Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Jasa catering


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Hingga bel pelajaran berakhir, Mery menunggu Layla di parkiran sekolah. Dengan duduk di atas sepeda motor metik Layla.


"Ayo jalan!" ucap Mery saat Layla sudah berdiri di sampingnya.


"Besok aja, kalo sekarang aku harus bantuin ibu aku jualan." tolak Layla.


Mery mendengus, beranjak dari motor Layla, dan beralih ke motornya. "Masih aja lo perduli sama orang tua lo! Gua cabut lah kalo gitu! Kalo lo berubah pikiran, kabarin gua ya, La!"


"Huem!"


Layla pulang ke rumah ibu kandungnya, Tati.


Tin tin tin.


Sebuah mobil melaju di sebelah motor metik yang Layla kendarai.


Kaca mobil belakang di buka, nampak Nugi di dalam sana, menopang tangan kirinya di jendela mobil yang kini terbuka.


"Mending lo jadi pacar gua aja, La... gak pake panas panasan lo pulang sekolah! Tinggal duduk manis, nyampe depan rumah lo! Kulit mulus lo gak bakal makin gosong tersengat sinar matahari, hahahaha!" cibiran dan ledekan ke luar begitu saja dari bibir Nugi.


"Makasih pujiannya, ka!" ucap Layla, menanggapinya dengan santai, lalu berbelok arah ke kiri.


Layla melirik sepintas, dirinya dari pantulan kaca spion sepedah motornya.


Gak liet apa, kalo aku pake switer... buta kali itu kaka kelas matanya ya!


"Sialan, keras banget sih tuh anak!" dengan wajah kesal, Nugi menutup kembali jendela kaca mobil yang ia tumpangi.


Layla memarkir sepedah motornya di pekarangan rumah yang sederhana, jauh dari megah dan besar seperti rumah Noval.


"Assalamualaikum, Layla pulang bu!" seru Layla dengan melepas sepatu yang ia kenakan, menentengnya dan menyimpannya di rak sepatu yang ada di dekat dinding.


Tati ke luar dari dapur, begitu mendengar suara motor Layla. Berjalan dengan tergesa gesa, tidak lupa tangan kanan dan tangan kiri menenteng paper bag, untuk di serahkan pada Layla.

__ADS_1


"Waalaikum salam. Untung kamu udah pulang, sekarang anter ini ke tempat langganan yang biasa, dan ini tempat yang baru. Alamatnya sudah ibu catet dan ibu simpan di dalam sana ya La!" Tati menyerahkan 2 paper bag di tangan kanan Layla, dan satu paper bag di tangan kiri Layla.


"Tapi bu, Layla kan --"


Belum selesai Layla bicara, Tati sudah bicara lagi dengan berjalan kembali ke dapur.


"Langsung pulang La, masih ada beberapa lagi yang harus kamu anter!" titah Tati yang tidak ingin mendengar alasan apa pun dari mulut anak gadisnya.


Layla meletakkan paper bag itu di atas lantai, menarik nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.


Sabar Layla, ini ujian, kalo udah lulus sekolah. Baru lu bisa hidup mandiri, kalo sekarang lu masih butuh ke dua orang tua lu! Semangat Layla!


Layla menyemangati dirinya sendiri, melihat adik kecilnya yang tengah bermain boneka di atas tempat tidur.


"Kaka udah pulang? Sini ka, temenin Dea main, ibu dari tadi sibuk masak! Dea gak ada temen!" keluh Dea, bocah perempuan yang kini berusia 5 tahun.


"Kamu main sendiri dulu ya! Kaka mau bantuin ibu anter pesenan dulu!" tolak Layla dengan alasan yang apa adanya.


"Kaka sama ibu, sama aja! Gak sayang Dea." Dea mengerucutkan bibirnya.


Suara nyaring Tati yang berada di dapur terdengar sampai ke kamar.


"Ini juga mau jalan, bu!"


Hari yang melelahkan untuk Layla, setelah pulang sekolah, belum sempat makan, ia sudah di wajibkan untuk mengantarkan catring ke beberapa tempat.


Tati yang memasak dan Layla yang mengantarkannya ke beberapa alamat. Tati membuka jasa catering dadakan, setelah adanya motor yang di kirim Noval untuk Layla pulang pergi sekolah.


Sementara untuk modal awal, Tati menggunakan uang yang di transfer Noval padanya untuk kebutuhan Layla sehari hari tanpa sepengetahuan Noval dan Layla pastinya.


"Tinggal satu lagi. Ini bukannya alamat apartemen ya?" gumam Layla, setelah membaca alamat yang tertera di dalam paper bag yang tinggal satu di cantelan sepedah motornya.


Tidak sulit untuk Layla, menemukan alamat pemesan jasa catering ibunya.


Setelah mendapatkan izin dari pak satpam yang berjaga di apartemen itu, Layla langsung mengayunkan langkah kakinya memasuki apartemen mewah itu.

__ADS_1


Layla berdiri di sebuah unit apartemen, tanpa ragu lagi memencet bel yang ada di samping pintu.


Ting nong, ting nong.


"Lama banget sih! Gak ada orang kali mah ya!" gerutu Layla yang sudah lama berdiri di depan pintu, berkali kali memencet bel, tidak membuahkan hasil.


Kruk kruk kruk.


Layla mengelusss perutnya yang keroncongan, wajar aja sih. Kan perut Layla laper, pulang sekolah bukannya di suruh makan, malah di suruh anter anter pesenan. Malah nganternya gak nanggung nanggung.


Dring dring dring.


Hape Layla yang ada di saku switernya berdering.


Layla memutar bola matanya malas, begitu tau siapa yang menghubunginya.


[ "Udah kamu anter belum, La! Kenapa kamu lama sekali? Kamu gak lagi keluyuran kan!" ]


Suara nyaring Tati terdengar nyaring dari sebrang sana, membuat Layla menjauhkan benda pipih yang ada dalam genggamannya dari daun telinga kanannya.


"Tinggal satu lagi ibu, ini orangnya belom juga buka pintu apartemennya. Coba ibu telpon nomor hapenya, apa Layla titip aja ya sama pak satpam!" ujar Layla dengan melirik pintu yang masih tertutup rapat.


[ "Apartemen? Kamu tunggu aja sampe orangnya bukain pintu La! Itu buat anak temennya ayah kamu, tadi bapaknya telpon... minta kamu yang anter sendiri ke tempat anaknya." ] terang Tati.


Layla membatin, temen ayah? Jadi yang punya apartemen ini anaknya temen ayah apa gimana sih? Kenapa juga harus aku yang anter, ada pak satpam juga. Ihs ribet banget si.


[ "La, kamu denger ibu kan?" ]


"Ngapain kamu di depan apartemen ku?" teriaknya dari belakang Layla.


Layla memutar tubuhnya ke belakang, dengan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Lo?" Layla membola.


Bersambung...

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2