Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Gagal


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Danu bisa melihat ketakutan Layla saat ia tersadar tadi, ketakutan, saat menatap diri nya. Seolah Layla tidak lagi mengenali Danu sebagai suami nya. Yang ada hanya semua manusia itu jahat dan kejammm. Sejahat dan sekejamm orang orang yang sudah menculik dan menyiksa nya.


Danu menghembuskan nafas kasar. Ia akan melakukan berbagai cara, agar bisa mengembalikan psikis Layla. Membuat Layla seperti sedia kala.


"Kamu harus sembuh La, masih banyak harapan yang harus kamu gapai La!" ujar Danu, menatap lekat Layla, mengecup jemari Layla.


Ceklek.


Noval memasuki ruang rawat Layla, di ikuti Sifanye dan juga Lulu. Membuat Danu mengerut kening nya dengan tatapan waspada, pada ke dua wanita yang menatap nya dengan tersenyum.


'Apa yang mama Sifanye dan Lulu lakukan di sini?' batin Danu, dengan tatapan waspada pada Sifanye dan Lulu.


'Calon suami gue makin ganteng aja, tapi sayang... pasti kurang tidur gara gara lo, La!' batin Lulu, menatap lekat Danu dari kejauhan.


Sementara dalam hati Sifanye. 'Danu menantu ku tersayang, rupa nya kau sedang menunggu malaikat kematian untuk istri mu, ya!'


"Assalamualaikum nak Danu, maaf ya, ayah sepagi ini sudah datang. Ayah juga mengajak mama Sifanye dan Lulu. Kami gak sabar ingin melihat keadaan Layla. Apa udah ada perkembangan, nak?" tanya ayah Noval, begitu memasuki ruang rawat Layla.


Danu menghampiri orang tua Layla, menyalami sang ayah mertua, lalu beralih mama mertua.


"Mama bawakan ini buat kalian!" Sifanye meletakkan parsel buah di atas nakas, samping kepala ranjang rawat Layla, Sifanye melirik sinis pada Layla.


"Makasih mah... belum ada perkembangan yah. Masih sama seperti semalam. Layla akan histeris begitu terbangun." ucap Danu lirih, menatap sendu Layla.


Noval berdiri di samping ranjang rawat Layla. Tangan nya terulur mengelusss kepala Layla, memperhatikan wajah putri nya yang tampak pucat, dengan luka di tangan yang masih tampak nyata.


"Yang sabar ya, nak! Ayah yakin... Layla pasti bisa melewati ini semua, selama ada kamu yang mendampingi nya. Mama dan ayah juga akan selalu ada buat Layla dan kamu. Bukan begitu mah?" Noval menatap Sifanye, meminta wanita paruh baya itu mengiyakan perkataan nya.


"Iya, apa yang di katakan ayah Noval itu benar. Jangan sungkan untuk minta batuan mama!" ucap Sifanye dengan senyum palsu nya.


Sifanye memasang wajah prihatin terhadap Layla. 'Dengan senang hati, mama akan mempercepat kematian kamu, La!' batin Sifanye, mengelusss lengan Layla yang tampak memar.


Lulu mendudukkan diri nya di ujung ranjang rawat Layla, penasaran dengan apa yang di katakan sang ayah.


'Separah apa luka di kaki Layla yang bekas di cambuk, jadi pengen tau gue!' Lulu menyingkap selimut yang menutupi ke dua kaki Layla. Ia meringis melihat luka yang masih tampak merah di sana. Lalu menutup nya lagi.

__ADS_1


"Kalian lupa di sini ada Lulu, Lulu juga bisa jadi adik yang berguna buat ka Layla!" celetuk Lulu dengan bibir mengerucut, dengan mengedipkan satu mata nya pada sang mama, seakan tengah memberi kode.


Noval menggiring Danu, untuk duduk di sofa yang terdapat di ruang rawat Layla. Sementara Sifanye dan Lulu, gak mau jauh dari Layla, mereka duduk di sisi kanan dan kiri Layla. Ingin menunjukkan, betapa peduli nya mereka berdua terhadap Layla.


'Kamu tenang aja La... aku sama mama, pasti bakal bantuin kamu biar cepat mati. Jadi kamu gak perlu lagi tuh yang nama nya ngerasain histeris atau trauma. Kamu itu lebih baik mati, karena dengan kamu mati... ka Danu bakal jadi milik gue, hehehe.' tawa dalam batin nya.


"Aku gak salah dengar, kamu panggil ka sama Layla? Biasa nya lo gue!" sindir Danu, entah kenapa melihat Lulu ada di ruang rawat Layla membuat hati nya gak tenang.


"Ahahaha aku itu sama Layla emang suka lo gue kalo lagi bercanda." ucap Lulu yang di sertai kekehan.


Tangan Danu mengetikkan pesan, lalu mengirim nya.


^^^'Aku butuh bantuan mu, minta sister yang bertugas. Untuk mengusir orang orang yang ada di ruang rawat istri ku, apa pun alasan nya.' isi chat Danu.^^^


...'Oke!' balas dokter Rumi....


"Kamu kelihatan lelah banget, Danu! Mending kamu istirahat aja dulu. Atau kalo perlu makan gih biar di temani Lulu. Biar mama dan ayah di sini yang akan jagain Layla!" usul Sifanye, menatap sang menantu dengan tatapan meyakinkan.


"Benar itu, kok aku tiba tiba jadi laper gini! Kita makan yuk sayang.... eh emmm maksud nya aku, kita cari makan yuk ka Danu!" seru Lulu, menatap wajah Danu dengan tatapan menohon.


"Sayang banget, saya udah makan. Saya bisa istirahat nanti jika saya ingin." ucap Danu, mendadak berkata formal dan sungkan.


Belum Danu menjawab, kini tatapan mereka semua tertuju pada pintu yang di buka dari luar.


Ceklek.


"Maaf Tuan, waktu nya pemeriksaan." ucap perawat wanita dengan sopan, yang melangkah masuk.


"Silahkan sus." yang di jawab Danu, dengan membuang nafas lega.


'Tidak akan aku beri kalian celah untuk menyakiti Layla!' batin Danu.


Perawat itu melirik sekilas ke arah seorang wanita paruh baya, namun berpenampilan modis. Dan seorang perempuan yang masih tampak belia. Namun dari tatapan ke dua nya seakan gak bersahabat. Ke dua nya menatap sinis si perawat wanita.


'Ini perawat, lama banget sih! Cuma tinggal cek kondisi Layla aja, pake mikir segala!' umpat batin Lulu.


"Udah sus? Kalo udah, ke luar gih! Gak liet apa di sini keluarga semua!" gerutu Sifanye dengan ketus.

__ADS_1


"Maaf bu, saya hanya menjalan kan tugas. Setelah tugas saya mencatat kondisi pasien... pasti saya akan ke luar kok. Membiarkan pasien untuk istirahat." jelas perawat, dengan tatapan tegas pada Sifanye.


Sifanye menelan saliva nya dengan sulit, 'Sialannn nih perawat, di kata gue ganggu pasien! Gue ini mau nyabut nyawa pasien! Tau gak lo!' umpat Sifanye.


Setelah melakukan pemeriksaan pada Layla. Dengan sungkan, si perawat berkata sebelum ia meninggal kan ruang rawat.


"Maaf ya, pak, bu. Sebaik nya satu orang aja yang menemani pasien. Pasien masih butuh banyak waktu untuk istirahat." ujar perawat, yang langsung mendapat tatapan tajam dari 2 orang wanita beda generasi yang ada di dalam ruang rawat Layla.


"Maksud kamu apa ngomong gitu, sus?" tanya Sifanye dengan nada tinggi, mata melotot tajam.


"Kamu gak sopan banget sih sus!" timpal Lulu, ikut membela sang mama.


"Mah, Lu! Jangan begitu sama suster. Biar gimana pun, suster jauh lebih tau bagaimana ia harus bersikap." jelas Noval, beranjak dari duduk nya.


"Awas lo ya, sus!" umpat Lulu.


"Apa yang di katakan suster benar... kami pulang sekarang ya nak, kalo ada apa apa, kabarin ayah!" Noval menepuk nepuk bahu Danu.


Danu ikut beranjak, "Makasih ya yah! Udah jenguk Layla." ujar Danu.


'Sialll... rencana belom di mulai, udah gagal. Awas aja, laen kali... pasti gue dan mama bakal buat lo ke neraka, dengan segera La!' bqtin Lulu.


Beberapa jam kemudian, setelah efek obat yang di berikan dokter menghilang. Layla mulai kembali membuka ke dua mata nya. Tatapan Layla mengedar, mencari seseorang yang ia kenal.


"La! Kamu udah bangun?" tanya Danu, tangan nya menggenggammm jemari Layla.


Membuat Layla menoleh ke arah nya, dengan tatapan mengamati, seakan mengingat siapa pria yang ada di samping nya ini.


"Kamu inget aku kan, La?" twnya Danu lagi.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅 biar ora sepi sepi amat gitu ini novel. Masa cuma tuyul doang yang aktif komen. Yang laen, mana suara nya?


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


__ADS_2