about you. Also asked is there anyone else with you. ( Seperti yang anda bilang, dia bertanya tentang anda. Juga bertanya apa ada orang lain yang bersama anda ).” Supir taksi itu menjelaskan pembicaraan barusan dengan Andrew.
“Okay. Thanks. ( Oke, terima kasih ). Now take me to the safest ATM machine and take me to the airport after that. ( Sekarang bawa aku ke mesin ATM teraman lalu ke Bandara setelahnya ).”
“Yes, Ma’am. ( Baik Nyonya ).”
****
“Aku minta maaf. Kamu dan musik itu berbeda, D. Musik memang hidup aku, tapi kamu lebih dari itu. Musik hanya sekedar soul healing aku, menghilangkan penat. Dan arti kamu untuk aku bahkan jauh lebih besar dari itu. Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin kita perlu waktu untuk lebih saling memahami . Let’s take a break, then for a while ( Mari kita rehat untuk sementara kalau begitu ). I Love You.”
Andrew membaca goresan tangan Fania pada secarik kertas yang terselip dibawah ponsel istrinya itu. Perasaannya menjadi gelisah setelah membacanya. Tak menunggu lama, ia langsung beranjak dari duduknya. Berjalan masuk ke dalam walk in closet lalu membuka lemari pakaian Fania.
Semua baju Fania rasanya masih ada, mungkin yang tak ada hanya baju yang dipakainya dan yang masih berada di laundry. Koper pun juga masih ada pada tempatnya. Ia sedikit merasa lega. Hanya satu tas yang tak ada di jejeran koleksi tas milik istrinya. Mungkin Fania membawanya berikut dompet milik istrinya itu. Andrew pun segera mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana.
Namun seketika ia teringat pada ponsel Fania yang sepertinya sengaja ditinggal oleh pemiliknya itu. “Oh God.. ( Oh Tuhan.. ).” Gumam Andrew sambil mengusap kasar wajahnya. Ia segera bergegas memakai kembali jaketnya, setengah berlari keluar kamar. Rasa hatinya sudah semakin tak karuan kini.
Theresa tepat berada di depan pintu kamar Andrew dan Fania saat Andrew hendak keluar.
“Theresa, do you know where my wife is?. ( Theresa, apa kamu tau dimana istriku? ).” Tanya Andrew pada Theresa yang sedikit terkejut yang sedang mengantarkan kopi yang tadi diminta Andrew.
“No Sir, I only know that she left with a Taxi to catch you from Annie and Ben. ( Tidak Tuan, Saya hanya tahu kalau dia pergi menggunakan taksi untuk menyusul anda dari Annie dan Ben ).” Jawab Theresa pada Andrew.
“Call them to meet me at my garage. ( Panggil mereka untuk menemuiku di garasiku ).”
Ben dan Annie sudah datang menghampiri Andrew yang mulai kalang kabut itu. “Mister Andrew.”
“What that my wife were used?. ( Apa taksi yang digunakan istriku? ).” Tanya Andrew pada kedua pekerjanya itu.
Ben yang menjawab, Andrew langsung mengecek ponsel Fania dan menekan nomor supir taksi yang tertera dalam orderan aplikasi taksi online.
**
“Ya, Hi. I would like to ask, do you have an order from Mrs. Fania Andrew Smith?. ( Ya, Halo, aku ingin bertanya, apa anda menerima pesanan dari Nyonya Fania Andrew Smith? ).”
“......”
Andrew menelpon supir taksi dalam orderan aplikasi yang digunakan Fania untuk memesan taksi online tersebut.
“Where did you take her?. ( Kemana kamu mengantarnya? ).”
“.....”
“Was there anyone else with her?. ( Apa ada orang lain yang bersamanya? ).”
“........”
“Okay, thank you so much. ( Baiklah, terima kasih banyak ).”
Andrew mematikan panggilannya dan langsung bergegas menuju tempat yang tertera di aplikasi pesanan taksi online dalam ponsel Fania.
**
Andrew sudah berada di Hotel yang tertera sebagai tempat tujuan Fania di aplikasi. Ia menyegerakan masuk setelah menyerahkan kunci mobilnya pada petugas Vallet Hotel dan langsung menuju meja resepsionis.
“Good evening, Sir. How can I help you?. ( Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu ).” Seorang resepsionis
Pria menyapa Andrew dengan ramah. “Excuse me, you are Mister Andrew Adjieran Smith, right?. ( Mohon maaf, anda ini Tuan Andrew Adjieran Smith, kan?.”
__ADS_1
“Ya, right it’s me. ( Ya betul itu aku ).”
“What an honor to meet you, Sir. Is there anything I can do for you?. ( Suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu? ).” Ucap si resepsionis seraya bertanya dengan sopan.
“Ya, I would like to know if my wife stay in this hotel?. ( Ya, aku ingin tahu kalau istri saya menginap di hotel ini? ).”
“Your wife?. ( Istri anda? ).”
“Ya, Fania Andrew Smith or Naomy Stephania. ( Ya, Fania Andrew Smith atau Naomy Stephania ).”
“I know your wife look like, Sir. And I haven’t see her around. But let me check for you. ( Saya tahu rupa istri anda
Tuan. Dan saya kira saya belum melihatnya. Tapi biar saya bantu mengecek untuk anda ).” Ucap si Resepsionis pria tadi.
“Yes, please.”
**
“Ezra, you meet me at the XX Hotel, now!. ( Ezra, temui gue di Hotel XX sekarang ).”
Andrew menelpon salah satu orang kepercayaannya itu untuk menemui Hotel yang tadinya ia kira Fania berada
disana, tapi ternyata Fania tidak pernah menginjakkan kakinya.
Ia bahkan sudah menelpon pemilik Hotel secara langsung untuk mendapatkan akses untuk mengecek CCTV Hotel dan ternyata memang tidak ada tanda – tanda keberadaan Fania dalam Hotel tersebut.
“Kalau kesal lo sudah redam, lebih baik lo pulang. Jangan lupa si Kajol itu unpredictable creature ( makhluk yang susah ditebak ), susah diprediksi jalan pikirannya.”
Andrew kembali mengingat ucapan Jeff saat di Pub.
‘Oh, Heart ..’
**
‘Ladies and Gentlemen, the Captain has turned on the “Fasten Seat Belt” sign. If you haven’t already done so, please stow your carry-on lugage underneath the seat in front of you or in an overhead bin....” (Bapak dan Ibu yang terhormat, kapten telah menyalakan tanda “Kencangkan Sabuk Pengaman”. Jika anda belum melakukannya, harap anda bisa menyimpan barang bawaan di bawah tempat duduk di hadapan anda atau di tempat penyimpanan di atas kepala anda....).’
‘Maaf, D .. lebih baik seperti ini dulu ya...’
Fania menghela nafasnya. Menatap arah luar dari jendela pesawat.
‘See Ya, London!. See Ya, D. ( Sampai jumpa lagi London, Sampai ketemu lagi, D ). I Love You.’
****
“Cinta Saja Tak Cukup, Untuk Hidup Dalam Berpasangan”
- Anonim -
****
Nyanyi dulu ah
Selamat Tinggal Andrew Sampai Kita Jumpa Lagi
Kajol Pergi Takkan Lama...
Wkwkwkwk
Selamat menduga - duga episode berikutnya. Biar gelisah tidurnya pada😃
****
To be continue ...
__ADS_1