Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Niat terselubung


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Cup.


"Gitu dong, itu baru sayang ku!" Roy mengecup pipi Mery.


"Aku rasa, kau akan menyukai barang yang aku berikan untuk mu! Sangat bagus, menggemasss kan untuk kau kenakan." seru Roy dengan bersemangat, menatap Mery dengan tatapan penuh arti, di balik niat terselubung.


Mery melajukan mobil nya, meninggalkan area parkir kampus bersama dengan Roy.


Sesekali Roy menoleh ke arah Mery dengan senyum manis nya.


'Setelah ini, aku akan menjamin hidup mu, ada di tangan ku sayang! Kau pikir selama ini kau aja ya bisa membodohi ku dengan status mu! Kau akan menyesal Mery, kau akan di campakkan suami mu! Di buang orang tua mu kembali. Kau akan mengemis untuk pertanggung jawaban dari ku! Kau akan merasakan bagaimana rasa nya tercampak kan orang yang kau cintai! Seperti kau tega merebut Arsandi dari tangan Julia!' batin Roy dengan berseringai tanpa Mery tau.


"Ada apa? Apa ada sisa makanan di wajah ku?" tanya Mery, yang ke dapatan melihat Roy yang tengah menatap nya.


Mery pun langsung mengarahkan kaca spion ke wajah nya, 'Gak ada apa apa kok! Apa yang sedang di pikirkan Roy ya, mencurigakan banget.' batin Mery dengan kening mengkerut.


Dengan tergagap serta dengan mulut manis nya, Roy mencoba merayu Mery dan meyakinkan hati Mery.


"Eh i- itu sayang, a- aku gak nyangka aja, bisa ketemu dan kenal, lalu dekat dengan mu, bidadari cantik nan nyata... tanpa sayap yang sebentar lagi akan aku miliki seutuh nya." ucap Roy dengan tatapan berbinar.


Tangan kanan Roy terulur, menggenggammm jemari Mery yang lain, sementara tangan satu Mery yang lain nya fokus pada setir kemudi.


"Boleh kah aku berharap bisa menemani mu hingga kita menua?" seru Roy yang malah tanpa sengaja keceplosan bicara, tanpa bisa di filter kata kata nya.


Mery tampak terkejut mendengar nya, gak nyangka jika Roy bisa berfikir seperti itu terhadap nya.


"Apa maksud mu, Roy? Memiliki ku seutuh nya? Jangan mimpi kamu Roy, kita ini hanya teman... bukan berarti aku bisa menjadi milik mu!" ucap Mery dengan tegas, menatap Roy tajam.


"Ka- kamu salah paham sayang. Maksud ku gak seperti itu. Kamu harus percaya pada ku! Aku hanya ingin hubungan kita jelas, aku gak ingin hanya sekedar menjadi teman mu! Ayo lah Mery, aku pikir kau menyukai ku! Gak ada salah nya kan, kalo kita memiliki hubungan? Kau single, aku juga single... apa lagi yang menjadi penghalang dalam hubungan kita?" cecar Roy panjang kali lebar, mendesak dan meyakinkan Mery di saat yang bersamaan.


Sreeek.

__ADS_1


Mery menepisss tangan nya dari genggamannn Roy, mengfokus kan kembali ke dua tangan nya pada setir kemudi.


"Apa yang ada dalam pikiran mu, Roy? Aku baru aja masuk kuliah, dan aku gak sepintar Layla yang bisa dengan mudah mendapatkan nilai bagus. Aku gak mau hubungan kita kelak bisa merusak nilai ku!" kilah Mery, mencari alasan yang gak mungkin ia jelaskan yang sebenar nya.


Mery menatap ruas jalan dengan serius, 'Kurang ajar si Roy, bisa bisa nya menuntut ku untuk memperjelas hubungan ini. Apa masih kurang apa yang aku lakukan untuk nya selama ini? Aku sudah membayar uang sewa kos nya selama satu tahun ke depan, aku juga udah membelikan nya motor baru, membelikan nya barang mahal, apa lagi sekarang? Status hubungan? Enak aja, kau aja belum punya pekerjaan, mana mau aku hidup susah dengan mu. Papa Baskoro aja masih mengandalkan Arsandi untuk mengelola perusahaan bersama dengan Danu. Coba aja aku di libatkan!' pikir Mery, merasa dapat angin segar setelah banyak ngedumel dalam hati.


Roy memegang ke dua tangan nya di daun telinga nya, dengan wajah memohon di depan Mery.


"Sayang, tolong maafkan aku! Aku janji tidak akan menuntut hubungan dengan mu. Tapi aku takut kau mencampakkan aku, bagaimana jika papa mu menjodohkan mu dengan pria kaya, pria mapan, lalu kau mencampak kan ku!" ucap Roy panjang kali lebar, meyakinkan Mery akan kejelasan hubungan mereka berdua.


Mery menoleh sejenak ke arah Roy, lalu fokus kembali pada setir kemudi.


'Mana bisa gue punya hubungan sama lo, kalo bukan buat selingkuhan, buat jalan, tampang lo gak malu maluin amat. Tapi tetap aja Arsandi yang lebih keren, tapi sayang terlalu kaku. Dasar begooo, kenapa gue bandingin si Roy sama Arsandi! Paling juga tuh orang lagi fokus sama kerja nya di kota C.' batin Mery yang tiba tiba ingat Arsandi.


.


.


Sementara di kampus.


"Lo telpon siapa La? Mery?" tanya Nina yang melihat Layla sibuk dengan benda pipih nya.


"Ka Danu, Mery kaya nya ganti nomor deh. Gue hubungain nomor nya gak bisa." terang Layla.


"Bisa jadi, udah beberapa hari ini nomor nya gak bisa di hubungin. Tapi apa lo gak perhatiin, hape yang Mery pake, bukan hape yang biasa nya kan!" tutur Nina.


"Ngomongin apa sih kalian, serius amat! Gue ya?" Angel langsung mendudukan diri nya di kursi yang ada di hadapan Deri, lalu meletakkan semangkuk bakso yang ia bawa di atas meja.


"Pede gileee lo, udah kaya kehabisan bahan obrolan aja gue pake ngomongin lo, Angel Angel!" celetuk Nina dengan gelengan kepala, dengan percaya diri nya Angel.


Deri kembali ke meja, dengan membawa semangkuk mie ayam dan 3 gelas minuman yang berbeda.


"Pantesan lama, yakin lo bisa habiskan 3 gelas minuman sekaligus?" tanya Angel yang di buat melongo dengan minuman yang di bawa Deri.

__ADS_1


"Siapa bilang ini buat gue semua, ya gak lah. Kembung yang ada perut gue!" Deri meletakkan es jeruk di depan Nina, es teh di depan Layla dan es lemon di depan nya.


"Makasih sayang, tau aja aku sama Layla butuh minum lagi." ucap Nina, mencubittt gemasss pipi Deri.


"Makasih Der!" ucap Layla, mengaduk minuman dari Deri dengan sedotan.


"Sama sama ayank Nina, bu bos Layla." ucap Deri, dengan menyematkan gelar panggilan untuk Nina dan Layla.


"Ciaaahhh lebaaay amat pake ayank sama bu bos. Orang Nina sama Layla sama aja kok kaya gue, kaya anak anak yang lain nya di kampus ini, pake di beda bedain segala manggil nya." ketus Angel, secara gak langsung menunjukkan rasa iri nya pada Nina dan Layla di depan Deri.


"Alaaah bilang aja lo iri, secara cowok gue gak nyebut nama lo!" cibir Nina, mengarahkan sedotan dari gelas milik nya ke depan bibir Deri.


Deri menyeruput minuman yang di sodorkan Nina pada nya lewat sedotan. "Enak juga yank, manis, kaya kamu. Tapi kamu masih jauh lebih manis dari minuman ini." puji Deri.


'Sialannn si Deri, pake manasss manasinnn gue. Awas aja lo Der, pasti gue bisa ngerebut lo dari Nina. Kalo gak, Danu aja yang gue rebut dari Layla. Secara lebih tajir Danu kalo gue liet sekilas.' batin Angel dengan tangan kiri mengepalll, tangan kanan mengaduk aduk bakso yang ada di mangkuk nya.


"Lo cari pacar gih, atau kalo perlu lo cari suami. Biar lo gak iri'an lagi liet orang lagi mesra mesraan." cibir Nina, menyuapkan mie ayam yang ada di hadapan Deri ke mulut Deri.


[ "Assalamualaikum ka, kaka sibuk ya? Telpon ku baru di jawab! Gawat nih ka, Mery ninggalin kampus dalam keadaan marah. Sekarang aku gak tau Mery ke mana." ] cecar Layla, setelah sambungan telpon nya terhubung oleh Danu.


^^^"Waalaikum salam sayang, kamu tenang aja ya. Kamu fokus aja sama kuliah mu, urusan Mery. Itu sudah ada yang urus. Di bawa santai dan tenang ya sayang!" ucap Danu dengan tenang.^^^


[ "Gitu ya, ya udah. Jangan lupa kan untuk makan ya ka, istirahat yang cukup. Aku tunggu kepulangan mu hubby!" ]


Dengan wajah bersemu, tanpa menunggu jawaban dari Danu, Layla langsung memutuskan sambungan telepon nya.


"Ciyeee, udah bisa manggil hubby. Uhuy, ada yang kangen berat nih!" ucap Nina dengan tatapan menggoda Layla.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2