
...🥀🥀🥀...
"Apa ada masalah, bos?" cicit Feli yang malah melangkah maju mendekati kursi yang di duduki Danu.
"Kau tidak dengar, apa yang aku katakan pada mu?" tatapan tajam di perlihatkan Danu pada Feli.
Feli mengerucutkan bibirnya, menatap sebal Danu yang selalu dingin dan ketus saat akan di rayu Feli.
"Cihs kau ini, tidak bisa kah bersikap lebih santai pada ku? Aku ini asisten pribadi mu, teman kuliah mu, satu satunya wanita yang selama ini dekat dengan mu, dan aku ---"
"Hanya sebatas bawahan dan atasan, kau bisa ke luar sekarang!" Danu mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada Feli untuk segera meninggalkan ruang kerjanya.
Brak.
Feli menutup pintu dengan kasar. Kenapa sih, aku selalu gagal untuk mendekatinya?
Danu menggelengkan kepalanya, dasar bawahan kurang ajarrr, lebih galak asisten ketimbang bosnya sendiri! Sudah tidak butuh pekerjaan rupanya!
Jam 10 pagi akhirnya Danu memimpin rapat dengan para kepala toko, dari beberapa toko retail yang keluarganya miliki.
Danu yang terkenal dingin, tegas jika sudah memberi perintah, lupa waktu jika sudah meeting, membuatnya di beri label bos gila kerja oleh para bawahannya.
Sementara Feli duduk manis mendengarkan atasnya yang tengah memberikan pengarahan, untuk memajukan kembali usahanya setelah di landa pandemi. Daya beli konsumen semakin merosot tajam, bisa berdampak buruk pada perusahaan jika terus di biarkan.
"Good job, my bos! Calon imam ku." gumam Feli dengan tatapan mendamba.
"Ya elah, masih berapa lama lagi ini meeting berlangsung?" gumam salah satu kepala toko, sebut saja namanya Beni, teman Danu di kala masih di bangku SMP dulu.
Dreet dreet dreet.
Hingga dering dari hape Danu, baru menyadarkannya dirinya untuk mengakhiri jalannya meeting yang tengah ia pimpin.
"Baiklah, meeting kali ini saya akhiri sampai di sini. Sampai ketemu lagi bulan depan!" ucap Danu dengan tegas, dan kembali ke kursinya, merapihkan berkas yang ada di hadapannya.
"Kami duluan, pak!" ucap Meta, yang beranjak dari duduknya, membungkuk hormat, baru ke luar meninggalkan ruang meeting, di susul dengan rekan rekannya.
Bukan wajah senang yang tampak dari orang yang ke luar dari ruang meeting. Wajah mereka tampak frustasi di buat Danu dengan pembahasan meeting yang ia sampaikan.
"Gila, kepala gua udah mau pecah. Target bulan depan harus melebihi bulan ini. Gak tau apa ya, daya beli orang lagi menurun." sungut Rudi dengan menggaruk kepalanya dengan frustasi.
"Sabar sabar, namanya juga bos. Mana mau tau kalo penjualan lagi menurun." ucap Meta.
__ADS_1
"Bismilah aja, kita bisa mencapai target yang bos mau! Yang penting kan kita mau berusaha! Hasilnya ya liet nanti!" ujar Mega dengan bijak.
"Tumben lo, pemikiran lo lempeng, otak lo lagi singkron ya Mega... sama pembahasan meeting tadi?" ledek Keti.
"Sialannn lo... otak gua mh selalu singkron, emang Beni yang otaknya rada eror." sindir Mega.
"Beni kemana?" tanya Rudi, ketika baru menyadari jika rekannya tidak ada di antara mereka.
Sementara yang di omongon, masih betah di ruang meeting. Tengah merayu dan membujuk sang bos.
"Jadi gimana? Boleh kan bos! Sekalian lah, lo ikut... kapan lagi sih kita ngumpul ngumpul sama teman seangkatan kita. Mereka udah pada kangen tau sama lo!" ujar Beni dengan tatapan memohon, setengah memaksa Danu.
"Jangan mau, bos! Ini namanya ngelunjak, udah di kasih kerjaan, sekarang malah memaksa bos untuk meminjam kan villa. Mana bisa begitu! Harusnya kau sewa saja sana, masih banyakkan villa yang memang di peruntukan untuk di sewa!" sungut Feli, dengan tatapan tidak suka pada Beni.
"Heh Nona, aku tidak sedang bicara pada mu ya! Jangan ikut campur, menyambar saja ucapan orang kaya bensin! Asisten tidak sopan, jika aku yang jadi bos... sudah lama aku pecat kau!" sungut Beni dengan kesal.
Danu memberikan perintah pada Feli lewat gerakan kepalanya, membuat Feli mendengus kesal.
"Baik baik, aku pergi! Dasar pria tidak punya perasaan!" gerutu Feli menatap kesal Danu.
"Kau juga, pria tidak bermodal!" umpat Feli dengan lirikan tajam pada Beni.
Brak.
Beni dan Danu menggelengkan kepala mereka, menatap pintu yang tertutup rapat.
"Apa setiap wanita jika kesal, akan selalu membanting pintu?" tanya Danu.
"Apa setiap saat, wanita gila itu membanting pintu kantor? Aku rasa... kau harus meminta paman untuk melebarkan sayap usaha keluarga dalam bidang furniture!" celetuk Beni.
Danu mengerutkan keningnya, mendengar ocehan Beni.
"Seperti yang kau lihat, dalam seharian ini... Feli sudah 2 kali membanting pintu dengan kasar!" ujar Danu.
"Aku rasa itu karena kau terlalu mengabaikan wanita gila itu." celetuk Beni.
Danu dan Beni ke luar dari ruang meeting bersama sama. Mereka langsung menuju kantin yang ada di gedung itu. Beni dan Danu menyantap makan siang mereka dengan tenang.
Beni langsung mengfokuskan kembali pada tujuan awalnya, membujuk Danu untuk mau meminjamkan villa miliknya, agar bisa di gunakan untuk reuni SMP angkatan mereka.
"Jadi gimana, bos! Kau belum menjawab pertanyaan ku!" tanya Beni setelah meletakkan kembali secangkir kopi hitam yang telah ia seruput di atas meja.
__ADS_1
"Kapan acaranya? Hanya untuk 1 hari, tidak lebih." ucap Danu.
"Yah elah bos, 2 hari 1 malam lah, kasian kan yang bawa keluarga mereka. Masa datang ke villa cuma buat nyape nyapein badan. Kita kan mau seneng seneng, nostalgia gitu." terang Beni.
"Sudah di kasih hati, minta jantung! Jangan mau bos! Ngelunjak nih namanya!" ucap Feli dengan mendaratkan bobot tubuhnya di kursi yang ada di dekat Danu.
"Siapa yang nyuruh lo makan di sini? Cari meja lain sana!" usir Beni, dengan menunjuk jari telunjuk kanannya pada meja yang masih kosong.
"Gak ada larangan buat gue duduk di sini kan!" bantah Feli, ia menyantap makan siangnya tanpa perduli dengan perkataan Beni.
...---...
Brug brug brug.
Dengan tidak tahu malunya, Tati menggebrak gebrak gerbang hitam yang menjulang tinggi di siang bolong.
Tati kembali memancing keributan, dengan suaranya yang naik satu oktaf, berteriak meminta Sifanye membuka pintu gerbang.
"Sifanye, buka gerbangnya! Aku tahu kamu pasti ada di dalam kan! kembalikan putri ku! Apa kau tidak tau jika ia masih sakit! Bisa bisanya kalian membawa Layla ke luar dari rumah sakit tanpa memberi tahu ku! Woy, buka gerbangnya!"
Pak satpam yang berjaga di pos, tidak berani membukakan gerbang tanpa seizin Tuannya.
"Bagaimana ini, bisa memancing penghuni lain untuk berdatangan, jika terus di biarkan!" ucap pak Soleh.
"Biar aku yang katakan pada Nyonya!" ucap Sodik dengan melangkah masuk ke rumah besar.
Di dalam kamar, berlantai 2.
Layla yang merasa sudah lebih baik, memilih mengerjakan tugas dari gurunya. Dengan menyumbat ke dua telinganya dengan bola kapas.
"Tumben banget mama nyetel musik, udah keras banget lagi volumenya!" sungut Layla dengan tatapan fokus pada buku yang ada di hadapannya, duduk berselonjor kaki di atas kasur yang berukuran besar.
Ting nong ting nong.
"Astaga ini rumah apa bioskop sih! Pantes aja kalo Nyonya Sifanye gak denger suara teriakan Nyonya Tati. Lah wong Nyonya Sifanye lagi sibuk sama bioskop buatannya sendiri!" gumam Sodik.
Pria dengan seragam satpam, berdiri di depan pintu besar yang sudah terbuka lebar, suara dentuman musik yang amat keras, langsung terdengar di telinga.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu...