
...🥀🥀🥀...
"Gak ada suami yang menculik istri nya sendiri!" terang Arsandi, membuat Mery bungkammm.
'Sialannn, apes banget sih gue. Baru juga kenalan sama mahasiswa, udah ke gap aja sama pak Arsandi! Dasar begooo!' umpat Mery yang akhir nya pasrah si panggul bak karung beras oleh sang suami.
Dengan sigap Danu membukakan pintu mobil bagian penumpang, membiarkan Arsandi memasukkan tubuh Mery ke dalam mibil.
Dugh.
Arsandi menghempaskan tubuh Mery ke kursi, lalu ia merangsek masuk.
"Awwhhh sakit begeee, lu kata tubuh gue ini karung apa. Maen lu hempas gitu aja!" sungut Mery, meringis dengan memegangi pinggulll nya, mencari posisi ternyaman untuk duduk.
Dugh.
Danu menutup pintu bagian penumpang, setelah memastikan Mery dan Arsandi masuk di dalam nya.
'Arsandi jika sedang cemburu, menyeramkan juga yah! Apa aku seperti nya, kalo lagi cemburu?' pikir Danu lalu mengerdikkan bahu nya.
"Yang benar aja, kalo pak Arsandi duduk di sini, siapa yang bawa mobil?" tanya Mery dengan kening mengkerut, menatap tajam Arsandi.
"Gak usah khawatir, ada aku yang akan membawa mobil. Gak apa lah ya, sesekali jadi supir untuk kalian berdua. Selamat menikmati perjalanan!" ucap Danu dengan memiringkan tubuh nya ke belakang, melihat bagaimana wajah Mery tampak tak percaya melihat nya.
Danu mulai melajukan mobil nya, meninggalkan area parkir cafe dengan membawa serta Mery.
"Apa? Jadi ada pak Danu juga? Kalian berdua ngikutin gue? Apa apaan ini! gue mau turun!" tanya Mery dengan kesal, tangan nya mencoba meraih hendle pintu mobil yang ada di sisi nya, mencoba ke luar dari mobil.
'Gue harus ke luar dari sini, Roy pasti nyariin gue! Apa yang Roy pikirin, kalo balik dari toilet gak ada gue!' pikir Mery, tanpa memperdulikan perasaan Arsandi.
Sreek.
Cup.
Arsandi menarikkk bahu Mery, menyerang Mery dengan menyatukan bibir ke dua nya, tanpa bisa Mery menghindar lagi.
Mery membola, 'Sialannn Arsandi cium gue di depan Danu! Dasar udah sintinggg ini orang, lepasss!' umpat Mery dalam hati, mencoba lepasss dari Arsandi.
Arsandi memegangi kepala belakang Mery, menahannn nya pada posisi ternyaman nya, semakin dalam dan menuntut Arsandi mencium, melumattt, menyesappp bibir Mery.
"Sialannnn lo, udah sintinggg! Bisa bisa nya lo ngelakuin ini ke gue!" seru Mery sambil ke dua tangan nya memukulll mukulll dada bidang Arsandi dengan nafas ngos ngosan, begitu Arsandi melepaskannn pagutannn nya.
Bugh bugh bugh.
Grap.
__ADS_1
Arsandi merengkuh Mery, mendekap nya dalam pelukan nya, lalu mengecup puncak kepala nya dengan tatapan bersalah.
"Maaf, aku gak bisa lihat kamu dekat dengan pria lain. Kamu itu istri ku, aku bisa berbuat lebih atas mu, aku punya hak untuk itu!" ucap Arsandi dengan penuh penekanannn.
Deg.
Hati Mery seakan tersentilll dengan ucapan Arsandi. 'Apa yang di katakan nya emang benar, tapi entah kenapa gue jadi gak nyaman dengan perlakuan nya yang kaya gini! Apa gue aja ya belum terbiasa dengan perlakuan nya? Tapi gue masih muda, kenapa juga waktu itu gue langsung mau di ajak nikah sama dia? Aiihhhhhsss kacau banget hidup gue.' Mery berhenti berontakkk, membiarkan Arsandi memeluk nya.
"Aku akan mengantar kalian ke rumah, selesaikan masalah kalian. Jangan kabur, semua bisa di bicarakan dengan baik baik." ucap Danu dengan melirik kaca spion.
"Maaf merepotkan Tuan!" seru Arsandi, gak enak hati harus melibatkan Danu dalam masalah nya.
"Jangan sering sering merepotkan ku! Kau ini, kita hanya bertiga, gak usah panggil Tuan, formal sekali." protes Danu, menyadari panggilan yang di gunakan Arsandi.
"Terima kasih kaka ipar. Bagai mana dengan masalah di cafe? Pasti ada aja kan yang mengabadikan nya dalam ponsel nya?" tanya Arsandi, menghawatirkan nama baik Mery.
"Tenang, ada orang Doni yang sudah mengurus nya." ucap Danu dengan santai.
"Jadi benar, kalian berdua ngikutin gue? Kurang kerjaan banget, apa sesantai itu cara kerja kalian? Kasian papa Baskoro, udah salah kasih kepercayaan pada kalian berdua!" ucap Mery dengan sinis.
Arsandi mengendurkan dekapan nya, membiarkan Mery duduk pada tempat nya.
"Kamu salah, kami berdua memang ada meeting di tempat itu. Tanpa sengaja aku melihat mu bersama dengan pria lain, muda, tampan, tapi sayang... seperti nya pria itu gak tulus dekat dengan mu!" ucap Arsandi dengan nada datar.
"Jaga sikap mu, Mery! Biar bagai mana pun Arsandi adalah suami mu!" ucap Danu, melirik tajam Mery lewat kaca spion.
"Terus aja bela, kalian berdua sama aja! Tukang ikut campur urusan pribadi orang lain!" seru Mery dengan ketus, menatap jam Danu dan Arsandi secara bergantian.
.
.
Di kelas.
"Mery gimana, La? Udah ada kabar belum?" tanya Nina menutup buku yang ada di atas meja nya.
Layla menggeleng kan kepala nya, "Belum ada kabar, malah gak aktif."
"Kemana ya itu anak, gue rasa... tadi beneran Mery pergi sama cowok deh La!" Nina menatap Layla dengan serius.
"Kamu yakin? Jangan jangan salah lihat?" Layla mengerutkan kening nya, menatap Nina menyelidik.
"Gak yakin juga sih, sekelebat gitu, udah kaya angin, cepat banget ngilang nya." Nina menggaruk kepala nya yang gak gatal.
"Udah gak ada mata kuliah kan?" tanya Layla, dengan tangan nya yang sibuk menyimpan kembali buku dan alat tulis nya ke dalam tas milik nya.
__ADS_1
"Gak ada lah, lo mau langsung balik. Apa temenin gue dulu La? Kebetulan kan ayang Deri masih ada 1 jam pelajaran lagi, temenin gue dulu deh di mari La!" pinta dan bujuk Nina, dengan tatapan memohon.
"Emm gak tau, liet tar deh. Kalo udah di jemput ka Danu, gue langsung pulang." putus Layla.
"Yaaaah lu mah, gak setia kawan!" keluh Nina dengan bibir mengerucut.
Nina gak kehabisan akal, ia beranjak dari duduk nya, dengan tas di bahu nya. Lalu mendaratkan bobot tubuh nya di samping Layla, kursi yang sudah kosong dari penghuni nya.
"Udah sana telpon ka Danu lu, minta jemput nya 1 jam lagi dari sekarang!" usul Nina dengan menggelayut di lengan Layla.
"Ihhsss apaan sih, duduk yang bener sana!" Layla berusaha menyingkirkan tangan nya dari Nina yang masih menggelayut manja.
"Ogah gue, lu telpon dulu sana ka Danu lu! Minta jemput nya 1 jam dari sekarang!" titah Nina gak mau di tolak.
Layla berusaha bangun dari duduk nya, dengan tangan Nina yang masih erat menggelayut pada lengan nya.
"Ogah, ayo ah. Astagaaa lepasss Nin, gua mau bangun ini! Gak liet noh, anak anak udah pada ke luar dari kelas!" sungut Layla, menunjuk ruang kelas yang sudah sepi dengan bibir nya yang mengerucut.
Dring dring dring.
"Hape gue bunyi, ada yang telpon." gumam Layla, saat dering telpon terdengar dari dalam tas nya.
"Ihsss lo mah, udah sana jawab telpon lu!" sungut Nina dengan bibir mengerucut, membiarkan Layla beranjak dari duduk nya.
"Tuh kan mati, kelamaan si lo, nyingkirin tangan lo nya!" seru Layla saat dering telpon gak lagi terdengar dari hape nya.
"Tar juga telpon lagi itu orang hehehe!" kekeh Nina, ke dua nya melangkah meninggalkan kelas.
Dring dring dring.
Dering telpon kembali terdengar dari dalam tas Layla.
"Tuh kan bener di telpon lagi, udah sana angkat!" titah Nina dengan terkekeh.
"Ini juga mau gue angkat panggilan telepon nya, gak liet lo!" tanpa menghentikan langkah nya, Layla merogoh hape nya yang ada di dalam tas nya.
Brugh.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
...Kehaluan semata...
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️🤸🏼♀️
__ADS_1