
...🥀🥀🥀...
"Papa pasti akan membantu ladang uang papa! Kau pikir, untuk apa papa jauh jauh terbang ke sini kalo hanya melihat mu di dalam bui!" umpat Basuki, menggenggam jemari sang putri.
Aleta menyeringai. "Apa rencana papa?"
"Tentu saja membuat perhitungan pada anak sialannn itu, kau pikir apa lagi?" ucap Basuki sinis.
"Jangan papa sakiti Danu, dia sama sekali gak salah. Bocah ingusan itu pasti udah memaksa Danu melakukan ini pada ku! Papa harus buat anak itu menyingkir dari hidup Danu." ucap Aleta dengan tatapan penuh kebencian.
"Poko nya kau tunggu saja, bagaimana papa mu ini mempermainkan hidup pria yang sangat kau puja puja itu!" Basuki menyeringai.
.........
Lonceng istirahat berbunyi, kini Nina, Mery dan Layla tengah menunggu pesenan mereka.
"Gimana La, lo dapet ijin gak dari pak Danu?" tanya Nina setengah berbisik pada Layla.
Layla menggelengkan kepala nya, bingung mau jawab apa. Sementara Danu sendiri belum bisa ia hubungi. Di kirim pesan pun belum di balas.
'Ka Danu aja susah di hubungin, di telpon nyambung tapi gak di angkat. Di telpon lagi tapi gak bisa, di kirim pesan juga gak bales. Gimana mau tau jawaban nya apa ya!' batin Layla.
"Emang lo mau ajak Layla ke mana si Nin? Udah sama gue aja, tar biar gue yang temenin lu!" bujuk Mery.
"Gue ogah di anter sama lu, Mery! Gue mau nya sama Layla, lu mah cewek jadi jadian, mana ngerti fashion." tolak Nina, dengan menyindir pedas Mery.
"Mana ada yang salah sama gue?" Mery memperhatikan tampilan nya lewat layar pipih nya.
Mery mendengus lalu mengumpat. "Heh asal lo tau aja ya, Nin! Bisa jadi nih selera fashion gue lebih tinggi dari pada Layla, iya gak La!"
"Bener tuh apa kata Mery, mending kamu di temenin Mery aja ya Nin! Aku juga lagi kurang enak badan Nin! Gak bisa temenin kamu!" ujar Layla.
"Woy, ngomongin apaan si lo? Makan nyok makan! Nih udah gue bawain pesenan makanan kalian!" seru Deri membawa nampan berisi mangkok bakso dan mie ayam.
"Udah pantes lo, Der! Abis lulus dari sini... lo buka tempat makan aja!" ujar Mery, membantu Deri meletakkan mangkuk bakso di depan Layla dan diri nya.
"Boleh, tapi lo yang modalin ya? Secara gue kan ora ada duit buat modal." timpal Deri, meletakkan mangkuk mie ayam untuk nya dan Nina.
"Mau buka keliling apa mau buka di pake sewa ruko, Der?" tanya Layla, menanggapi nya dengan serius.
"Yah yang enak mah ya sewa ruko, gue ora pake kepanasan gitu kalo lagi musim panas, ujan ya gue ora keujanan, hahaha!" seru Deri yang di akhiri dengan tawa.
"Udah minta di modalin, betingkah lagi minta sewa ruko. Jangan mau La, keenakan ini bocah!" sungut Nina melayangkan sendok ke depan wajah Deri tanpa bermaksud melukai nya.
"Siapa juga yang mau modalin, aku aja gak punya uang hihihi!" ledek Layla dengan terkekeh, menyantap bakso milik nya.
"Ah lo mah, ngerendah mulu.... di sini yang paling wow itu kan lu La. Laga lo aja yang kaya anak biasa, gak tau nya mah sultini!" ujar Mery setelah mencari tau siapa Danu.
"Gue gak nyangka lo, pak Danu bisa merid sama lo!" ucap Nina keceplosan.
"Uhuk uhuk uhuk!" Layla tersendak makanan nya.
"Minum dulu!" Deri menyodorkan minuman Layla ke depan nya, Layla langsung meminum nya.
__ADS_1
"Hus bege lo! Mau gali kubur buat Layla ya!" umpat Mery menatap tajam Nina.
"Kaga, gue cuma keceplosan." Nina memasang wajah memelas nya.
"Gak usah bahas ka Danu, kita bahas pelajaran aja napa! Takut lo keceplosan lagi Nin!" bujuk Layla.
"Iya tuh bener apa kata Layla. Abis ujian selesai, lo mau liburan ke mana La?" tanya Mery.
"Ka Danu ngajak ke puncak, nemenin dia yang mau reunian sama temen temen nya." ujar Layla.
"Gue ikut dong La! Kali aja gitu gue bisa kenalan sama temen nya pak Danu, yang gak kalah wow nya gitu." rengek Nina.
"Nanti gue bilang ka Danu ya! Boleh gak kalo lo ikut." ucap Layla.
"Ihsss emang paling the best lo La! Kalo ajak gue juga tapi!" seru Deri, memainkan alis nya naik turun.
"Iya iya iya nanti gue minta ka Danu buat ajak kalian bertiga, biar gue di sana ada temen. Oke!" ucap Layla pada akhir nya.
Deri, Nina dan Mery, ber tos ria mendengar perkataan Layla.
"Itu gue setuju!" seru Deri bersemangat.
"Gue apa lagi!" jelas Nina.
"Dasar kalian muka geratisan!" ejek Mery.
"Termasuk lo, muka geratisan! Ahahhaha!" seru Nina yang di akhiri dengan tawa nya.
Skip, waktu nya pulang.
Tidak jauh dari gerbang sekolah Layla, mobil hitam seperti biasa terparkir dengan cantik.
"Kemana Nona Layla, kenapa belum muncul juga ya! Harus nya kan sudah ke luar dari beberapa menit yang lalu." gumam Arsandi, yang menunggu Layla di dalam mobil.
Layla berjalan seorang diri menuju gerbang, sementara Mery membonceng Nina yang akan menemani nya ke mall.
"Serius lo, La! Gak mau ikut kita?" tawar Nina, sebelum Mery melajukan motor nya kembali.
Mery menghentikan kendaraan roda dua nya tepat di samping Layla berdiri.
"Dua rius, gue mau istirahat aja di rumah;" tolak Layla.
"Kita duluan ya! Keburu panas gila ini!" ujar Mery yang siap menarik gas sepedah motor nya.
"Iya, hati hati ya! Jangan ngebut!" seru Layla dengan melambaikan tangan.
Layla hendak menyebrang, namun tatapan nya mengarah pada pemotor yang tampak mencurigakan, berada tidak jauh dari mobil yang ia kenali.
Layla tampak kecewa, tidak mendapati Danu di dalam mobil, itu arti nya hanya Arsandi yang menjemput nya.
'Ka Danu tumben gak ikut jemput. Apa lagi banyak kerjaan kali ya!' batin Layla.
"Apa ada yang Nona cari?" tanya Arsandi, melihat Layla yang tampak tidak tenang dalam duduk nya.
__ADS_1
"Gak, udah jalan aja ka... langsung pulang ya!" seru Layla.
"Siap Nona." ucap Arsandi tanpa banyak tanya, langsung melajukan kendaraan nya meninggalkan sekolah.
Sementara pemotor yang tampak mencurigakan di mata Layla, kini ikut melajukan kendaraan nya. Mengikuti mobil yang membawa Layla.
Layla menoleh ke belakang, setelah melihat dari kaca spion mobil.
'Itu motor ngikutin apa gimana sih? Apa kebetulan lagi searah kali ya!' pikir Layla, kembali duduk. Berusaha tenang.
"Ada apa Nona? Apa ada yang mengganggu Nona?" tanya Arsandi melihat Layla yang tampak resah.
"Gak ada kok." ucap Layla dengan senyum yang di paksakan.
'Ada apa ya sama Nona, melihat ke belakang mulu.' monolog batin Arsandi.
Arsandi yang curiga pun mengikuti arah tatapan Layla.
'Hanya pengendara motor! Apa Nona mengenal pengendara itu?' batin Arsandi lagi.
Layla membuang nafas lega, saat pengendara motor yang tampak mencurigakan di mata nya, mendahului mobil yang di tumpangi nya.
"Huffftttt!"
"Sudah rindu berat sama Tuan Muda ya Nona? Nanti sore juga ketemu Tuan, Nona! Atau mau ke kantor, biar bisa ketemu Tuan Muda lebih awal?" goda Arsandi, yang salah mengartikan hembusan nafas Layla.
"Apaan si ka! Sok tau nih! Siapa juga yang mikirin ka Danu, pria brengsekkk!" umpat Layla, dengan bibir mengerucut.
"Brengsekkk tapi suka kan Nona? Dari awal dateng ke kantor, sampai terakhir saya lihat Tuan, Tuan itu gak lepas dari senyum. Pasti ada yang membuat nya bahagia bersama dengan Nona." ujar Arsandi.
Layla menelan saliva nya dengan sulit. 'Apa bisa membuat sebahagia itu di mata ka Danu?'
Arsandi menepikan mobil yang ia kemudikan, lalu berhenti di bahu jalan.
"Ko berhenti ka?" tanya Layla dengan kening mengkerut.
"Biar saya lihat dulu Nona, seperti nya mesin mobil nya bermasalah!" ujar Arsandi, sebelum turun dari mobil.
Arsandi melihat ban mobil nya, lalu membuka kap mobil.
"Apa ada masalah ya, pada hal baru beberapa hari yang lalu di servis." ujar Arsandi, mengecek kondisi mesin mobil yang secara kasat mata tidak bermasalah.
Bugh
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1