Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Alam bawah sadar Layla


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Temui aku nanti!" seru Aleta, sebelum Roy meninggalkan nya.


Aleta kembali ke sel nya, menjalani sisa hukuman nya atas laporan Danu beberapa bulan silam.


'Kali ini gue harus bisa manfaatin bocah sialannn itu! Gue gak akan bisa tinggal diam aja liet kalian hidup bahagia. Kalian udah ngancurinnn hidup gue! Hidup gue jadi berantakan. Layla, lo harus ngerasain hidup lo berantakan.' tekad Aleta dengan tangan mengepalll.


.


.


Sementara di sebuah villa.


Mery mengerjapkan ke dua mata nya. Dengan berat hati, mencoba membuka perlahan kelopak mata nya yang seakan masih ingin terpejam.


Mery tersenyum, saat ke dua mata indah nya melihat ada sosok pria dewasa yang sangat dekat dengan nya saat ini. Memandang nya dengan tatapan teduh nya.


"Mimpi kok kaya nyata! Pak Arsandi, jarak kita terlalu dekat pak... jauhan dikit sana! Lupa ya, gue itu masih kesel sama lu pak!" gumam Mery dengan suara khas orang bangun tidur.


Mery lupa, jika saat ini ia tengah menghabiskan waktu honeymoon nya, bersama dengan Arsandi di sebuah villa yang cukup besar dan megah.


Dengan posisi tidur miring, saling berhadapan. Mery mengulurkan tangan kanan nya ke depan. Mencoba mendorong dada bidang Arsandi untuk menjarak dengan nya.


"Sana, jauh jauh! Gue gak mau liet lo pak! Pergi sana!" racau Mery, masih mendorong dada bidang Arsandi yang malah gak bergeming dengan tenaga kecil nya.


"Aku gak akan pergi ke mana mana sayang! Aku akan tetap ada di sini! Bersama mu, dengan mu! Menikmatiii hari hari kita membuat kuping." goda Arsandi dengan alis nya yang naik turun, senyum terpancar di wajah tampan nya.


"Jadi ini bukan mimpi? Ini nyata?" tanya Mery dengan beranjak duduk, menatap Arsandi dengan tajam.


Arsandi ikut beranjak dari tidur nya. Duduk saling berhadapan.


"Kau gadis gila yang berfikir jika ini mimpi! Jelas ini nyata!" terang Arsandi menjawil hidung Mery.


Mery menatap tubuh nya, menyadari Arsandi yang tidur dengan bertelanjang dada.


"Aaaaahhhhh mmpppp!" teriak Mery dengan kencanggg, namun langsung di bungkammm dengan bibir Arsandi yang melumattt bibir mungil Mery.


Mery membola dengan sempurna, baru bangun tidur diri nya sudah di buat terkejut, dengan penampakan pada si kembar tanpa tertutup sehelai benang pun.


Dengan tangan mungil nya, Mery berusaha menutupi si kembar nya yang menggelantungg manja, dengan beberapa tanda tanda kepemilikan yang membekasss di sana.


Arsandi menggelengkan kepala nya. Seolah dengan gelengan mengartikan kata, 'Jangan di tutupi!'

__ADS_1


Arsandi menggenggammm ke dua tangan Mery dengan tangan kiri nya. Sementara dengan tangan kanan nya, memainkan gundukan kembar tanpa tulang yang berhasil menggoda pandangan nya.


'Jangan lagi! Dasar pak Arsandi gila!' umpat Mery, merutuki perbuatan Arsandi, tapi tubuh nya ikut merespon setiap sentuhannn yang ia rasakan.


"Udah cukup! Gue udah inget!" pinta Mery dengan di iringiii desahannn kenikmatannn, saat Arsandi melepaskannn pagutannn nya.


"Tapi aku masih menginginkan nya! Aku ingin segera kau jadi seorang ibu, dan aku jadi seorang ayah! Jadi kita harus sesering mungkin melakukan nya." ucap Arsandi dengan bibir nya yang menyusuri leher jenjang Mery, menambah jumlah kepemilikan yang ia tinggalkan di sana.


"Tapi aku aaaaahhhhhh!" gak ada lagi kata yang terucap selain desahannn, erangannn yang ke luar dari bibir Mery.


Arsandi kembali melanjutkan pertempurannn nya dengan Mery, menjajahiii tubuh Mery kembali yang sudah ia gauliii semalam.


.


.


Nina berjalan mondar mandir di depan berangkar, dengan Layla yang masih berbaring di atas nya.


"Aduh gue gimana ini, kasih kabar pak Danu... apa gak ya? Kalo gue kabarin pak Danu. Yang ada gue kena semprot, secara gue yang ngajak Layla lari larian tadi! gumam Nina, dengan tangan nya yang menggenggammm benda pipih nya.


Nina berdiri dekat berangkar, mengelusss kening Layla. "Aduh La, kenapa lagi sama lu La? Tadi lu baik baik aja. Sekarang lu jadi pinsan gini. Lu liet apa sih La? Apa yang lu rasa? Lu mah kalo ada apa apa gak pernah mau cerita sih! Gue bingung nih ngadepin pak Danu kalo sampe tau!" oceh Nina, seolah tengah memarahi Layla.


Ceklek.


"Siapa lo ngusir gue! Gue ke sini jelas mau nemenin temen baru gue! Harus nya yang pergi itu lo! Karena lo, Layla jadi kaya gini!" tuduh Devi, memilih duduk di ujung berangkar dekat kaki Layla.


Sreeek.


Nina mencengkrammm pergelangan tangan Devi, menarikkk nya hingga tubuh nya beranjak dari duduk nya.


"Lepasss Nina! Apa yang lo lakuin! Lepasss!" Devi berusaha melepasakannn tangan nya dari genggamannn tangan Nina, saat Nina menyeret nya ke luar dari ruang kesehatan kampus.


"Layla bukan temen baru lo! Layla lebih butuh gue di banding lo! Pergi lo dari sini!" ucap Nina melepasss cengramannn nya dari tangan Devi, lalu mendorong nya.


"Nina! Lo gak bisa bersikap kaya gini! Dasar lo, cewek bar bar!" sungut Devi, gak terima dengan perlakuan Nina. Berusaha menerobos masuk kembali.


Bugh.


Nina menutup pintu ruang kesehatan, lalu mengunci nya dari dalam.


"Yang gak berkepentingan di larang masuk!" sungut Nina dari dalam ruang kesehatan.


Dugh dugh dugh.

__ADS_1


"Nina! Buka pintu nya! Jangan gila lu! Layla itu temen gue! Buka oy! Dasar gila lo! Nin! Buka pintu nya!" seru Devi dengan tangan mengepalll menggedor pintu ruang kesehatan.


Nina menghembus kan nafas kasar nya. Duduk di kursi dekat berangkar, menatap Layla yang terus menggelengkan kepala nya dengan mata terpejam. Kening Layla berkeringat, dengan suhu tubuh yang masih dingin.


Layla nampak bergumam, dengan kata kata yang gak di mengerti Nina.


"La, bangun La! Lo kenaapa La? Apa yang terjadi sama lo La?" tanya Nina, semakin panik melihat Layla, tangan kanan Nina menyentuhhh kening Layla.


Di alam bawah sadar Layla.


^^^"Sini La, ikut kita! Jangan ke mana mana!" pinta seorang wanita yang duduk di dahan pohon beringin, dengan wajah seram, rambut panjang menjuntai.^^^


Layla di buat takut dengan beberapa sosok yang ia lihat, sosok yang menyeramkan, dengan wajah yang gak lagi utuh mengenakan jubah putih, ada pula yang mengenakan jubah hitam.


"Gak mau, kalian siapa? Kenapa aku bisa ada di sini? Ka Danu! Nina! Kalian di mana?" Layla mengedarkan pandangan nya, mencari keberadaan Danu dan Nina.


^^^"Mereka gak akan ada La, kamu di sini aja! Ikut kita!" seru sosok wanita menyeramkan lain nya, dengan tanpa kepala, tubuh melayang layang di udara di hadapan Layla.^^^


"Akkkhhhhh kalian bukan manusia! Pergi kalian dari sini! Ini bukan tempat ku! Pergi kalian! Siapa pun, tolong aku!" teriak Layla dengan histeris.


Ke dua tangan Layla berusaha menutupi wajah nya dari sosok menyeramkan, sosok yang pernah ia lihat dari beberapa film yang pernah ia lihat tanpa sengaja.


^^^"Kami ada untuk kamu La, ayo sini La! Kita main sebentar La! Jangan takut La! Ihihihihihi!" seru sosok wanita jubah putih, tanpa memperlihatkan wajah nya yang terhalangi rambut hitam nya.^^^


Sreeek.


Layla merasakan ada hembusan angin yang menyapa kulit tangan nya, di susul dengan seruan seorang wanita yang sangat dekat di telinga nya.


^^^"Jangan ganggu putri ku! Belum waktu nya Layla berada di antara kita! Biar kan putri ku kembali ke alam nya!"^^^


'Suara ini, aku pernah mendengar nya, tapi siapa dia? Siapa yang mengakui aku sebagai putri nya?' tanya Layla dalam batin nya.


Memberanikan diri untuk melihat siapa wanita itu, saat Layla menyingkirkan tangan nya dari pandangan nya, ia hanya melihat seorang wanita yang berdiri memunggungi nya, dengan jubah putih serta rambut yang hitam sampai tanah.


"Kamu siapa? Kamu bukan mama Sifanye? Bukan pula ibu Tati! Siapa kamu!" tanya Layla dengan kening mengkerut, menunggu wanita itu memperlihatkan wajah nya.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️

__ADS_1


__ADS_2