Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Di percepat


__ADS_3

...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


^^^Bagaimana pun cara nya, kau harus dapatkan CCTV yang ada di bioskop C21, pada hari Jum'at lalu! Kabari aku jika kau menemukan apa yang aku cari!^^^


"Gampang bos!" balas Arsandi.


Dring dring dring.


Danu mengerutkan kening nya, melihat siapa yang sedang menghubungi nya kini.


"Assalamualaikum, pah! Kali ini papa menghubungi ku dengan alasan apa lagi pah?" cicit Danu dengan wajah datar, pandangan nya mengedar pada murid nya yang kini tengah mengerjakan tugas yang ia berikan.


[ "Waalaikum salam, begini kamu menyambut hangat saat papa mu menelpon mu?" ] suara Baskoro terdengar kesal di telinga Danu.


"Bukan begitu pah! Aku sedang ada kelas, pah! Bisa kan papa tidak mengganggu ku!"


[ "Pasti kau kesepian, di kelas tempat mu mengajar tidak ada Layla kan!" ] tebak Baskoro dengan suara kekehan nya. Mengejek putra semata wayang nya yang kini merona.


Danu mengerut kening nya, kenapa papa bisa tau?


"Papa tau dari mana, Layla tidak ada di kelas?" tanya Danu ingin tahu.


[ "Sekretaris paman Noval menghubungi papa, meminta papa untuk skejul ulang jadwal meeting dengan pihak mereka." ]


"Dia di rawat di rumah sakit mana, pah?"


Danu langsung mengakhiri sambungan telepon nya. Menyimpan hape nya ke dalam saku kemeja yang ia kenakan.


"Sofyan!" Danu menyerukan nama ke tua kelas.


"Saya, pak?" Sofyan menunjuk diri nya sendiri dengan jari telunjuk kanan nya.


"Siapa lagi ketua kelas di sini, hem?" tanya Danu datar, merapihkan buku buku yang tadi ia bawa di atas meja.


"Ada apa pak? Kaya nya mendesak banget! Bapak mau pergi lagi, ninggal kelas?" selidik Sofyan.


"Bapak percaya kan kelas sama kamu! Jika jam pelajaran bapak sudah usai, kumpulkan semua tugas yang teman teman mu kerjakan, letakkan di meja bapak!" titah Danu dengan tegas.


"Itu mah bisa di atur, pak!" terang Sofyan. "Terus bapak mau ke mana?"


"Ada urusan mendesak, bapak tidak bisa menjelaskan nya pada kamu!" Danu beranjak, menepuk nepuk bahu Sofyan.


"Jika tugas yang kalian kerjakan sudah selesai, jangan lupa langsung kumpulkan ke Sofyan. Jika sampai ketawan ada yang tidak mengumpulkan nya, kalian akan bapak hukum." terang Danu yang langsung melenggang pergi.


"Enak banget jadi guru... bisa ngacir gitu aja, ninggal kelas seenak jidat nya bae!" sungut Deri.


Tak.


Irfan mendaratkan kepalan tangan nya pada pucuk kepala Deri.


"Cepet dah lo lulus dari sekolah, kuliah, baru dah lo rasain nikmat nya jadi guru kaya pak Danu!" gumam Irfan.

__ADS_1


"Kamprettt lo! Gak pake lulus juga, gue bisa jadi guru!" ujar Deri, dengan malas menari narikan pena nya di atas lembar tugas nya.


"Lo beneran gak tau, Layla ke mana?" tanya Nina dengan menoleh kepala nya ke belakang, di mana Mery duduk di belakang nya.


Mery menggelengkan kepala nya. "Gue rasa pak Danu tau. Secara pak Danu kan kaka sepupu Layla."


Nina mengirim pesan di grup chat yang berisikan , Nina, Mery, Layla dan Danu.


Nina


'Kalian beneran nih gak ada yang tau, Layla ke mana gitu?'


^^^Mery^^^


^^^'Gue beneran gak tau.''^^^


Deri


'Heh lampir kurang kerjaan, ngapain pake chat, kita kan sama sama di kelas, tanya aja langsung. Ngabisin paket data gue bae lo, Nin!'


^^^Nina^^^


^^^Anjimmm banget lo, Der! Kaya gak tau siapa aja yang denger kalo kita ngobrol langsung! Gak inget apa di deket gue ada lampir gentayangan.'^^^


Mery


'Ahaahahha sesama lampir jangan saling mengejek ya!'


"Ini dia ruang rawat nya!" gumam Danu, saat berdiri di depan pintu rawat di mana Layla mendapatkan perawatan.


"Paman, tante! Gimana keadaan Layla?" tanya Danu setenang mungkin, meraih tangan kanan Sifanye yang duduk di sofa, dan Noval yang duduk di samping kursi yang ada di dekat ranjang rawat.


"Alhamdulillah udah agak membaik nak, tidak seperti saat paman membawa nya ke rumah sakit." terang Noval dengan senyum tersungging di bibir nya.


Ia menatap wajah Layla yang terbaring di atas ranjang rawat, dengan selang infus di tangan kiri nya. Sebenar nya Layla sakit apa sih! Bukan nya cuma asma! Apa sudah separah ini?


"Aku udah gak apa kok! Ayah cuma berlebihan aja nanggepin nya!" jawab Layla yang menoleh ke arah Danu, tampak ke dua mata nya yang masih sayu.


"Kalo begitu, istirahat lah! Aku harus bicara dengan paman di luar!" Danu menepuk hangat lengan Layla.


Layla tersenyum getir, biasa aja... gak terlihat khawatir sama kondisi gue, paling paman Baskoro yang nyuruh Danu ke sini buat jenguk gue.


"Bener kan pah apa yang mama omongin tadi di rumah, Layla itu cuma kecapean aja, butuh istirahat... apa lagi kan dia memang biasa kalo lagi datang tamu di awal, kaya gitu." cibir Sifanye, menatap jengkel Layla.


Noval menoleh ke arah Layla, seakan tau kerisauan sang ayah.


"Aku gak apa yah! Bentar lagi juga aku bisa pulang kan!" ucap Layla.


Noval beranjak dari duduk nya. "Ayah tinggal sebentar ya, sayang!"


"Gak usah balik sekalian juga gak apa, yah!" gumam Sifanye dengan suara yang pelan.

__ADS_1


Sifanye beranjak dari duduk nya, berjalan menghampiri Layla, mendaratkan bobot tubuh nya pada kursi yang tadi di duduki Noval.


"Kamu ini, selalu saja menyusahkan mama dan ayah! Bisa gak sih kamu itu jadi anak yang berguna sedikit, gak usah jauh jauh... lenyap gitu dari pandangan mama... bisa bisa ayah bangkrut La ngurusin kamu yang ke luar masuk rumah sakit!" ucapan pedas dan menusuk, lagi lagi ke luar dari bibir Sifanye untuk Layla.


Layla menelan saliva nya dengan sulit. "Maaf mah, nanti jika Layla udah kerja, Layla akan ganti seberapa pun uang yang udah ayah ke luarkan untuk pengobatan Layla." ucap Layla dengan menahan tangis nya.


Layla membuang pandangan nya, malas menatap wajah sang ibu sambung, lo gak boleh cengeng di depan mama Sifanye, lo itu kuat La, lo keras! Sekeras karang!


Sifanye membuang nafas nya dengan kasar, beranjak dari duduk nya, Sifanye memajukan kepala nya, untuk melihat Layla yang tampak mengembun ke dua mata nya.


Dasar anak cengeng, gitu aja mau mewek!


"Gak usah nangis kamu, seneng ya... lihat mama di marahi ayah kamu itu!" Sifanye mendengus kesal, meninggalkan Layla dan memilih duduk kembali di sofa, lebih jauh dari ranjang rawat Layla.


Sifanye menyibukkan diri nya pada media sosial lewat hape nya. Membuat status dengan emot hati.


^^^Begini lah kalo punya anak yang sering sakit, harus siap menguras dompet! πŸ’–^^^


Sementara di luar ruang rawat. Danu sengaja mengajak Noval untuk bicara di kantin rumah sakit.


"Ada yang ingin Danu perlihatkan sama paman, semoga ini tidak membuat paman syok!" Danu menyodorkan hape nya pada Noval.


Noval yang ingin mengatakan pada Danu, menghentikan kata kata nya. Sepasang mata elang Noval, menatap layar hape Danu dengan tatapan yang sulit ia percaya.


"Ada hal juga yang ingin paman katakan pada kamu, nak Danu! Mengenai kesehatan Layla. Tapi..."


"Maaf paman, tanpa sepengatahuan paman... aku meletakkan beberapa CCTV di rumah paman. Senata aku lakukan hanya untuk Layla." terang Danu dengan menyeruput minuman yang ada di hadapan nya.


Noval menggelengkan kepala nya, aku tidak menyangka, kau bisa sejauh ini bersikap kejam pada putri ku, mah!


"Aku ingin pernikahan ku dan Layla di percepat, paman. Bukan karena aku dan Layla sudah melakukan hal yang di larang agama, aku bahkan tidak menyentuh nya saat kami berada di apartemen yang sama dengan nya." terang Danu.


"Paman mengerti, nak! Paman setuju dengan rencana mu! Jika mempercepat pernikahan kalian adalah satu satu nya jalan untuk menyelamatkan Layla dari tante Sifanye." ujar Noval.


Grap.


Aleta melingkarkan ke dua tangan nya di leher Danu, dengan tubuh yang agak condong ke depan.


"Danu, aku senang akhir nya aku bisa bertemu dengan mu! Aku sangat merindukan mu, Danu!" ucap Aleta dengan semangat, mata nya berbinar penuh haru.


Noval membola. "Siapa gadis ini, Danu?" tanya Noval dengan datar.


Sreek.


Bersambung...


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate πŸ˜… komen dah kalo perlu....

__ADS_1


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2