
...🥀🥀🥀...
Tap tap tap.
"Hai cantik! Sedang apa kau di sini? Sedang menunggu siapa kau hah?" tanya seorang pria, yang sudah berdiri di depan Angel dengan tatapan meledek.
Dengan tubuh bergetar, gigi menggeretuk, Angel berusaha bangkit dari posisi nya yang tengah berjongkok.
"A- apa ma- mau ka- kalian? A- aku gak ke- kenal kalian!" tanya Angel dengan tergagap, berjalan ke samping menjauh dari pria yang tengah mematap nya tajam.
"Gak usah takut adik manis. Apa kau gak ingin melihat kaka laki laki mu untuk selama nya? Ayo ikut kami, kami akan membawa mu untuk melihat kaka laki laki mu yang yang terakhir kali nya." bujuk pria berbadan besar dengan tangan melambai, minta Angel untuk mendekat pada nya.
Angel menggeleng kan kepala nya, "Aku gak mau ikut dengan kalian. Kalian sudah membunuhhh nenek ku! Pergi kalian dari sini! Atau aku akan berteriak!" ancammm Angel, mengumpulkan keberanian nya untuk memberontakkk.
"Ahahahha yang benar aja, mau berteriak. Yang ada kau sudah di neraka! Baru bisa berteriak!" ucap pria lain nya dengan tergelak.
Angel menggeleng kan kepala nya, "Pergi Kalian! Pergi! Tolong, tolong ada pembunuh! Nenek ku di bunuh! Bang Roy!" teriak Angel dengan detak jantung yang gak karuan. Rasa takut dan marah meleburrr menjadi satu.
Dor.
"Dasar bodohhh! Kenapa tidak menghabisiii nya langsung! Bawa tubuh nya! Bersihkan sisa nya! Jangan sampai meninggalkan jejak!" titah pria yang di anggap ke tua dalam kelompok nya.
.
.
Layla duduk di luar ruang VVIP bersama dengan Nina, Deri dan juga beberapa pengawal, serta gak ketinggalan pula keberadaan Doni.
Tak tak tak tak tak tak.
Suara dua pasang bunyi sepatu menghentakkk lantai dengan cukup kencanggg berjalan ke arah ruang VVIP berada, sudah mampu membuat Doni yang terlihat sangar, menyeramkan di buat tidak nyaman dengan hati berkecamukkk gak karuan.
Danu dan Arsandi berjalan menghampiri ruang VVIP, bak orang penting, dengan beberapa orang yang berjalan mengekor ke dua nya dengan pakaian serba hitam.
Layla yang menyadari ke datangan Danu dan Arsandi, langsung beranjak dari duduk nya di ikuti oleh Nina dan Deri.
"Ka Danu!" seru Layla dengan tatapan haru.
"Tuan, sela- ughhh!" pekik Doni.
Bugh bugh.
__ADS_1
"Akkhhhh!" Layla dan Nina sama sama memekik, menatap ngeriii dengan apa yang di lakukan Arsandi pada Doni.
Arsandi langsung melayangkan bogemmm mentah di perut Doni sebanyak 2 kali.
"Bagaimana cara kerja mu hah! Harus nya kau dengar kan apa kata kata ku!" umpat Arsandi dengan kesal.
Doni hanya bisa meringisss, menahannn setiap pukulannn dari Arsandi tanpa berani melawan.
"Maaf Tuan!" ucap Doni.
Dengan tatapan berbinar sedih, Layla langsung memeluk Danu saat sudah berada di depan nya.
"Ka Danu, Mery!" jari telunjuk Layla mengacung, pada pintu ruang VVIP di mana Mery berada.
"Aku sudah tau, jangan khawatir. Orang yang terlibat atas apa yang menimpa Mery, sudah mendapatkan ganjaran nya." ucap Danu tegas, mengelusss puncak kepala Layla.
Arsandi masuk ke dalam ruang VVIP, melihat kondisi Mery.
"Apa kata dokter?" tanya Danu dengan tatapan tajam pada Doni.
"Tuan Muda Danu, di tunggu dokter di ruangan nya." ucap Doni.
"Aku ikut ka!" pinta Layla dengan tatapan memohon.
"Kalian berdua, terima kasih sudah mau menemani istri ku!" seru Danu, menatap Nina dan Deri secara bergantian.
"Jangan sungkan pak, kita kan besti." ucap Nina.
"Kalian pulang lah, beristirahat lah dengan tenang. Sekali lagi, terima kasih banyak atas waktu yang kalian berdua berikan untuk keluarga ku ini!" ucap Danu lagi dengan beberapa kali menunduk kan kepala nya.
"Sama sama pak, keluarga bapak udah kaya keluarga kami sendiri kok!" seru Dery, merasa senang di akui keluarga oleh Danu.
"Sama sama." ucap Nina dan Dery.
Jika Nina dan Deri, berlalu meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumah.
Berbeda dengan Layla dan Danu, ke dua nya melangkah dengan pasti. Mengikuti langkah kaki Doni yang berjalan lebih dulu di depan ke dua nya.
Layla menggenggammm jemari Danu, merasakan dingin nya suhu tubuh Danu.
"Mery pasti baik baik aja, ka!" ucap Layla, dengan senyum tersungging di bibir nya, memberikan secercah harapan perihal keadaan Mery.
__ADS_1
Cup.
Danu mengecup punggung tangan Layla, "Aku pun berharap begitu sayang!" seru Danu dengan tatapan penuh harap, dengan segurat kesedihan di wajah nya.
'Apa yang harus aku katakan pada papa Baskoro? Baru kemarin aku dan Arsandi berencana menyusul papa Baskoro di luar negri. Tapi sekarang keadaan berubah dengan kondisi Mery yang aku sendiri gak tau gimana, gak tau juga apa yang sudah di perbuat Roy pada Mery.' batin Danu dengan berkecamukkk.
Ke tiga nya menghentikan melangkah kan kaki mereka, di depan sebuah ruang dokter, dengan meja suster di depan ruangan.
"Sus, keluarga dari pasien bernama Mery!" seru Doni, di depan seorang suster yang duduk di belakang meja.
"Silahkan masuk aja pak, bu! Sudah di tunggu bu dokter si dalam!" seru suster wanita, berparas cantik dengan kaca mata menghiasi mata wajah nya.
Ceklek.
Doni membuka pintu ruang dokter untuk Danu dan juga Layla.
Pintu kembali di tutup, saat ke dua nya sudah masuk ke dalam ruangan.
"Selamat sore bu dokter, bisa dokter katakan pada saya, bagaimana kondisi terakhir adik saya?" tanya Danu dengan tatapan menyelidik, ia bahkan belum duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang dokter.
"Selamat sore juga pak, bu! Silah kan duduk dulu. Pasti akan saya jelas kan kondisi terkini, dan apa saja yang di alami Nona Mery!" jelas seorang wanita berjubah putih yang berusia 40 tahun, namun masih tampak muda di usia nya kini.
Dengan harap harap cemas, Danu dan Layla akhir nya bisa mendengar kan penjelasan dari dokter mengenai kondisi Mery.
Tampak Danu mengepalkan tangan nya dengan kencanggg, mendengar pengakuan sang dokter di tambah dengan bukti bukti fisum, rongsen yang di tunjukkan dokter itu. Dokter yang menangami Mery.
"Kurang ajarrr Roy! Berani nya dia berbuat kejiii seperti itu pada Mery!" ucap Danu dengan penuh emosi.
"Kaaa, sabar." tegur Layla, mengingatkan sang suami.
Layla menggenggammm jemari Danu, 'Ada aku ka, ka Danu gak sendirian. Kita bisa bantu Mery untuk menghadapi rasa trauma nya. Kita pasti bisa membantu Mery dalam penyembuhan nya! Semua yang sakit, pasti ada obat nya!' batin Layla dengan senyum di bibir, membuat Danu ikut menarikkk senyuman nya.
Danu dan Layla berada di kantin rumah sakit, memesan makanan dan minuman untuk ke dua nya. Sementara gak jauh dari meja mereka berdua, ada 2 orang pengawal yang terus mengikuti ke dua nya.
"Kenapa harus ada 2 pengawal ka? hanya ada ka Danu dan aku, itu juga udah cukup." protes Layla dengan bibir mengerucut, tangan nya mengadukkk aduk makanan yang ada di atas meja, tepat di hadapan nya.
"Gak bisa sayang, untuk saat ini. Pengawasan atas kau dan Mery di perketat. Aku gak mau hal buruk itu terjadi pada mu atau pun pada Mery!"
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
__ADS_1
...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️...
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️