Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Kaka sepupu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Ihs nyeselin banget si lo!" gerutu Layla, menghentakkan ke dua kakinya meninggalkan Danu.


Danu membuka pintu mobil. "Ke luar lo!" titah Danu pada Arsandi yang duduk di belakang kemudi.


...----...


Danu menatap penuh kemenangan, melihat Layla yang kini duduk di sampingnya.


"Udah gak usah cemberut lagi, kenapa juga lo cemberut gitu?" tanya Danu dengan datar.


"Fokus aja udah ama setir kemudi. Pake tanya kenapa lagi." Layla menggeser posisi duduknya, menatap Danu dengan selidik.


"Kenapa? Mau bilang gue ganteng?" tebak Danu dengan percaya diri.


"Ge'er banget lo. Lo mau ngajak gue ke mana sih buat ngerjain tugas kelompok? Jangan jauh jauh deh! Kelamaan di jalan yang ada gue nih!" sungut Layla.


"Dikit lagi juga nyampe."


"Lo mau bilang apa nanti sama temen temen gue? Gak mungkin lo ngaku kita tunangan kan!" tebak Layla.


"Sedikit temen lo yang tau, gak masalah buat gue." ucap Danu dengan santai.


Prak.


Layla menggeprak lengan Danu, dengan bersungut. "Jangan aneh aneh lo!"


"Lo gak percaya sama temen temen lo itu? Atau itu cowok yang lo taksir di sekolah?" tanya Danu dengan selidik.


"Lah ya bukan lah, gue udah bilang kan... gue mau fokus sekolah biar gue bisa lulus, terus hidup mandiri. Jauh dari orang tua." terang Layla.


"Lo gak mau kuliah?"


"Gak, gue mau kerja, biar cepet dapet duit, bisa ngidupin kebutuhan gue sendiri."


"Sesimpel itu pemikiran lo? Gak pengen gitu lo bahagiain orang tua lo? Dengan cara apa lo bisa bahagiain orang tua lo?" cecar Danu.


Layla menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Mungkin kalo gue hidup mandiri, jauh dari ayah sama ibu, keluarga kecil mereka bakal adem ayem aja. Gak ada pertengkaran karena kehadiran gue."


Danu mengelusss pucuk kepala Layla. "Lo gak akan hidup mandiri, lulus dari sini, lo harus lanjutin pendidikan lo, baru masa depan lo bakal cerah. Orang tua lo bakal bahagia liet anaknya hidup bahagia."

__ADS_1


"Ihsss apaan sih! Pake ngelusss kepala gue, di kata gue kucing apa pake di elusss elusss." Layla menyingkirkan tangan Danu dari kepalanya.


Danu menghentikan laju mobilnya, tepat di depan sebuah rumah megah berlantai 2, dengan tulisan kafe di depannya.


"Yakin nih, kita mau ngerjain tugas di sini? Yang di jual di sini pasti mahal mahal ini mah." cicit Deri setelah turun dari motornya.


Mery dan Nina menelan salivanya dengan sulit.


"Ayo masuk, kalian tunggu apa lagi!" tanya Danu yang kini berdiri tidak jauh dari ke tiganya.


"Emmm tapi pak, apa gak sebaiknya kita cari tempat lain aja ya buat ngerjain tugas kelompok?" tawar Mery.


"Udah masuk aja yuk! Semua di tanggung sama kaka sepupu aku!" cicit Layla, mengakui Danu sebagai kaka sepupunya.


Danu terperangah mendengar pengakuan Layla. "Apa? Kaka sepupu kau bilang? Aku ini ..."


Belum selesai Danu berkata, Layla sudah lebih dulu menarik tangan Danu, membawanya masuk ke dalam kafe dengan celotehannya.


"Ayo Mery, Nina, Deri! Sebelum kaka sepupu aku ini berubah pikiran!"


"Cus lah kalo gitu!" Mery mengikuti langkah Layla dengan semangat.


"Tunggu apa lagi! Ayo masuk!" Nina menarik tangan Deri, menyusul langkah Mery dan Layla yang sudah lebih dulu masuk.


Prak.


Deri menggeprak bahu Layla, saat Layla menyuarakan pendapatnya.


"Ihs jangan gitu, lah La! Masa peran si cowok dikit banget!" protes Deri.


"Ehem, gak usah maen tangan, ngomong aja juga bisa kan!" ketus Danu.


Mery, Nina, Layla langsung menatap Danu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Iya maaf ka, cuma bercanda juga!" bela Deri.


"Udah sih, cuma gitu doang juga pake di permasalahin... terus mau lo gimana, Der?" tanya Layla.


"Kaya bisa buat cerita aja lo, Der!" ejek Nina.


Mery dalam diam menaruh curiga pada pria yang di akui kaka sepupu Layla. Gak yakin gue, ini kaka sepupunya Layla.

__ADS_1


"Ehem ehem, roman romannya ada yang naksir kaka sepupu lo nih La!" ledek Nina, memperhatikan wajah Mery dan pria yang di akui kaka sepupu Layla secara bergantian.


"Lo naksir kaka sepupu gue, Mer?" tanya Layla dengan santai.


"Enak bae lo kalo ngomong." bantah Mery.


Nina mendorong bahu Mery. "Ihs bohong banget tuh, dari tadi gue lietin lo meratiin kaka sepupu lo terus La!"


Mery memaki dalam hati, kamprettt nih si Nina! Gak tau apa gue lagi inget inget nih muka kaka sepupunya Layla, di mana ya, kaya pernah liet. Kaga asing ini mukanya.


"Udah ayo lanjut ngerjain lagi... gimana ini ceritanya." bujuk Deri.


"Gantian gue yang nulis sini!" Nina mengambil alih kertas polio yang di pegang Layla.


"Pak, bisa buka kaca matanya gak." pinta Mery.


Danu mengerutkan keningnya. "Kenapa memang jika saya mengenakannya?"


"Udah buka aja, bapak ini guru pengganti bu Rini di sekolah kan?" tebak Mery.


Prang.


Tangan Layla menyenggol gelas yang ada di atas meja, membuatnya jatuh ke lantai.


"Maaf maaf, gak sengaja ke senggol tadi!" ucap Layla dengan panik.


"Awwhhh." pekik Layla saat jarinya tidak sengaja terkena pecahan beling yang sedang ia pungut.


Danu menarik tangan Layla, memasukkan jarinya yang kena beling ke dalam mulutnya, lalu menghisappp darah yang ke luar dari jari Layla.


"Amazing" gumam Nina.


"Mata gue gak salah liet nih!" Deri mengucek matanya.


"Benar kan dugaan gue!" gumam Mery.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2