
Selamat membaca...
*
“Fan, kata lo tadi gue harus jujur tentang perasaan gue sama cewe yang bikin gue jatuh cinta. Lo suruh gue tanya
kan?.” Ucap Andrew lalu dia meraih dagu Fania. “I already asked. Sekarang gue minta jawaban.” Menempelkan dahinya pada dahi Fania. “Do you Love Me, my Little F?... .”
Fania melirik keatas saat Andrew menempelkan dahinya pada Fania sambil laki – laki itu bertanya apa dia mencintainya.
“Nald.” Akhirnya Fania bersuara dan Andrew seketika menjauh dahinya tapi tidak tubuhnya.
Meletakkan kedua tangannya di sanggahan balkon yang kini di belakangi oleh Fania. “Hem?.” Sahut Andrew.
“Yang barusan lo bilang tadi....” Fania menjeda ucapannya.
“Dari hati gue yang paling dalam.” Ucap Andrew sebelum Fania meneruskan kalimatnya.
“Lo yakin itu yang lo rasa sama gue?.” Ucap Fania sambil menundukkan kepalanya. “Bukan karena lo yang......”
Cup! Andrew mengecup lembut bibir Fania. Kecupan lembut yang tidak singkat karena Andrew menahan bibirnya yang menempel dengan bibir si Little F sambil memejamkan mata. Seperti ingin mengatakan pada si Little F, bahwa ia serius dengan perasaannya.
Fania sontak membelalakkan matanya. Mau keluar rasanya jantung gadis itu saat Andrew mengecupnya lembut dan menahan bibir seksinya pada bibir Fania.
“I Love You, Fania. I do. Jangan ragukan perasaan gue. Gue cinta karna cinta. I don’t know how to explain. Tapi rasa ini bukan lagi rasa sayang sebagai sahabat atau kakak. Tolong jawab, do you feel how the way I feel?.” Ucap Andrew yang kini meraih wajah Fania setelah mengecup bibir Little F nya sedikit lama tadi.
Fania memandangi wajah Andrew tepat saat laki – laki pemilik hati Fania itu mengatakan isi hatinya . Tanpa ragu lagi, Fania akhirnya memeluk Andrew tepat setelah laki – laki itu selesai bicara.
Lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday
Cocok kali itu jadi back sound saat Fania menjawab Andrew dengan pelukan. Menggambarkan keuwuwan dua orang sahabat yang saling jatuh cinta. Eyyyaaaa.
Andrew yang sempat kaget dengan Fania yang memeluknya, spontan memeluk juga Fania dengan hangatnya. Menyalurkan bahagia dan lega dalam hatinya karena meski gadis itu tak menjawab dengan kata - kata, tapi ia tau jawaban Fania karena pelukan gadis itu yang seolah bilang, “I Love You too.”
Lumayan agak lama Fania dan Andrew berpelukan. Saling menyalurkan perasaan yang susah untuk dilukiskan dengan kata – kata.
Fania sudah lega, terlebih lagi sangat – sangat bahagia. Cintanya tak perlu lagi di pendam pun tak bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Andrew pun sama, meski sempat ragu dengan perasaannya pada Fania karena takut ia hanya merasa penasaran karena kecantikan Fania meski hatinya berdebar tak karuan sejak pertama bertemu kembali dengan Fania. Takut kalau itu hanya rasa kagum, bukan cinta kalau memang ia buru – buru mengatakannya pada Fania. Andai itu terjadi Fania pasti terluka, dan Andrew sangat sangat tidak ingin melukai hati Fania andai ia ceroboh soal perasaannya.
Tapi saat melihat Fania seolah dekat dengan laki – laki lain, di cuekin dan dijauhi sama Fania, hati Andrew terasa
gundah. Kesal, marah... rindu.
Entah kenapa, bagaimana dan sejak kapan Andrew merasa sudah jatuh pada pesona Fania. Bukan karena kecantikan si Little F nya sekarang, tapi karena ia merasa sudah terlalu nyaman dekat dengan Fania . Entahlah, memang cinta tak butuh alasan.
Andrew tak ingin kalau Fania hanya menganggapnya teman, sahabat atau kakak seperti halnya Reno. Andrew ingin Fania menganggapnya spesial.
Saat perjalanan pulang dari hotelnya Reno dan karena Fania menolak untuk pulang bersamanya. Andrew kesal namun akhirnya memantapkan hati untuk mengungkapkan perasaannya pada Fania malam itu juga tanpa harus menunda lagi.
Fania melonggarkan pelukannya pada Andrew, hendak melepaskan.
“Sebentar lagi. Jangan lepas dulu pelukan kamu.” Ucap Andrew dan Fania kembali memeluk Andrew yang terus memeluknya erat dan mesra.
Baru tak lama kemudian Andrew akhirnya melepaskan pelukannya pada Fania.
“Jadi?.” Tanya Andrew lagi sambil memandang wajah Fania dan membelai lembut kepala gadis yang ia cintai itu.
“Apanya?.” Tanya Fania kurang paham.
“Your answer is?.” Andrew balik bertanya. “Perasaan kamu Fania, tentang aku.”
Fania malah lagi – lagi memandangi wajah Andrew. ‘Masa harus jawab lagi sih. Emang pelukan gue bukan jawaban?.’ Batin Fania.
“I wanna hear. Mau dengar bibir ini berucap.” Ucap Andrew sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Fania dengan lembut. “Jawaban kamu, atas pertanyaan aku.”
“Pelukan gue, bukannya udah jadi jawaban Nald?.” Ucap Fania.
“Ck, apaan sih ah.” Ucap Fania sambil mendorong pelan tubuh Andrew yang berdiri sedikit menunduk di depannya, sambil tangan laki – laki plontos itu memegang penyangga balkon. “Udah ah, gue mau mandi, ganti baju.”
Namun Andrew tetap bergeming di tempatnya. Tak bergeser meski hanya satu sentimeter. “Say it first.” Ucap
Andrew dengan senyum menggoda tanpa menghiraukan debar hati Fania yang belum juga stabil.
“Nald, jangan iseng deh. Udah ah seriusan ini udah gerah.” Fania coba menghindar dengan memajukan tubuhnya untuk melepaskan diri dari kungkungan Andrew.
“Ya udah kalo ga mau jawab.” Andrew meraih pinggang Fania dengan satu tangannya. Dan tangan satunya meraih wajah Fania.
Cup! Satu kecupan dari Andrew mendarat lagi dibibir Fania. Sekali lagi mengejutkan Fania.
“Answer me with kiss.” Ucap Andrew dengan mata terpejam tanpa melepaskan bibirnya dari Fania.
Kali ini Fania sudah memantapkan hatinya yang memang sudah tertancap pada Andrew. Biarlah jawaban yang tak terjawab dengan kata, Fania jawab dengan membalas ciuman Andrew yang lembut itu.
Andrew mulai memainkan bibirnya pada bibir Fania. Merasakan ada kupu – kupu terbang di dalam dadanya saat ia
merasakan bibir Fania juga bergerak seirama dengan bibirnya.
Terdorong untuk memegang wajah Fania dengan kedua tangannya, seperti tak ingin membiarkan Fania untuk berhenti membalas ciumannya dan gadis itu juga spontan memegang lengan kekar Andrew yang sedang memegangi kedua wajahnya.
__ADS_1
Meski Andrew adalah laki – laki pertama yang menyentuh bibirnya, Fania juga tau caranya berciuman karna sering ia lihat di film – film. Teori aja sih, prakteknya baru malam ini. Meski ia mengikuti nalurinya, tetap saja minim pengalaman.
“Breathe, Sweetheart.” Ucap Andrew yang sudah melepaskan bibirnya dari bibir Fania, namun ia menempelkan dahinya pada si tomboi yang kini menjadi pemilik hatinya.
Wajah Fania merona, memang ia sering lihat adegan ciuman. Tapi kan belom paham tekniknya.
“Siapa suruh cium lama – lama, bikin orang susah nafas.” Ucap Fania pelan.
“Siapa suruh punya bibir seksi, bikin ga mau berenti cium.” Sahut Andrew dan kali ini ia benar – benar merona.
‘Idih, abang Donald, sa ae gombalnya.’ Batin Fania.
Donald yang melihat rona merah di wajah Fania, tersenyum lebar. “Buat aku aja ya?.”
“Apanya?.” Tanya Fania.
“Ciumannya.” Jawab Andrew
“Apaan sih ah.” Sahut Fania salting. Lalu Andrew tertawa dan memeluk Fania lagi.
“Thank you. “ Ucap Andrew dalam pelukannya
“Buat?.” Tanya Fania lagi.
“Untuk hati kamu.” Jawab Andrew tulus.
Ah, so sweet banget kan si Donald ini ternyata.
“Sama – sama Nald.” Sahut Fania yang membalas pelukan Andrew.
“Ya udah ganti baju sana.” Ucap Andrew lalu melepaskan pelukannya.
“Dari tadi juga udah bilang kan mau ganti baju. Tapi dihalangin terus.” Ucap Fania dan Andrew terkekeh.
“Ya udah sana ganti baju.” Andrew lalu membiarkan Fania untuk bersih – bersih dan mengganti bajunya dengan baju santai.
“Baju gue masih disini emangnya?.” Tanya Fania sebelum meninggalkan Andrew di balkon.
Andrew menjawab dengan anggukan.
“Ya udah.” Sahut Fania. “Make sama pembersih muka gue juga masih ada kan?.” Tanya Fania memastikan karena memang dia ga bawa pembersih make up. Peralatan lengkap selain dirumahnya, ya ada di rumah Reno yang memang sudah disediakan karena sudah sering menginap di rumah Reno dan Ara.
“Coba cek, ga ada yang dipindahkan sejak kamu terakhir menginap disini kok.” Jawab Andrew.
“Ya udah, emang harusnya sih ada pembersih muka gue disini. Soalnya kayaknya waktu itu ga kebawa.” Ucap Fania. “Tapi kalo ga ada beliin lo ya.”
Lagi – lagi Andrew menjawab dengan anggukan. Dan Fania pun akhirnya berjalan keluar dari balkon menuju walk in closet dikamar Andrew untuk mengambil baju ganti lalu membersihkan make up bekas manggung di kamar mandi.
“Jangan mandi. Sudah terlalu malam. Cuci muka aja.” Ucap Andrew saat Fania berjalan menjauhi balkon.
“Iya Donaaald Bebeeek ....” Sambil menyahut, Fania menoleh sebentar pada Andrew dan dibalas dengan senyuman oleh Andrew.
__ADS_1
***
To be continue ...