
...🥀🥀🥀...
"Ini gila nama nya! Kamu nyeselin banget sih! Kamu mau ngerjain aku!" omel Layla, dengan menyembunyikan wajah nya di lengan kekar Danu.
"Ahahahha, maaf sayang! Gak mungkin kan aku ajak kamu nonton film dewasa!" Danu menahan tawa nya, melihat Layla yang ketakutan.
"Kan bisa cari film romantis apa komedi, ini malah pilih nonton horor. Yang bener aja apa Danu!" ucap Layla dengan suara yang di buat semelas mungkin.
"Jangan mengeluh terus, sayang... nikmati lah apa yang di tampilkan di layar. Kasian lo, orang film udah cape cape buat film hehehe!" bujuk Danu.
"Menyebalkan." sungut Layla.
Di dalam bioskop selama 2 jam, sudah terasa satu tahun buat Layla. Menyiksa diri nya yang gak suka film horor.
"Udah jangan bete lagi!" Danu merangkul Layla, ke luar dari gedung bioskop.
"Jelas bete." sungut Layla.
"Mau makan es krim?" tawar Danu.
"Mau mau!" Layla menganggukkan kepala nya dengan cepat.
Krukkk krukkk krukkk.
Tanpa permisi, cacing cacing dalam perut Layla ikut berteriak. Mengingatkan pada Tuan nya untuk mengisi nya juga.
Dengan canggung, dan tangan yang menggaruk kepala nya yang tidak gatal, Layla bercicit ria.
"Maaf, a- aku juga laper hehehe!" ucap Layla dengan malu, pipi bersemu.
Danu menyunggingkan senyum nya pada Layla, semakin mengeratkan rangkulan nya.
"Kau sungguh istri ku yang menggemaskan!" celetuk Danu, dengan bunga bunga yang berkembang dalam hati nya.
"Jangan membuat ku terbang!" kekeh Layla.
Ke dua nya mengayunkan ke dua kaki nya ke arah restoran cepat saji, melupakan perbedaan usia ke dua nya, dengan sesekali Layla yang harus mendongak kan kepala nya, untuk menatap wajah rupawan sang suami.
Restoran cepat saji dengan icon badut berhidung merah lah, yang mereka pilih untuk mengisi perut mereka. Restoran yang berada di lantai 2 mall tersebut. Dekat dengan tempat bermain anak.
Saat Layla dan Danu, berpapasan dengan pengunjung yang tidak menyukai ke dua nya bersama. Ada saja cibiran, yang terlontar untuk Layla.
'Lihat itu, gak cocok banget... cowok nya putih, keren, lah yang cewek item manis. Cocokan juga sama gue!' cicir salah satu pengunjung mall wanita.
'Suuutttt cocokan juga sama gue, lo kan pendek. Kalo gue tinggi!' cibir sang teman.
'Ihs, kalian gak pantes buat itu cowok! Pantesan juga gue!'
__ADS_1
Layla yang mendengar nya, mengepal kan tangan nya. Menatap Danu dengan sendu.
"Gak usah di perduliin, yang penting bagaimana hati kamu pada orang lain. Itu yang aku lihat dari kamu!" cicit Danu, lalu mengecup berkali kali kening dan puncak kepala Layla.
Cup cup cup cup.
'Aaaaaahhhh gila, sweeet banget sih itu cowok! Mau dong, gue punya cowok kaya gitu!' teriak salah satu cewek yang tadi mencibir Layla.
Bak di guyur air, hati Layla yang kering kini seakan segar terkena kata kata manis Danu.
Dring dring dring.
Hape Layla berdering.
"Siapa yang menelpon mu, sayang?" tanya Danu dengan tatapan penuh perhatian.
"Nina."
Danu dan Layla, memilih meja yang ada di sudut ruang, berada di paling belakang restoran.
"Ya udah, di jawab aja." Danu menarik sebuah kursi dan mendudukkan Layla di sana.
"Makasih!" ucap Layla dengan merona, udah kaya putri raja aja... duduk bae, kursi pake di mundurin.
Layla berbicara di telepon dengan Nina, sementara Danu mengantri di kasir untuk membeli apa yang akan ia dan Layla makan.
"Iya, kenapa Nin?" tanya Layla, dengan bebda pipih yang kini menempelll pada daun telinga kanan nya.
"Gue lagi ada di lantai 2, isi perut... sedikit laper gue, Nin!" ucap Layla dengan tatapan nya yang terus mengarah dan, memperhatikan sang suami.
Layla menajamkan pandangan nya, saat melihat seorang wanita dengan tampilan yang modis, usia yang tidak jauh berbeda dengan Danu, tampak begitu akrab dengan Danu.
Tangan kiri Layla mengepalll, gilaaa banget itu cewe! Siapa sih! Maen pegang pegang lengan laki gue! Danu juga nih, bukan nya marah, tepis kek itu tangan, ihsss nyeselin banget ngeliet nya.
["Lah terus gimana ini... laki lo nyaman gak kalo kita bareng sama lo?"] tanya Nina dengan menyelidik.
"Emmm belum tau juga sih!" ucap Layla dengan membuang nafas nya dengan kasar.
["Tapi ini waktu yang tepat juga sih La, buat lo jujur ama Deri. Soal hubungan lo sama pak Danu."]
"I- iya udah, tar coba gue jujur deh sama Deri." ujar Layla, yang ingin buru buru menyudahi panggilan telepon nya.
["Ya udah, kita meluncur ke sana ya! Btw, oleh oleh buat gue, lo gak lupa kan?"]
"Oleh oleh nya besok aja di sekolah, udah ah... ngoceh bae lo! Gak tau apa... gwe lagi bete nih!"
Layla langsung memutuskan sambungan telepon nya, beranjak dari duduk nya dan mengayunkan kaki nya dengan cepat menghampiri Danu. Hati Layla tampak terbakar, melihat tangan si wanita yang dengan berani nya, merapihkan kerah kemeja Danu.
__ADS_1
Ke dua mata Layla tampak melotot tajam, ke dua tangan meremasss tali tas selempang yang ia kenakan, nafas Layla seakan memburu.
Bugh.
Dengan sengaja Layla membentur kan lengan nya dengan lengan si wanita yang tidak ia kenal. Wanita yang sudah berhasil membuat Layla terbakarrr cemburu.
Keras nya dorongan lengan Layla, membuat tubuh wanita itu sampai condong ke depan, dan satu buah dada nya yang besar, padat, berisi mengenai puncak kepala bocah kecil yang berada di antrian depan nya.
Bocah kecil itu bahkan sampai menoleh ke belakang, untuk melihat apa yang terjadi. Dengan tangan nya yang mengelusss puncak kepala nya.
"Akkkhhhh liet dong pake mata, gak tau ada orang apa!" sungut si wanita dengan kesal.
"Maaf maaf, maaf tante, seperti nya tadi itu kaki aku gak sengaja kesandung!" cicit Layla, menunjuk kan wajah bersalah nya.
"Kamu gak apa apa, sayang? Kaki kamu sakit gak? Apa ada yang luka? Coba biar aku lihat!" cecar Danu dengan posesif nya.
Danu benar benar mengecek kondisi Layla, dengan ke dua tangan di lengan Layla. Menggeser tubuh Layla ke kiri dan kanan. Tatapan nya Danu tajam pada kaki dan lutut Layla.
Sreek.
Si wanita menarik lengan Danu dari lengan Layla.
"Kamu panggil dia siapa, Danu?" tanya nya dengan penuh selidik.
"Kenalin bu Helen, dia ini tunangan ku, nama nya Layla." ucap Danu dengan memperkenalkan Layla pada wanita yang ada di depan nya.
Danu menarik Layla ke dalam rangkulan nya. "Manis bukan?" ucap Danu lagi.
Deg.
Layla tampak terkejut dengan pengakuan Danu. Gue bukan tunangan nya, tapi istri nya. Kenapa Danu gak kenalin gue sebagai istri? Benaran nih, ada udang di balik batu. Siapa sih ini cewek, cantik banget. Jangan bilang Danu suka sama ini cewek.
Wanita yang di sebut Helen, mengerutkan kening nya dengan tatapan yang tidak percaya.
"A- apa? Gadis ini tunangan mu, Danu? Kalian jadi sudah bertunangan?" tanya Helen dengan memindai gadis yang di rangkul Danu dengan posesif nya.
"Tinggal menunggu saya lulus, kami menikah!" cicit Layla, mengulurkan tangan kanan nya pada Helen.
"Hah?" Helen terbelalak.
"Sejak kapan kalian tunangan? Kalian bukan nya sepupuan?"
Dari arah pintu masuk restoran, suara seorang laki laki yang di kenal Danu dan Layla, menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sejak kapan, kalian berada di sana?" tanya Danu dengan datar.
Bersambung...
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅