
...🥀🥀🥀...
"Apa? Gak salah tuh?" ucap Novi sinis.
"Wah gak bener nih, jadi kalian semua!" Novi menunjuk semua teman nya yang ada di sana dengan tatapan gak percaya.
"Cuma di jadikan alat buat bales dendam lo sama gue? Asli nya ini perkara cinta lo yang di tolak pak Arsandi?" tambah Novi lagi dengan menunjuk Julia dan diri nya sendiri.
Prok prok prok prok.
Julia dan yang lain menoleh ke asal suara tepukan tangan dari seseorang yang gak lain adalah Arsandi.
"Benar benar rencana yang gagal. Saya gak percaya, gadis yang saya pikir baik baik... ternyata bisa membuat skenario sebesar ini! Hebat ya, ingin mendapatkan seseorang dengan menghancurkan banyak orang! Saya gak salah, gak memilih kamu, Julia!" ucap Arsandi dingin dengan tatapan sinis berdiri di depan Julia yang terpaku di tempat nya.
"Kaka gak apa?" tanya Layla, menghampiri Danu.
"Gak sayang, aman!" ucap Danu dengan tenang.
"Sebodo lah urusan Julia dan Novi, itu urusan kalian berdua. Sekarang apa alasan bapak nikah sama murid sendiri?" tanya Sofyan, ketua kelas yang gak tau apa apa perihal hubungan ke dua nya.
"Kami sudah di jodohkan sejak kecil. Sekarang kalian boleh bubar! Gak ada lagi yang harus di permasalahkan!" ucap Danu tegas.
"Yah susah kalo ngelawan kata di jodohin orang tua." cicit Juni.
"Emang gak bisa nolak pak? Apa di undur gitu... Layla masih sekolah tau!" kilah Rudi.
"Kenapa kalian harus keberatan, jika saya dan Layla bisa menerima pernikahan ini? Yang menjalani nya saya atau kalian?" tanya balik Danu.
"Iya juga sih, pak Danu dan Layla yang jalanin, kita mah cuma lietin!" seru Rio.
"Elah lu, lemessss amat... lagi jadi orang mudah amat terprovokasi." ejek Novi.
Grap.
Arsandi menggenggammm jemari Novi. Memancinggg kekesalan Julia yang melihat nya.
'Sialannn nih orang, mau pamer kemesraan di depan gue! Awas aja lu Novi!' sungut Julia, dengan tatapan tajam.
"Lepasin tangan gue gak liet ini di depan umum! Teman teman gue pada ngelietin!" sungut Novi, mencoba melepaskannn jemari nya yang di genggammm Arsandi.
"Coba aja kalo bisa!" tantang Arsandi dengan suara pelan, dengan senyum devil nya.
"Kalian tunggu apa lagi? Cepat kembali ke kelas kalian masing masing!" titah pak Asep, melihat murid nya gak ada yang beranjak.
"Hayo lah balik kelas." ucap Rena.
"Belom bel pak!" seru Nina.
Beberapa siswa mulai berbisik, ada yang berbalik badan, ada juga yang melihat ke arah Julia.
"Kalian jangan pergi! I- itu pasti bohong, mereka menikah pasti bukan karena di jodohkan, tapi karena Layla hamil duluan. Iya kan La?" tuduh Julia, menunjuk Layla dengan jari telunjuk nya.
"Apa? Jangan asal tuduh kamu Julia! Tarik kembali perkataan mu, kalo gak... saya akan perkarakan ini ke jalur hukum!" ancam Danu dengan tatapan memicing.
__ADS_1
"Saya gak takut, paling bapak cuma membual. Laporin aja kalo berani, dengan begitu saya juga bakal bilang ke polisi... ada guru yang nikahin murid nya!" ucap Julia sengit.
'Sialnnn anak ini!' umpat batin Danu.
Grap sreek.
Arsandi mencengrammm bahu Julia, dan menarik nya hingga menghadap ke arah pria dingin yang mengusik hati Julia.
"Masalah mu dengan saya, bukan dengan Tuan Danu!" ucap Arsandi dingin.
"Julia! Mulai besok hingga 2 minggu ke depan, kamu belajar di rumah. Kamu, bapak skorsing!" ucap pak Jamal tegas, guru bp.
"A- apa pak? Yang benar aja pak! Saya gak salah apa apa! Layla dan pak Danu yang buat kesalahan, mereka menikah pak!" sungut Julia, gak terima dengan keputusan pak Jamal.
"Suka tidak suka, kamu tetap harus menjalani hukuman kamu Julia!" ucap bu Yessi, setuju dengan pak Jamal.
"Ini gak adil buat saya! Layla salah, harus nya Layla di ke luarkan dari sekolah ini!" teraik Julia dengan kencang, dan mata yang mengembun.
'Apa kata orang tua gue nanti? Tau gue di skorsing. Gimana dengan pelajaran gue? Gue gak pinter pinter amat! Astagaaa Layla, Novi! Kalian berdua hama di kehidupan gue!' batin Julia kesal.
Yang lain mengikuti pelajaran dengan baik di kelas. Sementara Julia kini di salahkan Rudi di gudang sekolah.
"Gimana si lo! Malu nih gue di depan anak anak! Gue minta lo bayar gue lebih!" Rudi mengadahkan tangan kanan nya di depan Julia.
"Bayaran apa? Kerja lo aja gak benar, lo malah buat gue jadi di skorsing! Gue gak mau ngeluarin duit sepeser pun!" seru Julia tegas, menatap tajam Rudi.
'Sialannn nih Rudi, duit dari mana lagi gue buat bayar ini orang! Gak tau apa gue gak ada duit.' batin Julia.
Grap.
"Lepasinnn gue! Mau apa lo, dasar Rudi sialannn! Gak becus kerja lo!" sungut Julia dengan susah payah, ucapan nya pun terdengar gak jelas.
Rudi menatap melon kembar Julia dari balik seragam nya yang tampak menyembul. 'Boleh juga nih anak, mayan lah kalo bisa di jual... bisa dapet duit gue!' batin Rudi.
Julia mengikuti tatapan Rudi yang gak berkedip. "Lepasinnn gue!" tangan Julia menggenggammm pergelangan tangan Rudi, berusaha menarik nya menjauh dari wajah nya.
"Tar malam lo gue jemput, awas aja kalo lo sampe menghindar! Gue aduin lo ke orang tua lo!" ucap Rudi dengan seringai di bibir nya, melepaskannn cengramannn dari wajah Julia.
"Uhuk uhuk uhuk!" Julia terbatuk batuk.
'Sialan Rudi, berani nya dia ngancem gue! Siapa lo!' sungut Julia, menatap punggung Rudi yang kian menjauh dari pandangan nya.
Bel pulang sekolah menggema, semua murid meninggalkan kelas, ada yang mengikuti eskul, ada yang langsung pulang, dan ada juga yang masih berada di sekolah.
"Gak nyangka lo gue, ternyata Layla itu cukup berpengaruh juga buat ini sekolah." ucap Weni sembari berjalan meninggalkan kelas.
"Kenapa emang?" tanya Putri yang gak tau.
"Yang gue denger dari bu Yessi, pak Danu itu pengusaha di dalam dunia bisnis. Dan lo tau, beberapa bulan belakangan ini... Layla udah di buatin 2 rumah makan atas nama Layla." ucap Weni takjub.
"Salah lo, Layla udah punya lebih dari 2 itu restoran. Belum lagi saham yang di milikin Layla di perusahaan orang tua pak Danu, gak mungkin lah Layla gak di kasih saham." timpal Deri, dengan tangan menggenggammm jemari Nina melewati Weni dan Putri.
"Gak usah ikut campur deh! Kamu tuh!" gerutu Nina, menatap jengkel Deri.
__ADS_1
"Serius lo Der? Anjimmm banget si Layla, bisa dapet durian runtuh nikah sama pak Danu." ucap Weni semakin takjub, mendengar nasib Layla.
"Gue juga mau lah kaya Layla, nikah sama guru! Biar di buatin usaha." seru Putri.
"Kalo guru nya kaya pak asep, pak Didi, pak Widi... masih mau lo?" tanya Weni dengan tatapan menyelidik.
"Gila lo, ya ogah lah!" seru Putri.
Layla pulang bersama dengan Danu, bukan langsung ke rumah, melainkan ke rumah Sifanye. Setelah melewati perdebatan yang cukup sengit.
Di dalam mobil, Layla kini merajuk.
"Sebelum kita pulang, antar aku ke jl.xxxx, aku mau menemui nya. Aku mau menjenguk nya." ujar Layla.
"Gak, ngapain ke sana. Dia itu udah nyakitin kamu, La!" tolak Danu.
"Emang ka Danu tau, kita mau ke rumah siapa?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.
"Tau lah, mama Sifanye kan?"
"Ya udah, bawa aku ke sana, dia itu kan mama ku." ucap Layla, masih mengakui Sifanye orang tua nya.
"Aku gak mau kamu ke rumah mama. Mending kamu ikut aku ke kantor." ucap Danu kekeh.
"Ke rumah mama dulu, baru aku ikut ke kantor!" tawar Layla.
"Gak, aku takut kamu di perlakukan kasar sama mama." kilah Danu.
"Ngapain takut, aku ke sana kan di antar ka Danu! Ayo antar aku ke sana!" pinta Layla dengan menatap Danu penuh harap, memperlihatkan wajah semanis mungkin di depan Danu.
"Astagaaa Layla, jangan melihat ku dengan tatapan seperti itu!" seru Danu saat melirik ke arah Layla sesaat lalu fokus kembali dengan kemudi nya.
Layla menangkupkan ke dua tangan nya di depan wajah, menatap Danu penuh harap.
"Ayo pak Danu sayang, antar aku ke rumah mama, aku hanya rindu, aku hanya ingin melihat nya walau sejenak! Ka Danu, suami ku yang paling keren, yang paling ganteng, yang paling bijak! Boleh ya, antar aku sebentar aja!" pinta Layla, dengan suara yang di buat semanja mungkin.
Danu membuang nafas kasar. 'Aku gak bisa egois, memaksa Layla menjauhi Sifanye. Biar gimana pun Sifanye ikut andil dalam membesarkan Layla.' batin Danu balik pikir lagi.
"Boleh kan?" pinta Layla lagi dengan bibir mengerucut, namun Danu tetap diam gak mengeluarkan suara.
Layla mendengus kesal, menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi mobil. "Kalo gak mau antar, aku bisa pergi sendiri!" celetuk Layla sinis.
Danu mengambil arah lain, bukan menuju rumah bukan juga kantor. Membuat Layla bertanya dengan wajah gak semangat.
"Kenapa jalan sini? Ini bukan jalan menuju rumah, atau pun kantor!" tanya Layla dengan menatap luar jendela.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅
__ADS_1
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya 😭😭