
...🥀🥀🥀...
"Gimana keadaan Layla, pak?" tanya Deri gak sabar.
Kini Deri, Juni, Arsandi dan beberapa orang Danu sudah berada di rumah sakit. Setelah berhasil meringkus Ratna dan anak buah Basuki. Namun sayang nya Basuki berhasil lolos.
"Masih di dalam, entah apa yang tengah mereka lakukan terhadap Layla!" ucap Danu dengan wajah gak tenang, gurat kecemasan nampak di wajah nya.
"Semoga Layla baik baik aja ya, pak!" ucap Juni dengan menepuk bahu Danu, guru pengganti nya di sekolah.
Danu mengerutkan kening nya, menatap ke arah tangan yang berani menepuk bahu nya.
"Maaf pak, spontanitas ini!" Juni menarik tangan nya dari bahu Danu, dengan wajah canggung nya.
"Terima kasih, karena kalian sudah mau ikut serta dalam mencari Layla." ucap Danu dengan tulus pada Juni dan Deri.
"Sudah kewajiban, kami pak... lagi pula kan Layla itu teman kami. Dia anak baik pak, yang lain juga ikut bantu do'a, berharap yang terbaik untuk Layla saat ini!" seru Juni dengan senyum mengembang di sudut bibir nya.
"Kalian sebaik nya pulang, orang tua kalian pasti sudah sangat menghawatirkan kalian. Apa lagi ini sudah larut." titah Danu, menatap Juni dan Deri bergantian.
"Kalo gitu kami balik dulu pak. Layla pasti baik baik aja pak! Layla itu gadis yang tangguh pak!" ujar Deri, mencoba menghibur Danu, akan nasib Layla yang entah bagaimana saat ini di dalam ruang tindakan.
"Biar kalian di antar pak supir." ucap Danu, menatap Arsandi.
"Biar saya yang antar, Tuan. Sekalian ada yang perlu saya tanyakan pada mereka." tawar Arsandi.
"Tunggu, bagaimana dengan Basuki dan anak buah nya? Apa berhasil di ringkus?" tanya Danu.
Danu menatap tajam Arsandi dan beberapa anak buah nya yang tampak di antara mereka mengalami luka ringan atau pun cedera ringan.
"Untuk teman wanita Nona, Ratna berhasil kami aman kan Tuan. Ke dua pria yang membawa Nona juga berhasil kami aman kan." jelas Arsandi, sejurus kemudian kepala nya menunduk.
"Ada apa? Apa kalian gagal mengamankan Basuki?" tanya Danu dengan tatapan menyelidik, melihat sikap Arsandi dan anak buah nya.
Nafas Danu gak karuan, dada nya naik turun, tangan nya mengepalll kencang dengan buku buku jemari nya yang tampak menonjol.
__ADS_1
"Maju kalian!" titah Danu dengan suara yang terdengar dingin, seketika udara dingin seakan menusuk sampai ke tulang.
Arsandi dan beberapa anak buah Danu pun maju satu langkah ke depan Danu.
'Hukuman apa lagi yang bakal Tuan Danu kasih ke gwe! Tapi ini emang kesalahan gue! Gue pantas menerima konsekuensi apa pun dari Tuan.' batin Arsandi, menelan saliva nya dengan sulit.
Bugh bugh bugh bugh.
Dengan kaki kanan yang menjulur ke belakang, berpijak dengan satu kaki nya. Danu bergerak memutar, menendang anak buah nya dan Arsandi.
Tanpa dari satu pun mereka yang berani menghindar dari tendangan Danu, luapan dari kekecewaan nya karena gagal mengamankan Basuki.
Juni dan Deri yang melihat nya hanya bisa meringis, dengan hati yang nyeri, melihat Arsandi dan anak buah Danu lain nya yang di beri hadiah tendangan.
Dengan hanya menggerakkan kepala nya, Arsandi langsung mengerti dengan perintah yang di berikan Danu. Arsandi mengantar Deri dan Juni pulang ke rumah mereka.
Ceklek.
Seorang wanita berjubah putih ke luar dari ruang tindakan. Dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Danu, menatap dokter wanita muda itu penuh selidik.
'Apa aku gak salah dengar? Jadi gadis yang di dalam itu sudah menikah? Dengan pria ini? Ah mungkin mereka kecelakaan, hingga ke dua nya terpaksa menikah. Anak jaman sekarang, pergaulan bebas bukan lagi penghalang untuk seorang pelajar.
"Bisa ikut ke ruangan saya." titah dokter dengan tegas.
Dokter muda itu berlalu, mengayunkan langkah kaki nya meninggalkan ruang tindakan, dengan di ikuti Danu dengan perasaan yang gak karuan luar biasa.
"Apa anda yakin suami dari remaja putri yang ada di dalam ruang tindakan? Anda yakin suami nya?" tanya dokter Silfi memastikan kembali indra pendengaran.
"Apa dokter pikir, saya ini sedang bercanda? Katakan secepat nya, apa yang terjadi dengan istri saya!" ucap Danu dengan serius.
"Istri anda mengalami kekerasan fisik, di tambah lagi dengan mental nya. Ia mengalami tekanan yang cukup berat untuk anak seusia nya." ujar dokter Silfi dengan singkat dan secara garis besar tanpa basa basi.
Danu mengepalkan tangan nya dengan kencanggg, kilatan amarah nampak di ke dua mata nya.
__ADS_1
"Dari mana ia mendapatkan luka yang terdapat pada lengan nya, dokter? Apa lagi yang di alami istri saya? Katakan dokter, katakan tanpa ada yang harus di sembunyikan dari saya!" tuntut Danu dengan penuh penekanan, menahan kejolak amarah nya di depan dokter.
"Cambukan, dan ada luka robek pada bagian inti nya, meski hanya sedikit dan kami sudah menjahit nya. Namun itu menyisakan trauma untuk istri anda, Tuan." ucap dokter Silfi, menjeda kata kata nya. Seakan memberi ruang Danu untuk berfikir.
'Sialannn kau Basuki, berani nya melakukan hal sekeji itu pada istri ku!' batin Danu.
"Dengan berat hati, saya katakan jika Istri anda membutuhkan seorang psikiater, untuk mengembalikan emosi nya seperti sedia kala." ujar dokter Silfi panjang kali lebar.
Danu ke luar meninggalkan ruang dokter Silfi, langkah nya seakan berat untuk melangkah. Pukulan berat kini ia harus hadapi, terlebih Danu harus bisa bersikap tegar di depan Layla.
Danu berperan penting, karena ia adalah orang yang paling terdekat Layla untuk memulihkan keadaan Layla yang kini tengah mengalami trauma akibat kekerasan yang ia terima dari Ratna dan 2 pria yang membawa nya dari sekolah.
Danu menggenggammm jemari Layla, ikut berbaring di sisi Layla dalam satu ranjang rawat berukuran besar.
"Kamu pasti bisa melewati ujian hidup yang kejam ini, La! Kamu pasti bisa. Aku yakin kamu pasti bisa melewati nya." ucap Danu, mengecup jemari Layla berkali kali dengan bulir bening yang meluncur bebas dari sudut mata nya.
"Ayah mau ke mana?" tanya Sifanye, melihat Noval yang langsung bersiap, hendak meninggalkan rumah setelah mendapat telpon entah dari siapa.
"Ada urusan yang gak bisa ayah tinggal, mah! Ayah pergi dulu!" ucap Noval, tanpa memberikan jawaban yang memuskan untuk di dengar Sifanye.
"Yah! Urusan apa sih yah! Ini tuh udah malam, yah! Apa gak sebaik nya besok aja baru di selesai kan urusan ayah itu?" Sifanye berusah membujuk Noval agar tidak meninggal kan rumah.
"Gak bisa! Mama tidur aja duluan! Dan jangan menunggu ku!" titah Noval, gak mau di bantah.
Malam itu juga Noval menjemput Tati beserta suami nya, menuju rumah sakit di mana Layla di rawat.
"Apa yang terjadi sama Layla, Noval?" tanya Tati dengan penuh tanya.
"Kenapa kau tidak mengajak serta istri mu, Noval?" tanya Yanto dengan tatapan mengejek Noval.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅 biar ora sepi sepi amat gitu ini novel. Masa cuma tuyul doang yang aktif komen. Yang laen, mana suara nya?
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...