
...π₯π₯π₯...
Sreek.
Danu menarik bahu Layla, membuat nya saling tatap, "Kenapa kau panggil Arsandi dengan sebutan abang, dan aku, suami mu sendiri... kau panggil lu, kamu?" protes Danu tidak terima.
"Apa sih, udah deh gak usah kekanak kanakan!" Layla mencoba menyingkirkan tangan Danu dari bahu nya.
"Bukan aku yang kekanak kanakan, La! Tapi kamu, coba belajar buat terima status kamu saat ini! Ngerti kan maksud aku!" Danu melepaskan cengramannn tangan nya dari bahu Layla.
"Maaf, bukan maksud aku mau nyakitin kamu, La! Cuma telinga ku aja yang panas, denger kamu dengan mudah nya manggil Arsandi pake embel embel abang!" ujar Danu terus terang.
Layla kembali memandang ke luar jendela mobil, salah lagi, salah terus gue di mata nya. Nih bibir kan yang mau ngomong, gak bisa di paksa.
Danu menatap Layla dengan tatapan yang nanar, bukan kuping juga sih, tapi lebih ke hati, sakit aja gitu denger nya. Istri ku sendiri belum bisa menerima status nya. Resiko nikahin bocil kali ya!
"Iya, maaf, aku bakal coba lagi buat manggil aku kamu." ucap Layla tanpa berani menatap Danu.
"Gak usah kalo terpaksa, La!" ujar Danu dengan putus asa.
Danu dan Layla makan bakso di tempat yang Layla katakan, di pinggir jalan dekat sawah, tidak jauh dari bandara. Sementara Arsandi memilih tetap menunggu ke dua nya di dalam mobil. Memberikan ruang untuk ke dua nya saling introspeksi diri.
Ke dua nya makan bakso dengan suasana yang hening, meski mereka duduk saling berhadapan dengan meja sebagai penghalang di antara ke dua nya, tanpa ada yang saling memulai percakapan. Seolah ke dua nya sudah kehabisan kata kata, kehabisan bahan pembicaraan.
Hingga seorang pengunjung wanita, yang baru saja masuk ke dalam ruko bakso itu merubah keadaan. Memunculkan ide gila dalam otak Layla.
Wanita dengan tinggi semampai, rambut hitam panjang yang terurai, heels tinggi yang menghiasi kaki indah nya, dengan pakaian seksiii yang membalut tubuh padat berisi nya. Berjalan dengan santai dengan seringai licik di wajah nya.
Beruntung nya aku, bisa mengetahui keberadaan mu di sini, Danu sayang! Untung aja aku berhasil meyakinkan ka Keli.
"Danu! Kamu di sini? Astagaaa kebetulan sekali!" ucap Aleta setelah berdiri di samping Danu.
Aleta bahkan tanpa sungkan, mencondongkan tubuh nya ke depan Danu, berniat untuk cipika cipiki dengan pipi Danu, namun sayang nya Danu menjauhkan kepala nya dari Aleta dan menatap nya dengan risih.
"Bisa kan kau menyingkir dari hadapan ku!" ucap Danu dengan datar, meletakkan kembali sendok yang ada di tangan nya.
Layla melirikkan ekor mata nya ke arah wanita yang berdiri di samping Danu.
Siapa sih ini cewek. Udah cantik, tinggi, tapi sayang gak punya malu. Gak tau apa kalo ini tempat umum, mau nempel aja sama laki orang! Woy Danu udah punya bini!
Danu membuang nafas nya dengan kasar, menatap ke arah Layla. Jangan sampai Layla berfikir aku ini playboy!
__ADS_1
Aleta mengelusss bahu dan turun ke lengan besar Danu. "Jangan begitu dong sayang! Kenapa kau tampak tidak senang melihat kehadiran ku? Aku kan sangat merindukan mu, sayang!" ucap Aleta dengan suara yang di buat semanja mungkin.
"Tampilan nya aja berkelas, gak tau nya tingkah nya kampungan!" gerutu Layla dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar Aleta dan Danu.
"Sayang, kau bersama gadis ini?" Aleta tersenyum sinis setelah menoleh ke arah gadis yang ada di hadapan Danu, ke dua tangan nya menyilang di depan dada.
"Memang sejak tadi aku bersama nya. Cari lah meja lain jika kau juga ingin makan bakso, dan jangan di sini." ucap Danu datar, menyuapkan bakso ke mulut Layla dari mangkuk milik nya.
"Tapi sayang nya aku ingin bergabung dengan kalian... kau tidak bilang punya saudara perempuan pada ku, sayang!" dengan tidak tau malu nya, Aleta mendaratkan tubuh nya di kursi yang ada di sisi kanan Danu.
Layla menyeringai, kaya nya gue tau ini cewe pasti mantan nya Danu. Gue kerjain ah.
"Aku sudah bilang sama kamu Aleta, menjauh dari hadapan ku! Kau tidak lihat aku sedang makan dengan nya!" Danu menahan kesal nya, melihat Aleta yang dengan santai duduk di samping nya.
"Uuuuwek, uuuuwek." Layla pura pura ingin memuntahkan isi perut nya.
"Kamu kenapa, La?" Danu beranjak, berjalan mengitari meja.
"Kaya nya parfum tante ini, bikin aku mual, cinta!" Layla menunjuk Aleta dengan ke dua mata nya.
Batin Layla, geli sih manggil lo cinta, tapi tanggung lah kalo pake kata ka, hahahha.
Aleta terperangah. "Apa? Kau panggil aku, tante? Dan kau panggil Danu dengan sebutan, cinta?"
"Apa masih mual?" tanya Danu dengan khawatir.
Layla menganggukkan kepala nya setelah menatap Danu dengan tatapan sendu, bibir mengerucut.
Danu mengelusss pucuk kepala Layla, aku gak bisa biarinin Layla lama lama di sini. Apa lagi masih ada Aleta. Kenapa juga sih harus bertemu Aleta di sini. Merusak suasana makan aja!
"Kau masih ingin makan di sini, Aleta?" tanya Danu dengan tatapan menyelidik. Tangan nya menyimpan minuman yang Layla berikan dan meletakkan nya di atas meja.
"Ya mau lah, aku kan ingin makan bersama dengan mu, sayang!" ucap Aleta. Aku semakin penasaran, siapa sih ini cewek ingusan. Waktu itu aku juga pernah melihat Danu bersama dengan nya, tapi di mana ya? Aku lupa.
Hap.
"Kyaaa." pekik Layla.
Tubuh Layla seakan melayang, saat ke dua tangan besar Danu mengangkat tubuh Layla dan menggendong nya.
Aleta di buat terperangah kembali dan beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
"Danu!" seru Aleta.
Kang bakso yang melihat Danu melangkah ke luar dari ruko, berniat mengejar nya.
"Tuan bakso nya be-- ..."
"Pasti saya bayar, pak!" sanggah Danu.
"Ada apa dengan Nona, Tuan Muda?" tanya Arsandi yang langsung membukakan pintu penumpang.
"Kau bayar lah apa yang aku dan Layla makan." Danu langsung menutup pintu, setelah mendudukan Layla dengan nyaman di dalam mobil.
"Baik Tuan." tanpa bertanya lagi, Arsandi menuju ruko, tempat ke dua Tuan nya makan.
Sebenar nya ada apa sih! Tuan Muda Danu tampak tegang gitu. Gak mungkin kan mereka berdua habis melihat hantu di dalam ruko! Pikir Arsandi dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Pak, berapa yang harus saya bayar untuk makan dan minum Tuan dan Nona saya?" tanya Arsandi setelah berdiri di samping kang bakso, mengeluarkan dompet nya dari dalam saku celana yang ia kenakan.
βEmpat puluh ribu, Tuan." jawab kang bakso.
Aleta menghampiri Arsandi, menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada, berkata dengan angkuh setelah ia berdiri di belakang Arsandi.
"Heh kacung, kau pasti tau bukan... ada hubungan apa antara gadis bau kencur itu dengan Danu. Jadi, cepat kata kan pada ku, siapa gadis yang bersama dengan Danu?" tanya Aleta dengan tatapan menyelidik.
"Terimakasih ya, pak!" seru Arsandi, tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Aleta. Ia melangkah dengan cepat meninggalkan ruko.
"Heh kacung sialannn, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku!" Aleta menghentakkan ke dua kaki nya di lantai, dengan bibir mengerucut.
Sekarang aku tau, kenapa dengan Tuan Muda dan Nona, tapi setau ku, Nona belum pernah melihat Aleta.
"Kita ke rumah sakit." titah Danu, saat Arsandi mendudukkan diri nya di kursi belakang kemudi.
"Baik Tuan." Arsandi mulai melajukan mobil yang ia kemudikan.
"Gak jadi Ar, cari klinik terdekat aja!" titah Danu berubah pikiran.
"Iya Tuan."
"Gak jelas banget sih jadi orang!" sungut Layla, menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi, menumpukan kepala nya pada tangan yang menopang pada jendela mobil.
Bersambung...
__ADS_1
...π₯π₯π₯...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya π π π