Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bentuk tim


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Danu mengerutkan kening nya. "Apa itu berfungsi dengan baik, pak? Siapa yang mengoperasikan nya?" tangan Danu terulur, menunjuk salah satu CCTV dalam gudang, yang menarik perhatian nya.


"I- itu Tuan?" pak Somad bertanya dengan tergagap.


"Iya itu, memang kau lihat aku menunjuk ke arah mana?" tanya Danu dengan nada tegas.


Baskoro mengikuti arah yang di tunjuk putra nya, lalu menatap ke arah pak Somad yang tampak tergagap, dan berubah ubah dalam memberikan keterangan.


"I- itu, karena beberapa hari yang lalu ada masalah pada teknisi... CCTV nya sempat mati, Tuan." pak Somad menyeka peluh yang ke luar dari kening nya dengan lengan nya.


Pak Somad menelan saliva nya dengan sulit, mati gue... gimana kalo Tuan Danu dan pak Baskoro menaruh curiga nya ke gue? Gak menutup mungkinan kalo gue bakal di jadikan tersangka.


"Masalah teknisi gimana maksud nya?" tanya Baskoro dengan penuh selidik.


"Kabel nya di gigitin tikus, pak! Ja- jadi nya kita gak bisa tau apa aja terjadi dalam beberapa hari itu." kilah pak Somad, menjawab nya dengan setenang mungkin.


Danu membuang nafas nya dengan kasar. Menatap Arsandi dengan penuh arti. Arsandi yang mengerti dengan tatapan Danu pun melangkah mendekat, dan berdiri di samping Tuan nya.


"Pak Somad tolong temani papa ku, melihat lokasi yang lain. Foto pada bagian yang menurut bapak itu mencurigakan. Nanti kita bertemu lagi di sini!" titah Danu.


Baskoro mengangguk mengerti dengan arahan yang di berikan Danu.


Aku rasa, bocah nakal itu mencurigai seseorang. Seseorang yang sangat dekat dan sangat mengerti akan lokasi gudang ini. batin Baskoro.


Danu dan Arsandi menyusuri gudang, dengan papa Baskoro yang kini bersama dengan pak Somad, mereka membentuk 2 tim untuk mencari barang yang bisa di jadikan bukti.


"Apa kau sepemikiran dengan ku?" tanya Danu.


"Mungkin, Tuan. Menurut perkiraan Tuan, apa pak Wisnu dan pak Somad terlibat?" tanya Arsandi.


"Entah lah, tapi aku aneh aja dengan pengakuan pak Somad, dengan perubahan sikap Wisnu. Dan alasan pak Somad mengenai kabel yang di gigit tikus. Tikus pala item kali mah!" jelas Danu panjang lebar, mengingat alasan yang di ungkap pak Somad.


"Apa tidak sebaik nya kita bentuk tim, dan menghubungi pengacara, Tuan!" ujar Arsandi.


"Lakukan yang menurut mu benar. Aku ingin masalah gudang ini selesai sebelum kepergian ku ke puncak." jelas Danu lagi.


Arsandi mengerutkan kening nya. "Gak salah Tuan? Tuan bukan nya sudah pergi ke Bali untuk bulmad!" cicit Arsandi, mengingtakan kembali Tuan nya.


Danu menatap aneh Arsandi. "Apa itu bulmad?" tanya Danu.


"Bulmad, ya bulan madu lah Tuan. Gitu aja kok gak ngerti!" ledek Arsandi dengan terkekeh.


Tak.

__ADS_1


Danu mendaratkan kepalan tangan nya di puncak kepala Arsandi.


"Awhhhh!" pekik Arsandi.


"Kau itu sedang mentertawakan ku? Atau mengejek ku?" sungut Danu.


"Maaf Tuan!"


"Cepat kau bentuk tim untuk menyelesaikan kasus ini! Aku mau laporan besok setelah jam makan siang berakhir, ada di atas meja kerja ku!" titah Danu dengan tegas, tidak ingin di bantah.


"A- apa Tuan? Besok setelah jam makan siang usai?" tanya Arsandi, memastikan apa yang ia dengar.


"Aku tidak harus mengulang nya kan?" Danu menatap tajam Arsandi.


"Baik Tuan, laporan nya besok siang akan ada di atas meja kerja Tuan!" cicit Arsandi, menyanggupi apa yang di minta tuan nya.


...---...


Ceklek.


"Sayang, kau di mana?" tanya Danu, saat tidak mendapati Layla di kamar mereka.


"Aku di sini, ka!"


Suara Layla tampak terdengar dari arah balkon yang terdapat pada kamar mereka berdua.


"Aku ada ka, aku menunggu mu pulang. Aku buatkan minum ya!" Layla beranjak dari duduk nya. Hendak melangkah meninggalkan Danu.


"Bukan minum yang aku butuhkan saat ini, sayang!" ucap Danu dengan menggenggammm jemari Layla.


Grap.


"Lalu... apa yang kau butuhkan jika bukan minum sayang ku, hem?" tanya Layla dengan suara yang menggoda, dan mendayu dayu.


Sreek.


Danu menarikkk tubuh Layla ke dalam dekapan nya, hingga ke dua nya tanpa jarak, dengan deru nafas yang sama sama terasa di ke dua nya.


"Beri kan aku ciuman yang hottt, dan yang panjang!" Danu memainkan alis nya naik turun.


"Jangan nakal!" rengek Layla.


"Siapa yang nakal? Aku kan hanya meminta asupan dari mu sayang. Asupan yang dapat mengembali kan aku pada fokus ku dalam bekerja." kilah Danu, mencari alasan untuk mendapatkan apa yang ia ingin kan.


"Iya tapi kan kau mmmpppppp!"

__ADS_1


Suara protes yang hendak Layla serukan, kini berganti dengan suara desahannn, dan erangannn yang meluncur bebas dari bibir Layla.


Sekali tarikan, Danu berhasil membawa tubuh Layla dalam gendongan nya, tanpa melepasakan tautannn bibir ke dua nya.


Danu membaringkan tubuh Layla dengan hati hati di atas tempat tidur. Melepasss kan tautannn di bibir nya.


"Jangan ke bablasan ka!" rengek Layla dengan memalingkan wajah dari Danu.


"Tidak akan."


Danu memiringkan tubuh Layla, menyelusuppp kan tangan nya di balik bluse yang Layla kenakan. Memberikan sentuhan, dan kecupan kecupan kecil di punggung mulus Layla.


Tampak di mata nya pula, bekas tanda tanda kemerahan di sana, hasil karya bibir nya, tanda kepemilikan nya atas tubuh Layla.


Layla mencengrammm kain sprei. Dengan tatapan menikmati. "Sudah ka, cukup!" ucap Layla, saat Danu memainkan jemari nya pada milik sensitifff Layla di bawah sana.


"Apa kau menginginkan nya sayang?" tanya Danu, dengan suara yang mendamba, merindukan sesuatu yang seharus nya sudah lama ia dapat.


"Jangan di tanya! Kan kaka sendiri yang mengatakan nya! Tunggu aku lulus, a- aku belum siap ka!" bantah Layla.


"Tidak akan sakit sayang! Aku janji, hanya seperti di gigit semut! Boleh ya!" bujuk Danu. "Hanya srbentar, aku janji!" pinta Danu lagi.


"Tolong ka! A- aku takut, a- aku belum siap!" ucap Layla dengan lirih.


'Maaf ka, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna di mata mu! Beri aku waktu lagi, untuk menerima diri ku sebagai istri mu.' batin Layla.


"Apa aku harus memaksa mu, sayang?" ucap Danu dengan putus asa.


Gimana gak mau putus asa, senjata Danu aja di bawah sana udah sangat mengeras, dan berdiri tegak, siap menghunus ke pemilik nya.


"Sayang!" seru Danu dengan putus asa lagi.


"Gak ka."


Nasib baik masih mendukung Layla. Saat pintu kamar di ketuk dari luar, di susul dengan suara seruan.


Tok tok tok.


"Maaf Tuan, saya mengganggu. Di bawah ada seorang wanita yang meminta untuk bertemu dengan Tuan. Kata nya penting, Tuan. Sangat mendesak."


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


...Mampir sini nyok! 🤭...



__ADS_2