
...🥀🥀🥀...
"Sialannn itu cowok, siapa sih berani ngejebak gue! Apa dia kerja sama dengan Sopur! Gila nih Sopur berani main main sama gue!" gumam Nugi dengan tangan mengepal.
"Sekarang kalian mau alasan apa lagi? Mau menyangkal orang yang ada di dalam video itu bukan kalian?" tanya pak satpam dengan tatapan menusuk.
"Lu sih, kan gue udah ingetin, gak usah ngerjain itu anak. Sekarang lo malah nyusahin gue nih!" sungut Arsan.
"Kalian sadar, dengan perbuatan kalian ini, kalian sudah mencoreng nama baik sekolah kalian! Apa kalian tidak berfikir bagaimana jika orang tua kalian sampai mengetahui hal ini?" ujar pak satpam panjang lebar.
Arsan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tolong pak, tolong jangan sampai orang tua saya tau. Saya bisa habis di marahi orang tua saya pak!" cicit Arsan dengan wajah semelas mungkin, ke dua tangan menangkup di depan wajahnya.
"Sebutkan nomor orang tua kalian yang bisa saya hubungi." titah pak satpam dengan menempelkan gagang telpon ke telinga kanannya.
Deg.
Arsan menelan salivanya dengan sulit, mampusss gue kalo kaya gini caranya!
...---...
Layla mengerjapkan ke dua matanya, dengan perlahan ia membuka ke dua matanya, mengedarkan pandangannya pada setiap sudut.
Layla mendudukkan dirinya dengan bersandar pada kepala ranjang. Ia mengingat ingat kembali sebelum ia berakhir di sebuah kamar yang cukup besar, dengan nuansa cat berwarna abu.
"Ini gue di mana ya? Tadi bukannya gue lagi di bioskop sama Sopur, Nina, gak lama ka Nugi sama ka Arsan ikut masuk bioskop... gue di kasih minum gak lama gue ngantuk. Masa sih abis minum dikit langsung ngantuk?" monolog Layla sendiri.
Layla menatap pakaian, membuang nafas lega saat pakaian yang melekat pada tubuhnya masih lengkap.
Layla turun dari atas tempat tidur, mengayunkan langkah kakinya pada sebuah maja belajar yang terdapat di sudut ruang dengan buku buku yang tertata rapih di atasnya.
"Sebenarnya ini kamar siapa ya? Kok bisa gue di sini? Ini pasti bukan kamar gue kan! Udah jam berapa sih ini!" gumam Layla dengan mengedarkan pandangannya kembali.
Layla mengerutkan keningnya, "Ini kan foto gue lagi masih kecil, ini cowok si Danu? Gila, sedekat ini gitu gue sama dia dulu?"
Ceklek.
Pintu kamar di buka, membuat Layla meletakkan kembali foto itu pada tempatnya, lalu menoleh ke arah pintu
"Udah bangun kamu?" tanya Danu dengan datar, melihat Layla yang berdiri di dekat meja belajarnya.
"Lo? Ngapain di sini?" tanya Layla, menutupi rasa keterkejutannya.
"Yang sopan kalo bicara sama orang yang lebih tua!" Danu menyodorkan secangkir susu putih hangat pada Layla, "Minum dulu!"
__ADS_1
Layla menajamkan pandangannya pada cangkir yang di sodorkan padanya. "Ada racunnya gak nih?" serono Layla.
Bugh.
Danu meletakkan secangkir susu yang ia bawa di atas meja dengan kasar, lalu mendudukkan dirinya sendiri di tepian ranjang.
"Heh gak salah? Sama saya, kamu curiga, kenapa dengan teman kamu gak curiga?" cecar Danu dengan sinis.
"I- iya kali gitu ka- kamu kasih sesuatu ke dalam susu itu!" Layla menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah lagi kan tuh gue, apa salahnya sih kalo gue waspada ama ini anak!
Danu menghembuskan nafasnya dengan kasar, menatap Layla dengan datar. "Di mana tas sekolah dan hape mu, Layla?"
Layla berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Danu, lalu menggelengkan kepalanya.
"Lo bisa jelasin, kenapa gue bisa ada di sini? Lo yang bawa gue dari gedung bioskop? Temen temen gue mana?" cecar Layla, ia menyentuh kerongkongannya yang terasa kering dengan tangannya.
Kruk kruk krukkkkk.
Suara perut keroncongan terdengar dari perut Layla, membuat Layla menelan salivanya dengan sulit. Tangannya menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Kenapa pake bunyi sekarang sih! Malu maluin aja nih perut!" gerutu Layla dengan pelan.
Danu menggelengkan kepalanya, menatap wajah Layla yang tampak lucu di matanya.
"Minum susunya dulu! Setelah itu mandi, jangan lupa sholat ashar selagi ada waktu. Pakaian dan mukena ada di dalam lemari itu! Kamu bisa gunain yang kamu suka!" ucap Danu panjang lebar dengan suara yang terdengar dingin, lalu menunjuk sebuah lemari besar yang menjulang di kamar itu.
Deg deg deg.
Jantung Layla kembali bertalu talu, mendapatkan perhatian dari Danu meski berkata dengan suara yang dingin, wajah dingin tanpa ekspresi, tapi ia memperlihatkan sisi peduli dan perhatiannya pada seorang Layla.
Layla mengerjapkan ke dua matanya, berusaha menetralisir kan kembali degup jantungnya.
Jantung gue kenapa ya? Masa iya gue sakit, sakit apaan ya? Astaga Danu, pak Danu, apa ka Danu! Aiiih membuat gue bingung aja sih ama ini orang!
"Malah bengong, udah sana cepat ke kamar mandi." ucap Danu dengan suara yang meninggi membuat Layla berjingkat kaget.
Layla menatap tajam Danu. "Bisa gak, kalo ngomong tuh lo ngak usah bawa toa masjid! Kalo jantung gue copot, gimana? Bisa ganti lo?" sungut Layla dengan ke dua tangan di pinggang.
"Gak bisa, sebelum lo ubah panggilan lo buat gue!" Danu mendorong kening Layla berkali kali dengan jari telunjuk kanannya.
Sreek.
Layla menepis tangan Danu dengan kasar.
__ADS_1
"Cihs gue mandi! Awas lo, ngintip gue, gue aduin ke ayah!" ucap Layla setelah sampai di depan kamar mandi.
Brak.
Layla membanting pintu kamar mandi dengan kasar.
"Rusak woy pintu kamar mandi apartemen gue!" maki Danu dengan menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Sementara Layla di dalam kamar mandi, menyandarkan punggungnya pada pintu, menguruttt dadanya dengan tangannya.
"Astaga Layla, punya cadangan nyawa banyak lo! Berani banting ini pintu kamar mandi orang! Gila!" gumam Layla dengan mengedarkan pandangannya pada kamar mandi yang tampak mewah.
Layla langsung bersih bersih, di bawah guyuran air shower hangat, ia mengenakan handuk kimono yang ada di dalam lemari kecil yang terdapat di dalam kamar mandi.
Layla menyembulkan kepalanya di celah pintu, setelah membuka pintu kamar mandi sedikit.
"Danu gak ada di dalam kamar kan?" tanyanya Layla pada diri sendiri, lalu melangkah ke luar dari kamar mandi setelah memastikan tidak ada Danu di dalam kamar.
Beberapa menit kemudian, suara pintu di ketuk dan seruan dari luar terdengar.
Tok tok tok.
"Udah belum, La? Lama amat kamu! Cepat ke luar kalo udah selesai ya!" seru Danu.
"Iya bentar lagi, sabar napa! Jadi orang gak sabaran amat!" gerutu Layla.
Yakin nih gue ke luar pake kaya gini? Gak ada celana apa buat gue pake! Risih kan gue pake gini.
Berkali kali Layla memutar dirinya di depan cermin, setelah melihat pantulan dirinya pada cermin dengan balutan dress sebatas lutut, membiarkan rambut panjangnya menjuntai dengan bebas.
Ceklek.
Layla membuka pintu kamar. Berjalan melangkah ke arah Danu berada. Meja bar dengan sepiring spaghetti di atas sana dan segelas air putih tersaji.
"Ayo duduk sini, habiskan makanan mu!" ucap Danu tanpa menoleh ke arah Layla.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
__ADS_1
...Makasih yooo ☺️☺️...