Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Di perlakukan gak adil


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Kau lihat itu kan Danu. Pantas saja kan om dari tadi mengetuk pintu, ia tidak menjawab. Anak ini selalu saja membuat om cemas!" dumel Noval dengan mengelusss pucuk kepala Layla, namun tatapannya mengarah pada Danu.


"Lo ngapain di sini?" tanya Layla dengan tatapan tajam pada Danu.


"Layla! Jaga bicara mu! Danu ini calon suami kamu, bukan begitu nak Danu?" Noval meminta Danu untuk membenarkan perkataannya.


"Maaf om, aku harus kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." terang Danu yang tidak menanggapi pertanyaan Noval.


"Baik lah kalo gitu, laen kali bisa kan kalo om minta tolong kamu buat anter jemput Layla ke sekolah? Om masih belum tenang, takut jika ayah tirinya akan membawa Layla pergi." ucap Noval dengan menatap cemas Layla.


"Ayah!"


Danu menatap malas ke duanya, jangan drama di sini! Keluarga ini benar benar penuh drama.


"Iya iya! Apa kamu gak mau ikut antar Danu sampai depan, sayang? Dulu itu kamu selalu mengekor di belakang Danu!" Noval menjawil hidung Layla.


"Layla lupa yah... lagi pula itu kan dulu, Layla mana ingat!" ucap Layla dengan mengacuhkan Danu.


Danu mendengus, lo pikir, lo doang yang gak inget! Gue juga gak inget, kali!


"Saya pamit ya om! Gak enak dari tadi terus di telpon Feli! Pasti ada hal penting mengenai kantor!" ujar Danu.


"Oh iya iya, ayo biar om antar kamu sampai depan." Noval melankah ke luar dari kamar Layla bersama dengan Danu.


Layla mengerutkan keningnya, menatap punggung besar Danu, keren sih, tapi buat apa kalo muka lempeng gitu, judes lagi, gak ada baiknya itu cowo.


Layla turun dari tempat tidurnya, lalu berdiri di atas balkon, sambil terus memperhatikan Danu yang kini berada di bawah.


"Yang benar aja, masa dia calon suami gue, gue kan masih sekolah. Ayah kalo bercanda suka ngadi ngadi." gumam Layla.


"Kamu gak suka kan sama anak itu, La!" tanya Sifanye yang sudah berdiri di belakang Layla.


Layla menoleh ke arah Sifanye, lalu fokus kembali pada Danu yang kini masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang ia kemudikan meninggalkan rumah Noval.


"Mama? Gak lah, Layla belum mikirin nikah mah. Layla masih mikirin sekolah, Layla mau cepat cepat lulus sekolah terus bisa kerja, membahagiakan mama, ayah, ibu, bapak, Lulu dan Dea." ucap Layla dengan tulus.


Sifanye berkata dan menatap Layla dengan sinis. "Bahagia mama, jika kamu meninggalkan rumah ini! Kamu dan Tati itu sama saja, sama sama tidak tahu diri! Selalu membuat susah ayah kamu!"


Layla berkata dengan mata berembun, bibirnya bergetar. "Layla juga gak ingin ada di rumah ini, mah! Apa mama pikir Layla bahagia melihat mama dan ayah selalu bertengkar karena Layla? Layla tidak minta untuk di lahirkan, tapi kenapa kalian... ibu dan ayah membuat Layla ada di dunia ini? Bisa mama tanyakan itu pada ayah dan ibu?"


Sifanye menatap marah Layla, tangan kanannya mengudara. "Kamu berani menjawab perkataan mama! Mama ---"


Suara Noval menggema di depan pintu kamar Layla. "Cukup mah!"


Sifanye menoleh, melihat Noval yang melangkah masuk menghampiri ke duanya. Ia berkata dengan tergagap.


"A- ayah? A- yah dari kapan di sini? A- anu, mama mau ---"

__ADS_1


Noval mengangkat tangan kanannya, meminta Sifanye untuk diam. "Aku tidak ingin mendengar alasan mu, mah!"


Sifanye menghentakkan kakinya, lalu berjalan ke luar meninggalkan Noval dan Layla. "Ayah dan anak, sama aja! Menyusahkan!"


...---...


Waktu terus bergulir, hari hari Layla di rumah Noval semakin berat, tanpa sepengatahuan Noval. Sifanye menyerahkan tugas art pada Layla, itu ia lakukan setelah pulang sekolah.


"Cepat kamu bersih bersih, Layla! Mama gak mau lihat masih ada debu di setiap guci mama, guci itu lebih mahal harganya dari pada kamu!" omel Sifanye.


Sifanye menunjuk sudut ruang dengan jarinya, "Yang itu, jangan lupa kamu pel! Lantai masih kotor gitu! Becus gak sih kamu buat ngepel rumah!" gerutu Sifanye saat Layla mengepel lantai.


"Layla! Ngapain kamu tidur di sini! Cepat masak, ayah sebentar lagi pulang! Masak yang enak, awas kalo sampe gak enak! Mama potong uang jajan kamu!" bentak Sifanye dengan mata melotot, mendapati Layla yang kelelahan malah tertidur dengan duduk menyandar pada dinding yang ada di belakang taman.


Layla mengucek ke dua matanya, lalu beranjak bangun, "Maaf mah, Layla lelah, bisa kan Layla istirahat sebentar? Layla janji, sebelum ayah pulang... masakan akan tersaji di atas meja makan."


Prak.


Tangan besar Sifanye mendarat di lengan Layla dengan keras, hingga meninggalkan jejak, beruntung lengan baju yang di gunakan Layla adalah lengan panjang, hingga tidak terlihat mata.


"Berani kamu bantah mama? Cepat kerjakan!" ucap Sifanye dengan suara naik satu oktaf.


"Ayo Non, biar saya bantu." ucap art yang kini berdiri di antara ke duanya, menatap sendu Layla, kasian banget majikan gue, dasar Nyonya gak punya perasaan, mentang mentang Non Layla anak tiri, di perlakukan gak adil.


Sreek.


"Akkkhhh sakit mah!" rintih Layla, dengan tangannya yang memegangi rambutnya yang di jambak Sifanye.


"Saya gak minta kamu buat bantuin Layla, dengar kalian semua... jangan ada satu pun di antara kalian yang membantu Layla! Jika tidak ingin saya pecat kalian tanpa gaji dan tanpa pesangon! Mengerti kalian!" ucap Sifanye tegas dengan mata melotot pada semua art yang melihatnya.


Sruuk.


Sifanye menghempaskan tubuh Layla, beruntungnya ada tangan art paruh baya yang menangkapnya, membuat Layla tidak terhempas ke lantai.


"Non gak apa kan?" tanyanya dengan khawatir.


"Gak apa mbok!" seru Layla.


"Gak usah drama ka, Lulu laper nih... pengen makan mie instan goreng pedas, buatin dong ka! Harus enak ya, awas kalo gak enak!" ucap Lulu dengan duduk di kursi yang ada di dapur.


"Kamu dengar itu Layla, cepet buatin. Baru setelah itu kamu buat makan malam untuk kami semua! Sebelum ayah pulang, harus sudah selesai!" titah Sifanye dengan mengelusss punggung Lulu.


Lulu menyeringai, aku usilin ah, aku buat kaka Layla terus di marahin mama.


"Biar mbok yang buatkan ya Non, pasti masakan si mbok enak." ucap si mbok dengan ramah.


"Kamu mau saya pecat, mbok? Baru kerja di sini aja udah belagu kamu ya! Mau ngelawan saya kamu?" ucap Sifanye dengan sorot mata membunuh.


Layla menggelengkan kepalanya pada si mbok.

__ADS_1


Layla memasakkan mie instan untuk Lulu sambil memasak lauk untuk mereka semua, dengan Lulu yang terus mengawasi Layla bak seorang mandor yang mengawasi bawahnya. Sifanye langsung kembali ke kamarnya, menyibukkan diri di kamar pribadinya dengan Noval.


Si mbok dan beberapa art lain di minta kembali ke kamar mereka, tidak ada yang boleh membantu Layla.


Layla menyeka keringat yang membasahi keningnya. "Tinggal sedikit lagi, aku bisa istirahat, terus bersih bersih, sambil nunggu ayah pulang." gumam Layla.


Lulu mengerucutkan bibirnya, mie instan ini kenapa jadi enak gini ya! Sayangkan kalo langsung di kerjain bilang gak enak, mana ini mie bikin lapar, bikin aku gak mau berhenti buat nyuap lagi dan terus nyuap lagi.


Ting tong ting tong.


"Siapa ya yang neken bel? Gak mungkin kalo itu ayah kan!" gumam Sifanye dengan menoleh jam yang terdapat di dinding.


Ting tong ting tong.


Bel rumah kembali terdengar.


"Biar saya yang buka, bi!" Sifanye menghentikan langkah kaki sang bibi yang akan membukakan pintu.


Ting tong ting tong.


Untuk ke sekian kali, bel rumah kembali berbunyi.


Masih ada setengah jam dari jam pulang kantornya ayah, masa iya ayah yang pulang, bawel amat teken bel mulu.


Ceklek.


"Hai sayang! Kenapa lama sekali kau buka pintunya?" tanya Noval saat Sifanye muncul dari balik pintu.


"A- ayah? A- ayah sudah pu- pulang? Kok tumben gak kasih kabar kalo mau pulang cepat?" cecar Sifanye dengan tergagap, mencium punggung tangan kanan Noval, berusaha menghilangkan kegugupannya.


"Kejutan buat mama, di mana Layla dan Lulu, mah?" tanya Noval.


Sebuah mobil berhenti di belakang mobil Noval. Tampak penumpangnya membuka pintu mobil depan dan belakang kemudi.


"Siapa itu, yah?" tanya Sifanye dengan menyelidik ke arah mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Prang.


Dari arah dapur, suara piring pecah terdengar. Membuat Noval dan Sifanye menoleh ke arah dalam rumah.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....


...Makasih yooo ☺️☺️...

__ADS_1


__ADS_2