
...🥀🥀🥀...
Sifanye menyuapkan Layla bubur, keheningan langsung menyeruak di ruang rawat itu. Tampak di antara Layla mau pun Sifanye yang diam tanpa bicara. Hingga dering telpon Sifanye yang ada di dalam tas, menggema.
Dring dring dring.
"Kau lanjutkan makan mu sendiri dulu! Mama mau jawab telpon. Itu pasti ayah mu yang telpon!" Sifanye menyodorkan mangkuk yang berisi bubur pada Layla.
Dengan patuhnya Layla menuruti apa yang Sifanye katakan padanya, meski terdengar ketus di telinga Layla.
Sifanye menjawab telponnya, dan benar saja seperti tebakannya. Noval yang tengah menghubunginya.
"Assalamualaikum, yah! Pasti kamu mau tanya keadaan Layla? Anak kamu sudah sadar, dan sekarang sedang makan bubur! Apa lagi yang ingin kamu bicarakan yah?" cerocos Sifanye.
Tanpa mendengarkan apa yang akan Noval tanyakan padanya lebih dulu. Dengan melirik sekilas Layla yang melanjutkan sarapannya.
Dengan jelas, Sifanye dapat mendengar Noval membuang nafas lega.
[ "Hem, apa kamu sudah katakan pada Layla. Kamu akan membawanya pulang ke rumah, mah?" ] tanya Noval.
"Aku belum sempat mengatakannya, yah!"
[ "Kenapa belum sempat mah? Apa perlu, aku yang katakan sendiri pada Layla?" ] terdengar suara Noval yang mulai ngegas.
"Biarkan anak mu makan dulu, yah! Kamu ini gak sabaran banget kalo udah bersangkutan dengan Layla, tau gitu kamu gak usah berangkat kerja yah!" dengus Sifanye dengan menatap sebal Layla.
[ "Owh gitu ya mah, maaf ya mah... ayah terlalu khawatir sama Layla. Nanti kalo udah sampe di rumah, jangan lupa suruh Layla untuk istirahat ya mah. Nanti ayah akan pulang lebih awal, dah mah!" ]
Sifanye menatap sebal layar hape-nya, begitu panggilan teleponnya langsung di putus oleh Noval.
"Maaf ya mah, Layla menyusahkan mama." ucap Layla dengan menundukkan kepalanya, menatap mangkuk bubur yang sudah berpindah ke dalam perutnya.
"Baru tau kamu, selama ini bisanya hanya menyusahkan mama?" tangan Sifanye terulur, memindahkan mangkuk yang ada di tangan Layla dan menaruhnya di atas nakas.
Layla menelan salivanya dengan sulit, dengan mata yang memanas, seakan bulir bening siap menerobos kembali dari pelupuk matanya.
"Gak usah cengeng. Yang ada orang lain akan berfikir buruk tentang mama. Mau kamu, mereka berfikir seperti itu?" Sifanye menyerahkan beberapa butir obat pada Layla, dan sebotol air mineral untuk Layla minum obat.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang rawat di ketuk dari luar. Di sertai dengan seruan.
"Maaf bu, mobil sudah siap. Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya seorang pria yang berstatuskan supir, yang di tugaskan Noval untuk menjemput anak dan istrinya.
__ADS_1
Sifanye menoleh ke arah Layla, tampak ia berfikir dengan kening mengkerut.
Kalo di suruh jalan, itu anak masih lemes banget, yang ada aku lagi yang di salain sama ayah, kalo sampe kondisi Layla tambah parah.
"Kamu tolong ambilin saya kursi roda dulu, Jono!" titah Sifanye pada sang supir.
Layla pulang ke rumah besar yang selama ini di tempati Noval, Sifanye dan Lulu.
"Kamu istirahat lah, jika butuh sesuatu. Katakan sama mama. Jangan membuat repot mama!" ucap Sifanye dengan ketus, setelah membantu Layla berbaring di atas tempat tidurnya.
Layla tersenyum tulus, dengan mata yang masih sayu.
"Apa kamu masih pusing, La?" tanya Sifanye lagi, setelah menempelkan punggung tangan kanannya pada kening Layla. Wajah merah Layla masih nampak, ikut menggambarkan betapa panasnya suhu tubuhnya.
"Sedikit mah, tapi kalo udah istirahat... mungkin akan segera baikan." ucap Layla dengan meremasss selimut yang menutupi tubuhnya.
"Jelas lah... heran mama tuh. Kamu tuh sebenarnya kenapa sih bisa kaya gini? Ah tapi percuma mama nanya sama kamu, kamu pasti akan menutupi kelakuan buruk ibu Tati mu itu!" sungut Sifanye dengan bibirnya yang terus mengomel.
Sifanye meninggalkan Layla di kamar seorang diri. Sedangkan ia kembali dengan kesibukannya. Duduk di sofa kebanggaannya, sambil melihat lihat layar hape-nya yang memperlihatkan beberapa barang brended.
"Boleh juga nih. Teman teman ku di arisan... pasti gak ada yang punya barang kaya gini."
Sifanye mendiel nomor kontak di hapenya, dan mulai menjalankan aktingnya.
"Ayaaaah... mama sudah mengurus Layla dengan baik hari ini. Sekarang Layla sedang istirahat di kamarnya. Jadi, bisa kan ayah kirimkan mama uang 100 juta!" pinta Sifanye dengan entengnya.
Pagi itu, Noval sudah membuat janji temu dengan Baskoro di kantor Baskoro.
Obrolan serius di antara ke dua sahabat lama ini pun harus berhenti untuk sesaat. Saat Noval mendapat panggilan telepon dari istrinya, Sifanye.
Dring dring dring.
"Maaf nih, Bas... aku jawab telpon dari istri ku dulu ya!" ucap Noval dengan menatap layar hape-nya.
"Silahkan, silahkan, tidak perlu sungkan begitu. Kamu ini sudah seperti dengan siapa saja." ucap Baskoro dengan senyum tersungging di bibirnya.
Noval berbicara dengan Sifanye, dengan beranjak dari duduknya, berdiri di depan dinding gedung, dengan pandangan menatap ke luar.
Ceklek.
"Ada apa pah? Apa ada hal yang sangat mendesak... sampai papa meminta ku untuk datang ke kantor saat ini juga?" tanya Danu dengan mendaratkan bobot tubuhnya di kursi yang berada tepat di depan kursi kebesaran papanya.
"Kamu masih ingat dengan Layla kan, Danu?" tanya Baskoro dengan ke dua tangan berada di atas meja.
__ADS_1
Danu tampak berfikir, mengingat nama Layla yang papanya sebutkan tadi.
"Itu loh beberapa minggu yang lalu tanpa sengaja ketemu di mall. Dan baru kemarin, papa menyuruh Layla mengantarkan catring untuk mu." ucap Baskoro dengan kening mengkerut.
"Oooh gadis bawel, jorok, item manis itu. Buat apa di ingat pah? Gadis gak sopan. Udah salah gak mau minta maaf!" gerutu Danu dengan sebal, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Jaga bicara mu, Danu!" Baskoro menggerakkan ekor matanya ke arah Noval berada.
"Maaf om, Danu gak tau kalo ada om di sini." ucap Danu yang melihat Noval mengayunkan kakinya ke arah mereka berdua.
"Gak apa ko, Danu. Apa lagi penilaian mu terhadap Layla? Om jadi penasaran." ucap Noval tanpa merasa tersinggung.
Noval menatap Danu dengan penuh selidik, sebenarnya apa yang membuat Danu memiliki penilaian buruk pada Layla?
"Tidak ada lagi sih om, setahu Danu ya itu... bawel, jorok, item manis." ucap Danu dengan jujur.
"Danu, papa tidak mengajari mu untuk menilai seseorang dari fisik." ucap Baskoro dengan suara naik satu oktaf.
"Itu bukan fisik pah, kenyataan. Itu anak kalo udah ngomong, gak bisa berhenti. Jorok, nganterin catring buat aku aja itu anak masih pake seragam sekolahnya, kan bisa dia pake baju lain. Bukan baju sekolah di buat kerja." terang Danu.
Noval tampak terkejut dengan apa yang ia dengar. "Maksud kamu Danu, Layla bekerja? Nganterin catring?"
"Astagaaa Noval, jangan bilang jika kamu sendiri tidak tahu jika Tati membuka usaha catering, dan yang bertugas mengantarkan pesanan itu ya anak kamu, Layla." terang Baskoro dengan santai.
"Apa? Tati membuka usaha catering, Layla yang mengantarkan pesanan?" tanya Noval dengan mata membola.
Baskoro membuang nafasnya dengan kasar, "Dari reaksi mu, aku rasa kau memang tidak tahu apa apa soal Tati dan Layla!"
"Yang aku tahu, Layla hanya aku tugaskan untuk sekolah, jika kekurangan uang dalam hal sekolah, minta pada ku atau Sifanye. Dan untuk urusan Tati, aku rutin mengirimkan uang bulanan untuk Layla." terang Noval.
"Apa istri mu juga tidak mengatakan apa apa pada mu, Noval?" tanya Baskoro.
"Mana mungkin Sifanye tahu, kalo ia tahu, pasti dia sudah memberi tahu ku." terang Noval.
"Terus untuk apa papa menyuruh ku ke sini? Papa belum menjawab pertanyaan ku!" tanya Danu.
"Jadi begini, papa dan om Noval... berencana untuk melanjutkan ucapan kita... ucapan waktu kamu dan Layla masih kecil dulu." terang Baskoro dengan menoleh sekilas wajah Noval lalu menatap wajah Danu dengan penuh harap.
"Apa hubungannya dengan ku dan Layla?" tanya Danu.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu