
...🥀🥀🥀...
Grap.
Layla memeluk sang nenek, merasa senang dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Makasih nenek, sudah mau berusaha untuk kembali sehat. Bahkan nenek sudah mau belajar bicara kembali." ucap Layla dengan nada suara yang terdengar senang.
"Kalian berdua, wanita paling hebat dalam hidup ku!" ucap Danu, berdiri dekat tepian ranjang rawat pasien.
...----...
Beberapa hari kemudian.
Kini Layla dan Danu tidak lagi tinggal di apartemen. Melainkan menempati sebuah rumah yang cukup megah dan besar. Dengan beberapa fasilitas yang memang sengaja di siapkan Danu untuk Layla dan nenek Dahlia.
Akhir pekan, hari yang sangat di nantikan untuk Danu dan Layla. Ke dua nya melepas kan kesibukan masing masing.
Layla melepaskan kesibukan nya sebagai seorang pelajar, dan Danu melepaskan kesibukan nya sebagai seorang atasan di kantor.
Cup.
"Selamat pagi, sayang!" Danu mengecup dan memeluk Layla dari belakang.
"Pagi juga, ka!" ucap Layla dengan pipi merona, melirik kan ekor mata nya pada si mbok yang tengah menahan tawa nya.
"Udah beberapa bulan nikah, si Non sama Tuan Muda... masih aja gak berubah." ledek si mbok.
"Mboooook! Fokus aja sama masakan! Awas, nanti hangus! Rasa nya pasti gak enak!" cicit Danu tanpa mengalihkan pandangan nya pada wajah Layla.
__ADS_1
Bagi Danu, pemandangan indah di pagi hari adalah saat ia bermanja manja dengan Layla. Dengan memeluk Layla dari belakang, dan menyandarkan kepala nya pada bahu Layla, lalu menatap pipi Layla yang merona. Hal kecil yang membuat nya tidak akan bosan, mengulang lagi hal yang sama.
Keberadaan Layla di dapur, hanya untuk membantu si mbok memasak sarapan untuk mereka bersama.
"Kaaa! Udah ihs sana, jangan ganggu aku!" rengek Layla, saat Danu terus menduselll kan bibir nya di leher jenjang Layla.
"Aku gak ganggu sayang!" bantah Danu.
"Da- Nu! Bo- cah, ku- ra- ng, ke- ker- ja- an!" omel nenek Dahlia, dengan duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat wanita.
"Ah nenek, aku bukan bocah nakal nek!" bantah Danu, melepasss kan pelukan nya dari Layla.
"Biar aku saja sus, yang mendorong nya. Kau bantu saja istri ku dan si mbok!" titah Danu.
Danu mendorong kursi roda ke arah lain, yakni taman belakang yang di tumbuhi bunga mawar merah. Bunga yang di tanam sendiri oleh Layla. Dan di rawat oleh penghuni rumah.
"Ba- ha- gi- a, ka- pan, ka- mu... da- dan La- Lay- La, pe- gram, a- nak!" tanya nenek Dahlia, lalu menghirup udara dan melepaskan nya perlahan.
"Nanti ya nek. Aku harus menunggu sampai Layla lulus sekolah. Dan menunggu sampai Layla siap untuk mengandung benih ku! Benih cinta kita berdua." ucap Danu, tidak ingin memberikan janji palsu, atau pun harapan palsu pada nenek Dahlia. Akan kehadiran seorang anak dalam rumah tangga nya.
"Assalamualaikum, mah!" ucap Baskoro, mencium punggung tangan mama mertua nya.
"Baru dateng, pah? Cuma sendiri?" tanya Danu, setelah mencium punggung tangan kanan sang ayah.
Bukan lagi pertanyaan yang baru di telinga Baskoro lagi. Ia seakan sudah tau, apa yang akan di tanyakan sang anak, saat melihat Baskoro yang bertandang ke rumah Danu.
"Memang nya kau ingin papa datang ke sini bersama dengan siapa?" tanya Baskoro dengan tatapan mengejek.
"Papa masih yakin, ingin mendengar aku mengatakan nya?" tanya Danu dengan tatapan meledek penuh kemenangan.
__ADS_1
"Dasar bocah nakal! Kau ini benar benar Danu!" sungut Baskoro.
"Pah, nek, sayang... kita sarapan yuk! Udah siap itu di meja!" ucap Layla, dengan mengayunkan kaki nya menghampiri keberadaan sang suami.
"Selamat, terima kasih sayang!" Baskoro mengelusss dada nya, merasa tertolong dengan kedatangan Layla.
"Ihs sayang... kau itu harus nya memihak ku!" sungut Danu dengan bibir mengerucut, menatap Layla dengan kecewa.
Cup.
Layla mendaratkan kecupan di pipi Danu. Membuat Danu menarik sudut bibir nya ke atas.
"Itu baru istri ku!" ucap Danu.
Hap.
"Kyaaaa!" pekik Layla.
Tubuh nya seakan melayang, ke dua tangan Danu yang kekar, membawa Layla ke dalam gendongan nya. Membawa nya meninggalkan taman belakang, melupakan nenek Dahlia dan papa Baskoro.
Papa Baskoro mendorong kursi roda nenek Dahlia, mengikuti langkah kaki putra dan menantu nya. Mereka menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Te- ri- ma, ka- sih nak... ka- kau, sa- sa- tu kan me- re- ka, be- ber- du- dua." ucap nenek Dahlia, dengan suku kata yang terputus putus.
"Itu sudah menjadi keharusan untuk ku mah, menyatukan Layla dan Danu!" cicit Baskoro.
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
__ADS_1