Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Gagal menjalankan tugas


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Brakkkk.


Roy terperanjat kaget, melihat pintu kamar kost nya yang di dobrak dari luar.


Doni mengerutkan kening nya, gak percaya dengan apa yang ia lihat.


'Sialll, harus nya sudah ku habisiii sejak awal. Bagaimana aku bisa mempertanggung jawab kan pada Danu dan Arsandi!' batin Doni, melirik keadaan Mery yang tergeletak di lantai dalam keadaan mengenaskannn.


Dengan senjata api mengacung ke arah Roy, "Harus nya aku menghabisiii mu tanpa memberi mu peringatan!" ucap Doni, menatap tajam Roy yang tanpa sehelai benang pun di tubuh nya.


"Sayang nya kau datang terlambat bung! Sampaikan salam ku untuk bos mu! Ini akibat nya jika membuat hati wanita ku menangis!" ucap Roy dengan sinis, menutupi rasa takut yang berkecamukkk dalam hati nya.


'Sialll, bagaimana jika orang ini benar benar menarikkk pelatuk nya! Bisa mampusss aku! Aku harus pergi dari tempat ini! Sialll!' umpat Roy yang baru sadar, jika ia tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh nya.


Dor.


Brukkkk.


Doni menarikkk pelatuk nya 1 kali, tanpa perasaan, tanpa melesettt, mengenai jantung Roy.


Tubuh Roy ambruk dengan luka tembak mengenai jantung nya, dan seketika tewas di tempat.


.


.


Mery mendapatkan perawatan secara intensif, di dalam ruang VVIP yang di jaga ketat oleh Doni dan orang nya.


"Lo? Siapa yang ada si dalam? Kenapa lo suruh pak supir antar kita ke sini?" cecar Layla di depan Doni yang menyambut nya di depan ruang VVIP.


"La, sabar dikit napa. Ini rumah sakit, kita rusuh... tapi gak di rumah sakit juga kali La! Tenang La, tarikkk nafas, buang perlahannn!" titah Nina, dengan tangan nya mengelusss punggung Layla, mencoba menenangkan hati sahabat nya itu.


Layla menepisss tangan Nina dengan kesal, tak ayal jari telunjuk nya pun mengacung pada Doni.


"Gimana gue gak kesal, ini orang kalo ada apa apa gak pernah jelasin ke gue secara gamblanggg. Dari sejak di rumah... gue udah tanya baik baik. Kenapa kita di antar ke sini, di jelasin gak? Gak kan! Ini pasti udah suruhan dia! Sekarang jawab, siapa yang ada di dalam? Bukan ka Danu kan?" tanya Layla ngegasss, gak bisa menahannn emosi nya lagi pada Doni.

__ADS_1


Deg.


Nina dan Deri tersentak mendengar pengakuan Layla.


"Benar bukan pak Danu kan, pak?" tanya Deri dengan ragu, memungkiri apa yang di ucapkan Layla.


"Seseorang yang ada di dalam bukan Tuan Danu, atau pun Tuan Arsandi. Tapi Nona Mery." jelas Doni dengan berat hati mengatakan nya pada Layla, Nina dan Deri.


"Mery kenapa?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.


"Dokter yang menangani Nona Mery belum mengatakan apa apa, dokter menunggu pihak keluarga untuk menyampaikan apa yang terjadi pada Nona Mery." jelas Doni panjang kali lebar.


"Apa separah itu, sampai kita gak di kasih tau keadaan Mery? Terus kenapa juga bapak ganteng bawa kita ke sini? Kehadiran kita buat apa di sini?" cecar Nina ingin tau, tanpa sengaja bibir mungil nya mengeluarkan pujian atas wajah rupawan Doni.


Dengan tatapan jengkel, Deri berdehem panjang seolah menyindir Nina, sang kekasih.


"Ehem ehem eheeeemmm! Masih ada aku yank di sini! Jangan lupa kamu cuma milik aku yank!" ucap Deri dengan tangan mengepalll.


"Maaf yank, aku gak sengaja. Tetap kamu di hati aku!" Nina memeluk lengan Deri, mengelusss lengan sang kekasih, seakan meredakan api yang baru aja ia percikkan sendiri.


'Lebay!' batin Doni menatap pasangan Nina dan Deri, yang menjengkelkan di mata nya kini.


Doni menghembuskan nafas nya dengan kasar, seakan ada sesuatu yang mengganjalll dalam hati nya.


'Bagaimana aku bisa mengatakan nya pada bos Danu dan Arsandi. Habis lah riwayat ku kali ini. Gagal menjalankan tugas, sialll. Target yang harus nya ku jaga, ternyata malah mengalami nasib buruk seperti ini. Tanpa dokter mengatakan nya pun, aku sudah bisa menebak jika Roy merengguttt yang bukan hak nya!' batin Doni yang larut dalam lamunan panjang nya.


'Nih orang di tanya serius malah asik ngelamun! Minta di siram aer segayung kali mah ya!' umpat Layla dalam hati, menatap kesal Doni.


Dengan suara nyaring, Layla melambaikan tangan kanan nya di depan wajah Doni, "Woooyyy sadar woy! Situ ngantuk? Di tanya bukan nya jawab, malah ngelamun! Udah kasih tau ka Danu belum hah?"


"Bukan ngantuk kali La, tapi butuh minum." celetuk Deri asal.


"Beliin pak penjaga ini minum gih yank! Kasian tau haus abis berdiri lama di depan ruang VVIP!" titah Nina yang menanggapi perkataan Deri dengan serius.


"Kamu berani nyuruh aku yank? Cuma buat penjaga satu ini?" tanya Deri dengan hidung kembang kempis, nafas nya seakan memburu.


Dengan kepala menyandar dan mengadah, Nina angkat suara dengan nada manja.

__ADS_1


"Tuh kan aku salah lagi, gak gitu juga yank. Kan beli minum buat aku juga, aku haus yank, butuh minum!" cicit Nina.


"Kalian berdua, beli minum gih! Debat mulu! Dasar bucin!" umpat Layla, geram melihat Nina dan Deri.


Hap.


Dengan sekali tarikannn, Deri menggendong tubuh Nina.


"Kyaaaa!" pekik Nina dengan menutup mulut nya karena terkejut.


"Cusss ayangk ku! Kita beli minum!" seru Deri, meninggalkan Layla dengan beberapa pria berbadan tegap, yang gak Deri tau nama nya.


"Mereka berdua udah pergi, sekarang katakan pada ku. Apa yang terjadi pada Mery? Aku berhak tau kan!" seru Layla dengan penuh penekanannn.


"Saya tidak berani mengatakan nya, lebih baik Nona tunggu sampai Tuan Muda Danu tiba. Boleh atau tidak nya, nona Layla untuk mengetahui nya." ucap Doni tanpa ingin mendahului Danu.


"Nyeselin bangat si lo jadi orang!" sungut Layla, hendak melangkah masuk ke dalam ruang rawat VVIP, tempat Mery di rawat.


Doni memberikan kode gerakan kepala, pada pengawal yang berdiri di depan pintu ruang rawat Mery.


"Ke sini dulu Nona!" seru Doni, memberikan arahan pada Layla.


Ceklek.


Dengan pakaian yang telah steril, hati gak karuan, Layla mengayun kan langkah kaki nya, yang seakan berat untuk di ajak melangkah memasuki ruang rawat Mery.


Layla gak menyangka dengan apa yang ia lihat. Alat bantu pernafasan terhubung dengan tubuh Mery, yang terkulai gak berdaya di atas berangkar.


Layla mendudukkan tubuh nya di kursi yang ada di dekat berangkar. Tangan Layla terulur menggenggammm jemari Mery. Menatap kepala Mery yang berbaluttt perban.


"Apa yang terjadi sama kamu, Mery? Siapa yang tega ngelakuin ini sama kamu?" tanya Layla, meski tau Mery gak akan menjawab pertanyaan nya.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2