
...🥀🥀🥀...
"Layla! Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Tati, dengan suara nyaring nya.
Nina mengerutkan kening nya, dengan tatapan heran pada Tati. 'Ada apa dengan bu Tati? Bukan nya seneng di datengin anak, kok malah gitu tanya nya? Lagi juga kan ini resto punya Layla, suka suka Layla dong. Mau dateng ke sini atau gak!'
"Ibu kok tanya nya gitu? Aku kangen sama ibu!" seru Layla dengan lirih, menghampiri sang ibu.
"Maaf La, ibu hanya lelah. Kamu mau langsung makan? Biar nanti ibu minta koki siapkan makan untuk kalian!" seru Tati, membiarkan Layla mencium punggung tangan kanan nya, Tati juga membiarkan Layla memeluk nya.
'Apa Danu gak memberikan nya pada Noval? Kenapa Layla belum memakai nya?' batin Tati, menatap leher jenjang Layla, lalu melirik sekilas Danu.
'Tatapan nya ke leher Layla, pasti mencari keberadaan kalung yang semalam baru di berikan ke ayah Noval.' Danu memicing tajam ke leher Layla.
"Maaf tante, aku yang minta Layla ajak aku ke sini, mau sekalian ngerjain tugas." ucap Nina dengan gak enak hati.
"Ooh gitu ya cerita nya, ayo kalian pilih... mau duduk di mana. Biar ibu minta Agus bawa kan buku menu, untuk kalian lihat ada menu apa aja." Tati meninggalkan ke tiga nya, berlalu begitu aja kembali je ruang inti restoran.
"Nyokap lo aneh banget sih La! Gak seneng kaya nya kita dateng ke sini!" Nina mendudukkan diri nya di kursi, saat Layla sudah menentukan akan duduk di meja mana.
"Pikiran kamu aja kali, ibu emang gitu kalo lagi cape sama banyak pikiran." kilah Layla dengan senyum yang di paksakannn nya.
'Ibu ada masalah sama siapa lagi sih? Apa kehadiran ku di sini cuma jadi beban untuk ibu?' batin Layla.
"Gak usah banyak mikir, cukup duduk, makan, belajar yang rajin! Urusan resto, keluarga, ada Arsandi yang menangani nya!"ucap Danu tegas, mengelusss puncak kepala Layla.
Layla membuang nafas nya kasar. "Merry sama bang Arsandi, kenapa belum sampai juga ka? Mereka pasti menyusul ke sini kan?" tanya Layla dengan penuh tanya.
"Mungkin masih ada urusan, biar aku hubungi mereka." Danu mendiel nomor Arsandi.
"Selamat siang Nona, ini buku menu nya. Silahkan di lihat, biar saya catat apa yang ingin Nona pesan." ucap Agus, menyodorkan 2 buah buku menu pada Layla dan Nina.
'Pak Danu beruntung banget sih, bisa milikin Nona Layla. Bibir nya pasti manis kalo di lumattt!' Agus menatap bibir Layla yang merekah.
Danu menatap tajam Agus. 'Masih berani karyawan ini menatap istri ku! Baik lah, tunggu aku akan memberikan mu pelajaran yang berharga!' Danu masih menunggu panggilan telepon nya di jawab Arsandi.
^^^"Saya sudah di parkiran resto, Tuan. Apa ada yang harus saya bereskan lagi Tuan?" tanya Arsandi dari sambungan telepon nya.^^^
[ "Sudah pasti ada, cepat ke resto! Bagaimana masalah berandal tadi! Apa sudah beres?" ] tanya Danu datar.
Dengan tatapan elang nya, seakan Danu siap mengulitiii Agus.
'Apa aku buat salah ya, aku merasa Tuan Danu sedang mengawasi ku? Apa hanya perasaan ku aja yang gak enak sedari tadi?' Agus menggaruk tengkuk nya yang gak gatal.
^^^"Semua nya sudah beres Tuan, berandal itu juga sudah di amakan."^^^
Danu gak banyak tanya lagi, langsung mengakhiri sambungan telepon nya.
"Ka Danu mau sekalian makan siang di sini juga kan? Sudah aku pesankan, sama dengan punya ku! Untuk Mery dan bang Arsandi juga udah aku pesankan." cicit Layla, menoleh ke arah Danu yang udah selesai dengan telpon nya.
"Istri ku semakin pintar ya, mengambil keputusan untuk ku!" puji Danu, mengelusss kepala Layla.
__ADS_1
Cup.
"Hadiah untuk mu!" Danu mengecup, melumattt sebentar bibir Layla.
'Astagaaa, apa yang di lakukan ka Danu? Di depan umum, melumattt bibir ku? Yang benar aja?' umpat batin Layla dengan terperangah.
Nina menelan saliva nya dengan sulit. 'Gilaaa ini mah, pak Danu di depan umum udah berani terang terangan tunjukin status nya, gilaaa benar cinta tuh!'
'Bodohhh, apa lagi yang aku tunggu di sini?' umpat Agus, malah melihat adegan menyayattt hati di depan mata nya.
"Eeeem, mo- mohon di tunggu untuk pesenan nya Nona, Tuan Muda!" Agus langsung berbalik badan, meninggalkan meja di mana Layla, Danu dan Nina berada dengan langkah yang gontai.
Nina dan Layla menoleh ke arah Agus, melihat bagaimana karyawan restoran itu berlalu, untuk menyiapkan apa yang telah mereka pesan.
"Jangan menatap nya! Aku gak suka kamu menatap pria lain selain aku! Mata indah mu, hanya boleh menatap ku! Mengerti kan!" ancam Danu penuh penekanan, dengan hembusan nafas menyapu wajah Layla.
"Siapa juga yang menatap nya ka!" Layla mendorong dada bidang Danu, membuat jarak di antara ke dua nya.
"Ehehehe Layla mah aman pak, dia mah udah mentoggg sama bapak. Tenang aja!" goda Nina, menutup mulut nya dengan telapak tangan nya.
"Bagus jika itu benar!" seru Danu datar.
"Apa sih, kalian jadi gak jelas gitu!" kilah Layla dengan pipi merona.
Nina, Layla dan Danu menoleh ke arah yang sama. Arah di mana ke tiga nya mendengar suara protes dari seorang yang tengah mereka tunggu.
"Lepasss ihs, aku gak akan ke mana mana, aku bisa jalan sendiri, pak Arsandi!" protes Mery, namun gak di hiraukan Arsandi yang tetap menggenggammm tangan nya hingga di depan meja Tuan nya.
Hanya dengan gerakan kepala Danu, Arsandi langsung mengerti dengan perintah nya.
"Astagaaa Layla, pak Danu. Apa begini cara pak Arsandi memperlakukan ku di depan kalian?" protes Mery dengan emosi yang masih tampak di wajah nya.
"Aku akan segera kembali!" Arsandi melepaskannn genggammm tangan nya dari Mery.
"Tunggu sebentar ya!" Danu menepukkk bahu Layla, mengecup pipi Layla dan berlalu dengan di ikuti Arsandi.
"Gue ngerasa ada yang salah dengan ini semua La! Hidup gue bakal gak tenang ini mah, setelah gue dekat dengan pak Arsandi! Ada aja yang harus gue hadapin!" gerutu Mery, mendaratkan bobot tubuh nya di kursi, depan Layla.
"Ahahaha lo gak nyadar apa belum nyadar, Mer?" tanya Nina dengan nada mengejek.
"Maksud nya, apa nih?" Mery mengerutkan kening nya, seiring dengan seorang pelayan resto wanita yang mengantar kan minum untuk meja Layla.
Mery langsung menyeruput minuman nya. "Gue aus banget, selama di jalan menuju ke sini, anjiiimmm banget pak Arsandi, tangan gue di genggammm terus." Mery memperlihat pergelangan tangan nya yang di genggammm Arsandi hingga tercetak bekasss genggammm nya.
"Ampe segitu nya?" tanya Layla dengan polos nya.
Mery mengagguk.
"Virus cemburu lagi bertebaran rupa nya ahahhaha!" gelak Nina, gak bisa lagi menahannn tawa nya.
Pluk.
__ADS_1
Mery menimpuk Nina dengan kentang goreng yang baru aja ingin ia makan.
"Ngaur lo!" seru Layla ikut ikutan.
"Gak nyadar kalian! 2 pria hebat, keren, gagah, berpengaruh lagi di landa cemburu?" ujar Nina mengeluarkan isi pemikiran nya.
Layla dan Mery saling pandang.
"Cemburu sama siapa?" tanya Layla.
"Tau nih gak jelas lu, Nin! Gue ke sini aja di antar sama mobil patroli, yang benar aja coba, pak Arsandi cemburu sama polisi!" Mery menghembuskan nafas kasar, gak abis pikir dengan pemikiran Nina.
Tuk tuk tuk.
"Ini kepala, pasti isi nya cuma ada Deri, sampe pemikiran lo udah di buat ngaur, acak acakan udah kaya benang kusut!" nyinyir Layla, mengetuk ngetuk kening Nina dengan jari telunjuk nya.
Gak lama makanan yang di pesan Layla di antar oleh 3 orang pelayan wanita.
"Silahkan di nikmati Nona, jika ada yang di butuhkan. Panggil aja kami!" seru pelayan dengan papan nama Niar di dada nya.
"Pas banget, gue udah laper nih!" seru Mery, menatap makanan dengan penuh nafsuuu.
"Gak tunggu pak Danu sama pak pak Arsandi?" tanya Nina, celingukan mencari keberadaan 2 orang pria dewasa itu.
"Gue udah laper, mereka ke mana sih? Masih lama emang?" tanya Mery, dengan sendok garpu yang sudah berpindah ke tangan nya.
Nina menatap risih pada ke tiga pelayan wanita, yang ternyata masih berdiri gak jauh dari meja yang di duduki Layla.
"Sst sst!" Nina melambaikan tangan nya pada Layla.
"Ada apa lagi?" Layla mendekatkan wajah nya ke telinga Nina.
"Mereka ngapain masih di sana? Gak ada kerjaan lain gitu." Nina berseru pelan, melirik ke tiga pelayan wanita yang tadi mengantarkan makanan.
Layla membuang nafas kasar. 'Pasti ulah ka Danu! Gak gini juga kali, ini kan di luar, bukan di rumah!'
Dengan duduk tegak, menatap ke tiga pelayan resto. "Kalian kembali aja ke tugas kalian semula, aku gak akan ke mana mana kok!" seru Layla.
"Biar saya aja yang tetap di sini Nona, kami masih sayang dengan pekerjaan kami!" ucap Niar setelah ke dua teman nya berlalu.
"Ka Danu, bang Arsandi! Ayo gabung! Kita makan sama sama!" seru Layla, melihat ke dua nya berjalan menuju mereka.
"Suapi aku!" pinta Danu yang kini sudah duduk di dekat Layla.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya
__ADS_1