Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Gak salah pilih


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sreek.


"Tolooong!" teriak Layla.


Dari arah belakang, sebuah tangan besar menarikkk pergelangan tangan Layla. Hingga membuat Layla ikut berbalik badan spontan berteriak kencang.


'Siapa lagi ini orang?' batin Layla penuh tanya, berusaha melepasakannn pergelangan tangan nya yang semakin di cengrammm erat.


Belum usai keterkejutan nya, sebuah kepalan tangan melintas melewati wajah Layla, mendaratkan kepalannn tangan nya tepat di wajah pria yang masih memegangi tangan Layla.


Bugh.


"Awwwhhhhh hidung gua patah!" teraik pria yang baru aja mendapat bogemmm mentah di wajah nya.


"Dasar pengecut! Nih gue tambahin!" seru Layla, merenggangkan tangan nya setelah terlepas dari cengramannn.


Dugh.


Layla mengangkat kaki kanan nya, lalu mendaratakan tendangan ke arah selangkangannn pria yang ada di hadapan nya dengan cukup keras.


"Waduuuuhhhhh telor gua pecahhh!" pekik nya dengan suara tertahannn, merasakan nyeriii, sakit, perih menjadi satu hingga membuat nya berjingkat, dengan wajah kesakitannn.


"Sukurin lo!" seru Layla.


Layla menoleh ke belakang, pria yang baru aja menolong nya. Hanya menggelengkan kepala nya.


'Beneran si bos gak salah pilih bini! Udah dapat daon muda, berani juga nih anak ngelawan orang yang udah jelas pasti mau menculik nya!' batin Leo dengan gelengan kepala, menatap kasihan pria yang tampak mengenaskan di mata nya itu.


Sreeek.


"Mau nunggu kita ke tangkep, baru kabur?" tanya Layla sambil menarikkk tangan supir nya.


Layla melepaskannn tangan nya dari sang supir, dan berjalan ke arah kursi penumpang. Sementara Doni langsung masuk ke kursi belakang kemudi.


"Dasar begooo! Kenapa lo lepasinnn tangan nya!" omel Leo, berdiri di depan Poltak.


"Jangan salahin saya! Bos sendiri bodohhh, udah tau saya celaka... bukan nya di bantu malah diam aja di mobil!" sungut Poltak gak mau kalah.

__ADS_1


"Nona gak apa apa?" tanya Doni, melirik sekilas ke arah Layla.


"Kamu pikir, saya ada yang terluka? Gak lah, orang situ langsung cepat tanggep kok!" seru Layla dengan duduk menyandar pada sandaran kursi.


"Syukur lah, saya pikir Nona hanya bisa berteriak minta tolong tanpa berani melawan!" ucap Doni dengan nada meremehkan.


"Ya gak lah, itu cuma trik aja kali. Selama orang itu gak bawa senjataaa tajammm, aku rasa masih aman. Aku masih bisa mengatasi nya sendiri!" ucap Layla dengan percaya diri.


"Mau pulang atau mau mampir ke suatu tempat? Tempat yang ingin Nona kunjungi?" tawar Doni.


"Emmmm ke mana ya, ka Danu. Gimana! Aku belum mendapat kabar dari nya! Apa ka Danu baik baik aja?" tanya Layla, menatap menyelidik supir baru nya.


'Kaya nya ini supir masih muda, gak tua tua amat, cuma sayang terlaku dingin. Gak asik buat di ajak ngobrol. Ka Danu biar kata dingin, tapi masih bisa menempatkan diri nya saat bersama dengan gue!' batin Layla dengan sesekali melirik, mengamati Doni.


"Maaf Nona, jangan mentang mentang Tuan Muda tidak bersama dengan Nona. Nona bisa memandang saya lama lama, bisa mati saya di gantung Tuan Muda!" cicit Doni, tanpa menoleh ke arah Layla, tetap fokus pada ruas jalan.


"Cihss ge'er. jadi orang jangan besar kepala! Jangan percaya diri yang berlebihan juga! Overdosis itu nama nya!" sungut Layla jengkel.


Layla mengerutkan kening nya. Mengingat jalan yang tengah di lalui nya.


"Apa kita akan ke kantor ayah ku?" tanya Layla dengan menoleh, kening mengkerut.


"Kapan aku bilang mau ke sini?" tanya Layla ngotot.


Doni memarkirkan mobil yang ia kemudikan di area parkir. Lalu turun dari mobil.


Bukan nya di jawab


Doni membuka kan pintu mobil untuk Layla. "Nona masih ingin bertanya, atau mau saya tinggal ke dalam?" tanya Doni.


"Menyebalkan!" Layla turun dari mobil dengan bibir mengerucut.


'Bisa bisa nya ka Danu mempekerjakan orang seperti dia! Tapi kenapa aku merasa orang ini tau segala nya tentang ku ya?' pikir Layla, berjalan lebih dulu dengan meninggalkan tas nya di dalam mobil.


'Bocah ini, pasti sedang bertanya tanya, ahahahha aku seperti mendapat mainan baru dengan mengawal nya!' pikir Doni, mengekori Layla.


"Ka, ayah ada di dalam?" tanya Layla pada Reina.


"Eh Non Layla, siapa itu Non di belakang! Ganteng bener kaya nya mah. Bisa kali Non kenalin ke saya! Jomblo nih Non!" Reina melirik ke arah Doni yang masih mengenakan kaca mata hitam nya.

__ADS_1


"Kenalan aja sendiri! Kenapa harus lewat saya!" dumel Layla dengan mengerdikkan bahu nya.


"Tadi saya tanya, ayah ada kan di ruangan nya!" Layla mengulang kembali pertanyaan nya.


"Ada Nona, Tuan Noval ada di ruangan nya." ucap Reina.


"Oke lah, makasih ya ka!" seru Layla, berbalik badan meninggalkan meja resepsionis.


"Kamu tunggu aja di sini! Gak perlu ikut saya naik ke atas!" ucap Layla menatap kesal supir nya yang terus mengekori nya.


"Maaf Nona, Nona bisa katakan itu setelah Tuan Muda bisa di hubungi. Saya hanya mengikuti perintah Tuan Muda!" tolak Doni dengan wajah datar nya.


"Terserah lah!" Layla berjalan dengan acuh memasuki lift dengan supir yang gak banyak bertanya.


"Kamu itu supir apa pengawal sih?" tanya Layla pada akhir nya.


"Menurut Nona, saya supir atau pengawal?" Doni bertanya balik pada Layla.


"Ya au ah gelap! Bertanya pada mu cuma bikin jengkel!" gerutu Layla.


Layla hendak meraih hendle pintu, namun kalah cepat dengan tangan Doni yang terulur meraih hendle pintu, dan mendorong nya ke dalam.


"Silahkan Nona, saya tunggu Nona di luar!" ucap Doni.


"Hem!" Layla berdeham dan masuk ke dalam ruangan sang ayah.


"Assalamualaikum ayah!" ucap Layla.


"Astagaaa Layla, waalaikum salam. Sejak kapan kamu datang nak?" tanya Noval dengan terperanjat kaget, saat melihat Layla memasuki ruang kebesaran nya.


"Ayah ngelamun?" tanya Layla penuh selidik.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong.

__ADS_1


...Makasih para pembaca ku yang udah setia ku...


__ADS_2