Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Arsandi, Julia, Mery


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Kenapa bisa ada pak Arsandi di depan kamar Nina dan Mery ka? Mereka gak lagi aneh aneh kan?" tanya Layla.


"Aneh aneh gimana maksud kamu, sayang?" tanya Danu dengan kening mengkerut.


"Ya mana aku tau ka!" Layla menggaruk kepala nya yang gak gatal.


"Arsandi, buka mata kamu!" tanya Danu, saat ia dan Layla sudah berdiri di depan Arsandi


Arsandi memijat kening nya, saat mendengar nama nya di panggil.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Danu, saat Arsandi membuka ke dua mata nya.


"Tuan Danu! Nona Layla!" seru Arsandi dengan wajah terkejut, "Kenapa Tuan dan Nona bisa ada di sini?" tanya Arsandi, kini Arsandi berdiri tegak di depan ke dua nya.


"Jawab pertanyaan saya, bukan saya yang menjawab pertanyaan mu!" dengus Danu, menatap jengkel Arsandi.


Arsandi menceritakan kejadian yang tidak mengenakan, apa yang baru saja di alami Mery. Membuat Danu dan Layla gak habis pikir dengan Bayu.


"Aku biar tidur di dalam ya ka! Gak apa kan, Mery pasti sangat ketakutan, Mery butuh aku dan Nina buat di samping nya ka!" ujar Layla, dengan tatapan memohon.


Danu mengangguk kan kepala nya.


Tok tok tok.


"Nina, Mery, ini gue... buka pintu nya!" seru Layla, setelah Danu mengetuk pintu kamar.


Ceklek.


"La, pak Danu! Kalian di sini juga?" tanya Nina dengan tatapan bingung melihat nya di depan kamar.


"Aku bakal tidur di sini dengan kalian." ucap Layla dengan menerobosss masuk ke dalam kamar.


Pintu kamar langsung di tutup kembali oleh Danu. Menyisakan Danu dan Arsandi yang kini berada di depan kamar.


Malam itu juga, Danu menugaskan Bayu untuk mengurus anak cabang yang ada di Surabaya. Membuat Bayu, mau tidak mau menjalankan tugas yang di berikan pada nya.


"Lo beneran Danu, mau gue mentalll dari sini? Pengen gue yang urus anak cabang perusahaan yang ada di Surabaya?" tanya Bayu gak abis pikir dengan keputusan Danu.


'Ini pasti karena Arsandi ngaduin gue ke mereka berdua, dasar penjilat! Buat sekarang gue ngalah, tapi jika ada kesempatan lain hari, lo bakal menderita Mer!' batin Bayu gak terima.

__ADS_1


Bugh bagh bugh bugh dug.


Danu menghadiahi wajah dan tubuh Bayu dengan kepalannn tangan. Hingga pria itu terjerembab di lantai. Dengan wajah yang semakin lebammm.


"Masih berani tanya lo? Lo harus nya malu! Buat apa lo lakuin itu sama Mery? Itu anak salah apa sama lo?" cecar Danu dengan tersulut emosi, menatap nyalang Bayu.


"Ini gak seperti apa yang lo bayangin, Danu! Itu bocah yang licik, itu bocah yang jebak gue. Gue berani sumpah." kilah Bayu, berusaha mempengaruhi Danu.


"Harus nya gue jeblosin lo ke penjara Bayu!" sungut Danu ke luar dari kamar Bayu.


"Sialll, kenapa jadi kaya gini sih!" sungut Bayu gak terima, tapi gak bisa nolak. Dari pada di penjara, ia memilih menjalan kan tugas yang di berikan Danu pada nya.


Pagi hari nya, mentari pagi menyinari jendela. Mengajak insan manusia untuk menyambut pagi dengan ceria.


"Pagi Mer!" sapa Layla, saat melihat Mery membuka ke dua mata nya.


"Hem? Ini beneran lo, La?" tanya Mery dengan mengerjapkan ke dua mata nya.


"Iya lah ini gue, yuk bangun. Udah pagi, kita mulai hari dengan ceria." ujar Layla dengan senyum mengembang.


Ceklek.


"Pagi Nona Layla, Mery, Nina!" sapa Arsandi yang masih setia berjaga di depan kamar.


"Tuan Danu menunggu kalian di bawah." jawab Arsandi, mengamati Mery yang tampak sembab mata nya dengan kantong mata.


"Lo, mas Arsan bisa barengan gitu dateng nya sama Layla, dan yang lain? Kalian janjian?" tanya Julia dengan penuh selidik.


'Gak mungkin kan, mas Arsan beneran naksir sama Mery atau Nina nih? Gak mungkin juga kalo mas Arsan suka sama Layla!' pikir Julia.


"Kebetulan bareng aja." jawab Nina singkat.


"Kita sarapan dulu sini!" ajak Danu pada yang lain nya.


Semua nya duduk di meja makan dengan wajah cerah setelah mandi sebelum turun.


"Gak tunggu pak Bayu turun dulu pak?" tanya Julia yang gak tau kejadian semalam.


"Bayu sudah meninggalkan villa semalam. Ada pekerjaan mendesak yang harus di urus Bayu." jelas Danu datar.


Pagi itu juga, Danu mengajak yang lain nya menikmati tempat wisata yang ada di puncak. Mengajak yang lain nya berburu oleh oleh.

__ADS_1


Saat yang lain sibuk berburu oleh oleh, Arsandi memilih menemani Mery tanpa sepengetahuan yang lain. Meski akhir nya Julia berhasil mengikuti Arsandi yang ternyata memilih bersama dengan Mery.


"Apa kamu lelah, Mery?" tanya Arsandi yang lebih perhatian terhadap Mery, Arsandi gak segan membawakan barang yang di beli Mery.


"Gak kok, ini mah kecil." jawab Mery dengan senyum manis nya.


'Gue beruntung banget, bersama dengan kalian orang orang baik.' batin Mery.


"Mas Arsandi... kamu di sini, aku cape!" ucap Julia dengan manja, yang menyela di antara Arsandi dan Mery.


Julia bahkan tanpa malu lagi, memeluk lengan Arsandi dengan posesif nya. Seakan menunjukkan jika Arsandi hanya lah milik nya.


"Kalo cape ya istirahat lah. Kenapa harus laporan sama saya!" ujar Arsandi datar, menyingkirkan tangan Julia dari lengan nya.


"Kok kamu ketus banget sama aku si mas? Kamu berubah tau gak! Siapa sih yang buat kamu berubah?" cecar Julia, menatap tajam Arsandi dan Mery bergantian.


"Gak ada yang berubah, kami duluan!" Arsandi menggenggamm pergelangan tangan Mery, mengajak nya berjalan lebih dulu dengan langkah lebar.


"Pak, gak gini juga! Kasian Julia. Dia pasti salah paham sama saya!" protes Mery, meski di hati senang saat tangan nya di genggammm Arsandi.


'Mimpi apa gue, bisa sedekat ini lagi sama pak Arsandi. Selama gue di samping lo, gak ada hal bisa bikin gue takut. Lo sebalik nya buat gue nyaman dan betah di samping lo.' batin Mery.


"Jangan lietin wajah saya, lietin jalan! Nanti kalo kesandung, lalu jatuh, saya akan dengan senang menggendong kamu!" ucap Arsandi, berniat menggoda Mery namun suara nya terdengar datar.


"Bapak gak pantes godain saya, bapak gak bakat. Muka nya udah lempeng, udah terbiasa dan terlalu lama sendiri... terlalu serius sama pekerjaan pula. Buat hubungan yang romantis aja sama cewek gak bisa hehehe, benaran payah banget si pak jadi cowok!" ledek Mery, tertawa dengan lepasss.


"Saya suka saat kamu tertawa dengan lepasss, seakan hidup kamu gak ada beban." jelas Arsandi panjang kali lebar.


"Hidup itu berjalan ke depan pak. Gak mungkin di depan bapak, saya menunjukkan wajah sedih saya, saya bukan wanita yang minta di pandang kasihan. Saya ya saya! Saya kuat, saya tegar, meski saya sedang di uji, itu lah hidup. Penuh dengan ujian." jelas Mery.


"Saya suka dengan cara berfikir mu! Tetap lah seperti ini!" puji Arsandi, membuat Mery bersemu dengan memalingkan wajah.


"Apa kamu lagi malu, Mery?" goda Arsandi.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


__ADS_2