
...🥀🥀🥀...
Danu menoleh sesaat, sebelum ia fokus kembali pada setir kemudi mobil nya. "Kamu ngomong apa sih, La? Ngomong yang jelas!"
Layla menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada. "Gak usah belaga pelon, Danu! Ucapan manis lo itu... sama aja lo kasih harapan ke gue! Ngerti kan lo maksud nya itu!"
Ciiiiiit.
Danu menginjak pedal rem secara mendadak, Layla yang sudah hafal dengan Danu. Menahan tubuh nya dengan ke dua telapak tangan yang menempel di dashboard.
"Kebiasaan banget sih!" sungut Layla menatap marah Danu.
Grap.
Danu menggenggammm jemari Layla.
"Kau siapkan mental mu menjadi seorang istri, menemani ku di saat suka mau pun duka, dan aku akan belajar menjadi seorang suami yang bisa kau andal kan! Menjadi tempat mu bersandar di kala sedih!" ucap Danu dengan tatapan penuh kesungguhan.
Layla menelisik tajam mata Danu, mencari keseriusan dari setiap kata yang di ucapkan Danu.
Tin tin tin.
Bunyi klakson terdengar dari kendaraan lain, kendaraan yang berada di belakang kendaraan Danu.
Danu melanjutkan kembali kendaraan nya. Dengan suasana di dalam mobil yang hening.
Sesekali Layla menoleh ke arah Danu yang fokus mengemudi, apa maksud Danu itu, kita beneran mau jalanin pernikahan ini? Tanpa ada kata perpisahan? Gue bakal seutuh nya jadi istri Danu?
Dalam diam pun, sesekali Danu melirik Layla, apa anak ini mengerti dengan maksud perkataan ku ya? Tapi tadi aku sudah sangat jelas mengatakan nya.
...-----...
Waktu yang di nanti pun tiba. Hari di mana pernikahan Layla dan Danu benar benar di gelar secara tertutup. Hanya keluarga inti dan sahabat Danu serta Layla yang hadir.
Layla mencium punggung tangan kanan Danu, setelah ijab kabul di katakan sah.
Haru biru mewarnai pesta pernikahan yang di adakan secara tertutup itu. Meski di lakukan secara tertutup, namun kemegahan tetap tergambar dari boolroom yang di sulap bak negeri dongeng.
Layla tampak anggun bak putri dari negri dongeng, dengan gaun yang ia kenakan, berdiri di atas pelaminan bersanding dengan Danu yang tampak gagah, bak seorang pangeran dari negri entah berantah.
"Selamat ya La, akhir nya lo resmi juga jadi istri nya pak Danu... gak nyangka gue, ya ampun dari yang lo kenalin kaka sepupu, gak tau nya jadi laki lo, La! Hehehe!" kekeh Nina dengan menyenggol lengan Layla dengan siku nya.
Layla duduk di kursi pelaminan dengan di apit oleh Mery dan Nina, sementara Danu sendiri sedang menghampiri sang papah, namun tatapan nya tidak lepas dari gadis yang kini resmi menjadi istri nya.
__ADS_1
"Gue lebih gak abis fikir lagi, La... ternyata yang selama ini jahatin lo itu Sopur, dan sekarang terbalas dengan hukuman yang dia dapet dari perbuatan nya selama ini ke lo!" cicit Mery.
"Lalu bagaimana dengan Deri, apa lo nerima cinta itu anak?" tanya Layla dengan alis nya yang naik turun.
"Ah lo mah, ngapain gue terima itu anak... bocah kaga ada serius nya sama sekali. Tau kaga, hidup segan, mati ogah!" celetuk Nina dengan bibir mengerucut.
"Ehem, kalian nikmati lah hidangan yang ada. Jangan mengganggu istri ku terus!" cicit Danu yang kini berdiri di depan ke tiga nya.
"Iihs pak, kenapa cepet banget sih balik nya! Sana gih ngobrol, temenin tamu tamu bapak yang lain." dumel Nina, namun beranjak dari duduk nya, di ikuti Mery yang tampak mengerucutkan bibir nya.
"Aku sudah selesai dengan tamu ku yang lain." cicit Danu dengan wajah datar, duduk di sisi Layla.
"Di mana ayah dan ibu? Gue..." Layla menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, saat mendapat tatapan tajam dari Danu.
Nina dan Mery yang masih berada di sana, saling tatap satu sama lain. Melihat tingkah ke dua pengantin yang baru sah itu.
"Maksud nya, saya belum melihat mereka setelah ijab kabul tadi! Apa ka Danu melihat ibu dan ayah?" tanya Layla agak sungkan dan risih di telinga nya.
"Nanti juga mereka kembali untuk menemui mu, biarkan mereka menemani sanak saudara dulu! Apa kau butuh sesuatu? Katakan pada ku! Biar aku minta Arsandi untuk menyiapkan nya!" cicit Danu panjang lebar.
Layla membuang nafas nya dengan kasar.
"Kenapa?" tanya Danu lembut.
"Stttt, udah sah masih kaku aja manggil nya hehehe!" ledek Nina dengan tatapan menggoda Layla.
Danu menatap tajam ke dua nya, "Kalian percaya tidak, saya bisa saja membuat kalian tertinggal kelas. Dengan begitu, kalian akan memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan saya!" Dani tersenyum licik.
Nina dan Mery saling tatap, bertanya dengan tanpa suara.
'Lo yakin pak Danu bisa buat kita tertinggal kelas?' tanya Mery dengan tanpa suara, hanya dengan isyarat bibir yang cengap cengap bak ikan di dalam air.
'Pak Danu aja bisa nikahin Layla, besar kemungkinan juga bisa buat kita kaga naik kelas. Kita kabur aja deh nyok, jangan ganggu!' balas Nina dengan gerakan bibir dan ke dua tangan nya yang seolah berlari di antara angin.
Nina dan Mery meninggalkan pelaminan dengan kocar kacir. Membuat Danu tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan gitu, pak! Kaya gitu juga mereka kan sahabat saya!" cicit Layla.
"Memang apa yang saya lakukan pada mereka berdua?" ucap Danu acuh.
Di sudut ruang lain, Noval dan Tati tampak dalam situasi yang tidak menguntungkan satu sama lain, dengan Sifanye yang terus meminta penjelasan dari ke dua nya.
"Katakan pada ku, yah! Siapa Layla sebenar nya?" cicit Sifanye dengan mata melotot.
__ADS_1
"Kamu bertanya apa sih Sifanye! Jelas Layla itu putri ku dan Noval... pertanyaan mu sungguh lucu!" cicit Tati, berusaha menyembunyikan kegugupan nya, takut sudah pasti, takut rahasia yang sudah selama ini ia jaga, akan terbongkar. Dengan menyisakan luka di hati Layla.
"Kamu pikir aku bodoh Tati! Kamu pikir aku ini tuliii dan tidak mengerti akan sikap mu? Katalan pada ku Tati!" Sifanye maju beberapa langkah, mendekat ke arah Tati dengan tatapan memburu.
Sreek.
"Siapa Layla sebenar nya!" Sifanye mendorong bahu Tati dengan tangan nya, membuat Tati mundur dan terhuyung ke belakang. Dan di sanggah Noval, hingga Tati tidak terjatuh.
"Sifanye! Jangan keterlaluan kamu! Jangan merusak hari bahagia Layla!" ucap Noval dengan penuh penekanan.
"Yah, aku jelas mendengar... Layla bukan putri mu dan Tati! Dia hanya putri orang lain yang kalian besarkan dan kalian anggap putri kalian sendiri!" cicit Sifanye dengan tatapan nyalang pada Tati.
"Jangan membuang waktu mu hanya untuk merusak kebahagiaan orang lain, Sifanye! Waktu mu akan lebih berharga, jika kau tidak ikut campur dalam setiap permasalahan orang lain!" cicit Tati, meninggalkan ke dua nya.
Tati menghapus bulir bening dari pipi nya, sampai aku mati pun, rahasia ini akan aku jaga Devita. Tenang lah kamu di akhirat sana. Putri mu pasti akan bahagia bersama dengan Danu, putra sambung mu dengan Baskoro.
"Ibu dari mana?" tanya Layla.
"Tidak dari mana mana. Apa kalian sudah makan? Biar ibu ambilkan untuk kalian berdua!" tawar Tati.
"Boleh bu." ucap Layla.
Untuk kali pertama nya, Layla merasakan kembali suapan dari Tati, hangat nya kasih sayang seorang ibu. Di tambah dengan hadir nya Baskoro dan Danu. Sebagai perisai untuk melindungi Layla dari yang nama nya kekurangan materi.
Pagi berganti siang, siang berganti sore, tamu yang hadir mulai kembali ke kamar hotel yang telah di sediakan pihak Baskoro. Yang kini hanya menyosakan Layla, Danu, Tati dan Noval di sebuah meja bulat yang ada di depan pelaminan.
"Papa punya hadih kecil untuk kalian berdua." Baskoro menyerahkan amplop putih panjang pada Layla.
"Apa ini, pah?" tanya Layla.
"Coba buka lah, nanti kau akan tau apa isi nya!" ucap Baskoro dengan senyum tersungging di wajah nya.
"Kenapa tidak mengatakan nya langsung, pah?" tanya Danu dengan datar.
"Jika papa katakan langsung, bukan surprise nama nya." cicit Baskoro.
"Astagaaa ini kan! Serius pah? Ini buat aku dan ka Danu?" tanya Layla dengan tatapan sulit di percaya.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
...Makasih yooo ☺️☺️...