
...🥀🥀🥀...
"Kenapa juga harus berbuat kejiii seperti itu ka? Hewan aja masih memiliki belas asih pada sesama nya!" seru Layla, gak habis pikir dengan apa yang menimpa Sifanye.
"Nama nya juga manusia La, ada kala nya di butakan mata hati nya. Membenarkan apa yang ia perbuat meski itu menghilangkan nyawa seseorang sekali pun." ujar Danu.
"Kita ke rumah ayah, ka! Aku ingin bertemu dengan ayah."
"Iya, kita ke rumah ayah. Tapi cuma sebentar ya!" seru Danu, mengingatkan.
"Kenapa sebentar?" protes Layla, gak terima keputusan Danu.
"Masih ada hal yang harus aku urus bersama dengan bapak Yanto." ucap Danu.
"Mengenai restoran? Apa ada masalah ka? Bapak gak hubungin aku?" cecar Layla dengan tatapan menyelidik.
"Bapak cuma gak mau ganggu kamu La, apa lagi kamu masih harus bolak balik kantor polisi kan. Selama kematian mama Sifanye belum terkuak. Akan menjadi tanda tanya besar untuk kamu, Lulu dan ayah Noval." ujar Danu.
"Iya, aku masih gak habis pikir. Apa untung nya orang itu menghabisiii nyawa mama Sifanye?" gumam Layla.
"Apa kamu gak curiga sama seseorang La? Kalo aku curiga sama Lulu." celetuk Danu tanpa basa basi.
"Itu nama nya fitnah ka, menuduh tanpa bukti. Mana mungkin Lulu yang ngelakuin, Lulu itu sayang banget sama mama."
"Kalo Lulu sayang sama mama, dia pasti datang di saat pemakaman. Tapi kenyataan nya Lulu gak hadir kan di pemakaman?" jekas Danu dengan kemungkinan yang ada.
"Kita tunggu aja ka, hasil dari penyelidikan." sungut Layla.
Rumah besar yang di huni Noval di hiasi dengan karangan bunga turut berdukacita.
"Kaya nya belum lama ini rumah tampak adem tanpa mama, tapi sekarang menyisahkan tanya. Siapa pelaku pembunuhan mama." jelas Layla, saat mobil yang di kemudian Danu memasuki pekarangan rumah.
"Yah!" Layla berjalan lebih dulu, masuk ke dalam rumah.
"Tuan ada di ruang kerja nya Nona!" seru bi Lastri yang tengah bersih bersih rumah.
"Iya bi, makasih ya. Emmm bi, apa hari ini Lulu udah pulang ke rumah?" tanya Layla, dengan tangan menyentuhhh hendle pintu ruang kerja Noval.
"Kemarin pulang, tapi cuma sebentar. Lalu pergi lagi, seperti nya Tuan Noval dan Nona Lulu bertengkar, Non!" ucap bi Lastri dengan menoleh kiri dan kanan.
"Aku masuk temui ayah dulu bi!" pamit Layla, sebelum menghilang di balik pintu.
'Aku yakin ada yang ingin bi Lastri sampaikan, tapi apa ya?' batin Layla.
"Di mana Danu, La?" tanya Noval, melihat Layla yang masuk ke dalam ruang kerja nya seorang diri.
"Ada di belakang yah. Jawab telpon dulu." jelas Layla.
"Ayah baik baik aja kan?" tanya Layla setelah mencium punggung tangan kanan sang ayah.
"Ayah selalu baik jika kamu dan Danu baik baik aja." Noval menyunggingkan senyum di depan Layla, menutupi kegelisahan di hati nya.
"Yah, apa mama Sifanye punya musuh?" tanya Layla hati hati.
__ADS_1
Noval mengerutkan kening nya. "Ayah gak tau sayang. Ada apa emang nya? Tadi gimana, apa yang pak polisi tanyakan sama kamu, La?" cecar Noval dengan kening mengkerut.
Layla menceritakan apa yang di tanyakan pak polisi tadi pada nya. Ia juga mengatakan bertemu dengan Lulu.
Ceklek.
Danu membuka pintu ruang kerja Noval. Membuat Layla dan Noval menoleh ke arah nya, Layla menatap nya dengan penuh tanya.
"Ka Danu, kenapa lama?" tanya Layla datar.
"Iya, tadi Arsandi mengabarkan jika ada kendala di toko cabang Kalimantan." Danu menyalami sang ayah mertua. Mendudukkan diri nya di kursi yang ada di depan Noval, samping Layla.
"Arsandi? Bukan wanita lain? Reina, mungkin? Atau Aleta?" tebak Layla dengan tatapan memicinggg.
"Gak ada sayang, cuma Arsandi. Mau lihat, nih!" Danu mengulurkan tangan kanan, mengarahkan benda pilih nya ke depan Layla.
"Gak perlu, paling udah di hapus dari daftar riwayat panggilan!" tuduh Layla dengan ke dua tangan menyilang di depan dada.
"Gak sayang." Danu mengelusss puncak kepala Layla.
"Ehem, La. Bisa tolong buatkan ayah kopi. Ayah udah lama gak minum kopi buatan kamu." pinta Noval, mengalihkan perhatian ke dua nya.
"Boleh, ada lagi yang ayah inginkan? Biar Layla buatkan sekalian." tawar Layla.
"Bakwan goreng, enak La. Temen buat ngopi. Aku juga mau ya!" seru Danu, ikut angkat suara.
Layla mengerucutkan bibir nya. "Buat ka Danu biar aku buatkan jus aja, jus itu jauh lebih baik dari pada kopi." protes Layla.
"Seperti nya ayah berubah pikiran La, buatkan ayah jus juga. Ayah ingin coba minum jus buatan kamu." seru Noval.
"Ada yang ingin ayah sampaikan sama kamu, Danu!" seru Noval dengan mimik wajah serius.
"Soal Lulu, yah? Ada hubungan nya dengan tewas nya mama Sifanye?" tebak Danu tanpa ragu.
"Jadi kamu udah tau?" tanya Noval dengan menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.
"Apa kata polisi, yah?" tanya Danu, enggan menjawab pertanyaan Noval.
"Polisi menemukan sidik jari pada lokasi Sifanye di temukan, polisi juga menemukan sidik jari Lulu pada senjata tajam dan benda tumpul yang di temukan di halaman belakang rumah." jelas Noval, dengan tatapan gak percaya.
"Ayah serius? Gimana Lulu bisa ngelakuin itu semua?" tanya Danu penasaran.
"Masih dalam penyelidikan, Lulu belum mengakui nya... anak itu masih mengelak. Tapi bukti yang ada kini menjurus ke Lulu." Noval memijattt kening nya, merasakan pening pada kepala nya.
"Bagaimana dengan satpam yang bekerja di rumah mama, yah?" tanya Danu.
"Dia sudah di jadikan tersangka, terbukti melakukan tindak kekerasan pada Sifanye berdasarkan CCTV yang ada." jelas Noval.
Danu dan Noval terlibat dengan obrolan yang cukup serius, menyangkut kematian Sifanye yang melibatkan Lulu.
Sementara di dapur, bi Lastri mengutarakan apa yang ia tau perihal perubahan sikap Lulu akhir akhir ini.
"Non Lulu sekarang suka ke luar malam Nona, semenjak Nyonya gak ada. Saya suka memergokiii Nona Lulu pulang jam 1 dini hari, pernah sampai jam 3 dini hari. Pakaian nya juga kurang bahan Nona, bekum lagi dandanan Nona Lulu." ujar bi Lastri panjang kali lebar.
__ADS_1
"Selain itu bi? Apa Lulu suka kasar selain sama aku dulu?" tanya Layla.
"Saya ingat, Nona Lulu pernah mengambil uang tunai dari dalam ruang kerja Tuan. Tapi saat itu Nona Lulu mengaku untuk teman nya yang sakit, dan Tuan percaya." jelas bi Lastri lagi.
"Apa Lulu salah pergaulan ya bi? Kalo teman teman Lulu, apa pernah di bawa main ke sini?" tanya Layla dengan tangan yang sibuk membuat jus.
"Saya menemukan ini Nona, di kamar Nona Lulu." bi Lastri memperlihatkan sebuah strippp obat kontrasepsiii dari salah satu laci yang ada di dapur.
Layla mematikan blender nya, menuang jus nya ke dalam 2 buah gelas yang sudah ia siapkan sebelum nya.
"Obat apa bi?" tanya Layla yang belum melihat obat apa yang di perlihatkan bi Lastri pada nya.
"Ini Non!" bi Lastri menyodorkan strippp obat pada Layla.
Layla membola, gak nyangka dengan apa yang ia lihat. "I- ini beneran dari kamar Lulu, bi?"
"Iya Nona."
"Bibi anter ini ya, aku mau lihat ke kamar Lulu dulu." Layla berjalan cepat, menaiki anak tangga dengan tujuan kamar Lulu. Kamar yang mereka tempati dulu.
"Apa mungkin yang di katakan ka Danu banar? Apa yang sebenar nya terjadi sama Lulu? Untuk apa Lulu menyimpan benda ini?" gumam Layla, dengan berbagai pertanyaan yang berseliweran di kepala nya.
Layla masuk ke dalam kamar Lulu, ke dua mata dan tangan nya ikut bergerak mencari cari sesuatu.
Bi Lastri mengetuk pintu ruang kerja Noval, lalu berseru.
Tok tok tok.
"Bolah saya masuk Tuan!"
"Masuk aja bi!" seru Noval, mempersilahkan art nya untuk masuk ke dalam ruang kerja nya.
Ceklek.
"Kenapa bibi yang bawa, Layla ke mana bi?" tanya Noval dengan kening mengkerut, melihat bi Lastri yang mengantar kan jus.
"Tadi Nona Layla bilang mau ke kamar Nona Lulu, Tuan." jawab bi Lastri.
"A- apa? Kamar Lulu?" Noval beranjak dari duduk nya, di susul dengan Danu.
Danu dan Noval sama sama melangkah dengan tergesa gesa meninggalkan ruang kerja Noval. Melupakan obrolan serius nya.
"Apa mungkin Layla udah sependapat dengan pemikiran ku?" gumam Danu.
"Pemikiran mu apa?" tanya Noval.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅
__ADS_1
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya 😭😭