
...🥀🥀🥀...
"Kamu ngelamunin apa lagi? Masalah Deri kan udah beres. Nina, Mery dan Deri, menunggu jawaban dari kamu." Danu menyempilkan anak rambut Layla yang sejak tadi terus melambai liarrr, ke belakang daun telinga nya.
"Pak, bisa tegas gak sih! Jangan lembut gitu apa sama Layla!" ptotes Nina.
Danu mengerutkan kening nya, menatap aneh pada permintaan Nina. "Saya yang lembut pada istri saya, kenapa jadi kamu yang protes?"
"Maklum aja pak, jiwa jomblo nya meronta ronta. Nina ini gak pernah pacaran pak!" ucap Mery dengan tatapan meledek Nina.
"Kamprettt lo, kaya lo pernah aja pacaran. Gak pernah kan lo? Sesama gak pernah pacaran, jangan ngatain deh!" sungut Nina dengan bibir mengerucut.
"Ka!" seru Layla, memanggil Danu.
"Iya?" Danu menoleh ke arah Layla, dengan menarik alisnya ke atas. "Apa ada yang ingin kau tanyakan?" ucap Danu lagi.
"Itu ..."
Baru juga mau bertanya, udah ada aja gangguan yang menghalangi Layla untuk bertanya pada Danu.
Dreeet dreeet dreeet.
"Aku jawab telpon dulu ya, sayang!" Danu memiringkan duduk nya, menjawab panggilan telepon yang masuk ke nomor nya.
"La! Lo kenapa sih?" tanya Nina dengan menyelidik.
"Kenapa apa nya?" Layla malah bertanya balik pada Nina.
"Nama nya juga lagi kasmaran, pasti lo lagi penisirin kan... mau tau siapa yang telpon laki lo?" tebak Mery dengan menunjuk Layla, seringai pun terbit di bibir nya.
Layla mengambil cup minuman nya yang ada di atas meja, lalu menyeruput nya lewat sedotan.
Deri menatap Layla dengan penuh selidik. Masa iya... Layla lagi kasmaran gitu sama pak Danu... hebat banget pak Danu, bisa buat Layla jatuh cinta sama dia. Sedang kan usaha gue, kurang keras apa coba buat deketin Layla, tapi masih aja di tolak sama Layla. Pak Danu malah sukses buat nikahin Layla, biar kata nikah karena perjodohan sih, tapi kan itu di awal. Dan sekarang udah ada cinta. Makin kikis udah harapan gue buat dapetin lu La.
Danu kembali lagi, menghampiri Layla dan yang lain nya.
Danu mengelusss punggung Layla. "Tidak apa kan, jika kita cabut sekarang!"
__ADS_1
"Ada masalah ka? Emang tadi siapa yang telpon?" tanya Layla dengan menyelidik.
"Papa yang hubungi, kita di tunggu nenek Dahlia." ucap Danu, membuat Layla mengerti.
"Ya udah, tunggu apa lagi!" ucap Layla, yang memang sudah selesai dengan makan nya.
Layla beranjak dari duduk nya. "Kita ketemu besok di sekolah ya, guys!" dengan semangat, melupakan kegalauan hati nya. Layla pamit pada ke tiga sahabat nya.
Layla dan Danu langsung menuju rumah sakit, setelah sebelum nya membeli beberapa makanan dan minuman untuk papa Baskoro, ayah Noval dan mama Sifanye.
"Apa ada perkembangan dari nenek, ka?" tanya Layla, menoleh ke arah Danu yang serius pada setir kemudi nya.
"Sedikit ada kemajuan. Tapi ya kita cukup Alhamdulillah lah ya, secara baru berapa hari nenek di sini, tapi udah ada kemajuan." terang Danu, menjelaskan apa yang ada dalam pikiran nya.
"Alhamdulillah ya, orang tua kalo lagi sakit itu. Paling seneng kalo deket sama anak ka! Anak adalah motifasi terbesar untuk orang tua yang sakit untuk segera sembuh." Layla menyunggingkan senyum manis nya.
"Kamu benar sayang!" Danu mengelusss pipi Layla, membuat Layla kembali merona, lalu memalingkan wajah nya dari Danu.
Anjimmm banget, kenapa perasaan gue jadi gini ya? Lagi lagi gue ngerasa jantung gue ini berdetak kencang banget. Kemaren Danu, dan sekarang gue. Astagaaa gue sama Danu, udah kaya orang sakit jantung jedag jedug. Kompak amat ya! monolog batin Layla, menelan saliva nya dengan sulit.
Layla dan Danu sama sama terdiam, ke dua nya larut dengan pemikiran sendiri. Hingga mobil yang di kemudikan Danu terparkir di parkiran rumah sakit. Baru ke dua nya saling bicara.
"Gak usah, biar aku aja! Kalo kamu cukup gini aja!" Danu menautkan jemari nya dengan jemari Layla, lalu memperlihatkan nya pada Layla.
"Ini rumah sakit ihsss, masih aja biat aku terbang!" kekeh Layla.
"Kenapa kalo rumah sakit? Toh kita cuma pegangan tangan, kamu juga istri aku!" ucap Danu yang tidak ingin di bantah.
"Apa Lulu dan mama Sifanye, ikut menemani nenek?" tanya Layla.
"Seperti nya hanya mama kamu aja, yang nemenin papa Noval untuk jengukin nenek." ujar Danu.
"Besok kan kamu gak ada jadwal ngajar, terus besok aku di anter kamu, apa naek angkutan umum?" tanya Layla.
"Aku yang antar, baru setelah itu aku ke kantor. Besok mau di buatin bekal apa?" tanya Danu.
"Gak perlu, aku gak mau repotin kamu. A- aku bisa buat bekal ku sendiri." secara halus, Layla menolak tawaran Danu.
__ADS_1
"Aku gak suka di tolak, La! Kamu besok bawa bekal buatan ku! Kurangi jajan yang gak baik untuk kesehatan." ucap Danu dengan dingin dan datar.
"Kenapa bisa gitu? Selama ini aku jajan di luar, perut aku baik baik aja! Gak usah berlebihan Danu, kamu tuh sama aja ngelarang aku! Gak usah banyak ngatur!" omel Layla, melangkah mendahului Danu dengan bibir mengerucut.
"Aku lakuin itu, demi kebaikan kamu juga, sayang!" ucap Danu dengan gelengan kepala, wajah nya tampak kecewa.
Jelas Danu kecewa, Layla gak mungkin lagi bisa mendengar nya suara nya. Karena sudah terlampau jauh jarak di antara ke dua nya.
"Itu anak jalan apa terbang sih! Cepat banget langkah kaki nya!" gumam Danu.
Ceklek.
"Assalamualaikum, pah, ayah!" ucap Layla dengan senyum manis nya, menyalami ke dua nya.
"Kamu dateng sendiri? Di mana Danu, sayang?" tanya papa Baskoro dengan kening mengkerut, tidak melihat keberadaan Danu.
"Tadi bukan nya kamu menghubungi Danu, meminta Danu ikut serta ke sini membawa Layla?" ucap ayah Noval, panjang kali lebar, mengingatkan besan nya.
"Danu di sini, yah! Pah!" Danu muncul dari balik pintu.
Layla sudah berada di atas ranjang rawat, ikut membaringkan tubuh nya di samping nenek Dahlia.
"Nenek, gimana keadaan nenek hari ini? Ka Danu bilang, nenek udah ada kemajuan... kemajuan apa nek?" tanya Layla.
Bak seorang anak yang tengah mengadu pada ibu nya, tangan Layla mengelusss lengan sang nenek dengan lembut.
"A- a- a- ku... bi- bi- sa, bi- ca- ra." ucap nenek Dahlia, dengan suku kata yang terputus putus. Berusaha keras menyelesaikan kata kata yang ingin ia sampaikan pada Layla.
Grap.
Layla memeluk sang nenek, merasa senang dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Makasih nenek, sudah mau berusaha untuk kembali sehat. Bahkan nenek sudah mau belajar bicara kembali." ucap Layla dengan nada suara yang terdengar senang.
"Kalian berdua, wanita paling hebat dalam hidup ku!" ucap Danu, berdiri dekat tepian ranjang rawat pasien.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅