Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Kamu gak sendirian


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Siapa juga yang nembak lo? Kan gue bilang, mulai detik ini, kita pacaran... lo pacaran sama gue! Jelas kaga? Gue gak nanya lo kan, gak minta pendapat lo buat nerima gue apa gak?" ucap Deri dengan terkekeh, menatap gemas Nina dengan mulut menganga.


"Deriiiiiii!"


Dengan wajah merona, menutupi rasa bahagia nya yang gak mungkin dia ungkapin saat ini. Saking malu ada Layla dan Mery.


Nina melangkah dengan menunjukkan wajah masam, bak siap menerkammm Deri yang lagi duduk di sofa.


"Mau ngapain lo, Nin? Mau meluk gwe ya? Saking seneng nya sekarang kita jadian?" goda Deri, dengan memainkan alis nya naik turun.


"Siapa juga yang mau meluk lo!" kilah Nina.


Begitu sampai di depan Deri, meski di hati sangat ingin memeluk Deri. Namun rasa itu Nina tahan. Dengan nafas yang gak beraturan, Nina menatap Deri dengan melotot tajam.


Deri mengerutkan kening nya, menatap aneh sama Nina yang hanya diam menatap nya horor. Hingga Deri langsung merentangkan ke dua tangan nya, berharap Nina memeluk nya.


"Ah lo, munafik... nih gue udah rentangin tangan gue! Ayo sini peluk gue kalo mau peluk! Badan gue wangi kok!" seru Deri dengan percaya diri.


'Andai aja lo tau, Der! Dari awal kita satu jurusan gue udah suka sama lo... tapi gwe gak berani ungkapin perasaan gue.'


"Enak aja lo! Gue gak munafik! Kalo gue munafik, kenapa juga lo bilang kita detik ini pacaran?" kilah Nina.


Tangan Nina langsung melayang memukulll mukulll bahu Deri, yang di pukulll bukan nya marah, tapi malah semakin terkekeh.


Bugh bugh bugh bugh.


"Awwwwhhh parah lo, Nin. Gue cowok lo! Masa bukan di cium malah di pukulll. Termasuk kekerasan dalam pacaran nih!" ledek Deri, memiringkan tubuh nya dan hanya mengenai bahu nya yang di pukul Nina.


"Dasar bege lo, Der! Mana ada kekerasan dalam pacaran. Lagi lo, seenak jidat nya aja ngambil keputusan. Di kata gue mau banget kali jadi pacar lo!" sungut Nina, dengan tangan nya yang masih main bergerak memukulll kesal bahu Deri.


'Hehehe ngarep banget gwe bisa jadi pacar lo, Der! Tapi gue juga harus jual mahal dikit lah. Biar gak di kata gimana gitu hehehe!' batin Nina terkikik geli.


"Iya ada dong. Kita ini hidup di jaman sekarang, bukan jaman dulu yang pake jodoh jodohan. Lagi juga kita udah dewasa. Udah bisa nentuin pilihan sendiri, gak usah bertingkah kaya bocah!" cicit Deri dengan suara tergelak.


"Bujuk busettt, udah kaya aki aki lu kalo ngebacottt, kaga ada rem!" celetuk Mery.


"Nah kan bener!" timpal Nina, setuju dengan Mery.


Grap.

__ADS_1


Deri mencengrammm pergelangan tangan Nina, membuat bocah itu gak bisa berkutik. Ke dua nya saling pandang.


Deri yang duduk di sofa menatap Nina tanpa berkedip, 'Ternya Nina ini gak kalah cantik sama Layla. Malah Nina ini imut, gemesin, lucu. Udah jelas jelas dia suka sama gue, tapi masih aja pura pura gak cinta sama gue.' batin Deri.


"Apa lo liet liet gue?" sungut Nina, mencoba melepaskan cengramann Deri dari tangan nya.


"Kalo di perhatiin dari deket, gue gak salah lo... berpaling hati, terus kita pacaran! Hehehe!" seru Deri, membuat Nina semakin merona.


Nina mengerucut kan bibir nya.


'Kaya nya gue salah deh, sempat suka ama ini anak. Otak gue yang koslet, apa jalan pikiran ini anak yang koslet?' batin Nina, dengan pandangan yang sulit di artikan.


Layla dan Mery hanya geleng kepala melihat tingkah ke dua nya. Hingga pintu ruang rawat Layla di buka oleh seseorang dari luar.


Kreeek.


Nina, Layla dan Mery menoleh ke arah pintu, ingin tau siapa yang membukan nya.


Bugh.


Deri menarikkk tubuh Nina, hingga Nina jatuh menimpa dada bidang Deri. Ke dua lengan Nina bertumpa pada dada bidang Deri.


"Akkkkhhhh! Deri! Astagaaa sumpah ya!" sungut Nina, berusaha beranjak dari posisi nya.


"Gue jatoh juga karena lo tarikkk, dasarrr bege!" sungut Nina.


"Deri! Nina! Jaga sikap kalian! Gak malu, ada Layla dan Mery yang melihat kalian?" tegur Danu, melangkah masuk mendekati ranjang rawat sang istri.


"Kenapa lama?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.


Danu mengelusss puncak kepala Layla. Enggan untuk menjawab pertanyaan Layla.


"Aku bantu kamu ganti baju ya!" seru Danu, membantu Layla beranjak dari ranjang rawat.


Meski hati nya bertanya tanya, namun Layla tetap menurut.


"Tunggu sebentar!" titah Danu, membiarkan Layla duduk di tepian ranjang rawat.


"Kalian, bantu saya untuk berkemas. Saya akan membawa Layla ke luar dari rumah sakit sekarang juga. Hanya tinggal menunggu administrasi nya selesai." ujar Danu, menatap ke tiga murid nya secara bergantian. Sementara ke dua tangan Danu, sibuk mengambil tas Layla yang ada di dalam lemari kecil dekat ranjang rawat, berisi kan baju ganti.


"Emang udah boleh ke luar dari rumah sakit, pak? Layla kan masih___" ucapan Mery menggantung, saat di tatap Danu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Siap pak, bakal kami bantu buat Layla." ujar Deri, tanpa banyak protes.


"Ayo!" Danu menggendong Layla menuju kamar mandi, sementara ke dua tangan Layla memeluk tas yang berisikan baju ganti nya.


"Aku bisa jalan sendiri!" ucap Layla, saat mendapati tatapan dari ke 3 sahabat nya yang terus memandang ke arah nya.


"Gak bisa, tinggal nurut aja. Aku gak mau denger ada kata penolakan dari mu!" ucap Danu tegas.


"Ihsss!"


"Kalian bertiga, tunggu apa lagi? Gak lihat banyak barang yang harus di kemas!" ujar Danu saat di depan pintu kamar mandi, menoleh ke arah Mery, Deri dan Nina.


"Ini juga lagi mau di kerjain, pak!" buru buru Mery mulai bergerak cepat, mengerjakan apa yang di minta Danu.


Danu dan Layla, hilang di balik pintu kamar kecil yang ada di ruang rawat Layla.


"Ayo yank! Kita bantuin Layla berkemas!" ujar Deri tanpa tau malu, memanggil Nina dengan sebutan yank.


"Ha?" Nina di buat melongo.


Satu jam kemudian.


Danu dan Layla kini sudah berada di dalam mobil, ke dua nya dalam perjalanan menuju rumah mereka yang selama ini mereka tempati.


Hening, namun sesekali Danu melirik ke arah Layla, melihat gadis itu hanya diam, dengan duduk menyandar pada sandaran mobil, tatapan nya menuju ke arah jendela mobil.


"Apa yang kamu pikirkan, La?" tanya Danu, yang kembali fokus pada setir kemudi.


"Masih gak percaya dengan apa yang aku alami, ini bagaikan mimpi yang sangat ingin aku hindari. Tapi pada kenyataan nya... ini nyata, gak bisa di hindari." ucap Layla, dengan suara bergetar.


Tangan kiri Danu terulur, meraih dan kemudian menggenggammm jemari Layla yang sejak tadi ada di pangkuan Layla.


"Kamu gak sendirian. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada buat kamu, La. Aku janji, kejadian kemarin gak akan pernah terulang lagi, meski pun dalam mimpi kamu. Aku akan ada buat bangunin kamu dari mimpi buruk itu, La!" ucap Danu dengan tatapan meyakinkan.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅 biar ora sepi sepi amat gitu ini novel. Masa cuma tuyul doang yang aktif komen. Yang laen, mana suara nya?


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


__ADS_2