
...🥀🥀🥀...
'Gue gak sabar Mer! Semoga aja Nina udah bilang seperti apa yang udah gue omongin tadi!' batin Bayu.
Julia bertepuk tangan dengan heboh, saat mulut botol berhenti di depan Arsandi.
"Yeeeeee akhir nya yang di tunggu tiba." seru Julia bersemangat.
"Udah kaya dapat lotre aja lo, Julia! Pasti ada yang mau lo tanyain nih sama pak Arsandi!" celetuk Deri dengan tatapan curiga.
"Ahahhaha tau aja lo!" seru Julia.
"Ya udah cepetan, apa yang mau lo tanyain ke Arsan?" Bayu ikut angkat suara, menatap Julia dengan penasaran.
'Awas aja, kalo sampe dia menanyakan hal aneh! Aku tidak akan mau menemui nya lagi!' batin Arsandi dengan menghembuskan nafas kasar nya.
"Apa yang mau Julia tanyain ya?" gumam Mery ikut penasaran.
"Awas lo Arsandi! Jangan sampe kasih jawaban yang gak jujur!" ledek Wenny.
"Udah cepetan Julia, apa yang mau kamu tanyain? Kalo gak, aku aja yang tanya ahahaha!" asih dengan tergelak.
"Jangan, ini juga mau aku tanyain" Julia mengibaskan tangan nya ke depan Wenny."
"Ayo Julia, jangan lama!" desak Layla juga gak sabar mau dengar apa yang akan di tanyakan Julia.
"Ehem, siapa wanita yang sedang dekat dengan kamu, mas Arsan?" tanya Julia dengan malu malu.
Pluk.
"Awwhhh sakit begeee!" pekik Julia, saat kulit kacang mendarat di kening nya sebelum akhir nya tergeletak di atas pangkuan nya.
"Ahahhaha dasar lo mudus! Kalo suka tinggal bilang!" ledek Deri.
"Apa sih yank! Udah deh, kita denger jawaban dari pak Arsandi itu apa!" sungut Nina dengan gemesss sendiri melihat Deri.
"Ayo Arsandi, ada yang kasih lampu hijau nih!" ledek Wenny, gak nyadar jika Mery yang duduk di sebelah nya tengah meremasss jemari nya sendiri, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Jawab jawab jawab jawab!" sorakan menggema, menuntut Arsandi untuk menjawab pertanyaan Julia.
"Hihihi ada yang ngarep tuh ternyata!" ledek Asih.
"Eh aneh, gue denger Julia udah punya panggilan sayang tuh buat mas Arsan, hehehe." timpal Ella.
Arsandi beranjak dari duduk nya. "Maaf, saya lupa jika ada pekerjaan yang belum saya kerjakan!" ucap Arsandi menghindar dari pertanyaan Julia.
"Mas! Jawab dulu pertanyaan ku!" teriak Julia, namun di acuhkan Arsandi.
"Kalo kaya gini, gimana jadi nya?" tanya Kevin, yang melihat Arsandi tetap melangkah menjauh.
"Ya mau gimana lagi, lanjutin permainan lah! Masih ada kita kita di sini!" ujar Wenny gak ambil pusing.
__ADS_1
"Udah gak usah sedih, mas Arsan mah emang gitu. Kalo ada yang dia gak suka, bakal langsung pergi!" Ella mengelusss punggung Julia.
"Kasian banget ih Julia, alamat cinta bertepuk sebelah tangan ini mah!" gumam asih.
"Emang kamu gak bisa cegah ka Arsandi, ka?" tanya Layla dengan tatapan sedih.
"Biarkan saja, lanjutin aja permainan nya lagi Jul!" seru Danu.
"Oke, kita lanjutkan lagi ya!" Julia memutar kemabli botol yang ada di atas meja.
'Aku makin penasaran, kenapa sikap mas Arsan jadi berubah dingin gitu, waktu mau pergi ke villa... sikap nya udah menghangat banget. Ampe aku yakin, mas Arsan suka sama aku. Punya rasa sama aku. Tapi kenapa sekarang berubah? Apa yang buat mas Arsan berubah?' batin Julia penuh tanya.
Mery menggelengkkan kepala nya. 'Dasar bocah, mempermalukan diri sendiri!' umpat nya untuk Julia.
"Waaah La! Berhenti di lu tuh La!" seru Deri, dengan tangan kanan menunjuk Layla.
"Apa yang membuat mu takut dalam hidup ini?" tanya Danu tanpa menunggu instruksi Julia.
"Waaah curang nih pak Danu, gak kasih kita kesempatan buat tanya Layla!" protes Wenny.
"Saking aja donatur paling gede, ahahaha!" ledek Kevin.
"Jawab La! Kita nungguin ini!" seru Nina.
Layla menatap ke sekitar, dengan tatapan mengedar, lalu berhenti dan fokus pada Danu.
"Aku takut menjadi anak yang gak bisa membahagiakan orang tua, apa lagi suami ku sendiri!" ujar Layla dengan tatapan mengembun pada Danu.
Waktu terus berputar, hingga tanpa terasa rasa kantuk mulai menyeruak.
"Hooommmmm!" layla menguap dengan mata yang gak bisa lagi bertahan untuk terjaga.
"Aku duluan, kalian istirahat lah!" Danu membawa Layla kembali ke kamar, dengan menggendong nya.
"Aku bisa jalan sendiri!" Layla mengerucut kan bibir nya, dengan tatapan memohon biar di turunkan dari gendongan.
"No sayang! Masih ada aku yang akan menjadi tangan mu, kaki mu, mata mu! Jadi terima nasib aja lah!" kekeh Danu dengan senyum mengembang.
"Terima kasih ka, sudah mau menerima gadis malang ini, sudah mau memberikan kebahagiaan duniawi untuk ku!" Layla mengalungkan ke dua tangan nya, dengan kepala yang menyandar di bahu Danu.
"Apa pun untuk mu, sayang!" seru Danu.
...---...
Bayu memberikan isyarat pada Nina, mengingatkan kembali untuk pesan nya pada Mery.
Nina membalas nya dengan jari telunjuk dan jempol yang membentuk huruf o.
"Mer, jangan lupa ya... ada yang nunggu lo di taman belakang." ucap Nina dengan mengambil alih piring yang tengah di bawa Mery.
"Gak ngerjain gue kan lo?" tanya Mery dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Mana berani gue ngerjain lo!" Nina menggelengkan kepala nya pasti.
"Mau ke mana tuh si Mery, Nin?" tanya Julia yang melihat Mery berjalan ke arah taman belakang, bukan naik ke tangga.
"Jemput calon jodoh hehehe!" ledek Nina.
"Ihs di tanya serius juga!" Julia menatap jengkel Nina.
"Serius gue, dia lagi jemput calon jodoh!" kekeh Nina, enggan menyebutkan nama.
"Iya siapa calon jodoh nya, oneeeeng!" Julia mencubittt gemasss lengan Nina.
"Rahasia!" seru Nina sok misterius.
"Haloooo, ada orang gak nih? Sepi amat si!" Mery celingukan, mencari seseorang yang di maksud Nina.
"Gak ada orang, gue balik nih!" Mery mengusappp tengkuk nya, yang seketika merasa kan ada yang menghembuskan nafas nya.
Di bawah cahaya sinar bulan, dengan tambahan lampu penerang taman yang cukup minim. Dengan tumbuhan lebat yang menjulang, dengan di hadapkan kolam renang yang tampak jernih. Menambah kesan horor dan menyeramkan suasana taman.
"Kamprettt nih si Nina, gue di kerjain. Jangan jangan itu bocah mau buat adonan sama Deri, jadi gue di suruh menepi! Keterlaluan lo Nin!" Mery berjalan hendak meninggalkan taman yang tampak sepi dan sunyi.
Sreek.
Bugh.
"Emmmmppppp!" Mery berusaha berteriak sekuat tenaga, saat tangan besar membekappp mulut nya, dengan tangan lain yang menarikkk lengan nya.
Sepersekian detik kini tubuh Mery terkunci, berada di bawah kuasa Bayu yang menatap nya dengan tatapan memburu dengan senyum mengerikan.
'Pak Bayu, ngapain di sini? Jangan bilang orang yang mau nemuin gue itu, gak mungkin dia kan?' batin Mery dengan tatapan menerka, memcoba melepaskan diri dari kungkungan Bayu.
"Emmmppp, emppppp!" Mery berteriak meski gak ada hasil nya.
"Kali ini, gue yang menang. Dan lo bakal nikmatin setiap sentuhannn yang gue kasih. Cukup nikmatin aja, gue bakal kasih lo kepuasannn. Gimana kalo kita ke gudang! Gak mungkin kan di rumput hijau kita buat adonan!" ucap Bayu di telinga Mery.
'Gila, mau ngapain? Gue gak mau! Siapa pun tolong gue! Gue gak mau! Jangan sampe ini orang ngambil harta berharga gue!' batin Mery dengan tatapan memohon.
"Kenapa? Takut? Di mana keberanian lo? Dasar cewek munafik! Lo bakal tau seberapa besar tenaga kuat buat lo takluk! Lo itu kecil di mata gue, Mery!" Bayu menarik Mery ke arah gudang, dengan tangan yang masih membekappp mulut Mery.
Prangggg.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1