
...🥀🥀🥀...
Ceklek.
"Ayo cepetan masuk, Ben!" Arsandi menyuruh masuk, orang yang tadi menekan bel apartemen Danu.
"Unit apartemen siapa nih? Gak mungkin kan kalo ini unit lo!" tebak Beni dengan tatapan takjub pada apartemen yang ia masuki.
"Gila aja lo, gue mana sanggup buat beli apartemen kaya gini. Lo pasti gak bakal nyangka. Ternyata bos kita ini diem diem udah move on dari mantannya." ledek Arsandi dengan ekor mata melirik Danu yang melihatnya tajam.
Bugh.
Dengan gemas, Beni menjatuhkan dirinya di atas sofa yang Danu duduki. Lengan kanannya mengunci leher Danu.
"Seriusan bos? Kaya apa cewenya? Kenalin dong bos! Masa diem diem bae nih udah punya gantinya!" seru Beni dengan antusias.
"Gila lo! Jauhin lengan lo dari leher gue! Anak buah kurang ajarrr lo!" sungut Danu dengan menepuk nepuk lengan Beni yang ada di lehernya.
Arsandi tergelak, mendaratkan bobot tubuhnya di sofa yang tadi ia duduki sebelumnya. "Ahahhaha gue acungin 4 jempol kalo lo boleh ketemu ama itu cewe, Ben... gue mau jabat tangan tuh cewe aja kaga boleh! Si bos langsung bawa pergi ke kamar, bro!"
Beni langsung menjauhkan tangannya dari Danu, menatap penuh selidik pada Danu dengan ke dua tangan bertumpu pada ke dua bahu Danu.
"Seriusan nih sama apa yang gue denger, bos? Tuh cewek pasti cantik banget ya? Sampe lo sembunyiin gitu?" Beni memainkan alisnya naik turun.
Sreek.
Danu menyingkirkan ke dua tangan Beni dari bahunya dengan kasar. Membuat Beni terjerambah di atas lantai dekat sofa.
Bugh.
"Awwhhh gila bokonggg gue uuuy!" pekik Beni dengan mengelusss bagian tubuhnya yang mencium lantai dengan cukup keras.
"Ahahhaha bukan cantik lagi Ben, tapi antik, plus unik!" ledek Arsandi.
Danu menatap tajam Arsandi dan Beni bergantian.
Beni mendudukan dirinya kembali di sofa. Kaya apa sih cantiknya tuh anak, bisa buat bos Danu kelimpungan gitu, udah kaya bener bener barang antik, yang di cowelll langsung pecah, Arsandi mau nyentuh tangannya aja bisa kaga boleh gitu.
"Sorry bos, itu kenyataannya bos!" ucap Arsandi dengan menghentikan tawanya, gila banget... kayanya beneran ini mah, bos Danu udah bisa move on dari Aleta.
Danu mengedarkan pandangannya pada sekitar. Kayanya perlu di bersihin nih apartemen, biar gak ada debu yang bisa buat Layla sesak. Sekalian gue kerjain ini mulut 2 toke biar diem!
Danu menyeringai menatap Arsandi dan Beni. "Berhubung kalian sudah di sini, bersihkan apartemen gue! Kelar gak kelar, 1 jam dari sekarang, kalian bisa tinggalain unit gue ini!" ucap Danu dengan tegas, setelah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
__ADS_1
Arsandi ternganga. "Apa? Gila ini udah di luar jam kantor bos!"
Beni menggaruk kepalanya dengan frustasi. "Lo sih pake ngeledekin! Gue juga kan tuh yang kena!"
"Gak usah banyak debat! Mending mulai bersih bersih! Ini gak gratis kok!" seru Danu dengan melangkah meninggalkan ke duanya.
"Bayaran gede ya bos! Secara gue di sini jadi inem dadakan nih cuma buat lo, bos!" seru Beni dengan bersemangat, menggulung ke dua lengan bajunya, lalu mulai mencari keberadaan mesin penyedot debu.
"Bujuk dah inem kelas atas ini mah, liet dong tampilan inem jaman now!" seru Arsandi.
Arsandi berdiri dengan ke dua kaki yang di buka sedikit, bak model dengan tangan kanannya memegang kain pel modern otomatis. Sementara ke dua lengan baju ia gulung sampai siku, celana panjang yang di gulung sampai betis, dan sepasang sepatu bermerek lengkap dengan kaos kaki tetap nangkring di sepasang kakinya. Jasnya merekat indah di leher.
Beni yang melihatnya tergelak, dengan tangan memegangi perutnya karena tertawa, "Ahahahhahha lu mau jadi inem jaman now apa topeng monyek nyambi kang becak?" ledek Beni.
"Temen kurang di ajarrr lo, Ben!" sungut Arsandi yang mengejar Beni dengan tangan memegang kain pel modern.
"Wahahhahah topeng monyet jaman now, nyambi jadi kang becak!" teriak Beni dengan terus berlari menghindar dari kejaran Arsandi.
Ceklek.
Layla hanya melirik sekilas ke arah pintu kamar apartemen, saat daun telinganya mendengar suara pintu kamar yang di buka.
"Kamu ngapain di sini? Pake ngunci aku di kamar segala! Kurang puas apa nyuruh aku bermalam di sini!" ketus Layla tanpa menatap Danu.
"Aku tau Layla, apa yang terjadi sama kamu." ucap Danu dengan santai, membuat Layla merubah posisinya jadi duduk bersila dengan buku pelajaran di depannya.
Danu meraih buku yang ada di atas meja belajar, dan menyerahkannya pada Layla.
Layla mengerutkan keningnya, buat apa itu si Danu ngasih buku ini? Buku disein kamar? Emang aku belajar ini? Gak jelas banget sih!
"Aku udah ambil keputusan, setelah kita resmi menikah, kamu bakal tinggal di sini! Nempatin kamar -----"
Teriak batin Layla, apa? Nikah?
Pluk.
Belum selesai Danu dengan kata katanya, Layla dengan marah melempar buku yang di berikan Danu padanya ke arah Danu.
"Enak aja kamu kalo ambil keputusan, kenapa gak rundingan dulu sih? Aku gak mau nikah sama kamu! Aku cuma mau sekolah, lulus, udah aku bisa hidup mandiri, tinggal gak dengan ayah Noval, atau pun ibu Tati!" terang Layla menolak dengan keras, ke dua mata melotot.
Danu memungut buku itu, meletakkan di samping Layla. Dengan entengnya danu berkata yang membuat hati Layla merasa tersinggung.
"Kamu pilih disein kamar yang kamu suka buat kamar kamu kelak! Setelah resmi menikah, kita gak akan tinggal satu kamar, hubungan kita cuma di atas kertas, gak lebih!"
__ADS_1
Jeger.
Layla membola, hubungan di atas kertas? Jadi Danu mau mempermainkan pernikahan?
Layla mendongakkan kepalanya, menatap Danu dengan tatapan kecewa dan marah jadi satu. "Apa maksudnya? Gue emang gak mau nikah sama lo, karena gue kan gak cinta sama lo, gue juga takut nikah, gue takut berakhir kaya ayah Noval dan ibu Tati. Gue gak mau kaya gitu! Nikah karena cinta tapi berakhir dengan cerai, dan perjodohan! Gue gak bisa!" ucap Layla tanpa sadar bulir bening meluncur bebas dari pelupuk matanya.
Danu menatap heran Layla, kenapa Layla malah nangis? Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Layla?
"Terus mau kamu gimana? Kamu mau kita nikah beneran? Jalanin perjodohan ini sesuai dengan keinginan orang tua kita? Gitu mau kamu, La?" tanya Danu dengan sorot mata menyelidik.
Layla turun dari kasur. "Pikir aja sendiri! Yang pasti kamu tuh harus pikir 2 kali buat nikah! Nikah itu bukan buat mainan! Pernikahan itu ikatan yang harusnya di jaga sampe maut memisahkan ke duanya!" ucap Layla dengan marah meninggalkan Danu yang masih terpaku.
Jadi itu anak maunya gimana sih! teriak batin Danu.
Brak.
Layla menutup pintu kamar dengan di banting, membuat Danu berjingkat kaget dari lamunannya.
"La! Tunggu La! Jelasin dulu mau kamu gimana!" teriak Danu dengan menyusul langkah kaki Layla.
"Lo ngepel harus cekatan dong Ar! Noh yong onoh belom bersih! Belom basah!" Beni menunjuk bagian sudut yang masih tampak kering belum di pel oleh Arsandi.
"Itu udah gue pel, dodol! Mata lo ngerem!" sungut Arsandi mengepel bagian lainnya.
"Dasar cowok gak punya perasaan, seenak jidatnya mau mainin pernikahan!" gerutu Layla yang melangkah dengan cepat tanpa memperhatikan lantai.
Sreeek.
Kaki Layla kepeleset lantai yang licin.
Bugh.
"Akkhhh!" pekik Layla.
"Awhhhhh Arsandi!!!" teraik Danu.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
__ADS_1
...Makasih yooo ☺️☺️...