Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Berubah haluan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Tapi resiko nya, Danu!"


"Gue bakal tanggung resiko nya, kalo perlu... peralatan medis gue beli, gue buat satu ruang yang persis kaya ruang rawat Layla di rumah sakit!" ujar Danu dengan kesungguhan.


Dengan desakan dari Danu, dokter Rum memperbolehkan Layla untuk pulang saat itu juga. Setelah di bantu dokter Rum yang mengurus administrasi dan tetekkk bengekkk Layla.


"Oke, jika kamu memaksa. Dengan catetan, jika terjadi apa apa di kemudian hari dengan istri mu, pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab." ucap dokter Rum tegas.


'Aku harap, ini bisa merubah keputusan Danu. Sangat tidak baik, jika istri nya sampai salah dalam penanganan.' batin dokter Rum, wanita bergelar doktor psikolog itu menatap Danu dengan penuh harap.


Danu beranjak dari duduk nya, "Aku tunggu kabar baik dari mu, jika urusan kepulangan Layla sudah selesai kamu urus!" seru Danu, melangkah dengan ringan menuju ruang rawat Layla.


Dengan benda pipih nya, Danu berbicara dengan serius, memberikan arahan akan apa saja yang harus di kerjakan oleh orang yang ia hubungi.


^^^"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arsandi, begitu sambungan telpon nya tersambung.^^^


[ "Aku menghubungi mu, pasti karena ada yang harus kamu kerjakan." ]


^^^"Apa Tuan yang bisa saya kerjakan?" tanya Arsandi.^^^


[ "Aku mau kamu cari beberapa fasilitas medis untuk di letakkan di rumah, satu ruang khusus sama persis seperti beberapa alat medis yang di butuhkan Layla. Aku ingin Layla di rawat di rumah." ]


^^^"Untuk dokter nya, bagaimana Tuan?" tanya Arsandi.^^^


[ "Pakai saja dokter keluarga, tapi jika memang Layla membutuhkan penanganan khusus, lakukan saja sesuai dengan apa yang di butuhkan Layla." ]


^^^"Ada lagi, Tuan?" tanya Arsandi.^^^


[ "Aku ingin semua fasilitas yang terbaik, obat obatan terbaik, tenaga medis yang terbaik dalam bidang nya!" ]


^^^"Baik Tuan Muda."^^^


Kini Danu langsung mengalihkan sambungan telepon nya, pada orang kepercayaan nya yang berada di kediaman nya.


[ "Pak Adi, ini saya Danu... siapkan satu ruang kosong di lantai satu, biar nanti akan di isi dengan peralatan medis yang akan di butuhkan untuk kesembuhan Layla." ] titah Danu, berbicara langsung pada inti nya terhadap orang yang tengah ia hubungi.


^^^"Baik Tuan, mau kamar yang dekat kolam renang, atau kamar yang dekat dengan taman, Tuan?" tanya Adi, si kepala pelayan.^^^


[ "Dekat taman saja, aku rasa itu akan sangat baik untuk Layla." ]

__ADS_1


^^^"Baik Tuan, kalo begitu akan langsung saya siapkan kamar yang di inginkan Tuan untuk Nona Muda."^^^


Danu langsung menyimpan hape nya ke dalam saku celana nya. Lalu ia menghembus kan nafas lega, setelah semua yang ia rencanakan dengan matang, akhir nya akan segera terealisasi.


Danu mengepalkan tangan nya. Melanjutkan tujuan nya ke arah kamar Layla di rawat.


'Kali ini aku gak boleh sampe gegabah, aku gak bisa liet Layla dalam penderitaan lagi! Aku gak mau Layla tersiksa lagi lahir mau pun batin nya.' tekad Danu meski hanya ia ucapkan dalam hati.


Danu yang hendak memasuki ruang rawat di mana Layla berada, menghentikan langkah kaki nya. Saat telinga nya mendengar ocehan dari dalam ruang rawat.


"Setega itu La, Ratna sama lo?" tanya Mery yang di buat hampir gak percaya dengan cerita Layla, dan tatapan Mery mengarah pada luka luka yang terdapat pada lengan dan kaki Layla.


"Saat itu gue ngerasa gak punya harapan untuk bisa terlepasss dari tangan Ratna. Dunia gue seakan runtuh." ucap Layla dengan tatapan sendu.


"Untung nya pak Danu langsung mengerahkan beberapa anak buah nya untuk mencari keberadaan lo, setelah tau yang bawa lo pergi itu Ratna dan 2 pria berbadan besar." ucap Deri.


"Iya La, lo beruntung banget bisa milikin pak Danu, pak Danu itu cinta banget sama lo, La!" seru Nina dengan bersemangat.


"Cinta banget?" Layla mengulang kembali perkataan Nina.


Nina mengangguk, begitu pun dengan Mery dan Deri.


"Babak belur? Hampir mau mampusss?" Layla mengulang kembali perkataan Deri, ia menelan saliva nya dengan sulit.


"Iya La, gue sama Juni liet sendiri kok, gimana cara pak Danu kasih hukuman yang setimpal sama Arsan. Sadisss gileeee!" sungut Deri.


"Terus gimana dengan Basuki? Apa yang ka Danu lakuin sama pria tua itu?" tanya Layla penasaran.


"Kalo itu, gue gak tau La. Gue gak ikut dalam pencarian yang berikut nya. Pak Danu nyerahin pencarian Basuki ke orang yang benar benar terlatih." ujar Deri, menghembuskan nafas dengan kasar.


"Kenapa lo? Capeeee amat!" ledek Mery.


"Cape gue, nguber teman lo... tapi kalah cepet gue sama pak guru." gumam Deri dengan lirih.


'Jangan bilang kalo Deri naksir Layla, yang benar aja, Deri sama aja suka sama bini orang dong!' pikir Nina dengan tatapan menelisik Deri.


Plak.


Nina menggeprak lengan Deri cukup keras.


"Awwwwh sakit begeee, ini tangan apa batu si! Keras banget lu! Gila! Panas nih lengan gue! Anjiiim benar!" sungut Deri, mengelusss lengan nya yang di geprak Nina.

__ADS_1


"Ini batu, bukan tangan!


Jaga bicara lo! Tar kalo sampe pak Danu dengar ocehan lo, mao lo bernasib tragis kaya Arsan. Hampir mampusss!" cicit Nina, menakut nakuti Deri dengan bergidik ngeri.


"Ihsss ogah, itu kan dulu... tapi kalo sekarang gue mau berubah haluan, cinta gue sekarang cuma buat lo, Nin!" ucap Deri dengan memainkan alis naik turun, menggoda Nina dengan tatapan nya.


"Dasar Deri, udah siang gini otak nya makin koslet!" umpat Nina, namun mencuri pandang terhadap Deri.


Layla tersenyum, mendengar ocehan Nina, Deri dan Mery. Meski dalam hati kecil nya, Layla tengah berusaha keras, untuk melupakan kejadian yang menimpa nya.


Mery menoleh ke arah Nina dan Deri bergantian, lalu berpindah ke Layla.


"Telinga gue, salah denger apa gimana sih?" Mery mengucek daun telinga nya dengan jari nya.


"Lo kaga salah denger, bege!" umpat Deri, Deri menatap Nina dengan lekat.


"Mulai detik ini, kita pacaran oke, Nin!" seru Deri dengan tegas, menatap serius Nina.


"Dasar begooo!" seru Mery, dengan menoyor kepala Deri dengan gemas.


"Kepala gue udah di fitrahin oy! Kamprettt lo, anjiiimm Mery!" umpat Deri merapihkan tatanan rambut nya dengan jemari nya.


"Dasar pitak! Kepala pitak bae pake di elusss elusss, pake di sisir, sisir juga ogah sama lu!" umpat Mery, melihat tingkah Deri.


"Lu apaan sih Mer! Kaga lu, kaga Nina, kaga Layla, sama!" gerutu Deri kesal.


"Ada juga gue yang kesel. Lo nembak gue, tapi mana persiapan lo? Gak ada romantis nya sama sekali lo!" Nina memutar bola mata nya dengan malas.


"Siapa juga yang nembak lo? Kan gue bilang, mulai detik ini, kita pacaran... lo pacaran sama gue! Jelas kaga? Gue gak nanya lo kan, gak minta pendapat lo buat nerima gue apa gak?" ucap Deri dengan terkekeh, menatap gemas Nina dengan mulut menganga.


"Deriiiiiii!"


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅 biar ora sepi sepi amat gitu ini novel. Masa cuma tuyul doang yang aktif komen. Yang laen, mana suara nya?


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


__ADS_2