
...🥀🥀🥀...
"Sebenar nya apa yang terjadi sama Non Lulu ya?" tanya Jono yang kini berdiri di luar mobil.
Lulu meminta pak Jono untuk menunggu di luar mobil, dan membiarkan nya seorang diri di dalam mobil.
Dari arah kejauhan, Layla yang hendak masuk ke dalam mobil, mengalihkan pandangan nya saat melihat supir pribadi ayah nya.
"Ayo La, masuk! Tunggu apa lagi? Hem!" tanya Danu, yang sudah membukakan pintu mobil penumpang, bagian depan.
"Eh itu, aku liat pak Jono. Aneh kan, dia di luar!" dengan jari telunjuk tangan kanan nya, Layla memberi tahu arah pandangan nya pada Danu.
"Ya udah, biarin aja La! Mungkin dia lagi pegel nunggu di dalam. Ayo masuk! Biar kamu bisa cepat istirahat di rumah." bujuk Danu.
"Ihs bawel banget si! Mau nyapa, boleh gak?" tanya Layla.
"Gak! Kamu bukan mau nyapa, yang ada nanti malah ngobrol, terus cuwekin aku! Udah ayo masuk!" dengan tangan di bahu Layla, Danu mendorong Layla agar masuk dan duduk dengan tenang di dalam mobil.
"Ihs nyeselin banget si, mau nyapa aja gak boleh!" sungut Layla, memasang sabuk pengaman pada tubuh nya.
Danu jalan memuter, dengan setengah berlari ke arah kursi kemudi.
"Tadi bukan nya kita ke sini sama bang Arsandi ya, ka? Kok sekarang orang nya gak ada?" tanya Layla dengan menoleh ke arah Danu.
"Sudah aku suruh pulang lebih dulu, ada urusan kantor yang harus ia selesai kan!" Danu mulai melajukan mobil nya, melewati mobil ayah Noval.
__ADS_1
Layla melambaikan tangan nya pada pak Jono. Saat mobil yang ia kemudikan melewati pak Jono.
Danu membuang nafas nya dengan kasar. Gak tau orang lagi cemburu apa ya, malah di panas panasin.
"Kamu gak keberatan kan kalo kita tinggal satu kamar? Kamar lain untuk nenek." terang Danu dengan tetap fokus pada jalan yang ia lalui.
Layla mengerutkan kening nya, menatap tajam Danu. "Ko bisa berubah pikiran? Kata lo, ruang yang lagi di buat kamar itu buat gue! Kenapa jadi gini? Itu curang dong nama nya! Gue gak mau, gue protes!" ucap Layla dengan bersungut.
"Layla! Bisa kan panggilan lo itu di singkirin? Telinga ku panas dengar nya!" protes Danu.
Layla melipat ke dua tangan nya di depan dada, membuang pandangan nya ke luar jendela. "Bodo amat! gue kecewa ama lo! Udah bersikap manis, udah nurut, tetap aja mau seenak nya sendiri ngambil keputusan." gerutu Layla.
"Aku ingin nenek membaik La, biar lah nenek melihat kita ini akur. Siapa tau dengan begitu, bisa membantu perkembangan kondisi nenek. Kamu mau kan nenek bisa sehat seperti sedia kala?" tanya Danu.
Layla tampak berfikir, membuang nafas nya dengan kasar, kalo kaya gini, gue gak bisa egois dong. Kan biar nenek bisa pulih, gue juga kan pengen ngerasain di sayang nenek. Nenek dari ibu dan ayah kan udah lama meninggal, jauh dari sebelum aku lahir.
"Oke, tapi awas lo ya! Kalo sampe nyentuh gue! Gue pastiin bakal minggat dari apartemen lo! Diel!" Layla mengulurkan tangan kanan nya ke depan, sebagai tanda setuju nya diri nya.
Danu membalas uluran tangan Layla.
"Diel!" ucap Danu.
Diel aja gue mah, kalo setan lagi gak lewat ya lo aman La... gak bakal gue terkam, tapi kalo setan lagi berkeliaran, gue gak jamin La. Sampe kapan gue bisa nahan diri gue buat gak nyentuh lo.
"Jangan lari, nanti jatoh La!" seru Danu, saat Layla menerobosss masuk ke dalam apartemen, saat pintu baru saja ia buka.
__ADS_1
"Dari tadi kan gue udah bilang kebelettt, siapa suruh lo bawa mobil pelan kaya siputtt!" sesekali Layla menoleh dengan wajah kesal pada Danu, dan hilang di balik pintu kamar kecil yang ada di ruang depan unit apartemen milik Danu.
"Kan tadi kamu tau sendiri, jalan tuh macet La, gimana aku mau ngebut si!" protes Danu.
Danu hanya mendengar suara keran air yang menyala dari dalam toilet.
Danu langsung memeriksa kamar baru yang terdapat di unit apartemen nya, setelah merubah satu ruang menjadi sebuah kamar. Kamar yang awal nya untuk di tempati Layla, dan sekarang kamar itu untuk nenek Dahlia.
Ke luar dari kamar kecil, Layla mengedarkan pandangan nya, mencari keberadaan Danu. Sementara unit apartemen milik Danu masih tampak gelap, karena Danu tidak langsung menyalakan lampu, langsung tertuju pada kamar baru.
"Danu! Lo di mana? Ihs serem juga ini apartemen. Berdua sama Danu tapi kaya sendirian gini, horor ih. Danu! Danu, lo jangan bikin gue takut apa! Nyaut oy! Danu!" Layla berkali kali, berseru memanggil Danu.
Sementara orang yang di panggil, tidak juga membalas seruan Layla. Dengan langkah perlahan, tangan merentang, takut menabrak atau menyenggol benda yang tidak ia lihat, di bawah minim cahaya lampu yang berasal dari ruang depan.
Layla mengelusss tenggkuk leher nya, merasakan bulu bulu halus nya merindinggg.
"Masa di apartemen ada hantu sih! Gak mungkin lah, berasa lagi uji nyali gue! Danuuuuu!" teriak Layla, memanggil Danu sekencang nya.
Grap.
"Aaaakkkkkk!!" teriak Layla.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅