Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Kaya kenal


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Kamu di sini? Dari tadi aku nyariin kamu, La!" ucap Danu yang kini berdiri di belakang teman wanita Layla yang tengah memunggungi nya.


'Suara ini, kaya pernah gue denger sebelum nya, tapi di mana ya? Apa dia orang nya?' batin Devi dengan kening mengkerut, membuat nya menoleh dengan tatapan mendongak.


"Hehehe i- iya ka, tadi dosen yang harus nya mengisi pelajaran. Baru ngabarin gak bisa isi jam nya, jadi kosong di jam pertama." Layla langsung beranjak dari duduk nya dengan memasang senyum semanis mungkin.


"Lalu kalian memilih ke kantin?" tanya Danu dengan gelengan kepala.


"Iya lah pak, dari pada saya di ajak ke perpus. Mending Layla yang saya ajak ke sini, mayan kan bisa isi perut yang lagi demo minta di isi!" celetuk Nina berusaha menyembunyikan rasa teganggg nya saat berhadapan dengan Danu.


Layla menghampiri Danu dan mengajak nya duduk di sisi lain dengan menggandeng lengan Danu.


"Ka Danu gak jadi berangkat?" tanya Layla setelah Danu duduk di kursi, Layla duduk di kursi dekat Devi namun kursi itu ia tarikkk lebih dulu, membuat kursi itu lebih dekat ke Danu.


"Tadi nya mau ke kantor, cuma ada sedikit insiden. Dan hati ku tergerak membawa ku ke pada mu!" seru Danu, menyelipkan anak rambut yang bergerak liar ke belakang daun telinga Layla.


"Insiden? Kaka kecelakaan? Ketemu orang jahat? Kaka gak kenapa kenapa?" cecar Layla, membolak balik kan lengan Danu, lalu wajah Danu, seakan tengah mengecek apa kah ada yang terluka atau tidak.


Grap.


Danu meraih jemari Layla, menggenggammm nya dengan erat.


"Aku gak apa apa. Lanjutkan makan mu!" Danu menggeser makanan Layla ke hadapan Layla.


"Ehem!" Devi berdehem, merasa terlupakan ke dua teman baru nya ini.


Layla dan Nina sama sama menoleh ke arah Devi.


"Maaf ya Dev, Layla kalo lagi berhadapan sama pak Danu. Suka gitu, lupa kalo masih ada makhluk hidup bernyawa lain nya di dekat nya." ledek Nina dengan terkekeh.


"Ihsss apa sih, kaya situ gak lupa aja. Apa lagi kalo udah sama Deri! Sayang aja Deri sama kamu beda jurusan, coba satu kelas lagi. Aku jadi obat nyamuk kalian!" sindir Layla dengan menjulurkan lidah ke depan Nina.


"Dasar Layla, udah bisa balas ledekan aku sekarang ya! Pasti pak Danu yang ngajarin Layla nih!" tuduh Nina memasang wajah masam pada Danu.


"Bukan aku yang mengajari nya, itu terjadi karena istri ku sudah terbiasa dengan kuman yang kau sebarkan, Nina!" ucap Danu dengan tanpa ekspresi.


Nina menganga. "Haaaah? Kuman? Enak aja pak Danu bilang aku kuman. Pak Danu tuh yang kuman, sampe sampe Deri mau ambil jurusan bisnis biar bisa karja sama bapak!" sungut Nina dengan bibir mengerucut.


"Itu kan bagus, sudah ada jaminan masa depan jika kalian sampai pada jenjang pernikahan." ujar Danu dengan santai nya.

__ADS_1


"Maksud bapak?" tanya Nina dengan kening mengkerut.


"Deri akan di percaya ka Danu, untuk mengelola salah satu restoran milik ku, Nin!" celetuk Layla, menyuapkan makanan nya ke depan bibir Danu.


"Seriusan La? Ini gk salah dengar kan?" tanya Nina dengan penasaran.


"Apa selama ini saya pernah berbohong dengan apa yang di katakan Layla?" tanya Danu dengan tatapan tajam.


"Lah ya kalo kaya gitu mah, gak apa pak. Hehehe, jaminan masa depan buat bahagia, hidup tanpa kekurangan udah ada di depan mata." seru Nina dengan tatapan berbinar lurus ke depan.


Danu hanya melirik sekilas pada wanita yang duduk di samping Layla.


'Sialannn, mereka berdua ngobrol gitu aja bertiga sama ini cowok. Cowok yang dari tadi di sebut Danu. Tadi cowok ini sebut Layla istri, apa mereka berdua udah nikah? Tapi kalo di lihat sekilas, umur mereka berdua kaya nya beda beberapa tahun. Tapi masa iya sih, bukan nya kata Arsan... mereka berdua ini punya sugar deddy?' Devi mengepalll tangan nya dengan kencanggg, menatap tajammm Layla dan Nina secara bergantian.


"Sudah, kamu aja yang habiskan! Aku kan sudah sarapan!" tolak Danu, saat Layla akan menyuapkan nya kembali.


Danu mengambil alih sendok dari tangan kanan Layla, lalu gantian ia yang menyuapkan nya ke depan mulut Layla.


"Tapi makan semangkuk berdua lebih enak kan?" Layla tersenyum dengan pipi yang mengembung karena ada nya makanan di dalam mulut nya.


"Cihsss bisa bisa nya kalian bermesraan di kantin kampus, bikin aku iri aja sih!" ledek Nina dengan tatapan menggoda.


Hape Danu berdering.


"Udah jawab aja dulu, kali aja penting!" titah Layla, melanjutkan makan nya setelah mengambil alih sendok nya kembali.


Danu sibuk berbicara dengan seseorang yang menghubungi nya.


"Danu itu siapa kamu, La?" tanya Devi dengan berbisik, namun tatapan nya jelas menyelidik pada Danu.


"Ka Danu itu suami gue." jawab Layla jujur.


"Hah? Suami? Lo kan baru masuk kampus, lo kapan merid nya?" tanya Devi dengan terperangah.


"Udah makan aja, kan tadi gue udah bilang. Gak usah banyak tau. Makin lo banyak tau, makin pendek umur lo!" ujar Nina dengan acuh lalu tersenyum sinis pada Devi.


Devi kembali mengepalll kan tangan nya, semakin gak suka dengan Nina yang di nilai nya jutek pada nya.


'Sialannn si Nina, kenapa juga sih selalu jawab pertanyaan gue. Udah jelas jelas gue lagi nanya sama Layla, bukan sana dia!' sungut Devi dengan tatapan jengkel pada Nina.


"Nina!" seru Layla dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Awal nya di jodohkan, tapi seiring waktu... jadi cinta." Layla menyunggingkan senyum manis nya di depan Devi, dengan tatapan yang tulus.


Nina menatap penuh selidik Devi, dengan batuan ybertanya tanya, 'Gue rasa ada yang aneh sama Devi. Kenapa ini orang ngelietin pak Danu beda kaya gue dan Mery ya? Gue sama Mery, ngelietin pak Danu biasa aja. Tapi Devi kaya orang yang udah lama kenal sama pak Danu, tapi sayang nya pak Danu acuh aja tuh. Apa cuma pikiran gue aja ya?'


"Sweeet banget kan! Jadi jangan berharap lo mau ngerebut pak Danu dari Layla! Lo gak pantes!" Nina memperingati Devi dengan senyum sinis nya.


"Si- siapa juga yang mau ngerebut pak Danu dari Layla, gue cuma ngerasa kenal aja gitu. Kaya pernah liet suami lo, La! Tapi gue lupa di mana." ucap Devi dengan jujur.


'Coba nanti gue inget inget lagi deh, gue pernah ketemu Danu di mana. Mungkin ada yang gue lupain sampe sejauh ini. Tapi kenapa hati gue ngerasa kaya kenal sama orang yang udah jadi suami Layla?' batin Devi bertanya tanya.


Danu menyimpan kembali benda pipih nya, di dalam saku celana nya.


"Sayang, aku tinggal ya!" seru Danu mengecup pipi Layla lalu tangan nya mengelusss punggung Layla.


"Balik kantor ka? Kirain mau tungguin aku di sini!" canda Layla.


"Gak, ban mobil ku sudah di ganti. Jadi aku harus kembali ke kantor. Tunggu sampai aku menjemput mu ya!" ucap Danu, dengan tatapan hangat nya.


"Iya, hati hati! Jangan ngebut!" Layla meraih tangan kanan Danu, lalu mengecup punggung tangan kanan nya.


"Iya sayang!" Danu mengelusss puncak kepala Layla.


Cup.


Danu melabuhkan kecupan di kening Layla. Lalu beranjak dari duduk nya.


'Kenapa aku merasa ada yang gak beres dengan wanita ini? Apa hanya perasaan ku aja? Karena dia asing di mata ku?' batin Danu, menatap sekilas wanita yang gak lain adalah Devi.


Danu mengalihkan pandangan nya pada Nina, "Ingat tanggung jawab mu di kampus!" seru Danu dengan tatapan tajam pada Nina.


"Siiiip pak! Tenang aja, selama ada aku, pasti aman!" Nina mengacungkan jempol tangan kanan nya ke depan Danu dengan sederet gigi putih nya.


"Tanggung jawab apa, Nin?" tanya Layla yang gak tau maksud pembicaraan Nina dan suami nya sendiri.


"Mau tau aja, apa mau tau banget?" tanya Nina dengan nada menggoda.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2