Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Merindukan mu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Danu berbalik badan, ke dua nya saling berhadapan satu sama lain. Danu menangkup wajah Layla dengan ke dua tangan nya.


Cup.


Ceklek.


Bak melihat hantu di siang bolong, namun Arsandi berusaha mengendalikan diri, dengan raut salah tingkah nya bak mendapati siaran live romantis dari ke dua kaka ipar yang gak lain Tuan nya sendiri.


Arsandi menggaruk kepala nya yang gak gatal, "Jangan menyalah kan ku, kalian berdua yang salah memilih tempat untuk berciumannn!" ucap Arsandi yang sebenar nya tengah teganggg melanda, takut jika Danu marah pada nya.


Arsandi melangkah ke arah berangkar. Sementara Layla dan Danu saling salah tingkah, bak 2 orang pencuriii yang tengah tertangkappp tangan.


Dengan pipi merona gak berani mengangkat wajah nya, Layla berkata dengan tergagap, "A- aku harus ke kantin. I- iya, a- ada yang harus aku beli!" Layla mengayun kan ke dua kaki nya menuju pintu berada.


Danu mengibaskan tangan nya di depan wajah nya, "Kenapa di sini mendadak jadi panasss ya? Seperti nya aku juga butuh udara!" ucap Danu dengan menutupi rasa grogi nya, mengikuti langkah kaki Layla.


"Bukan udara, tapi angin!" ralat Arsandi, menggelengkkan kepala nya, melihat tingkah kocak sepasang suami istri yang baru aja ke gappp oleh nya.


"Terserah apa kata ku lah, aku yang mengatakan nya! Aku harus cari angin nih! Aku ke luar dulu sebentar! Di dalam panasss!" seronok Danu, mengibaskan tangan nya tanpa menoleh ke belakang.


"Pergi lah ke mana pun kalian suka, dasar dua orang aneh! Mesummm kok di rumah sakit! Lupa apa kalo ini ruang rawat Mery." gerutu Arsandi.


.


Beberapa saat kemudian.


Dokter tengah mengecek keadaan Mery, bersama dengan suster.


"Gimana dok? Kenapa adik perempuan saya belum juga sadar?" tanya Danu dengan menyelidik, melihat dokter yang sudah selesai memeriksa keadaan Mery.


Layla menatap Danu tanpa kata, tanpa sadar tangan nya bergerak menyentuhhh dada nya sendiri, 'Kenapa dengan hati ku? Rasa nya sakit melihat perhatian yang di berikan Danu untuk Mery, pada hal perhatian sebatas adik. Ayo Layla, come on, mereka adik kaka, buang pikiran buruk mu!' batin Layla.


"Apa ini ada kaiatan nya dengan operasi yang kemarin di jalani Mery, dok? Kapan Mery bisa sadar dok?" tanya Arsandi.


"Sabar ya Tuan... harus nya pasien sudah siuman, tapi berdasarkan hasil laporan yang saya baca, di sini Nona Mery sudah melewati masa kritis nya, tekanan darah dan nada juga gak ada masalah, hanya saja kita masih harus bersabar untuk melihat Nona Mery siuman." terang dokter muda berkaca mata, dengan bibir tipis, rambut sebahu.

__ADS_1


"Bukan itu jawaban yang ingin saya dengar, dokter Maya! Berikan jawaban yang pasti!" pinta Arsandi dengan geram.


"Inti nya, kami para dokter, sudah berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien, tapi semua nya kembali lagi pada sang pencipta. Tekannn tombol nurse call bel, jika Nona Mery sudah siuman! Kami permisi Tuan, Nona!" pamit dokter Maya, dengan di ikuti suster yang bersama nya.


"Kenapa Doni membawa Mery ke rumah sakit ini! Rumah sakit gak becusss, masa Mery di buat belum juga sadarkan diri! Yang benar aja!" umpat Danu dengan wajah kesal, menggaruk kepala nya dengan frustasi.


Deg.


Debarannn jantung Layla kembali berdenyut kencang, Danu kembali menunjukkan rasa khawatir nya untuk Mery di depan Layla.


"Sabar ka, kita dengar kan apa kata dokter!" Layla mengelusss lengan Danu, "Lebih baik kita sholat, memohon kepada sang pencipta untuk kesembuhan Mery!" terang Layla.


Belum Danu menjawab ajakan Layla, dering telpon yang berasal dari benda pipih Arsandi, sudah mencuriii perhatian Danu.


Dring dring dring.


"Kamu duluan aja ke mushola La, nanti aku menyusul mu!" titah Danu.


Layla mengagguk kan kepala, menuruti perkataan Danu untuk ke mushola lebih dulu. Tanpa berminat untuk tahu Arsandi berbicara dengan siapa di telpon.


Danu menatap Arsandi dengan menyelidik, melihat Arsandi yang menjawab telpon nya sedikit menjauh dari nya.


"Seperti nya kita harus kembali ke kota C, kaka ipar Danu." ucap Arsandi yang kini melangkah ke arah Danu.


Danu mengerut kan kening nya, "Kembali ke kota C? Ada apa dengan kontruksi nya? Apa ada masalah dengan proyek baru kita?" tebak Danu.


"Ada beberapa warga yang ternyata bersikeras untuk tetap tinggal dan gak mau pindah." terang Arsandi.


"Kau saja yang pergi ke kota C, Mery ada aku dan Layla yang akan menjaga nya!" titah Danu pada Arsandi yang gak mau di bantah.


"Mana bisa begitu? Aku dan kaka ipar saja yang di sini, atau kau bisa pergi bersama dengan kaka ipar. Biar kalian bisa menikmatiii liburan bersama, sambil membereskan masalah proyek." ucap Arsandi, mencetuskan ide nya.


Danu tampak menimang, ide yang di berikan Arsandi, 'Apa Layla setuju dengan apa yang di katakan Arsandi? Tapi Layla belum lama memasuki bangku kuliah.' batin Danu penuh tanya.


"Akan aku tanyakan dulu pada Layla, apa dia bersedia untuk ikut dengan ku untuk ke kota C." Danu menoleh ke arah Mery, terbesik ke khawatiran dalam benak nya.


'Apa aku tidak masalah meninggalkan Mery? Tapi proyek di kota C, gak bisa di abaikan begitu aja. Apa lagi ini sudah menjadi impian mama Devinta.' pikir Danu.

__ADS_1


"Kaka ipar Danu jangan khawatir kan keadaan Mery, Mery sudah ada aku, aku kan suami nya. Gak mungkin juga aku ingin membuat Mery celaka. Apa pun perkembangan Mery, aku pasti akan segera mengabari mu!" ucap Arsandi terus terang, meyakinkan Danu.


'Aku harap kamu segera siuman, Mery!' batin Danu menatap Mery penuh harap, lalu ke luar meninggalkan ruang rawat Mery.


Setelah kepergian Layla dan Danu, kini menyisahkan Mery dan Arsandi di dalam ruang rawat.


Dengan setia nya, Arsandi menunggu Mery untuk membuka ke dua mata nya. Mengajak bicara Mery, mengatakan apa yang menjadi harapan nya pada rumah tangga nya.


"Mery, buka lah mata mu! Aku menunggu mu sadar dari tidur panjang mu! Aku tau, ini gak akan mudah untuk kita jalani, tapi setelah menjadi kan mu istri ku. Tujuan hidup ku adalah membahagiakan mu! Aku menunggu mu Mery, kita bina rumah tangga impian yang utuh. Rumah tangga yang di penuhi cinta, kasih sayang, dan tangis bahagia." ucap Arsandi dengan menggenggammm jemari Mery.


Jemari Mery yang ada dalam genggamannn tangan Arsandi mulai bergerak perlahannn, dengan di susul ke dua mata nya yang mengerjap.


"Mery, kamu mendengar ku? Mery, ayo sayang buka mata mu! Pelan pelan! Ini yang aku tunggu Mery! Aku mencintai mu!" ucap Arsandi dengan haru, melihat Mery yang perlahannn membuka ke dua mata nya.


"Ugghhhh apa yang terjadi? Aku di mana?" tanya Mery dengan suara lemah, melihat Arsandi di samping nya.


Arsandi menghujaniii wajah Mery dengan kecupannn singkat, menggenggammm jemari Mery yang kini menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku merindukan omelan mu! Aku merindukan setiap momen perdebatan kita, aku merindukan kau yang selalu berbohong pada ku! Aku merindukan mu..." Arsandi gak bisa lagi berkata dengan bulir bening yang menetes di pipi nya, Arsandi memeluk tubuh Mery dengan erat.


"Aku merindukan mu! Jangan pernah seperti ini lagi! Kau hampir membuat ku gila! Aku tidak bisa hidup tanpa mu!" ucap Arsandi dengan suara tertahannn.


Dengan tangan mengudara, keraguan muncuattt di benak Mery yang hendak menenangkan Arsandi meski sekedar menepukkk punggung Arsandi.


'Kenapa setelah apa yang aku lakukan pada nya, ia masih bersikap baik dan perduli pada ku? Apa pak Arsandi beneran tulus pada ku? Bukan karena aku anak dari papa Baskoro? Orang yang sudah mengambil nya dari panti asuhan?' tanya Mery dalam benak nya.


Merasa Mery tidak membalas pelukan nya, membuat Arsandi mengendurkan pelukan nya.


"Maaf, aku hanya terlalu senang melihat mu akhir nya siuman, apa yang sakit Mery? Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang kamu butuhkan? Katakan pada ku? Apa pun, pasti akan aku lakukan untuk mu!" cecar Arsandi bak kendaraan tanpa rem, dengan tatapan khawatir karena Mery diam aja.


"Aku di mana? Apa yang terjadi pada ku?" tanya Mery dengan suara lemah.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...

__ADS_1


Jangan lupa ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2