
...🥀🥀🥀...
Layla membuang nafas nya dengan lega, "Mama Sifanye benar benar aneh, tadi marah marah, dan sekarang tertawa. Gak jelas kan."
"Apa nya yang gak jelas?" tanya Danu yang kini melangkah masuk ke dalam kamar, menghampiri Layla.
"Gak ada. Gimana sama suster Lia? Kamu gak beneran mecat dia kan?" Layla mendudukan diri nya di tepian ranjang.
Danu membuang nafas nya dengan kasar, mengelusss puncak kepala Layla dengan lembut. "Jika aku beneran memecat nya, gimana menurut mu?"
"Kenapa bertanya pada ku, keputusan ada pada mu!" Layla mengadahkan wajah nya, menatap Danu.
"Apa kau akan keberatan jika nenek Dahlia tinggal bersama dengan kita di apartemen?" tanya Danu.
"Kenapa harus keberatan? Tapi nenek sama siapa kalo aku sekolah? Kau kerja?" tanya Layla.
"Kita bahas nanti saja lah, aku mau cuci muka dulu!" Danu mengayunkan langkah kaki nya ke arah kamar mandi.
"Terserah kau saja lah!" Layla mengerdikkan bahu nya, di raih nya kembali hape nya yang tadi ia letakkan tidak jauh dari ia duduk.
Layla mengotak atik hape nya. Nampak senyum tersungging di bibir nya saat membaca chat dari Nina, Mery, dan Deri dalam grup yang hanya berisikan 4 orang.
Nina
"Cie yang lagi liburan, jangan lupa dong oleh oleh nya buat gue!"
Mery
"Jangan lama lama oy, inget selasa udah mulai masuk sekolah."
Nina
"Sayang banget sih, acara nya pake dadakan... coba kaga, gue pasti minta ikut tuh La. Mayan kan liburan gratis hahaha."
Mery
"Ah lo, gilirannn gue yang ajak... lo nolak ikut sama gue!"
Nina
"Jelas gue nolak lah, secara lo liburan rumah nenek lo cuma lima langkah. Apa nya yang liburan coba 😋."
Mery
"Kan yang penting judul nya liburan 😋😋😋."
Deri
"Oy setan 2, berisik lo."
Mery
"Eh kamprettt, ngapain lo nongol? Merad sono lo!"
Deri
"Anjimmm banget lo, berisik bege... piaraan gue keganggu sama suara notif lo pada."
__ADS_1
Nina
"Elah, gak penting banget lo Der! Layla, aku pada mu. Bawain gue cowok keren kaya pak Danu dong!"
Mery
"Kaga salah lo? Pak Danu, si dingin, ogah 🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️."
Deri
"Kaga salah lo, Nin? Masih mending gue ke mana mana hahaha! Orang dingin kaya pak Danu, lo pengenin."
Layla
"Bilang aja lo suka sama Nina, hahaha! Pake ngatain pak Danu lagi lo. Dasar Deri!"
Mery
"Tau tuh, udah sono tembak si Nina. Kelamaan mikir lo Der!"
Nina
"Ogah gue sama lo Der, apa apa masih sama orang tua, gue mau nya yang mandiri!"
Deri
"Gue udah berdiri sendiri ini Nin, ke mana mana serba sendiri, ora pake di kawal orang tua hahaha."
Mery
"Bukan itu bege maksud Nina!"
Nina
Layla
"Otak lo juga setengah bege, kalo soal pelajaran ahaha!"
Mery
"Pikiran lo sama gue sejalan, La ahahaha!"
Danu ke luar dari kamar mandi, tanpa di sadari Layla. Sementara Layla masih senyum senyum membaca perdebatan di grup chat nya.
Hap.
Danu yang sudah berdiri di depan Layla, langsung menyambar benda pipih yang ada di tangan Layla dan membaca nya.
"Danu ihsss apa apan sih! Balikin gak hape gue! Gak sopan lo, ngerebut barang tanpa bilang dulu sama yang punya!" sungut Layla, mengangkat tangan nya, hendak mengambil kembali hape nya.
"Aku cuma baca sebentar, gak apa dong kalo aku ngecek dan tau istri ku ini lagi chat sama siapa aja!" ke dua mata Danu masih fokus membaca isi chat yang membuat Layla senyum sendiri hingga tidak menyadari kehadiran nya.
"Danu, sini! Aku belum selesai chatting!" Layla beranjak, mengekor Danu dengan tangan berusaha menggapai hape nya.
"Jadi Nina ingin pria seperti ku? Lalu bagaimana dengan mu? Apa kau menyukai ku!" tanya Danu yang kini berdiri di depan Layla, menatap wajah Layla dengan intens.
"Apaan sih, gak jelas banget deh!" Layla merebut hape nya dari tangan Danu.
__ADS_1
Grap.
Danu memeluk Layla dari belakang.
Deg.
Layla tersentak kaget dengan apa yang di lakukan Danu.
"Jangan gini! A- aku harus liet nenek!" Layla melepaskan tangan Danu yang melingkar di perut nya, lalu berlari menuju kamar nenek Dahlia.
Danu menggaruk kepala nya yang tidak gatal. "Dasar bego. Kalo gini Layla jadi takut kan sama gue, lupain Danu! Sekarang lo harus fokus sama nenek."
Ceklek.
"Suster, apa yang sedang kamu lakukan?" Layla membola, saat melihat suster Lia yang sedang menutupi wajah nenek Dahlia dengan bantal kepala.
Suster lia menoleh namun ke dua tangan nya semakin memperdalam, menenggelamkan wajah nenek Dahlia pada bantal.
"Danuuu, tolong!" teriak Layla, dengan langkah cepat menghampiri suster Lia, menarik suster Lia untuk menjauh dari nenek Dahlia.
"Kau bisa mencelakai nya, sus!" wajah Layla nampak panik, takut hal buruk terjadi pada nenek Dahlia.
"Aku memang akan melenyapkan nya, baru setelah itu aku akan melenyapkan mu!" ucap suster Lia dengan penuh penekanan.
Suster Lia mempertahan kan ke dua tangan nya pada bantal, sementara Layla, menarik tangan suster Lia dengan sekuat tenaga. Tubuh Layla yang kurus, membuat nya kalah tenaga dengan suster Lia yang memiliki tubuh semokkk dengan tenaga yang lebih kuat.
"Jangan seperti ini sus! Lepas sus! Jauh kan tangan mu!" titah Layla.
Kreeek.
Layla yang tidak punya pilihan pun memilih menggigit pergelangan tangan suster Lia, berharap cara itu bisa membuat suster Lia mau melepaskan tangan nya dari bantal kepala yang menutupi wajah nenek Dahlia.
"Aawwwwwhhhh sialll, kurang ajarrr kau! Berani kau menggigit tangan ku!" dengan nafas yang memburu, bantal akhir nya lepas dari tangan suster Lia, suster Lia mendorong bahu Layla sekuat tenaga.
Sreeek.
Brak.
Bugh.
"Awhhh uuuhh." pekik Layla dengan punggung yang membentur nakas yang ada di belakang nya. Layla memegang punggung nya dengan satu tangan, merasakan nyeri yang luar biasa. Tubuh nya condong ke depan, satu tangan nya bertumpu pada lutut nya.
"Itu belum seberapa Layla! Kau harus mati di tangan ku!" ucap suster Lia dengan menyeringai, tangan nya meraih sesuatu benda yang ada di dalam saku baju nya.
"Suster Lia!" seru Danu dengan suara menggelegar.
"Mati kau Layla!"
Tanpa memperdulikan seruan Danu, suster Lia mengarahkan tangan nya pada perut Layla, berniat menghujamkan benda kecil, panjang tajam itu ke perut yang ia anggap saingan nya, penghalang untuk nya mendapatkan Danu.
Sreek.
Bugh.
"Layla!" pekik Danu dengan mata membola.
Bersambung...
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅