Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Gak nyangka


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


'Sialannn bos gendenggg, kenapa memukulll ku, jelas ini salah nya sendiri yang mengurunggg kan niat untuk kerja sama dengan Bima.' umpat Arsandi dalam hati.


"Gak usah mengumpat dalam hati, emang kau pikir, aku tidak tahu jika kau mengumpat ku?" ujar Danu dengan tatapan tajammm Arsandi lewat kaca spion.


"Baik lah jika itu mau mu! Saat ini, anggap lah aku bicara dengan mu sebagai teman, bukan sebagai bawahan mu. Apa yang menjadi kan alasan mu mau melebarkan sayap dalam bidang fasilitas umum?" tanya Arsandi yang dari awal gak tau alasan Danu.


"Kau bicara sebagai teman ku? Tapi kau sendiri tidak tau apa alasan ku. Aneh! Teman macam apa itu!" umpat Danu dengan gelengan kepala.


"Aku bukan cenayanggg yang bisa membaca isi pikiran seseorang Danu!" sungut Arsandi dengan kesal.


"Emang aku bilang kau itu cenayanggg? Kau itu hanya teman yang gak tau apa apa tentang teman nya!" seru Danu dengan sinis.


"Cihhhsss kalo aku bisa menebak alasan mu di balik proyek baru ini, apa kau akan mengabulkan apa yang aku minta?" tanya Arsandi yang ada maksud terselubunggg.


"Apa pun itu bisa kau minta, asal bukan cuti panjang!" ucap Danu, bak sedang memperingati Arsandi.


Arsandi mendengus kesal. "Baru juga aku ingin mengatakan cuti beberapa hari! Apa kau ingin terkesan bos yang sadisss? Hingga melaranggg ku untuk mengambil jatah cuti ku?" tanya Arsandi gak habis pikir dengan Danu.


"Itu lah kenyataan nya! Tanpa mu, aku tidak akan bisa berada di posisi ku saat ini!" jelas Danu.


"Cihhhss kau pikir kau aja! Aku juga. Karena mu, aku bisa berada di tempat ku. Berada di puncak itu enak, tapi jangan lupa tempat mu berasal." cicit Arsandi.


Tak.


Arsandi mendaratkan kepalannn tangan nya di kepala Danu.


Dengan mata melotot, suara meninggi. "Heh, berani nya kau menjitakkk kepala ku? Sudah sangat ingin ke hilangannn pekerjaan mu?" omel Danu, mengelusss kepala nya yang di jitakkk.


"Ahahahhaha siapa juga yang akan ke hilangannn pekerjaan, kau lupa. Saat ini kita bicara sebagai teman, bukan sebagai atasan dan bawahan! Ingat itu!" oceh Arsandi dengan tergelak, merasa puasss dengan apa yang ia lakukan pada Danu.


"Kurang ajarrr kau! Turun kau dari mobil ku!" titah Danu.


Bak ke bakarannn jenggottt, Arsandi tergagap, kalanggg kabuttt dengan apa yang di katakan Danu.


"A- apa? Ma- maaf Tuan, a- aku hanya bercanda. Jangan di ambil hati Tuan. A- aku tidak akan meminta imbalan, sungguh Tuan." ucap Arsandi dengan sesekali melirik Danu dari kaca sepion dengan wajah piasss.


"Ini masih jauh dari lebaran, maaf mu ku tolak!" sungut Danu, menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada.


"Lalu aku harus apa Tuan, biar Tuan gak marah lagi?" tanya Arsandi.


"Kemudikan saja mobil ini dengan cepat, apa kau lupa... ini adalah hari di mana bocah nakalll itu melepasss masa putih abu nya!" seru Danu.


"Ini saya juga udah cepat Tuan. Tuan percaya aja sama saya. Kita pasti akan sampai sebelum acara berakhir." cicit Arsandi.


"Tuan, Tuan kan sudah menikah dengan Nona Layla. Apa Tuan gak keberatan jika meminang Mery untuk saya! Jika bukan sama Tuan, saya minta tolong sama siapa lagi. Tuan mau kan!" pinta Arsandi.


"Kapan kau mau aku melakukan nya?" tanya Danu, gak menolak namun juga gak mengiyakan.


Arsandi membuang nafas lega. "Secepat nya Tuan. Saya ingin segera menyusul Tuan dan Nona, naik ke pelaminan." cicit Arsandi.


"Persiapkan saja semua nya, atau mau ku bantu untuk mempersiap kan nya?" tawar Danu dengan duduk tegak tanpa bersandar.


"Apa bisa Tuan? Bagaimana jika malam ini, apa Tuan bisa? Tuan yang siapkan segala nya untuk aku meminang Mery?" tanya Arsandi dengan menggebuuu gebuuu.

__ADS_1


Tak.


Danu menjitakkk kepala Arsandi lagi dengan wajah gemasss nya.


"Bawahan di kasih hati minta jantung!" sungut Danu dengan suara tergelak.


"Maaf Tuan, aku sakinggg gembira nya. Tuan mau membantu ku." ucap Arsandi dengan malu.


"Kau tidak pantas untuk malu, kau itu pria! Seperti anak kecil aja." ledek Danu.


Mobil yang Arsandi kemudikan memasuki gerbang sekolah.


Arsandi ke luar dari mobil lebih dulu, membuka kan pintu mobil untuk Danu.


Danu berjalan lebih dulu dengan kaca mata hitam bertengger di hidung nya, menutupi sepasang mata elang nya. Tubuh nya yang atletis terbaluttt dengan setelan jas berwarna hitam.


Terdengar suara para siswa yang tampak terpesona dengan penampilan 2 orang pria dewasa yang tampak menonjolll dari siapa pun.


^^^"Astagaaa gak salah itu, pak Danu tampilan nya udah kaya bos besar."^^^


^^^"Mana? Wah iya itu, bukan pak guru itu mah. Calon imam gue itu hehehe!"^^^


^^^"Ssstttt ngarep lo, itu calon laki gue, ayah dari bibit unggul gue hihihi!"^^^


^^^"Bukan bibit unggul lo, tapi bibit unggul pak Danu!"^^^


^^^"Paaaaak sini pak, lamar saya aja pak. Saya mau jadi bini bapak!"^^^


^^^"Wuuuuuuu! Ngaur!"^^^


"Apa kau tau, di mana kira kira Layla duduk?" tanya Danu tanpa menoleh.


"Kemungkinan besar ada di kursi paling depan, Tuan. Tadi juga security rumah mengabari... gak berselang lama Tuan dan Nona berangkat. Ke tiga Tuan besar datang ke rumah." jelas Arsandi panjang kali lebar.


Danu mengerut kan kening nya. "Ke tiga Tuan besar siapa maksud mu?" tanya Danu, menghentikan langkah nya menatap tajammm Arsandi.


"Tuan besar Noval, Tuan besar Yanto, dan Tuan besar Baskoro."


"Ibu Tati dan Dea, apa mereka berdua datang secara terpisah?" tebak Danu melanjut kan kembali langkah kaki nya.


"Menurut keterangan, dari pengawal yang mengawasi Nona Muda dari jarak yang cukup aman. Ke dua nya tidak terlihat di sekitaran sekolah Tuan." jelas Arsandi lagi, panjang kali lebar.


"Kamu pergi selidiki. Kenapa bisa bu Tati gak hadir di acara penting seperti ini!" titah Danu tegas.


Danu sendiri lupa, jika Arsandi datang ke acara itu bukan hanya semata demi pekerjaan nya. melain kan juga demi Mery sang pujaan hati.


"Maaf Tuan, saya membantah." tolak Arsandi dengan berani, tanpa ragu.


"Kau berani menolak perintah ku? Sudah bosan bekerja dengan ku?" tanya Danu dengan wajah kesal nya.


"Maaf Tuan, saya mana berani membantah. Tapi untuk kali ini, izinkan saya mendampingi Mery dalam acara ini!" ucap Arsandi dengan meremasss kepalannn.


"Tunggu apa lagi? Cepat suruh orang mu untuk menjalankan tugas nya!" pinta Danu dengan alasan nya.


"Terima kasih Tuan atas pengertian nya!" cicit Arsandi dengan bernafas lega.

__ADS_1


Telinga Danu dan Arsandi, samar samar mendengar suara ke tiga pria paruh baya yang sangat familiar di telinga ke dua nya. Lalu di susul dengan suara gelak tawa dari banyak orang.


Danu menajamkannn pandangan nya saat melihat sosok pria paruh baya yang tengah ia cari.


"Apa apaan ini!" seru Danu dengan kening mengkerut, tatapan yang sulit di percaya.


"Apa yang Tuan muda lihat?" tanya Arsandi, di buat bingung dengan tatapan yang di perlihatkan Danu.


"Kau kan punya mata, gunakan saja mata mu untuk melihat nya sendiri!" sungut Danu dengan jengkelll.


"Astagaaa, apa yang sedang di lakukan para ke tiga Tuan besar? Apa mereka akan beralih profesi sebagai seorang pelawak?"


Layla bertepuk tangan dengan heboh nya.


Yanto, Noval dan Baskoro. Ke tiga nya berada di atas panggung. Bak pemain lawak yang sedang memainkan peran nya untuk menghibur penonton.


Danu berjalan ke arah Layla di mana tengah duduk dengan di apit oleh Nina dan Mery.


Danu memberikan isyarat pada Nina, untuk beranjak dari tempat duduk nya tanpa bersuara dan tanpa protes.


Danu menatap Layla dengan sangat dekat, sementara Layla belum menyadari nya.


"Aku merindukan mu!" ucap Danu dengan langsung mendaratkan bibir nya di pipi Layla.


Layla membola namun sejurus kemudian, bibir nya kembali terbuka dengan berbagai pertanyaan yang terlontarrr dari bibir mungil nya.


"Ka Danu? Kapan dateng nya? Nina mana? Kaka dateng ke sini sama siapa? Apa Meeting nya udah selesai? Gimana dengan hasil nya? Apa hasil nya memuaskan? Ayo katakan pada ku?" cecar Layla.


"Gak usah bahas pekerjaan dulu sayang! Nikmati aja kebersamaan kita ini!" Danu merangkul bahu Layla, membuat Layla bersandar pada dada bidang Danu.


Arsandi duduk di samping Mery, mengisi kursi yang sebelum nya di duduki Juni.


"Maaf ya, aku baru bisa datang menemani mu saat ini!" seru Arsandi tulus, menunjukkan rasa bersalah nya.


"Iya gak apa, aku tau kamu orang sibuk. Gak jarang jika kesibukan kamu itu sedikit waktu untuk mu istirahat." sindir Mery dengan ketus.


Arsandi menggenggammm tangan Mery, lalu mengecup punggung tangan Mery dengan mata terpejammm lalu membuka satu mata nya.


"Aku gak nyangka, jodoh ku adalah bocah kecil seperti mu!" gumam Mery.


"Apa pak Arsandi mengatakan sesuatu?" tanya Mery karena gak bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan Arsandi.


"Tunggu aku nanti malam di rumah mu! Katakan pada bibi mu, aku akan meminang mu!" bisik Arsandi di telinga Mery.


"Apa?" tanya Mery dengan terkejut, memperlihat kan wajah nya yang lucu di mata Arsandi.


Cup.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


...Kehaluan semata, jangan baper!...


...Hayo lah jempol nya mana ini, ⭐⭐⭐⭐⭐ biar banyak updat....

__ADS_1


__ADS_2