
...🥀🥀🥀...
"Suapi aku!" pinta Danu yang kini sudah duduk di dekat Layla.
"A- apa? Sekarang? Malu ka! Ada yang melihat!" kilah Layla dengan wajah merona, mengedarkan pandangan nya ke sekitar.
'Aku gak salah dengar, Tuan Danu meminta di suapi oleh gadis itu? Apa mungkin gadis itu istri nya? Tapi kan masih pelajar!' batin Niar menatap gak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat.
"Gak ada pilihan buat kamu La!" seru Danu tegas, memainkan alis nya naik turun.
"Hihihi itu baru pak Danu yang bucin, makan aja mau nya di suapi!" ledek Mery yang mulai menyuapkan makanan.
"Aku juga mau di suapi oleh mu!" seru Arsandi duduk di samping Mery dengan wajah datar.
"Uhuk uhuk uhuk!" Mery tersendak makanan nya sendiri, melepasss kan sendok dan garpu dari genggamannn tangan nya, tangan kanan nya menguruttt dada nya sendiri.
Arsandi meraih minuman nya lalu mendekatkan bibir gelas ke depan bibir Mery.
"Makan tuh pelan pelan! Jangan seperti anak kecil!" tanpa perduli, Arsandi semakin membuat Mery meminum minuman nya itu.
'Gue tersendak juga karena lu, pak Arsandi si kepala batu!' Mery mengumpat dengan mata melotot, dengan terpaksaaa meminum nya.
"Anak pintar!" puji Arsandi, saat Mery sudah selesai dengan minum nya. Ia meletakkan kembali gelas ke meja di hadapan nya.
"Jangan melihat mereka terus, habiskan makan nya!" Danu menyuapkan makanan nya ke depan bibir Layla.
"Aku bisa makan sendiri!" Layla menelan saliva nya dengan sulit.
'Dasar begooo, bisa bisa nya gue malah jadi merhatiin Mery sama bang Arsandi! Ketawan dah sama ka Danu, tapi apa ia dari tadi ka Danu merhatiin gue?' batin Layla tanda tanya besar di kepala nya.
"Kalian jangan buat gue iri dong, calon jomblo gue meronta ronta nih!" seru Nina dengan nada di buat sedih.
"Jadi kamu emang pengen banget kita berakhir? Apa udah ada cowok lain di hati kamu, Nina?" tanya Deri yang berdiri gak jauh dari Nina.
"De- Deri? Se- sejak kapan lo ada di sini? Gu- gue gak pengen berakhir kalo lo benar bisa yakinin gue, kalo itu cewek beneran sepupu lo!" Nina terperanjat melihat keberadaan Deri dengan wajah tegas, menyampirkan tas di satu bahu nya.
"Tunggu apa lagi Niar! Buatkan seporsi makanan yang sama untuk Deri!" titah Danu dengan datar.
"Ba- baik Tuan, aku di siapkan segera." ucap Niar.
Beberapa menit kemudian.
"Makan siang kok mencekammm banget sih La! Gak lagi lagi deh makan siang kaya gini, bukan nya kenyang, teganggg yang ada... cacing cacing dalam perut gue!" gerutu Nina dengan tangan yang memegang pena, di hadapkan dengan buku pelajaran.
"Sama, gue juga ogah. Mending lain kali kita ngerjain tugas di mana gitu, jauh dari jangkauan suami lo itu, La!" Mery angkat bicara.
"Maaf deh, kalo kehadiran ka Danu buat kalian gak nyaman. Gue juga kan gak tau bakal kaya gini jadi nya." Layla tertunduk lesu, berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan tugas nya.
__ADS_1
"Kalian gak usah banyak protes. Terutama buat kamu Nina! Kalo ada masalah, harus nya kamu dengar aku baik baik! Kita bicarakan masalah kita, biar semua nya tuntas, kamu gak salah paham terus ke aku! Ngerti kamu!" omel Deri dengan tatapan mengintimidasi Nina.
"Hem!" Nina hanya berdeham, tatapan nya kembali fokus pada buku yang menjadi bahan penyelesaian tugas.
"Lo kok, bisa tau kita ada di sini. Der?" tanya Mery.
"Nah iya benar, tau dari mana? Kan lo pulang duluan!" seru Nina, menatap Deri menyelidik.
"Niat nya ia mau pulang duluan, cuma kan aku dengar kalian mau ngerjain tugas bareng. Di jalan aku malah gak sengaja lihat Mery dan pak Arsandi, jadi apa salah nya jika aku ikutin. Ternyata aku malah di kejutkan dengan pernyataan mu, sayang!" Deri melirik tajam Nina.
"Salah mu juga, terlalu dekat dengan sepupu mu itu! Harap tau batasan untuk laki laki yang sudah memiliki pacar! Baik itu terhadap sepupu, atau adik sekali pun! Pacar juga bisa kan cemburu!" gerutu Nina, menatap tajam balik Deri.
"Cukup manusiawi dan masuk akal di dengar nya!" seru Deri.
Ke esokan pagi nya di meja makan.
"Kenapa melihat ku? Ada yang aneh?" tanya Layla, merasa di perhatikan Danu.
"Aku sudah memberi mu makan yang banyak, sehat dan bergizi. Tapi kenapa aku merasa hanya sedikit berat tubuh mu yang bertambah!" ucap Danu, menumpuk ke dua tangan nya di atas meja makan.
'Ka Danu memperhatikan sampai ke situ?' Layla di buat mengerjap menatap Danu, dengan semburat di pipi nya.
"Lihat itu, masih lebih besar tangan ku dari pada buah kembar mu!" Danu mengulurkan tangan nya, seolah tengah meremasss sesuatu.
Plak.
Layla berseru dengan marah. "Masih pagi, pikiran nya udah ngeres! Minta di sapu nih kepala! Aku udah kenyang!" Layla beranjak dari duduk nya, menyudahi sarapan nya.
Grap.
Danu menghentikan langkah Layla, dengan menggenggammm pergelangan tangan nya.
"Maaf jika aku sudah membuat mu tersinggung! Habis kan dulu sarapan mu!" ucap Danu dengan lembut, menatap Layla penuh harap.
Layla berkata dengan ketus. "Gak dengar, aku bilang udah kenyang! Aku mau berangkat sekarang, kalo ka Danu gak mau antar, aku bisa pergi sekolah sendiri!" Layla berusaha menyingkirkan tangan Danu dari pergelangan tangan nya.
Sreeek.
Danu menarikkk pinggang Layla dengan tangan nya yang lain.
"Akkhh!" pekik Layla.
Dugh.
Layla jatuh di pangkuan Danu, dengan Danu yang menyadar pada tubuh Layla, mengeratkan tangan nya yang melingkar di pinggang Layla.
Danu mendekatkan bibir nya di leher Layla, menyusuri leher jenjang sang istri.
__ADS_1
"Kita berangkat sama sama, hari ini ada jam pagi ku kan di kelas mu!" ucap Danu, membuat Layla meremanggg untuk sesaat karena hembusan nafas Danu.
'Apa apaan sih ka Danu ini! Kenapa cepat banget berubah nya!' pikir Layla dengan leher yang menggeliattt.
"I- iya, tapi menyikir dulu! Mau lanjut makan gimana aku kaya gini!" protes Layla dengan suara melemah, berusaha membuat Danu menjauh dari nya.
Danu kembali mendekatkan bibir nya di telinga Layla. "Lanjut kan sarapan mu dengan posisi seperti ini, atau mau kembali ke kamar. Aku buat kamu gak bisa sekolah beberapa hari ke depan?" seru Danu dengan penuh penekanan.
Layla menelan saliva nya dengan sulit. 'Ka Danu gila!' Layla dengan cepat memalingkan wajah, saat Danu memperlihat kan tatapan nakalll nya.
Dengan posisi Layla di pangkuan Danu, Layla melanjutkan sarapan nya dengan di suapi Danu.
'Kalo udah kaya gini, Nona Layla tampak tertekan bersama dengan Tuan Danu!' batin pak Dedy.
'Sweet banget sih Tuan Danu sama Nona Layla.' batin pelayan yang melihat ke dua nya.
"Su- sudah! A- aku mau berangkat sekarang!" seru Layla dengan masih gugup.
Danu beranjak dari duduk nya, dengan Layla yang berada dalam gendongan nya.
"A- aku bisa jalan sendiri ka!" protes Layla.
"Aku masih bisa menggendong mu! Aku tidak akan melepaskannn mu. Meski pun kau tidak ingin melingkar kan ke dua tangan mu di leher ku!" ucap Danu, melihat Layla yang malah menutupi si kembar dengan ke dua tangan nya.
Layla buru buru mengalungkan ke dua tangan nya di leher Danu.
Danu memasangkan sabuk pengamannn di tubuh Layla, dengan sangat dekat.
"Kenapa ini? Kemarin aku tidak melihat ini!" Danu menunjuk kantung mata Layla meski gak terlalu besar.
"Kenapa apa nya?" Layla merabaaa bagian mata nya yang di sentuhhh Danu.
"Ada warna kecoklatan di sana!" Danu mencoba menjelaskan pada Layla.
"Apa sih! Gak jelas banget!" gumam Layla pelan dengan kening mengkerut, gak ngerti perjelasan Danu.
"Coba aku lihat!" Layla hendak mendongakkan wajah nya, untuk bisa melihat hal aneh pada mata nya ke arah kaca spion tengah.
Dugh.
"Awwwhhhh!"
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
__ADS_1
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya