
...🥀🥀🥀...
"Makasih ya, kamu udah mau dengerin apa kata aku. Kapan kita nikah?" tanya Devinta yang kini berada di dalam angkot bersama dengan Noval.
"Nanti ya sayang, yang terpenting saat ini aku sama kamu sama sama terus. Kita punya tempat tinggal, aku punya kerjaan buat kelangsungan hidup kita berdua." ujar Noval dengan menggenggam jemari Devinta.
Beberapa kali angkot berhenti, kadang menaikkan penumpang, kadang menurunkan penumpang, dengan jalan yang gak selama nya lempeng. Ada polisi tidur, jalan berkerikil, jalan berlubang, belum lagi bau menyengat dari beberapa penumpang dengan aroma yang berbeda beda.
Devinta yang gak terbisa dengan itu semua harus menahan diri, menutup mulut nya dengan telapak tangan nya sendiri.
'Ini pilihan ku, bersama dengan Noval, meninggalkan kemewahan yang mama dan papa berikan pada ku selama ini. Aku pasti bisa, untuk Noval, besok pasti akan indah seperti apa yang aku harapkan.' batin Devinta.
Hingga ia tidak bisa lagi sanggup bertahan dengan aroma menusuk indra penciuman nya.
Sementara Noval kini otak nya di paksa untuk berfikir keras, mencari cara agar ia bisa membuat Devinta bahagia bersama dengan nya. Menikahi nya, membuat Devinta tidak akan pernah menyesali keputusan nya.
'Untung aja bos nawarin aku buat pindah ke tempat yang baru, pinggir perkotaan, yang penting aku bisa dapet tempat tinggal dengan membawa Devinta. Aku tinggal cari cara buat bisa nikahin Devita, terus makan seada nya dulu kali ya! Sisa gaji bulan kemaren kan masih cupuk buat beberapa hari ke depan.' batin Noval.
"Ummpppp!" hampir saja Devinta hendak memuntahkan apa yang bergejolak dalam perut nya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Noval melihat wajah Devinta yang tampak pucat.
Devinta menggelengkan kepala nya.
"Uuuwweeek!" Devinta memuntahkan isi cairan dalam perut nya. Muntahan nya bahkan mengenai beberapa kaki penumpang angkot lain nya yang kebetulan angkot sedang penuh penumpang.
"Uwweeek dasar jorok lo!" umpat penumpang pria, yang kaki nya kena muntahan Devinta, merasa jijik dengan kaki nya sendiri.
"Maaf bang, maaf, pacar saya gak biasa naek angkot!" ucap Noval gak enak hati, membantu mengelap sisa muntahan di dagu Devinta.
"Aaah peduli amat." umpat penumpang lain nya, yang nasib nya sama. Kaki nya kena cairan dari mulut Devinta.
"Bang, berenti bang! Gue mau turun aja! Minta bayar tuh sama penumpang lo!" seru nya dengan wajah kesal menatap Noval dan Devinta.
Penumpang pria itu pun turun, tanpa membayar ongkos pada supir.
"Wuuuh gimana sih! Turun lo! Tar yang ada muntah lagi lo!" nyinyir ibu ibu yang duduk di pojok angkot.
"Iya turun gih! Liet nih, jijik kaki gue kena muntahan lo!" ucap pria lain nya, yang masih bertahan di dalam angkot.
__ADS_1
"Maaf bang, tapi tujuan kami masih jauh. Ini ada air, bisa buat cuci kaki abang!" Noval menyerahkan sebotol air mineral pada pria yang duduk di depan Devinta.
Devinta semakin merapatkan duduk nya pada tubuh Noval, menatap takut pada penumpang lain nya, mata indah Devinta seketika mengembun.
'Gini banget sih, gue gak sengaja, perut gue juga mual, salah kan bau badan kalian yang udah buat perut gue bergejolak gak jelas gini!' umpat batin Devinta.
Sang supir yang merasa terusik, langsung menoleh sesaat kebelakang sebelum ia melanjukan kembali kemudi nya.
"Ribut banget si!" umpat supir kesal.
Dengan terpaksa Devinta dan Noval turun dari angkot, meski tujuan mereka masih jauh dan harus menyambung lagi dengan angkot jurusan lain nya.
"Apa kita gak naik taksi aja, yank?" tawar Devinta, merasa bersalah sudah membuat mereka berdua di turunin angkot di tengah jalan.
"Kalo kita naek taksi, ongkos nya gede yank, kita perlu ngirit. Takut uang aku gak cukup sampe aku gajian lagi." jelas Noval.
"Jual kalung aku aja!" Devinta menunjukkan kalung nya yang ada di balik leher baju yang ia kenakan.
"Jangan ya, kamu udah enakan? Kita naek angkot lagi ya?" bujuk Noval, mata nya mengarah pada pedagang asongan.
Devinta kini bernafas lega, duduk berselonjor kaki setelah ke dua nya tiba di tempat tujuan.
Rumah kontrakan dengan 2 petak kamar, 1 tempat tidur dan satu nya dapur yang di batasi dengan dinding setinggi satu meter untuk kamar mandi.
"Kita beneran bakal tinggal di sini?" tanya Devinta, gak nyangka tempat tinggal yang ia akan tinggali begitu kecil, jauh lebih besar kamar mandi nya sendiri saat di rumah orang tua nya.
"Ini yang di kasih sama bos aku, Alhamdulillah aja ya, ini juga kita gak pake mikirin buat bayar kontrakan. Selama aku kerja di tempat yang baru ini. Sabar ya sayang Devinta!" ujar Noval, membawa Devinta ke dalam dekapan nya.
"Iya, aku mandi dulu ya... tapi nanti kamu bisa liet aku lagi mandi! Dinding nya aja segitu!" Devinta mengerucut kan bibir nya.
Malam hari nya, Noval dan Devinta resmi menjadi suami istri di mata agama, karena pernikahan mereka di lakukan di bawah tangan. Tanpa restu orang tua Devinta, tanpa di hadiri keluarga.
"Aku harap kamu bisa bahagia sama aku, aku bakal lebih keras lagi buat cari kerja sampingan, jadi kamu harus terbias aku tinggal ya! Dengan kerja sampingan aku, aku bisa ngumpulin uang buat masa depan kita." ujar Noval.
"Aku juga mau cari kerja, bolehkan!" pinta Devinta.
"Kamu selama ini gak pernah kerja keras, lebih baik kamu di rumah aja, tunggu aku pulang." ujar Noval.
Hari demi hari di lalui ke dua nya, sering kali ribut karena Devinta yang merasa tertekan dengan keadaan yang serba sulit.
__ADS_1
Prang.
Devinta membanting piring di dapur, saat melihat apa yang di masak Noval sebelum berangkat kerja.
"Aku mau makan ayam goreng, aku bosen makan tempe sambel, tahu sambal, tumis kangkung, kapan kita makan yang bergizi? Kamu cuma bilang besok, besok, besok! Mau sampai kapan?" ucap Devinta dengan penuh emosi.
Grap.
Noval mencengkrammm lengan Devinta lembut, setelah mematikan kompor yang ada di hadapan nya.
"Jangan gitu Ta, aku juga lagi berusaha buat merubah nasib kita. Aku janji, aku gajian... kita makan di luar ya sayang! Aku juga bakal ganti cincin kawin yang udah kita jual buat biaya makan kita sehari hari. Kamu pengen kan pake cincin kawin kaya orang orang?" bujuk Noval.
Hingga beberapa bulan berikut nya.
Bugh.
"Awwhhhh Noval, sakit! Hiks!" tangis Devinta gak terbendung lagi, saat ia jatuh terpeleset di kamar mandi.
Niat hati ingin bantu Noval dengan beberes rumah, hanya sekedar mencuci piring, sayang nya hal itu pun tidak bisa di lakukan dengan benar oleh Devinta. Malah membahayakan janin yang ternyata sedang ia kandung.
"Noval, ini sangat sakit! Tolong! Tolong!" teriak Devinta, berharap ada yang mendengar suara teriakan nya.
"Da- darah?" wajah devinta semakin pucat pasih, saat melihat rembasan yang ke kuar dari tempat ia terjatuh.
"Tolong!" teriak Devinta lagi, sebelum akhir nya ia hilang kesadaran.
Tap tap tap tap.
Noval langsung berlari setelah turun dari angkot, langkah nya semakin cepat, ingin sampai di klinik kandungan yang berada dekat dengan tempat tinggal nya.
"Bu rt, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Noval, melihat bu rt tempat tinggal nya tengah duduk di kursi stainlis yang ada di klinik.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata...