
...🥀🥀🥀...
"Sialannn Danu, bisa bisa nya dia menyuruh orang untuk mengancammm ku!" umpat Roy dengan tangan mengepalll.
Bugh.
Roy meninjuuu dinding kamar kost nya dengan kepalannn tangan kanan nya, hingga darah mengalir dari ruas jari nya.
Dengan di penuhi amarah, "Dalam waktu 4 jam, sama aja aku harus merelakan Mery bahagia dengan Arsandi! Mana bisa! Mery sudah menghancurkan cinta Julia. Mery juga harus merasakan hancur." tekad Roy dengan tangan mengepalll, membiarkan darah terus mengalir dari ruas jari nya.
"Nyawa di bayar nyawa, bahagia di bayar bahagia, gak perduli dengan Angel... dia hanya anak panti yang kabur lalu aku temukan di jalan. Nenek, sudah tua... nyawa mu pun tidak lagi berarti!" gumam Roy, menyimpan cek yang di berikan pria misterius, lalu menyimpan nya di dalam dompet milik nya.
Mery yang di landa gelisah beranjak dari duduk nya, berjalan mondar mandir, melirik ke arah pintu kamar kost yang di tempati Roy.
"Ke mana sih Roy ini, udah aku bilang jangan lama lama. Kenapa belum juga muncul." gumam Mery, menarik nafas dalam dalam lalu membuang nya perlahannn, hingga beberapa kali ia melakukan hal yang sama, demi memenangkan hati dan pikiran nya yang gak menentu.
"Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan di dalam?" tanya Mery, saat Roy sudah berdiri di depan nya, dengan tatapan yang sulit di mengerti.
'Aku harus melakukan ini pada Mery, ingat Roy... karena Mery yang sudah merebut perhatian Arsandi dari Julia. Kau harus melakukan hal yang sama, buat Mery di campakkan Arsandi. Dengan cara menghancurkan nya! Aku harus menghancurkan Mery, bukan karena Aleta, tapi demi Julia!' batin Roy menatap Mery penuh dendam.
"Kenapa Roy? Apa yang kau pikirkan? Mana barang yang ingin kau berikan pada ku? Aku sudah menunggu lama Roy!" cecar Mery dengan tatapan menyelidik, gak melihat roy membawa barang apa pun di tangan nya saat kembali dari kamar kost milik nya.
Grap.
Mery melihat pergelangan tangan nya yang langsung di cengrammm erat Roy, tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari nya.
"Apa yang kau lakukan? Lepasss! Kau menyakiti ku Roy!" seru Mery yang mencoba melepaskannn pergelangan tangan nya dari cengramannn Roy, menatap marah Roy.
Roy berkata dengan sinis, menatap Mery dengan tatapan merendah kan.
"Melepaskannn mu? Kau bilang melepaskannn mu? Heh, aku pasti akan melepaskannn mu, tapi setelah aku bersenang senang dengan mu! Aku pasti akan melepaskannn mu, Mery sayang!"
__ADS_1
"Apa maksud mu, Roy? Bersenang senang apa maksud mu?" tanya Mery dengan gugup, melihat Roy yang tampak berbeda dari biasa nya.
"Gak usah banyak tanya, nanti juga kamu tau sendiri! Sekarang layaniii aku dengan baik, baru aku akan melepasss kan mu! Dasar wanita bodohhh!" Roy menyerettt Mery dengan paksaaa, menuju kamar kost milik nya yang saat itu penghuni kost lain nya tengah pergi dengan berbagai aktivitas nya.
Prang.
Trang.
Prang.
Dengan tangan nya yang lain, Mery memecahkan apa aja benda yang bisa ia raih saat di lewati nya, berharap bisa menghentikan langkah Roy yang terus aja menyerettt nya tanpa belas kasih.
"Aku tidak mau Roy, lepasss! Kau gilaaaa, aku tidak mau! Lepasss kan tangan ku! Kau menyakiti ku Roy! Roy!" Mery terus berteriak, meminta di lepaskannn, namun Roy seakan tuliii, gak perduli.
Brakkk.
Roy mendorong pintu kamar kost nya dengan kasar.
Menghempaskan tubuh Mery ke atas kasur dengan kasar pula.
"Akkkhh, jangan macam macam Roy! Aku bisa berteriak jika kau terus mendekat!" seru Mery dengan wajah ketakutan, semakin beringsut mundur menjauh dari Roy yang kini melepasss baju nya.
"Pergi lah jika kau bisa, tapi sayang nya aku tidak akan membiarkan mu lolos dengan mudah Mery! Kau ingat satu hal, kau harus merasakan bagaimana di campakkan setelah memiliki rasa cinta terhadap pria." Roy menanggal kan celana nya, lalu merangkak ke atas kasur dengan tatapan seakan ingin menelan mangsa nya saat itu juga.
"Pergi kau, Roy kita ini teman, kenapa kau tega pada teman mu! Kau tidak akan berbuat jahat pada ku kan? Kau itu baik Roy! Jangan gilaaaa Roy!" Mery mencoba membujuk Roy dengan ke dua kaki nya yang terus menendanggg Roy yang hendak mendekati nya.
Bugh bugh bugh.
Sreeek.
Bugh.
__ADS_1
Roy meraih kaki Mery, lalu menghempaskan nya, membuat posisi Mery tengkurap.
Sreek.
Roy menjambak rambut Mery dengan kencanggg, sementara satu lutut nya ia tekannn pada punggung Mery.
"Aakkhhh sakit, lepaskannn tangan mu dari rambut ku! Ini sakit Roy!" pekik Mery, memegangi rambut nya yang di jambak Roy.
"Tenang sayang, pasti akan aku lepaskannn!" tangan Roy mulai bergeriliaaa di balik bluse yang di kenakan Mery.
"Jangan sentuhhh aku, singkirkan tangan mu Roy! Akkhhh!" Mery kembali memekik, saat tangan Roy semakin kencanggg menarikkk rambut Mery.
Mery merasakan sentuhannn tangan hangat Roy di punggung nya, Roy berhasil melepasss pengaittt pada gundukan kembar nya, membuat si kembar ambyarrr tanpa kain penutup nya.
"Kita bersenang senang dulu sayang, jangan lupa kan aku yang kau bilang teman mu, maka jadikan aku teman ranjanggg mu hanya sekali ini saja, sebelum aku mencampak kan mu Mery!" ucap Roy yang langsung mengukunggg Mery di bawah tubuh nya.
"Jangan lakukan ini pada ku Roy!" pinta Mery dengan ke dua tangan menyilang di depan dada, mempertahannn kan si kembar agar tak terjamahhh tangan nakal Roy.
Roy tidak hilang akal, tangan nya bergerak liarrr di paha Mery, bibir Roy mendekat menyusuri leher jenjang Mery.
"Akkkkhhh lepasss, menjauh dari ku! Bajingannn kau Roy!" teriak Mery dengan memberontakkk.
Sementara dalam hati Mery, 'Apa yang harus aku lakukan! Jangan sampai Roy merengguttt yang bukan hak nya! Aku tidak mau di sentuhhh oleh nya! Tolong kirim kan seseorang untuk ku, Tuhan. Selamat kan aku Tuhan.' batin Mery terus berusaha mempertahannn kan diri, menggigit bibir nya berusaha menekannn hasrattt yang kini ikut membuncahhh seiring sentuhannn yang di berikan Roy pada tubuh nya.
Dugh.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️