
...🥀🥀🥀...
"Reina bilang gak, kalo perempatan jalan nya itu jauh?" tanya Danu, menyodorkan minuman kemasan yang udah di buka tutup nya pada Layla.
"Dia bilang deket kok, cuma butuh 5 menit juga udah nyampe. Tapi ternyata cukup jauh juga ya!" jawab Layla.
Danu langsung membayar nya, membawa Layla kembali melanjutkan perjalanan nya menuju villa.
"Aku bisa jalan sendiri! Gak cape apa, dari tadi gendong terus!" gerutu Layla, dengan hembusan nafas kasar, karena Danu gak menurunkan Layla dari gendongan nya.
"Kamu seneng gak tinggal di sini! Udara nya yang sejuk, jauh dari polusi udara, tenang pula." ujar Danu dengan tatapan mengedar.
"Seneng sih, tapi kalo tinggal di sini. Jauh dari ayah, jauh dari ibu, jauh dari yang lain nya juga." ucap Layla.
"Jadi kamu lebih senang tinggal di kota, karena ada mereka semua?" tanya Danu.
"Kumpul dengan keluarga itu enak, apa lagi akur, damai nya hidup." jelas Layla dengan tatapan penuh harap.
'Sayang nya keluarga ku gak akur, apa lagi mama Sifanye. Aku masih gak habis pikir, kenapa mama Sifanye seakan membenci ku ya? Mama Sifanye kaya gak suka kalo aku tinggal dengan ayah. Tapi untung nya bapak Yanto sekarang udah berubah, lebih sayang keluarga.' batin Layla, yang gak sadar jika ia menyandarkan kepala nya di bahu Danu.
...---...
"Kalian dari mana dulu? Kok lama banget?" tanya Reina dengan tatapan menyelidik, saat melihat Danu yang baru memasuki villa.
"Kami tadi___" ucapan Layla langsung di sela Danu.
"Bukan urusan mu! Lain kali, jangan pernah menyuruh istri ku." ucap Danu tegas, melewati Reina dengan melirik tajam.
"Siapa yang menyuruh istri mu? Aku tidak pernah menyuruh nya! Dia saja yang memaksaaa untuk membeli nya untuk ku! Jangan asal menuduh ku, kamu Danu!" bantah Reina, mengikuti Danu.
"Kamu Layla, kamu pasti berbohong kan. Kenapa kamu gak bilang sama Danu. Kamu yang memaksaaa ingin membeli nya, karena bosan berada di dalam villa!" sungut Reina dengan tuduhan palsu, berusaha meyakinkan Danu.
"Tapi tadi kan, ka Reina yang___" Layla baru mau membela diri nya, tapi Reina seakan gak kasih kesempatan buat Layla membela diri.
"Alah dasar bocah munafik kamu Layla! Bisa bisa nya kamu menuduh ku di depan Danu. Kamu gak suka kan dengan ku! Kamu gak suka kan melihat ku ada di villa ini?" ucap Reina dengan tatapan sengit pada Layla.
Danu menghentikan langkah kaki, menatap jengkel Reina.
"Katakan Layla! Jangan diam aja kamu! Kamu itu anak kecil, bisa bisa nya kamu berbohong dan menuduh ku di depan Danu!" Reina terus memojokkan Layla.
'Kenapa ka Reina terus berbohong di depan ka Danu? Apa yang ada di dalam pikiran ka Reina?' batin Layla, dengan tatapan menelisik.
"Tapi ka Reina yang meminta ku untuk membeli nasi uduk itu, karena ka Reina lagi hamil muda, ka Reina lagi ngidam." jelas Layla, tanpa sadar tangan nya mencengramm bahu Danu.
"Layla!" Reina berseru dengan nada suara yang naik satu oktaf.
__ADS_1
"Reina! Kamu lupa siapa saya? Kamu lupa, sedang berhadapan dengan siapa? Berani kamu membentak istri saya? Saya gak mau lihat wajah mu lagi!" ucap Danu dengan tegas, membawa Layla meninggalkan Reina.
"Danu! Kamu tega ngusir aku dari villa ini? Danu!" teriak Reina gak terima, namun teriakan nya gak menghentikan Danu yang terus menaiki anak tangga dengan menggendong Layla.
"Ka Danu?" seru Layla dengan tatapan penuh tanya, ia menoleh ke belakang, melihat wajah marah Reina.
'Gara gara aku, hubungan ka Danu sama ka Reina jadi rumit. Pada hal hubungan mereka sebelum nya baik baik aja kan.' batin Layla merasa bersalah.
"Bukan salah kamu, sayang! Tapi tujuan Reina aja yang di awal udah buruk sama kamu! Dia pengen kamu celaka. Apa kamu masih belum sadar itu?" ujar Danu terus terang.
Layla menggeleng kan kepala nya, menatap sang suami, Danu. "Bukan karena ngidam, pengen makan nasi uduk?"
"Bukan sayang! Jangan terlalu polos ya! Setiap keputusan harus di pikir dengan matang! Lakukan ini untuk ku! Untuk hubungan kita!" ujar Danu.
"Aku mandi dulu, kamu udah mandi belum?" tanya Danu, saat mendudukan Layla di sofa yang ada di kamar mereka.
"Aku udah menyeka tubuh ku tadi. Kaka aja yang mandi." Layla beranjak dari sofa.
"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Danu yang sudah di ambang pintu kamar mandi.
"Nyuapin baju buat ka Danu pake, gak boleh?" tebak Layla dengan bibir mengerucut.
"Boleh, mau mandiin aku juga boleh! Mau main main sama sosis megar aku, juga boleh." goda Danu, yang semakin senang saat melihat semburat merah di wajah Layla.
...----...
"Apa sih Reina! Ribut banget lo! Berisik tau gak!" sungut Ella yang merasa terusik dengan suara Reina.
"Ka Reina kurang nasi uduk nya? Jadi ngomel ngomel?" tebak Julia, yang muncul dari taman belakang.
"Kenapa lo?" tanya Kevin dari arah lain, dengan tatapan menyelidik.
'Pasti ada yang gagal sama ini rencana Reina. Bagus deh, Danu berhasil melindungi istri nya.' batin Kevin.
"Kalian urus aja diri kalian sendiri! Ngapain perduli sama gue!" sungut Reina dengan kesal.
Karena Reina yang gak melihat ke depan, dan Nina yang terlaku fokus dengan benda pilih nya. Membuat ke dua nya saling bertubrukan.
Bugh.
Dugh dugh.
Prang.
"Awwhhhh! Jalan tuh liet lihat dong!" pekik Reina, merasakan sakit pada bokonggg nya yang mencium lantai.
__ADS_1
"Awhhhh sakiiit!" pekik Nina yang mengelusss bokonggg nya, ikut merasakan sakit karena mencium lantai.
"Lo gak apa?" tanya Kevin, membantu Nina beranjak dengan memegangi ke dua lengan Nina dari belakang.
"Gak apa pak, makasih!" jawab Nina.
"Kalian kenapa lietin gue? Bukan nya bantuin temen nya, dasar gak punya perasaan!" umpat Reina kesal, melihat gak ada satu pun yang perduli dengan nya.
"Jadi inget dulu, waktu lo suka bully anak baru bareng Aleta!" seru Asih.
"Lo juga pernah jadi korban bully mereka, begeee!" seru Wenny dengan menahan tawa.
"Iya juga ya!" ucap Asih.
"Hape gue!" seru Nina, meraih hape nya yang tergeletak di lantai, dengan layar kaca nya yang pecah.
"Yang salah itu lo, Reina! Jalan bukan lihat ke depan." seru Arsandi, yang berdiri gak jauh dari ke dua nya yang jatuh bertubrukan.
"Bukan salah gue!" bantah Reina.
"Hape gue rusak." gumam Nina sedih.
"Salahin temen lo! Dasar bocah bermuka dua!" sungut Reina, meninggalkan yang lain.
Sreeek.
Deri menarik lengan Kevin.
"Kamu kenapa, yang?" tanya Deri, setelah berhasil menjauhkan Kevin dari Nina.
Prok prok prok.
"Udah gak ada tontonan, lanjutin aja aktivitas kalian di sini. Mumpung masih ada beberapa hari ke depan selama kita di villa ini." ucap Arsandi setelah bertepuk tangan.
Arsandi melewati kamar yang di tempati Mery. 'Itu anak udah makan lagi, belum ya? Makan sedikit, apa kenyang, dan ini udah mau mendekati sore.' Arsandi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1