
...🥀🥀🥀...
"Enak aja kalo ngomong! Pake duit lah!" sungut Layla.
"Lalu apa yang membuat mu yakin jika Aleta cantik, jika menggunakan apa?" tanya Danu lagi dengan penuh selidik.
"Pake ujung sedotan lah, ahahaha!" tawa Layla pecah, melihat Danu dan Arsandi tampak menganga, mendengar jawaban yang ia berikan.
"Laylaaaa!"
Danu menyerang Layla dengan mengelitik pinggang Layla, membuat gadis itu menggeliat karena kegelian.
"Adem banget ngelietin nya." ucap Arsandi dengan melirik ke arah kaca spion mobil, dengan seutas senyum tersungging.
...---...
Sementara di mobil lain, seorang wanita terus saja menatap tajam mobil yang ada di depan nya. Aleta terus mengikuti ke mana mobil yang membawa Danu, mantan kekasih nya pergi.
"Kurang ajarrr, bisa bisa nya Danu gak liet gue. Jelas gue ini lebih dari segala gala nya kalo di bandingin sama itu bocah, bocah ingusan, bau kencur." umpat Aleta.
Bugh bugh bugh.
Aleta memukulll setir kemudi dengan kepalan tangan nya.
"Selama nya lo cuma milik gue, Danu. Gak ada yang bisa milikin lo selain gue." gumam Aleta.
Danu dan Layla, kembali duduk dengan tenang di kursi penumpang, dengan wajah yang sama sama canggung.
Arsandi memarkir mobil nya di area parkir rumah sakit.
"Apa kau yakin, tidak akan ikut masuk ke dalam?" tanya Danu.
"Tidak Tuan, Tuan saja dan Nona yang masuk. Saya bisa menunggu kalian di sini." ucap Arsandi, menolak tawaran Danu.
"Dasar kau! Tidak bisa move on dari mantan!" cibir Danu, sebelum ke dua nya turun dari mobil.
"Cihs yang tidak bisa move on itu kau, Tuan! Saya masih ada pekerjaan lain, yang perlu saya kerjakan." kilah Arsandi.
"Kalian masih mau berdebat? Aku duluan aja lah! Pria dewasa suka aneh!" sungut Layla, berencana turun dari mobil untuk mengunjungi keadaan nenek Dahlia.
__ADS_1
Danu menyamakan langkah kaki nya, menyusul Layla yang sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Kau jalan cepat sekali! Udah kaya mau ngambil gaji!" gerutu Danu, saat berhasil menyamakan langkah kaki nya dengan Layla, berjalan beriringan.
Layla membuang nafas nya dengan kasar. "Siapa suruh terus berdebat dengan bang Ar!" sungut Layla.
"La!"
"Hem!"
"Ehem ehem, emmm bagaimana perasaan mu, saat melihat sikap Aleta terhadap ku?" tanya Danu, ingin tau perasaan Layla pada nya.
Layla tidak langsung menjawab pertanyaan Danu. Dia diam dalam langkah kaki nya.
Namun batin nya terus mengoceh, marah sih, secara lo kan laki gue. Masa seorang suami mau aja lo di sentuh sama cewe lain yang jelas jelas bini lo ngeliet. Gak ada perasaan banget kan jadi laki. Tapi kalo gue bilang, gue kesel, gue gak suka, tar Danu mikir nya gue cemburu dong.
"Hehehe, gue tau La... kamu pasti cemburu, kamu pasti marah kan sama Aleta, bukti nya aja tadi kamu pake pura pura segala mual mual, pengen muntah gitu." kekeh Danu, merasa diri nya telah di cintai Layla.
"Pe'de gile lo! Siapa juga yang cemburu. Orang aku itu kok, emm anu itu... sakit perut, ada yang bikin mual, iya... minyak wangi mantan lo, bikin perut gue mual!" kilah Layla, mencari cari alasan di balik sikap aneh nya tadi di ruko.
"Gak usah alesan, La. Ngaku aja kali, gue suka cara lo! Pikiran lo jalan." puji Danu.
Ceklek.
Danu membuka pintu ruang rawat VVIP. Nampak nenek Dahlia yang tengah menyandar pada sandaran ranjang rawat, dengan di temani Baskoro di kursi yang ada si kanan ranjang rawat.
"Kalian ke mana dulu? Kenapa baru sampai?" cecar Baskoro, menatap dengan penuh selidik sang anak dan menantu nya yang melangkah masuk.
"Maaf pah, tadi kami mampir dulu sebentar." jelas Danu, menyalami tangan Baskoro setelah Layla menyalami nya.
"Danu tidak aneh aneh kan, La?" tanya Baskoro, sangsi dengan alasan yang di berikan Danu.
Sementara Danu langsung menyimpan parsel buah yang sebelum nya mereka beli di jalan.
"Gak kok pah. Tadi Layla laper, terus mampir dulu makan bakso." cicit Layla.
Mendudukan diri nya di tepian ranjang rawat sebelah kiri, setelah mengecup punggung tangan kanan nenek Dahlia.
Layla memijat tangan kiri nenek Dahlia. "Apa nenek merasa lelah, setelah melakukan perbangan?" tanya Layla dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Seperti nya begitu, oh iya La... semua buku buku sekolah kamu, sudah ada di apartemen. Jadi gak ada alasan buat kamu gak tinggal di apartemen kan sekarang!" cicit Baskoro.
Layla menoleh dengan melongo, mau bilang apa lagi kalo udah gini.
Ceklek.
Pintu ruang rawat di buka dari luar.
"Hai, apa kehadiran ku mengganggu kalian? Aku harap tidak." dengan langkah pasti, wanita berparas cantik dengan tidak tahu diri nya, melangkah memasuki kamar rawat nenek Dahlia, dengan senyum yang terus merekah di bibir nya.
Baskoro dan Danu menoleh ke arah pintu, menatap datar Aleta. Sementara Layla, tampak acuh dengan kehadiran rival nya. Sementara nenek Dahlia mengerutkan kening nya.
Wanita ular satu sudah di singkirkan, sekarang datang lagi wanita ular lain nya. Kenapa hidup cucu ku di kelilingi wanita ular. Pergi kau dari ruang rawat ku! teriak nenek Dahlia, meski hanya dalam hati tanpa bisa mengatakan nya langsung.
"Kau mengikuti ku sampai ke sini?" tanya Danu dengan datar.
"Aku tidak mengikuti mu, aku hanya ingin bicara dengan mu, memiliki waktu yang lebih banyak untuk kita saling bicara." terang Aleta, berdiri di samping Danu, tanpa memperdulikan kehadiran Baskoro, Layla dan nenek Dahlia.
Sreek.
Danu langsung menepis tangan Aleta yang hendak memeluk lengan Danu.
"Sayang, maaf. Kita perlu bicara, ada yang perlu kau dengar. Penjelasan dari ku!" cicit Aleta.
Layla menyeringai, gue tau harus apa.
"Ummmpp..." Layla menutup mulut nya dengan tangan kanan nya, melangkah turun dari ranjang rawat, berlari ke arah kamar kecil.
"La! Kamu kenapa?" tanya Danu dengan melongo, mengikuti arah pergerakan Layla yang menghilang di balik pintu kamar kecil.
"Dasar anak bodoh! Ikuti istri mu!" gertak Baskoro.
"Apa? Istri?" Aleta terbelalak, lalu menganga dengan apa yang indra pendengaran nya dengar.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
__ADS_1