
...🥀🥀🥀...
"Waaaah ini butik apa istana! Gede banget!" takjub Layla, mengedarkan pandangan nya pada setiap dekorasi, dan apa yang ada di hadapan nya.
"Kalian sudah datang?" suara wanita paruh baya, menyambut kedatangan ke dua nya dari anak tangga.
"Iya tan... kami gak terlambat kan?" Danu menyalami wanita yang ia panggil tante.
"Gak kok, masih ada beberapa menit dari waktu yang tante dan papa mu sepakati." Dena melirik sekilas pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.
"Kamu pasti Layla, banyak sabar ya kamu buat ngadepin ini anak kaku!" ucap Dena dengan ekor mata melirik ke arah Danu.
"Tante, apaan sih! Siapa juga yang kaku!" sungut Danu.
Dena mengelusss pipi Layla, kulit nya lembut tapi terlalu kurus dan kurang berisi jika harus bersanding dengan Danu.
"Iya tante, aku Layla! Danu tidak membuat ku kehabisan stok sabar ko, tan!" Layla meraih tangan kanan wanita yang belum ia kenal nama nya.
"Panggil aja Dena, tante Dena. Kita langsung masuk aja yuk! Biar tante tunjukin gaun mana yang akan cocok untuk kamu!" Dena menarik tangan Layla, menggiring nya berjalan memasuki butik nya lalu menuju lantai 2, membuat Danu menyusul dan mengekori ke dua nya.
"Kamu bisa kenal Danu di mana, La? Siapa yang udah kebelet pengen nikah duluan? Kamu atau bocah kaku itu?" selidik Dena, dengan berbisik pada Layla. Berharap pertanyaan nya tidak di dengar oleh Danu.
"Aku mendengar nya, tan! Kenapa tidak tante tanyakan saja sendiri pada ku? Jangan mempengaruhi Layla, tan!" ucap Danu, setelah membuang nafas nya dengan berat .
"Tante tidak mempengaruhi nya Danu, tante hanya memberintahu sedikit informasi yang tante ketahui, biar Layla gak kaget nanti saat tinggal serumah dengan mu kelak!" kilah Dena.
"Itu sama saja, tan."
"Waaah tan, gaun gaun ini semua... tante yang buat? Ini bagus banget tan. Ya ampun udah kaya di negeri dongeng aku tan!" ucap Layla dengan ke dua mata berbinar, menatap indah nya gaun gaun pengantin yang di kenakan oleh beberapa patung yang berdiri, lengkap dengan aksesoris di kepala nya.
Danu langsung mendudukan diri nya di salah satu sofa, tatapan nya terus mengarah dan tidak lepas dari Layla.
Dena terkekeh, menutup mulut nya dengan jemari nya.
"Kamu jangan berlebihan memuji tante, Layla... tante mana bisa buat ini semua, tante hanya membuat disein dari beberapa gaun ini, lalu ada bagian lain yang memotong dan membuat gaun ini jadi seperti ini. Ada tahapan nya, La." cicit Dena dengan tangan yang menyilang di depan dada.
__ADS_1
"Wah bearti tante orang hebat ya... kalo bukan hasil gambaran tante, gak akan bisa jadi gaun seindah ini tan." puji Layla dengan tulus.
"Kamu bisa aja sih, La! Disein La, bukan gambar!" ralat Dena dengan masih terkekeh.
"Yah apa lah itu nama nya tan, tante belajar di mana untuk membuat gambar gaun pengantin?" tanya Layla.
Dena menggelengkan kepala nya, anak ini... sudah aku bilang disein, masih aja dia bilang gambar, tapi gak apa lah, setiap perkataan yang ke luar dari bibir nya tampak tulus, wajah nya juga polos. Baskoro pandai juga memilih seorang menantu, tapi kenapa ia tidak pandai untuk mencari pengganti Devana.
"Sekolah disein, La... kamu mau melanjutkan ke sekolah disein?" tawar Danu yang kini beranjak dari duduk nya, melangkah menghampiri Layla.
"Gak lah, pasti sekolah disein itu mahal, aku mau langsung kerja aja kalo udah lulus sekolah." ucap Layla dengan mantap, tanpa ragu, kaki nya terus melangkah, menjelajahi lantai dua, yang di penuhi dengan gaun pengantin dengan berbagai warna dan model.
"Kenapa gak lanjut sekolah, La? Apa keluarga Baskoro kekurangan uang, hingga membiarkan menantu nya tidak melanjutkan pendidikan?" tebak Dena dengan tatapan penuh selidik.
Grap.
Danu menghentikan langkah kaki Layla, yang masih ingin melihat lihat gaun pengantin.
"Kita ke sini mau pilih gaun untuk kau kenakan, La! Bukan untuk bersafari melihat lihat gaun pengantin yang sudah di buat oleh tante Dena!" ucap Danu, mengingatkan tujuan mereka datang ke butik.
Pluk.
"Maaf, aku lupa. Jadi kau pilih mana ka?" Layla bertanya pada Danu dengan memainkan alis nya naik turun.
"Kenapa kau bertanya pada ku? Aku meminta mu untuk memilih nya, kan kau yang akan mengenakan nya!" gerutu Danu dengan memasukkan tangan kanan nya ke dalam saku celana nya.
"Aku yang akan mengenakan nya, tapi aku akan memakai nya di hari pernikahan kita. Kau kan calon suami ku, pilihkan aku gaun yang bagus menurut mu!" cicit Layla dengan menarik tangan nya yang di genggammm Danu, Layla bahkan menundukkan kepala nya, menggigit bibir bawah nya, menahan malu atas apa yang sudah ia katakan pada Danu.
Danu mengerutkan kening nya, tatapan nya mengamati tingkah Layla dari ujung kaki sampai ujung kepala, kenapa dengan Layla, pipi nya merona gitu! Apa Layla sedang meminta pendapat ku ya?
Prok prok orok.
Dena bertepuk tangan, melihat tingkah Layla yang malu, dan Danu yang salah tingkah.
"Ahahahhaha kalian ini, pasangan yang lucu... sudah lah, kalian pilih saja gaun yang menurut kalian bagus dan cocok. Baru setelah itu katakan pada tante." Dena melangkah meninggalkan ke dua nya.
__ADS_1
"Apa kau sedang meminta pendapat ku, Layla?" tanya Danu dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Layla membuang nafas nya dengan kasar. "Lupakan saja lah, aku akan kenakan gaun yang ini saja!" Layla menunjuk sebuah gaun hijau toska dengan bentuk leher sabrina.
Danu menajamkan pandangan nya, berjalan ke belakang patung tersebut, menampilkan bagian punggung yang tampak terlihat.
"Aku tidak setuju dengan pilihan mu! Biar aku saja yang pilihkan gaun untuk kau kenakan!" tolak Danu dengan tegas.
Danu mengayunkan langkah kaki nya, dan berkali kali berhenti setelah mengamati beberapa gaun tanpa berkata, tatapan Danu terfokus pada punggung, potongan leher, serta dada pada gaun pengantin nya.
Layla membola. "Eh kenapa bisa gitu? Aku suka dengan warna nya!" protes Layla melihat Danu yang tidak memberikan alasan tidak setuju pada pilihan nya.
"Aku gak setuju." jawab Danu dengan singkat.
"Danu! Lo bener bener ya!" Layla mengepalkan ke dua tangan nya, kesal dengan sikap Danu.
"Yang ini aja! Ini jauh lebih bagus dari segi warna dan model!" ucap Danu, pada saat ia berhenti di sebuah patung manekin yang berbalut gaun pengantin berwarna biru langit.
Layla mengerucutkan bibir nya, mengayunkan langkah kaki nya ke arah Danu. Dalam hati kecil nya penasaran dengan gaun pilihan Danu.
"Kenapa pilih ini?" tanya Layla dengan datar.
"Pilihan kamu itu terlalu terbuka bagian punggung nya! Kamu pake gaun pernikahan bukan untuk memamerkan punggung indah kamu buat tamu, tapi hanya untuk aku, La! Suami kamu!" cicit Danu, tangan kanan nya terulur mengelusss pipi Layla.
Blur.
Ke dua pipi Layla merona.
"Jadi kalian sudah putuskan, mau gaun mana yang akan Layla kenakan?" tanya Dena yang mengagetkan ke dua nya.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
...Makasih yooo ☺️☺️...